28 Februari 2010

Jusuf Kalla - Tsunami Aceh

Cerita ini udah hadir lewat facebook dan kompasiana meskipun ditulis oleh Tempo 4 tahun yg lalu. Berikut ceritanya:

Tiga Hari Penuh Badai

Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah tsunami. Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.
****

Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.

Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.” Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi.

Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.

Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6 pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma sebentar. Lalu telepon putus total.

Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih, berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur Kalla kepada Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di situ.

Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang, antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami.

Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar pukul enam sore.

Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari ke sana kemari. Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.

Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.

Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti kira-kira 50 meter dari rumah Azwar sebab sampah menggunung menutup jalan.

Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter, mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.

Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.

Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.

Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana. Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.

Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta. “Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak. Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.

Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.

Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh. Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti aman,” ujar Sofjan.

Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari. Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.

*****

Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.

Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.

Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.

Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung. Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman? “Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,” pintanya kepada ustad.

Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh keliling menjaga uang satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.

*****

Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.

Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.

Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.

+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.
- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.
+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”
- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”
+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”
- “Bungkus saja pakai plastik.”
+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.
- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.

Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.

Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….

15 Februari 2010

Serba Serbi Mahasiswi Jalanan

Nggak nyangka, sudah satu semester aku sang anak jalanan ini kuliah di Universitas Airlangga Surabaya. Rumahku yang tepat berada di sebelah selatan kota Surabaya membuatku memutuskan untuk tidak tinggal di kost melainkan menjangkaunya dari rumah. Setiap hari bolak-balik Sidoarjo-Surabaya dengan angkutan umum tak dipungkiri menimbulkan kelelahan juga, tapi dalam setiap kelelahan yang kurasakan akibat perjalanan 90 menit pulang dan pergi seringkali terbayar saat bertemu dengan segala serba-serbi kehidupan jalanan Surabaya.


Lucu, jengkel, unik, geram, menyentuh, geregetan, sedih, kesal, dan segala macam emosi pernah kurasakan. Namanya juga serba-serbi, tentunya semua serba ada. Perjalananku dimulai dari rumahku menuju jalan raya yang biasa kutempuh dengan menggunakan sepeda angin, sebenarnya jaraknya tidak jauh, + 250 meter saja, tapi karena aku sering pulang dari kampus hingga larut malam, jadi berasa agak serem aja kalau harus berjalan kaki sendirian malam-malam. Biasanya sepeda kutitipkan di sebuah penitipan sepeda yang letaknya tidak jauh dari jalan raya tempat aku mulai naik dan nantinya turun dari angkot.


Perjalanan Sidoarjo sampai dengan Terminal Joyoboyo (Surabaya) adalah perjalanan terjauhku sebelum nantinya oper angkutan berikutnya. Di angkot Sidoarjo-Surabaya ini banyak sekali hal-hal yang kutemui, dari angkot ini pula aku bertemu dengan berbagai macam karakter manusia dengan segala problematikanya.


Suatu ketika, aku bertemu dengan penumpang yang mengeluh karena baru saja kecopetan HP di bis Mojokerto-Surabaya yang baru ditumpanginya, dari perbincangan kami tersebut kemudian sang sopir pun membagi berbagai tips menghadapi copet yang ia akui telah ia kenal semua oknumnya terlebih yang beroperasi di wilayah trayek angkutannya.


Saking seringnya bertemu dengan orang-orang yang berbeda tiap harinya, aku jadi sedikit bisa memetakan karakter seseorang berdasarkan asal daerahnya bahkan sebelum mereka mengeluarkan suara, seperti orang Surabaya Asli yang selalu bikin aku beristighfar mendengar umpatan-umpatannya, orang Lamongan yang sering membuatku geli sendiri melihat tingkahnya yang ‘nggak banget’, orang Madura yang membuatku geleng-geleng kepala, orang dari Indonesia Timur yang selalu menarik perhatianku dengan logat bicaranya, dan beberapa orang Jawa Tengah yang tentu saja bahasanya membuatku tersenyum mengingat teman-teman lamaku dari Jawa Tengah. (maaf ya, nggak bermaksud Rasis)


Di angkot ini pula aku bertemu dengan seorang sopir yang akhirnya kunobatkan sebagai “The best Driver”, tau kenapa? Bukan apa-apa, beliau hanya seorang sopir biasa, tapi tingkah lakunya sangat menegesankanku, tenang, ramah, sabar, perhatian, pokoknya the best lah. Setiap ada yang mau naik, dari belakang kemudi dia selalu meneriakkan kalimat untuk mempersilahkan penumpangnya naik, tidak lupa berkata “hati-hati mbak/mas…” begitu pula saat penumpang akan turun, ia juga mengingatkan kami untuk tidak sampai lupa dengan barang bawaan kami, saat ada yang membayar ongkos setiap penumpang pasti diberi ungkapan terima kasih . Dia juga tidak mengesalkan penumpang dengan berlama-lama nge’time’, kecuali benar-benar ada penumpang yang akan naik, itu pun pasti dia mengucapkan maaf kepada para penumpang karena angkot harus berhenti sebentar menunggu sang penumpang baru yang sedang berjalan.


Dari angkot ini pula, aku mendapat banyak info penting tentang kehidupan, tentang bagaimana kehidupan para sopir angkot yang semakin hari semakin sulit, sepinya penumpang, naiknya harga spare part mobil, tingginya setoran yang harus dibayarkan setiap harinya, bensin yang harus dikeluarkan setiap perjalanan pulang pergi, dan lain sebagainya. Di suatu hari aku juga menikmati perbincangan para pria-pria yang berjuang demi keluarganya, bekerja ini itu, dengan hasil sebesar segini segitu, hingga strategi para sopir truk dalam menghias truknya dengan berbagai tulisan yang ternyata baru kuketahui bahwa hal itu memiliki makna tersendiri serta mengandung berbagai harapan. Seperti bedanya tulisan yang pesimis ataupun optimis serta bagaimana dampaknya. (Ah ada-ada saja), tapi jujur aku sangat menikmati segala pengalaman ini.


Sesampainya di terminal Joyoboyo, aku berganti angkutan P jurusan Joyoboyo-Kenjeran yang via Karangmenjangan, dan aku turun di kampus B Unair. Di terminal, ini yang paling bikin kesal, karena aku harus menunggu hingga angkot terisi penuh barulah diberangkatkan, dan tidak seperti di Jakarta yang sudah menjadi kebiasaan para sopir meneriakkan angka ” 46, 46...!!!” yang artinya bangku pendek diisi 4 orang dan bangku panjang 6 orang, karena di Surabaya meskipun tidak diteriakkan sesering di Jakarta, angkot diisi dengan formasi 47, belum lagi bangku tambahan yang menghadap belakang di samping pintu, itu musti terisi 2 orang! (omg... sampe lumutan deh pokoknya!). Tapi kehidupan selain harus dijalani, memang harus dinikmati, begitulah akhirnya aku mulai berusaha berdamai dengan suasana terminal.


Di terminal ini, aku mulai mengenal wajah-wajah tetap yang ada di situ, yaitu calo angkot, pengemis (baik tua maupun anak-anak), serta pengamen dan PKL, hafal betul aku dengan mereka, karena memang mereka berada di situ setiap hari. Ada satu orang ibu pengemis yang dulu masih awal-awal mencuri perhatianku karena perilakunya yang menyuruh anaknya yang berusia kira-kira 9-10 tahun untuk ikut mengemis, miris sekaligus geram melihatnya. Tapi mau tidak mau aku harus melihat pemandangan ini setiap hari, hingga suatu hari aku pernah duduk bersebelahan dengan seorang penumpang wanita yang mengaku 9 tahun yang lalu juga kuliah di Unair, menurut ceritanya ia telah melihat sang ibu pengemis sejak dia rutin naik angkot ini saat mesih kuliah dulu, dan saat itu (menurut si Mbak tadi) ibu pengemis itu sambil menggendong anak yang masih bayi (What??? Jadi anak yang selama ini kulihat itu sudah ikut mengemis sejak bayi...??)


Ah entahlah, aku sedang tidak ingin berkomentar, terlebih sampai suatu ketika ternyata ibu pengemis ini pula yang menjadi penolong di angkot P ini. Ceritanya, saat itu terminal sedang sangat ramai hingga untuk menunggu angkot penuh pun tidak perlu menunggu lama, aku yang sudah duduk di dalam tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan si ibu yang memarahi seorang laki-laki yang terlihat hendak naik angkot yang kutumpangi, aku tak begitu jelas mengikuti kronologisnya, yang jelas beberapa menit kemudian kuketahui ternyata ibu pengemis itu memergoki seseorang yang hendak mencopet HP salah seorang penumpang di angkot ini. (Hhh... terima kasih Bu...)


Selanjutnya di angkot P, pengalaman juga tak kalah seru, mulai dari curhatan sang sopir akan nasib bangsa ini sejak dipimpin oleh presiden terpilih (wah, politis banget deh nih sopir!), lantas serombongan oma-oma yang selalu rutin tiap minggu mencarter angkot untuk pergi ke gereja, hingga obrolan para pemain topeng monyet, suka-duka mereka, tips-tips serta pantangan yang harus diikuti saat ada orang yang menyewa pertunjukannya, hingga berapa rupiah kocek yang mereka terima setiap harinya.


Karena Angkot ini adalah angkutan yang sama menuju Rumah Sakit Dr.Sutomo, maka di angkot ini pula aku belajar banyak akan ilmu ketegaran dari begitu banyak penumpang angkot yang sedang menjalani pengobatan dari penyakit-penyakit beratnya, seperti kanker, tumor dan jantung. Aku begitu terharu melihat kebesaran hati mereka yang tetap kuat bercerita mengenai sakit kankernya, perjalanan kemoterapinya, dengan segala kesulitan biaya yang mereka hadapi, serta plus minus pelayanan rumah sakit. (untuk mereka, terima kasih atas pelajaran hidupnya...)


Sampai pada suatu hari, di angkot P ini pula, aku yang seperti biasa pulang kuliah bersama dengan seorang teman sekelas yang sudah berkeluarga (Bu Yessica), mengendarai angkot ini dari kampus hanya berdua, beberapa saat kemudian di pertengahan jalan ada 2 orang pria yang naik dan kemudian berulah. Dan tahukah kalian apa yang hendak mereka perbuat kepada kami?? Kami hendak dihipnotis!! What?? Yups, Hipnotis!! Percaya nggak? Harus percaya dong...! Yups, sebagaimana diajarkan di kuliah kami, step-step hipnotis pun mereka jalankan secara berurutan, mulai menggiring pembicaraan dengan berbagai topik, hingga mencoba menarik perhatianku agar aku mau menghadapkan mukaku kepada mereka. Huakakakak... pengen ngakak pokoknya, secara (bacanya dengan logat gaul ya..!), kita kan anak Psikologi, udah magister pula, masa iya nggak tau gelagat orang?! (ups! Nggak boleh sesumbar ding!), yah pokoknya pada akhirnya mereka pun mengalah dan turun di jalan dengan kemudian disusul gelak tawa kami berdua yang telah berhasil membuat mereka putus asa karena gagal mendapat mangsa.


Fiuuh... banyak banget deh pengalamannya, dan tentunya berbeda-beda rasanya. Semester depan kayaknya aku masih akan setia dengan angkot, karena ternyata kami baru akan PKL semester 3 nanti. Masih kuat nggak ya? Harus kuat lah! Demi menuntut ilmu (huweeek...! sok banget ya gue!), jadi teringat tanggapan salah seorang calon tante baruku di Wonocolo saat bertandang ke rumah. ” Kenapa nggak minta antar jemput saja?” (gubrak!! Aduuuh, nggak banget deh..)

20 Januari 2010

Ayahku (juga) Ayah Juara Satu Seluruh Dunia


Rabu, 30 Desember 2009, tak kusangka di hari itu menjadi hari di mana aku tergerak kembali untuk menulis setelah beberapa lamanya aku tak mampu melakukannya. Hari itu aku sengaja pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas kuliahku, kemudian melanjutkannya dengan menonton film Sang Pemimpi (sekuel film Laskar Pelangi), film yang didedikasikan setinggi-tingginya oleh si pemilik cerita (Andrea Hirata) kepada Ayahnya, Ayah juara satu seluruh dunia.

Dari film itu, hanya ada satu tanggapan yang ingin kukeluarkan dari mulutku, ”Ayahku juga Ayah juara satu seluruh dunia”. Meski aku tak sempat lama mengenalnya, tetaplah beliau Ayah paling juara. Meski Ayahku tak pernah mengambilkan rapor sekolah untukku, tetaplah beliau yang paling juara. Meski Ayahku tak pernah mengantarkan kepergianku ke perantauan untuk menuntut ilmu, tetaplah beliau Ayah paling juara. Iya, juara satu seluruh dunia.

Aku masih belum genap berusia 8 tahun saat aku menyaksikan kesibukan Ibu tidak seperti biasa. Ibu yang biasanya setia menemaniku dan saudara-saudariku di rumah, menyiapkan keperluan sekolah, menemani mengerjakan PR sekolah, dan mengejar-ngejarku yang sering enggan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tapi saat itu semua pekerjaan Ibu itu dipindah tangan oleh bulekku yang tidak lain adalah adik kandung Ibuku.

Setiap aku bangun pagi, tak kulihat lagi Ibuku hingga aku tertidur lagi di malam harinya. Ibu menghabiskan waktu menemani Ayah di Rumah Sakit selama berminggu-minggu. Aku sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi dengan Ayahku, yang jelas aku masih ingat saat hari Minggu aku dan saudara-saudariku pernah diantar oleh Bulekku menemui Ayah, di sebuah kamar rumah sakit yang dihuni oleh tiga orang pasien yang salah satunya adalah Ayah.

Aku masih ingat, saat itu aku masuk ke dalam kamar itu dan segera berhambur memeluk Ayah yang sama sekali tak kulihat sedang sakit, karena selain tubuhnya yang tampak lebih kurus dari sebelumnya aku tak melihat tanda-tanda lain layaknya orang yang sedang sakit selain senyumnya yang sangat kurindukan. Ia membentangkan kedua tangannya menantiku yang sedang berlari kearah pelukannya.

Diciumnya kepalaku sangat dalam, aku tak tau apa yang sedang dirasakannya. Yang jelas aku bahagia karena bisa memeluk Ayahku meski sempat pula aku heran mengapa aku yang sedang diliputi bahagia saat itu justru kulihat Bulekku menangis sejadi-jadinya menyaksikan apa yang kami lakukan.

Setelah beberapa saat aku dalam pelukan Ayah di atas tempat tidurnya, Ibu menghampiri kami kemudian menggendong dan membawaku ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Ibu, aku melihat saudara-saudariku secara bergantian dipeluk Ayah dan lagi-lagi Bulek menangis menyaksikannya.

Dalam kesempatan itu, aku sempat bertanya kepada Ayah kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah tidur di rumah lagi? “Kan adek kangen, Yah…” aku merengek kepada Ayah dan Ibuku di sana.
Aku masih ingat betul Ayah menjawab pertanyaanku “Iya, bentar lagi Ayah dan Ibu pulang kok”. Aku bahagia sekali mendengarnya, apalagi kusaksikan Ayah tersenyum kepadaku.

Beberapa saat berselang, saat aku manikmati jeruk yang disuapkan oleh Ayah, kami melihat salah seorang pasien di kamar itu sedang diperiksa oleh seorang dokter wanita berjilbab. Dari jauh aku memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh dokter anggun itu kepada pasiennya. Tampaknya Ayah senang melihatku memberi perhatian atas apa yang dilakukan oleh dokter muslimah itu.

Adek, mau nggak jadi dokter?” Tanya Ayah membuyarkan konsentrasiku.
Mau, adek mau, Ayah!” jawabku bersemangat.
Iya, ntar kalau adek udah gede, adek jadi dokter ya! Kayak Bu Dokter itu, pinter, baik, dan pakai jilbab
Iya, Ayah. adek mau ntar jadi dokter kayak Bu Dokter itu, cantik, trus bisa nolongin orang, iya kan, Yah?
Iya, Sayang…

Aku merasa sangat tenteram mendengar ucapan Ayah. Ucapan Ayah yang akhirnya menjadi kalimat terakhir yang mampu kuingat dari Ayah yang sangat kucintai itu. Janji Ayah untuk segera kembali pulang ke rumah dipenuhinya, tapi tidak untuk menemani tidurku lagi, karena beberapa hari berselang dari hari itu, Ayah kembali pulang ke rumah diantar mobil jenazah.

Semua orang bersedih, menangis terlebih saat melihatku yang saat itu masih sangat kecil untuk menjalani hidup sebagai anak yatim. Saat itu memang aku tidak menangis karena aku belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tapi, saat aku sudah beranjak besar dan dewasa, barulah kurasakan rindu yang amat mendalam kepada Ayah yang tak sempat dekat kukenal itu. Ayah…

Januari, 2010
Tahun ini, adalah tahun ke-17 kami hidup tanpa ayah, ayah yang wajahnya hanya bisa kulihat dari lukisan besar yang dipajang di kamar Kakak sulungku, ayah yang kehadirannya selalu kurasakan terlebih saat menyambangi rumah abadinya.

Ayah... tahun ini usiaku sudah 25, ayah ’di sana’ pasti ngikutin kan semua perkembanganku? Ayah, di usiaku yang akan bertambah bulan depan, aku ingin cerita banyak hal sama ayah, tentang kuliahku, tentang teman-temanku, tentang kekasihku, dan semuanya. Ayah pasti seneng deh!

Ayah... Tahun ini, kita ulang tahunnya deketan lho! Beda cuman 6 hari, tapi aku janji deh ntar aku khataman sendirian 30 juz, khusus buat kita berdua. Setuju?!

I Love you, Dad!

(maaf, nggak bisa nulis lebih banyak, udah nggak kuat nahan air mata)

16 Desember 2009

Renungan 1 Muharram 1431 H

Seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade bisa merasakan betapa pentingnya makna satu mili detik. Orang yang selamat dari kecelakaan bersyukur atas waktu satu detik untuk bisa menyelamatkan iri. Orang yang ketinggalan kereta tentu menyesali keterlambatannya datang ke stasiun meski hanya satu menit. Pemuda yang sedang menunggu kekasihnya bisa merasakan betapa lamanya waktu satu jam. Seorang pekerja harian merasakan bermaknanya waktu satu hari. Seorang editor majalah mingguan paham benar bagaimana singkatnya waktu satu minggu. Ibu yang melahirkan bayi premature berangan seandainya saja ia melahirkan bulan depan. Seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas, menatap dengan pandangan kosong panjangnya waktu satu tahun. Orang yang sudah mati… menyadari sungguh bermaknanya arti kehidupan.


Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas



Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature



Untuk memahami makna SATU MINGGU

Tanyalah seorang editor majalah mingguan



Untuk memahami makna SATU HARI
Ta nyalah seorang pekerja dengan gaji harian



Untuk memahami makna SATU JAM
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya



Untuk memahami makna SATU MENIT
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta



Untuk memahami makna SATU DETIK
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan



Untuk memahami makna SATU MILI DETIK
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade




Dan akhirnya, sadarkah anda bahwa waktu terus berlalu?
Siapkah Anda mempertanggungjawabkan kepada Allah
Bagaimana Anda menggunakan setiap mili detik waktu Anda?


(Tafakur; Gado-gado Simpang Lima. By: Mohammad Agung Wibowo)

25 November 2009

2012; Sebuah Realitas Gerak Pendulum

Dirilisnya film terbaru berjudul “2012” disambut oleh besarnya antusiasme penonton di Indonesia, bioskop-bioskop memutar film ini dalam 3 studio sekaligus dan tiketpun terjual habis hanya dalam hitungan menit sejak loket dibuka, beramai-ramai orang ingin menyaksikan kedahsyatan film ini yang gaungnya sudah didengung-dengungkan di berbagai media, sebenarnya bukan karena kualitas gambar film yang tersuguh dengan begitu dahsyat, tapi lebih pada judulnya “2012” itulah yang menarik animo penonton hingga menyingkirkan beberapa film yang rilis di saat yang sama.


Ada apa dengan angka ”2012” ini? Angka yang setahun terakhir menjadi perbincangan hangat para peselancar dunia cyber, hingga terangkat oleh media yang paling dekat dengan masyarakat pelbagai kalangan; televisi. Sebuah angka yang diramalkan oleh Suku Maya sebagai angka di mana akan terjadi suatu fenomena kerusakan yang maha dahsyat yang terjadi di alam semesta. Tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, demikianlah tepatnya suku Maya menyebutkan. Sontak isu ini berkembang luas, terlebih beberapa media televisi mulai melansir pandangan beberapa pihak yang dipercaya oleh masyarakat memiliki kemampuan ’melihat masa depan’.


Isu tersebut akhirnya terus berkembang liar, pembenaran yang dikemukakan paranormal Indonesia dan disiarkan secara cuma-cuma oleh televisi pun dicerna oleh masyarakat sebagai sesuatu yang layak dipercaya, spekulasi kian merebak, apalagi banyak artikel di internet yang mencoba menganalisa kebenarannya dengan dikaitkan beberapa ayat yang terdapat di beberapa kitab suci dari agama yang berbeda-beda, semua seolah-olah ingin menyimpulkan ramalan tersebut dengan satu kata ”benar”.


Fenomena Paradoksial

Fenomena ini tentulah paradoks. Di saat lebih dari 50 % pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh produk elektronik, di saat itu pula produksi film-film bergenre horor semakin marak seiring animo penonton yang sangat tinggi untuk menikmatinya. Di saat pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara dan hingga kini masih terus mendapatkan protes dari masyarakat setempat, di saat itu pula polisi menggunakan bantuan Jaelangkung untuk menemukan di mana seorang buronan bersembunyi. Di saat NASA terus mengembangkan penelitian untuk menemukan cara agar bulan dapat dihuni oleh manusia secara sempurna dan di saat modernitas hanya tinggal menyisihkan sepersekian belahan bumi saja yang belum tersentuh oleh kemajuannya, di saat itu pula manusia dibuat resah oleh sebuah ramalan kiamat yang dirilis oleh rakyat dari suku yang hampir punah eksistensinya.


Tampaklah dari sini, bahwa di saat manusia telah mencapai pergerakan jauh ke depan, maka di saat itu pula ia mundur sejauh jarak saat ia bergerak maju. Seperti yang tergambar pada gerak pendulum, seberapa jauh pendulum bergerak ke kanan, maka sejauh itu pula ia akan bergerak ke kiri.

Psikologi Kognitif

Fenomena realitas gerak pendulum yang saat ini melanda masyarakat kita ini dalam teori psikologi kognitif diterangkan sebagai cognitive map (peta kognisi) dan cognitive schemata (skema kognisi), dimana setiap individu membentuk peta dan skema kognisinya masing-masing yang tentu saja semua tersusun berdasarkan pengalaman dalam proses kognisinya baik yang telah mengalami siklus persepsi ataupun masih berupa harapan individu atas sebuah realitas kehidupan sebelum dan sesudah hari ini.


Kini dapat dipahami mengapa di saat yang bersamaan seseorang mengalami kemajuan serta kemunduran dalam berfikir sekaligus, sebab peta kognisi yang dimiliki oleh individu tersebut berdasarkan kemajuan yang dilihatnya berimbas pada menjadi lebih pragmatisnya seseorang dalam melihat hal-hal yang sebetulnya tidak sederhana yang kemudia diupayakan menjadi sesederhana mungkin dengan mempercayai hal-hal yang berupa prediksi seorang paranormal.


Sekali lagi, pemetaan kognisi ini sangat berdasar atas sejauh mana pengetahuan dimiliki beserta dasar kuat yang melandasinya. Jika sebelumnya telah terikat kuat pemahaman kita akan sebuah fenomena yang bernama kiamat, baik secara ilmiah maupun kepercayaan dari agama masing-masing tentang bagaimana terjadi, kapan, oleh siapa, melibatkan siapa dan apa saja, bagaimana tanda-tandanya, dan segala macamnya yang jauh sebelum ini telah dipahami oleh masyarakat dengan porsi pemahaman masing-masing, maka pemahaman itulah yang kemudian menjadi landasan pemetaan kognisi kita atas prediksi kiamat yang terus merebak, ikut terpengaruh atau tidak sama sekali.


Oleh karenanyalah kita dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi segala sesuatu, ada sebuah proses berfikir yang selayaknya kita tempuh sebelum akhirnya memutuskan untuk bersikap, terlebih pada sebuah prediksi, tentunya akal sehat kita jauh lebih kuat dari pada membiarkannya terhenti bekerja hanya karena tertohok oleh ramalan yang sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Membiasakan terus berfikir positif tentu akan lebih menyehatkan pikiran dari pada merelakan diri dibayangi oleh ketakutan akan datangnya suatu bencana yang entah dari mana asalnya.

21 November 2009

Obsesi = Jadi Presiden


Cita-citaku… (cita-citaku), ingin jadi presiden…
Masih ingat dengan lagunya Susan dan Ria Enes yang itu? Sangat familiar tentunya. Renyah didengar, menggelitik, dan ’anak-anak banget’.

Cita-cita, sebuah kata yang selalu ditanyakan saat kita masih kecil dulu, jawabannya pun beragam dan berubah-ubah, ingin jadi dokter lah, jadi insinyur lah, jadi presiden, jadi guru, jadi pilot, dan lain sebagainya. Sah-sah saja, toh dulu ketika kecil aku juga seperti itu. Masih ingat sekali saat itu aku selalu menjawab ”ingin jadi dokter”, kadang juga bilang ”ingin jadi polwan ”. Semua orang juga begitu tentunya?!.

Bagaimana dengan keinginan untuk menjadi presiden? Juga tidak sedikit anak-anak yang mencita-citakannya, dan semua itu terdengar lumrah saat keluar dari mulut mungil anak kecil. Tapi pernahkah di usia matang seperti saat ini kita mengucapkan cita-cita ingin menjadi seorang presiden (meskipun dalam hati)?

Aku pernah! Serius! Aku pernah mengucapkannya. Dan bukan cuma main-main! Meski tidak berlangsung lama keinginan itu muncul, tapi kalimat itu keluar bukan sebagai gurauan, bukan juga igauan, kalimat itu muncul sebagai klimaks dari sebuah keresahan yang saat itu dengan hebat melanda alam fikirku.

Tepatnya di pertengahan tahun 2008, saat aku iseng-iseng ikut bergabung dengan teman-teman yang lain menjadi suveyor untuk Lembaga Survey Indonesia (LSI), survey tentang sosial kemasyarakatan di propinsi Jawa Barat saat itu menugaskanku berada di sebuah desa kecil di daerah Bogor. Sebuah desa yang telah membuatku jatuh cinta dengan keramahan warganya. Luar biasa! Sebagai seorang pendatang yang tak punya satupun sanak maupun kerabat dan bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi itu, dengan kepentingan yang barangkali menurut orang desa dianggap ”apaan sih? ”, tapi betapa mengagumkan masyarakatnya, aku diterima dengan begitu ramahnya, dilayani dengan begitu khidmatnya, dan dihargai dengan begitu mempesonanya.

Pokoknya, ”Wonderful”

Selama tiga hari dua malam aku berada di sana, menginap di rumah salah seorang warga yang mengaku juga punya anak yang kuliah di UIN Jakarta (tempat kuliahku saat itu). Pagi, siang, sore, hingga malam aku berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain sesuai hasil random pemilihan sample penelitian yang telah kuhitung sedemikian rupa, jumlahnya ada 20 rumah (belum termasuk rumah pak lurah, beberapa rumah pak RW dan beberapa rumah Pak RT untuk pendataan sebelum dilakukan random, juga minta ijin plus tanda tangan dan stempel tentunya).

Satu per satu responden telah kuambil datanya, di masing-masingnya melekatkan cerita tersendiri yang senantiasa membuatku rindu kepayang dengan mengingatnya. Hingga sampailah aku pada responden yang kesekian. Seperti biasa, aku disambut dengan keramahan dan binar wajah dari pak RT setempat, kuutarakan maksudku untuk meminta data warganya untuk kemudian dirandom dan diambil datanya, beliau menurut. Ditemani segelas air putih, aku mulai menulis data warga di lembar kertas yang kuambil dari dalam map yang kubawa, dengan sabar beliau menungguiku yang berkutat dengan kertas-kertas di hadapanku, menghitung, mengurutkan, menandai, dan seterusnya. Tentu saja tidak hanya dengan diam membisu, sesekali aku bertanya tentang ini dan itu, dan beliaupun menjawabnya dengan nada tulus dan sama sekali tanpa beban. Kerenlah pokoknya!

Setelah selesai merandom dan aku sudah kembali tegak di posisi dudukku, mulailah dia bercerita lebih leluasa. Mulai dari keluarganya, anaknya yang sudah berkeluarga hingga saat cucunya berusia SMA masih tinggal bersama dengannya dan menempati sebuah kamar berukuran 2,5 x 3 meter. Kemudian, tentang warganya yang baru saja menerima kompor hasil konversi minyak tanah ke gas yang digagas pemerintah dengan segala permasalahannya. Hingga soal BLT yang alih-alih memberi kesejahteraan warganya malah dianggapnya menimbulkan kecemburuan sosial karena pada kenyataannya tidak tepat sasaran, dan lain sebagainya.

Srrr...! darahku berdesir mendengar penuturan miris dari mulut pria berusia kurang lebih 60 tahun ini. Tampaknya bapak di depanku ini ’membaca’ panampilanku dan dikiranya aku adalah pegawai pemerintahan yang punya kesempatan untuk menyampaikan keluhannya kepada pemerintah. Tuhan, akan Engkau selipkan amanah apakah sampai aku harus mendengar ini semua? . Perlahan, aku mulai merasa air sudah berkumpul di sudut mataku, aku ingin menangis, terlebih saat aku diantar oleh Bu RT menemui warga yang kusebutkan masuk sebagai respondenku, begitu masuk rumah sederhana itu tanganku langsung diraih dan diajak untuk melihat keadaan rumahnya yang sangat tidak layak, dengan kondisi dapur yang beratapkan langit karena gentingnya sudah enggan lagi berjibaku dengan terik mentari.

Hatiku gerimis, menyaksikan betapa kondisi ini baru pertama kali kulihat di depan mataku, kuinjak dengan kakiku, dan kudengar keluhan miris langsung dari aktor utamanya dengan telingaku sendiri. Ilahi, rahasia apa yang Kau simpan di balik takdir-Mu untuk mereka? Tiba-tiba saja aku teringat pemimpin dari rakyat yang ada di hadapanku ini, pemimpin yang mereka pilih dan titipkan amanah besar dipundaknya, pemimpin yang berkewajiban memberikan kesejahteraan bagi mereka. Pernahkah pemimpin mereka dengan mata kepalanya menyaksikan apa yang kusaksikan hari ini? Oh, I don’t think so.

Dadaku bergemuruh, sakit, miris, sedih, marah, berebut memenuhi rongga dada, membuncah, mancabik, meletup-letup, hingga memuntahkan sebuah kalimat pamungkas,
AKU INGIN JADI PRESIDEN

Hhh...! lega rasanya, akhirnya kalimat itulah yang keluar. Meski tak tau arti dari kalimatku sendiri, tapi setidaknya keresahan hebat itu menemukan klimaksnya, tidak mengantung-gantung, meronta-ronta menunggu jawaban hingga berlarut-larut. Entahlah, apa yang saat itu berkecamuk di alam fikirku, yang kuingat hanyalah bahwa aku ingin berbuat sesuatu, tidak mungkin Allah memberiku kesempatan bertemu dan mendengarkan keluhan mereka jika Aku tak diminta untuk berbuat sesuatu.
Menjadi seorang presiden, bukan keinginan yang kecil tentunya. Dan benakku pun sama sekali tak pernah mampu meski hanya membayangkannya, jauh, sangat jauh. Dan hingga akhirnya, keinginan itu pun luruh oleh waktu.

Tapi, benarkah pengalaman sedemikian dramatis tak memberi bekas apapun dalam kehidupanku seiring tak berlanjutnya cita-cita? Tidak! Tidak benar! Pengalaman itu telah membekaskan sebuah ukiran di seluruh persendianku. Meski tidak dengan melanjutkan keinginan menjadi presiden, tapi semua itu kini membelalakkan mataku yang bertahun-tahun kututup karena telah terlalu apatisnya dengan yang namanya pesta demokrasi di Indonesia.

Iya, benar. Aku tak pernah sekali pun ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi di negeri ini sebelumnya, di tingkat manapun, daerah ataupun pusat. Tapi kali ini, aku benar-benar ingin memberikan suaraku kepada seseorang yang kuanggap paling mampu mengemban amanah besar ini. Aku ingin menitipkan negeri ini kepada pemimpin yang benar-benar manjadikan kesejahteraan rakyat sebagai aliran darahnya. Dan akhirnya, aku pun menemukannya. Tak satupun orang di sekelilingku yang tak menertawakan pilihanku, tapi aku tak peduli, aku telah menelusuri rekam jejak kehidupannya, aku mencoba mempelajari karakteristik dan gaya kepemimpinannya, dan aku pun memilihnya karena hatiku mengatakan dialah orang yang paling tulus diantara kandidat yang ada, tulus ingin memberikan perubahan atas negerinya yang selama ini terbuai dan terlelap dalam ketidakadilan.

Meski akhirnya, KALAH!!!

Tak apalah, inilah demokrasi. Dan kini, aku tetap tak boleh berhenti, aku tetap harus berbuat sesuatu, sebanyak-banyaknya, meski tak mampu berbuat dalam skala makro seperti seorang presiden dengan kebijakan dan undang-undangnya, tapi setidaknya aku bisa berusaha menjadi ummat Muhammad yang melaju mengejar ”Khoirunnas anfa’uhum linnas ” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya).

18 Oktober 2009

Ketika Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mengerat

Hhh…Tarik nafas dulu ya sebelum menulis, karena sebetulnya berat bagiku untuk menuliskannya, atau lebih tepatnya dilematis. Apa yang ingin kutulis ini sebuah fenomena yang diaklamasikan oleh semua orang sebagai tindakan yang tidak terpuji, tak terkecuali aku sendiri, tapi pandanganku kini menjadi sedikit berbeda, karena….” (nanti ya lanjutannya)

Indonesia, bukan rahasia lagi tingkat korupsinya di mata dunia Internasional. Mulai dari unit pemerintahan terendah hingga tertinggi, baik BUMN maupun swasta, bahkan di lingkup para penegak hukum pun berkali-kali terungkap. Hina, sungguh perbuatan tak berperikemanusiaan, di tengah jutaan rakyat Indonesia yang bahkan mungkin tinggal ‘oksigen untuk bernafas’ saja kebutuhan primer yang bisa mereka penuhi setiap hari, sebab kebutuhan 3 kebutuhan primer yang dulu sering diajarkan oleh Guru kita saat sekolah dasar; Sandang, Pangan, dan Papan sudah menjadi hal yang tak utama lagi.

Terhadap perilaku kejam ini, siapa yang tak ingin mengutuk?
Bahkan kemungkinan besar para pelaku korupsi sendiri menyadari betapa tidak terpujinya perilaku korupsi itu. Inilah yang sulit dimengerti, pada dasarnya para pejabat itu tahu betul dampak korupsi secara luas, tapi mengapa mareka masih banyak yang tidak menjaga dirinya untuk berlaku jujur dan bersih.

Jadi teringat teori Disonansi Kognitif (Festinger, 1957) yang menjelaskan inkonsistensi antara suatu keadaan atau perilaku dengan apa yang selama ini dipahami baik secara individual maupun kolektif.Yah, sepertinya inkonsistensi antara sikap dan perilaku dalam tindakan korupsi ini bisa menjadi fatal jika individu tidak menyadari, apalagi sampai melakukan rasionalisasi sebagai self defense mechanism-nya, bisa-bisa makin menjadi dan tak memunculkan perasaan bersalah. Padahal guilty feeling itu meskipun sebuah bentuk emosi negatif, tapi keberadaannya dianggap cukup baik mengingat perasaan itu sendiri muncul ketika seseorang mengevaluasi pikiran, perasaan dan tindakan(Tangney & Fischer, 1995). Paling tidak dari perasaan itu individu berpotensi sadar dan memperbaiki kesalahannya.

Sebesar apapun kehinaan tindak korupsi, tetapi pernahkah kita berfikir apabila kita berada dalam situasi dimana orang terdekat kita divonis bersalah atas sebuah kasus korupsi dan harus segera dieksekusi? Pastilah tidak mudah, meskipun kita termasuk orang yang menyalahkan perilaku korupsi. Barangkali situasi itu yang saat ini sedang kualami, dan lagi-lagi ingin rasanya sekuat tenaga menyangkal kenyataan ini, tapi apalah daya, toh kenyataannya uang hak rakyat itu memang pernah mampir di dompetnya.

Senin 12 Oktober 2009, bukan hanya menjadi hari diumumkannya identitas korban mati dalam penggerebekan sarang Teroris di Ciputat, sebab di hari yang sama, dan masih di belahan bumi yang sama, 11 mantan anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dijebloskan ke dalam penjara atas kasus korupsi massal dana APBD senilai Rp 20 miliar. Satu diantara mereka adalah orang tuaku semasa duduk di Sekolah Dasar. Iya, beliau adalah guru sekaligus kepala sekolahku.

Bahkan untuk bereaksi pun aku bingung. Sedih, prihatin, kasihan, tidak tega, bercampur menjadi satu, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Barangkali jika hari ini aku bertemu muka dengan beliau, aku memilih untuk tidak berbicara apapun, dan pergi dengan tubuh lunglai menahan tangis. Aku jadi teringat cerita pamanku di Jakarta, bagaimana saat beliau bertemu dengan mantan Menteri Agama KH. Said Agil Al-Munawwar untuk pertama kali setelah keluar dari penjara atas kasus korupsi Departemen Agama beberapa tahun silam. Siapa yang tak miris, guru bahkan ustadz yang sepanjang masa akan kita kenang jasanya harus menjadi seorang pesakitan di balik jeruji besi.

Tapi jika aku diizinkan berpendapat, jujur dari hati yang paling dalam, sampai sekarang pun aku tak percaya jika beliau melakukan tindakan itu secara sadar, dan terencana. Aku lebih nyaman ketika mempercayai bahwa Ayahanda guruku itu hanya menerima jatah pembagian ‘kue kenduri’ dari sebuah tindakan korupsi yang dilakukan oleh atasannya yang telah terlebih dahulu mendekam di hotel prodeo, sama sekali tidak menyumbang otak apalagi ikut berstrategi atas tindakan hina itu.

Jika sikapku itu masih kurang tepat, maka aku memilih pembelaan yang selanjutnya, yaitu apa yang diajarkan oleh Nabi Saw. bahwa yang pantas kita hina dan rendahkan adalah sebatas pada perilakunya, bukan orangnya, karena bagaimanapun pelakunya tetap harus dihormati sebagai individu sama seperti yang lain.

Terdengar sangat naif memang pembelaanku, tapi entahlah, aku bingung dalam menentukan sikap, yang jelas aku hanya ingin menjadi murid yang hormat kepada guru sejak dulu, kini dan nanti. selamanya, tak kan berubah, dan tak kan pernah ingin mengubahnya.

13 Oktober 2009

Teroris di Ciputat, Sebuah Elegi; Antara Aku, Mereka, dan Kampusku

Lagi, penggerebekan sarang teroris terjadi, Jum’at 9 Oktober 2009 media kembali beramai-ramai memberitakan secara eksklusif penggerebekan sarang teroris yang diduga adalah dua orang yang selama ini masauk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Aku yang siang itu baru datang dari luar rumah serasa tak hendak beranjak dari depan layar kaca, bukan hanya karena beritanya tentang teroris, tapi juga (atau lebih tepatnya, lebih karena) TKPnya; Jalan Semanggi Cempaka Putih Ciputat Tangerang Banten.

Jika di pertengahan pemberitaan aku mengganti status Facebook dengan kalimat “Gokil, tempat maen gue ternyata juga dipake Teroris maenan petak umpet”, barangkali memang demikianlah deskripsi paling mengena dalam mengggambarkan kedekatanku dengan TKP. Jadi keterikatan yang sangat dekat itulah yang memintaku untuk stay tuned.

Menit demi menit berlalu, berita yang dikabarkan semakin berkembang, dari nama korban penggerebekan, nama pengelola kost, pemilik kamar no.15 hingga para penghuni rumah kost tersebut. Para pengguna facebook tak kalah heboh, bagaimana tidak, 40 % teman facebookku adalah teman-teman UIN Ciputat, sampai-sampai heboh pula masalah tentang kakak kelas kami yang diinterogasi oleh Densus 88 dan diliput oleh sebuah media online.

Saat hari mulai petang, Kabid Humas POLRI memberikan statement kepada halayak mengenai kejadian siang itu, tapi alih-alih merilis nama korban tewas, yang keluar justru sebuah inisial nama yang disebut-sebut sebagai kurir sang gembong teroris dan telah ditangkap sebelum penggerebekan itu terjadi.

Senin 12 Oktober 2009, berita yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga, setelah menjalani serangkaian tes DVI dan DNA dipastikan bahwa korban tewas dalam penggerebekan hari Jum’at adalah Syaifudin Zuhri/Jaelani dan M.Syahrir, dua gembong teroris otak pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Tidak berhenti sampai di sini, Sony sang pemilik kamar no.15 pun dipastikan adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Deg! Jantungku berdegup kencang, seolah tak percaya sebab dari awal aku tak ingin mempercayai berbagai spekulasi yang bergulir.

Kejutan belum berhenti, hingga diumumkan identitas Fajar yang dari awal telah dikatakan sebagai kurir bagi SJ dan MS, Fajar Firdaus alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi. Plak!! Wajahku serasa ditampar sekencang-kencangnya mendengar berita itu, terlebih setelah beberapa waktu kemudian kusadari bahwa aku sangat mengenalnya. Hanya satu kalimat yang selalu kugumamkan saat foto-fotonya mulai beredar di layar kaca, “Nggak mungkin” (sebuah ungkapan denial tentunya).

Apa yang sebenarnya terjadi pada teman-teman UINku? Pikiranku mulai menerawang, mencoba memahami apa yang tengah terjadi. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki segudang prestasi, itu biasa. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki pemikiran nyeleneh bahkan cenderung liberal, itu bukan hal baru. Jika mahasiswa/alumni UIN berada di baris terdepan sebuah demonstrasi menyarakan suara rakyat, itu sudah sejak dulu. Jika mahasiswa/alumni UIN tertangkap karena kasus narkoba, itupun sudah pernah ada. Tapi ini, ini sungguh memprihatinkan.

Aku mencoba terus menganalisa, seperti apa pribadi dua orang mahasiswa dan alumni UIN ini? Mahasiswa dari fakultas ilmu umum (lih: bukan ilmu agama) sering diidentifikasi sebagai mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang lebih manakala disuguhkan dengan hal-hal yang selama ini tak didapatinya (yang berbau agama), taruhlah jika kita perhatikan teman-teman lembaga dakwah kampus yang didominasi oleh mahasiswa/i lulusan SMA (bukan Madrasah Aliyah atau bahkan pesantren, pen.), selain itu bisa dipastikan organisasi ini tampak lebih subur ketika tumbuh di fakultas ilmu umum, bandingkan pertumbuhannya antara di fakultas Sain Teknologi atau Psikologi dengan di fakultas Syariah atau Ushuluddin. Fenomena ini sangat terbaca di lingkungan UIN Jakarta yang semenjak berubah menjadi Universitas tidak lagi menjadi kampusnya anak pesantren, akan tetapi telah berbagi porsi secara seimbang dengan anak-anak lulusan SMA.

Jika melihat nama Universitas yang menaungi berbagai fakultas-fakultas tersebut, seolah membuat orang lain tidak mau tau bagaimana keragaman latar belakang mahasiswa di sana, yang mereka tau bahwa UIN Jakarta adalah Universitas Islam yang tentunya diekspektasikan secara berbeda oleh orang kebanyakan terutama dalam penguatan ajaran Islamnya. Tidak salah memang, di UIN semua fakultas diajarkan Bahasa Arab, Tafsir-Hadits, Akhlak Tasawuf dan lain sebagainya sebagai MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) tapi toh hal itu tidak menjadi jaminan bagi mahasiswa/alumni akan menjadi seorang ahli Tafsir maupun Tasawuf.

Ada fenomena yang cukup menarik, manakala mahasiswa berlatar belakang umum (sekali lagi, bukan agama, pen.) tampak memiliki ketertarikan yang lebih besar terhadap pengkajian agama yang di kampus biasa disajikan dan dikemas dengan cara se-mahasiswa mungkin, artinya dengan cara diskusi, tanya jawab, bedah buku-buku agama kontemporer. Bagi mereka, menemukan hal baru dalam bidang spiritual yang melalui proses yang logis dan aplikatif adalah kebutuhan yang selama ini tak ditemukannya di bangku SMA. Menelisik hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang dipilah menjadi D-need (deficiency need) dan B-need (being need) atau biasa disebut dengan kebutuhan Meta, atau lebih familiar lagi adalah Self-Actualization (Aktualisasi Diri)., maka apa yang dicapai oleh mahasiswa-mahasiswa kelompok ini adalah kebutuhan di atasnya B-Need, dimana tahap aktualisasi diri sendiri bukanlah tahap yang hanya akan dicapai oleh pribadi-pribadi yang secara kasat mata telah mapan lahir dan batin, aktualisasi diri masing-masing orang memiliki kadarnya sendiri-sendiri, sebagaimana kadar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di bawahnya (Physiologic, Safety, Belonging and Love, Self Esteem) yang juga berbeda porsi antara satu orang dengan yang lainnya.

Setelah mencapai tahap aktualisasi diri, ada satu fase lagi di atasnya yakni Transendensi, dalam fase ini sisi spiritual seseorang lah yang membutuhkan pemenuhan, dimana kebutuhannya akan sesuatu ‘hal’ di luar dirinya diharapkan bisa menutupi ‘kehampaan diri’ yang dirasakannya. Pemenuhan kebutuhan ini lebih bersifat sangat pribadi, hanya antara individu dengan ‘dzat’ di luar dirinya, yang mana kesempurnaan dari transendensi ini akan mengantarkan seseorang pada Peak Experience, sebuah pengalaman puncak yang bersifat spiritual yang hanya akan dicapai setelah melalui serangkaian proses yang sangat terjal dan membutuhkan tingkat pengorbanan yang sangat tinggi.

Barangkali inilah kemudian yang disasar oleh oknum-oknum pencuci otak dalam merekrut anggota ‘jihad’ versi mereka, termasuk dalam menyiapkan para suicide bomber, dengan segala nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya yang kesemuanya adalah versi yang mereka buat sendiri sebagai pembenaran atas langkah yang mereka jalani. Menyoal rekrut-merekrut ini sebenarnya bukan hal baru, sebelumnya di tahun 2006/2007 UIN dihebohkan dengan banyaknya mahasiswa yang menjadi korban perekrutan sebuah aliran keagamaan dengan ajaran Islam yang telah mereka modifikasi sesuka hati, dengan penggunaan dalil ayat-ayat Alquran yang asal comot sini comot sana tanpa prosedur yang jelas dengan tujuan sekuat mungkin landasan ajaran yang diberikan dan agar tampak lebih masuk akal dan berdasar (dua hal yang harus dipenuhi ketika berbicara dengan pelajar level mahasiswa). Ketika itu banyak teman kami yang menjadi korbannya, sampai-sampai ada yang telah mengeluarkan uang untuk kelompok tersebut dengan mengatasnamakan loyalitas, meski tak sampai terjadi penculikan seperti yang dialami oleh seorang mahasiswa ITB 2 tahun silam.

Di balik semuanya, hanya mampu berharap kedua teman kami terbukti tidak memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kejadian terorisme yang hina itu, dan semoga tak ada lagi terror-teror lain yang menghantui persada tercinta.

Rabbi ij’al haadzaa baladaan aaminan warzuq ahlahu minats tsamaraati man aamana minhum billahi wal yaumil aakhir... (Al-Baqarah: 126)

4 Oktober 2009

Santun dalam Doa

“Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini agar diterima kerja di perusahaan itu”,” Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini agar berjodoh dengan dia”.
Kalimat-kalimat doa tersebut tentulah sudah menjadi bagian dari doa-doa yang sering kita panjatkan ke hadirat-Nya, lantas saat kita tidak berhasil mendapatkan sesuatu sebagaimana apa yang kita inginkan dan mohonkan --kepada Allah agar dikabulkan—kita pun merasakan kekecewaan yang teramat sangat hingga menganggap Allah mengingkari janji-Nya sebagai Sang Penjawab segala doa hamba-Nya. Tidak hanya itu, saat apa yang kita inginkan akhirnya terraih yang namun kemudian ternyata berlanjut tidak sesuai dengan yang kita canangkan, kita pun mengeluh dan kecewa.

Saat sedang berdoa, tentulah kita sangat berharap bahwa apa yang kita mohonkan dapat terkabul persis sebagaimana yang kita harapkan. Tidak ada yang salah memang, sebab kita memang seyogyanya berbaik sangka terhadap Allah karena Allah berlaku sebagaimana apa yang disangkakan oleh hamba-Nya. Namun ada satu hal yang sering tidak kita sadari, bahwa dalam untaian-untaian doa itu sering kita mendikte Allah dengan keinginan-keinginan duniawi kita yang begitu beragam dan ‘sayangnya’ selalu kita anggap sebagai hal yang benar-benar terbaik dan kita butuhkan.

Kita sering lupa, bahwa bahkan mengenai diri kita sendiri pun Allah lebih mengetahuinya, lantas mengapa kita masih sering menganggap bahwa hanya diri kita sendirilah yang tahu akan diri kita. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah akan hamba-Nya meliputi segala sesuatu, oleh karenanyalah Allah yang paling tahu apa yang terbaik dan yang paling dibutuhkan oleh hamba-Nya.

Itulah sebabnya, Nabi Allah Musa Alaihissalam memberikan tauladan di dalam doanya, saat beliau sedang dalam pelarian dari Mesir tempatnya selama ini hidup karena ancaman raja Fir’aun. Usai membantu dua gadis kakak beradik untuk memberi minum pada hewan ternak mereka, beliau berdoa, Rabbi inni limaa anzalta ilayya min khairin faqiir (QS.Al-Qashash: 24), Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba suatu kebaikan yang hamba fakir atasnya. Saat itulah Allah yang maha mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan hamba-Nya mempertemukan beliau dengan keluarga Nabi Syu’aib yang kemudian memberinya pekerjaan dan juga seorang puteri cantik nan shalihah sebagai istrinya.

Dalam doa nabi Musa, tidak kita dapati satu pun kalimat spesifik dari bentuk anugerah-anugerah besar yang Allah berikan sebagai jawaban, namun atas kemaha Bijaksanaan Allah diberikanlah anugerah kepada nabi Musa sebagaimana yang dipanjatkan dalam doanya, yakni sesuatu yang ia butuhkan, dan tentu saja Allah dengan kemahaan-Nya dalam Mengetahui menurunkan anugerah yang diketahui-Nya sebagai sesuatu yang dibutuhkan dan yang terbaik bagi Nabi Allah Musa Alaihissalam.

1 Juli 2009

Teladan dari Si Kecil

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Demikianlah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al-An’aam: 95)

Setiap hari, setiap waktu, dan setiap saat manusia hidup berdampingan dengan makhluk Allah bernama tumbuhan, berbagai jenis dan aneka ragam tumbuhan membersamai kehidupan kita tentulah bukan hanya untuk kita ambil manfaat fisiknya saja, sebab jauh lebih dalam dari itu tumbuhan memiliki sebuah ilmu hikmah yang justru sering tidak kita sadari, padahal dari ilmu itu pelajaran berharga dapat kita tuai sebagai salah satu penempaan menuju pribadi-pribadi yang lebih bijaksana.

Perhatikanlah sayur-sayuran yang sehari-hari kita nikmati, tahukah kita bahwa untuk menumbuhkan satu tanaman sawi tidaklah cukup dengan menebar satu butir biji benih sawi, dan tiadalah dengan menebar seratus butir biji sawi maka tumbuhlah tanaman sawi dengan jumlah yang sama. Perlu kita pahami, bahwa butuh berpuluh-puluh hingga ratusan butir biji sawi untuk kita bisa berharap tumbuh beberapa gelintir tunas tanaman sawi, sebab tidak mungkn kita berharap dari masing-masing butir biji yang ditebar maka di setiap itu pula dapat kita tuai hasilnya.

Dari sinilah kita pantas berkaca, bahwa dalam kehidupan manusia kita pun menjalani hukum yang sema dengan yang berlaku pada biji tanaman, bahwa sesungguhnya tidak cukup hanya dengan satu kali usaha kita bisa serta-merta dapat mencapai keberhasilan. Dan tidak mungkin pula dari beberapa kali kita berusaha maka setiap kali itu pula kita akan menuai sukses kesemuanya persis seperti yang kita inginkan.

Alam telah mengajarkan kepada kita, betapa keberhasilan tidak dicapai hanya dengan satu-dua kali usaha, sebab perlu puluhan bahkan ratusan biji benih demi melihat satu-dua gelintir dari mereka bersemi dan lantas dapat dinikmati.

Lantas pantaskah kita berputus asa, berpatah semangat, hingga menuntut dengan dalih ketidakadilan atas sebuah kegagalan yang hanya satu-dua kali kita usaha dan perjuangkan? Sering kita berhenti dan terpuruk karena gagal mendapatkan kerja hanya dengan satu-dua kali mengajukan lamaran dan interview. Sering kita enggan berdoa lagi dan bahkan menyalahkan Yang Maha Kuasa karena tak kunjung terkabulkannya doa yang hanya satu-dua kali dipanjatkan.

Melalui biji benih yang kecil itu, marilah kini kita mulai meneladani, bahwa sebuah keberhasilan pastilah berproses, dan proses menujunya tentu akan melewati kegagalan demi kegagalan. Semua berpulang kepada bagaimana kita menyikapinya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Sang Penentu segalanya. Tetap berusaha, berdoa, dan berpasrah.

7 April 2009

Fa bi ayyi Alaai Robbikuma Tukadziban?


Apa yang aku minta, Kau turuti.
sedari dulu.
Apa yang aku hilang, Kau ganti.
sedari dulu.
Apa yang aku butuh, Kau cukupi.
sedari dulu.
Apa yang aku angankan, Kau nyatakan.
sedari dulu.


Fa bi ayyi alaai robbikuma tukadziban?
maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

28 Maret 2009

SITU GINTUNG; Yang Tertakdir Untukmu

Dihempas gelombang dilemparkan angin
Terkisah bersedih bahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencanaNya

semua berjalan dalam kehendakNya
nafas hidup cinta dan segalaNya


Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi

Bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti (hilang kan berganti)

Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkan hati merindukan Dia
karena hanya denganNya hati tenang
Damai jiwa dan raga

Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Hanya padaMu ya robbi

(lagu "Takdir", by Opick)
(foto; www.liputan6.com)

Earth Hour

Selamatkan Bumi Kita
Oleh: Faiqoh Fauzie
dimuat dalam Harian Republika
Sabtu, 13 Desember 2008

SITU GINTUNG; Antara Aku, Kau dan Kampusku

Tidak semua orang tahu tentunya kalau danau gintung adalah danau kebanggaan UIN Jakarta. Betapa tidak, lokasinya tepat berada di belakang kampus UIN Jakarta, barangkali di setiap pemberitaan televisi menyebutkan bahwa lokasi situ gintung berseberangan dengan kampus UIN Jakarta, tidak salah memang, tapi pasti mereka lupa bahwa terdapat beberapa fakultas yang gedungnya berlokasi di Jalan Kertamukti, tentu saja membenarkan akan keberadaannya tepat di belakang kampus tercinta, terlebih lagi fakultas-fakultas yang berada di kampus Kertamukti adalah Kampus Pascasarjana, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Psikologi. Iya, fakultas tercintaku Psikologi.

Kedekatan antara kampus kami dengan Situ Gintung tidaklah hanya sebatas lokasi, tapi juga ikatan emosional, rasa-rasanya jika menyebut kata Situ Gintung maka seolah-olah mengatakan Danaunya kampus UIN Jakarta. Sangat tidak berlebihan tentunya, sebab merunut perjalanan perkuliahanku di UIN Jakarta selama 4 tahun selalu diwarnai kenangan demi kenangan dengan Danau ini. Dari mulai awal hingga akhir.

Teringat saat masih menjadi mahasiswa baru di UIN Jakarta, di sela-sela kesibukan Propesa (Ospek) aku dan kawan-kawan bermain di sana (di Pulau Situ Gintung), saat mengikuti pengkaderan PMII aku juga ditempatkan di sana (di Villa Situ Gintung), rapat-rapat organisasi FP2I (Forum Pengkajian Psikologi Islam) (di Saung Situ Gintung), meeting-meeting Star Act, rapat bersama guru-guru Yayasan (Restoran Situ Gintung), hingga hanya sekedar bermain-main bersama sepupu-sepupu kecilku juga di sana (di Out Bond Situ Gintung). Belum lagi saat olah raga pagi di hari Minggu, aku dan teman-teman sering melanjutkan perjalanan ke sana (di kawasan bermain Situ Gintung), dan yang terakhir detik-detik saat aku hendak meninggalkan kampus tercinta, saat usai upacara wisuda aku dan keluarga melepas dahaga dan lapar di restoran Situ Gintung.

Bencana yang terjadi Jum’at pagi kemarin, seolah hendak memaksaku menghentikan semua kerinduanku akan keindahan Situ Gintung. Ingin aku tetap mempercayai bahwa nanti saat aku kembali ke Situ Gintung, aku akan tetap menemui keindahannya, seperti sedia kala, dan akan terus begitu, selamanya, setidaknya ia akan tetap terpelihara indah dihatiku.

17 Februari 2009

Iklan Politik; Sebuah Trik Resiprokal

‘Jadi pilihlah aku!’, semua orang pasti setuju kalau petikan kalimat pamungkas dari lagu yang pernah dipopulerkan oleh Diva Pop Indonesia —Krisdayanti-- ini sangat tepat digunakan untuk menyingkat dan menyimpulkan ratusan bahkan ribuan kalimat yang digunakan oleh partai politik dalam berbagai iklannya.

Tahun ini, Indonesia memiliki serentetan hajatan pemilu. Mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Partai, hingga Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebenarnya ini bukanlah hal baru, sebab rentetan Pemilu telah dirasakan selama tahun 2008 kemarin. Pada musim pemilu seperti ini, manuver-manuver politik gencar disuguhkan oleh para mereka yang berkepentingan memperoleh sebanyak mungkin simpati dari rakyat sebagai pemilihnya.

Lihat saja iklan-iklan politik yang kerap menghiasi layar kaca kita, seolah berlomba beranjangsana memenuhi ruang publik dengan segala kreatifitas hasil pengemasan para Advertiser yang tak jarang memunculkan reaksi masyarakat yang beragam. Tidak dapat disangkal, bahwa tradisi ini memang cukup ampuh untuk menaklukkan hati masyarakat dalam menjatuhkan pilihan, sebab bagaimanapun juga banyaknya partai-partai baru yang terus bermunculan menuntut mereka untuk mensosialisasikan diri secara intensif demi mendapatkan simpati atau setidaknya sekedar membuat tahu masyarakat atas keberadaan mereka.

Sosialisasi sendiri bukan hanya wajib dan diperuntukkan bagi partai-partai baru, karena ternyata partai-partai lama dan besarlah yang justru terlihat memiliki kepentingan yang lebih besar atas pemenangan pemilu. Taruhlah Partai A, B, C, dan D, yang tiap hari mempertontonkan diri di layar kaca, dengan mengusung materi dan pengemasan yang beraneka ragam, bahkan tak jarang hingga saling berebut klaim.
Strategi mengemukakan prestasi demi prestasi yang pernah dicapai oleh partai saat memegang estafet pemerintahan memang dianggap sebagai senjata yang cukup ampuh dalam menggaet massa sebanyak-banyaknya, sebab dari situlah Partai Politik berusaha mengingatkan kepada masyarakat bahwa dalam kurun waktu pemerintahan di bawah kepemimpinannya, terdapat prestasi gemilang yang perlu diingat oleh rakyat dan diharap rakyat --yang ingin prestasi tersebut terus berlanjut-- menjatuhkan pilihan kepada mereka.

Hukum Resiprokal
Berhasil menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak tiga kali, berhasil menyukseskan swasembada pangan, berhasil mengatasi konflik di beberapa daerah, berhasil menstabilkan harga sembako, dan lain sebagainya. Berbagai klaim digunakan oleh masing-masing partai sebagai pencapaian yang patut diingat oleh masyarakat sebagai prestasi.

Mengklaim sebuah pencapaian untuk membeli suara masyarakat memang sebuah cara yang tidak dapat dipersalahkan, bahkan boleh dibilang sebagai cara cerdas. Sedikit berlebihan memang, namun tidak demikian manakala kita mengetahui bahwa strategi itu ternyata memang cara yang sangat ampuh dan ironisnya sering hampir tidak dipahami oleh masyarakat bahwa sesungguhnya strategi itu berjalan sebagai trik resiprokal. Dalam Psikologi Persuasif, hukum resiprokal dikatakan sebagai aturan social yang membuat kita –yang tidak menyadari telah berada dalam lingkaran hukum itu—seolah-olah berhutang dan wajib membalasnya.

Resiprokal sendiri yang berarti timbal balik bukanlah suatu hukum tertulis dan berpasal, sebab dalam timbal balik ini hukum berjalan karena aturan social dalam masyarakat. Taruhlah contoh yang sering digunakan oleh perusahaan-perusaan yang sering melakukan pemasarannya dengan cara menyuguhkan agenda pengobatan gratis kepada masyarakat, dengan memajang berbagai atribut produk yang kemudian secara tidak sadar masyarakat seolah memiliki kewajiban sebagai balas jasa atas pengobatan gratis yang diterimanya dengan membeli produk yang ditawarkan.

Bukan hanya itu, strategi yang sama juga pernah marak digunakan oleh pengikut sekte Hare Krishna yang dahulu sangat dikenal oleh masyarakat di India, modus yang digunakan adalah dengan cara membagi-bagikan hadiah-hadiah kecil, seperti buku dan sekuntum bunga kepada setiap orang yang berlalu-lalang di tempat umum, dari situ kemudian masyarakat –karena merasa telah diberi sesuatu-- secara suka rela membalasnya dengan memberikan sumbangan yang tidak lain adalah digunakan untuk membiayai kehidupan kelompok tersebut.

Maka tidak heran jika untuk mendapatkan perhatian sebanyak-banyaknya, partai politik menggunakan jalan mengingatkan masyarakat atas jasa, keberhasilan dan dedikasi yang telah diberikan oleh sebuah partai politik kepada rakyat. Tidak dapat dipersalahkan juga jika efek dari langkah tersebut memang benar-benar membuat rakyat cenderung memberikan suaranya, namun untuk diketahui bahwa tidak ada satupun aturan yang mewajibkan kita merespon dengan memberikan suara, sebab bagaimanapun juga aturan resiprokal lebih bersifat sosial.

Perasaan tidak nyaman apabila tidak memenuhi permintaan setelah sebelumnya mendapatkan sesuatu dari mereka, itulah sasarannya. Sehingga perasaan tidak nyaman itulah yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu sebagai balasannya.

Cara Menyikapi
Sejatinya, sebagai hukum yang tidak menuliskan kewajiban untuk membalasnya, kita memiliki hak yang seluas-luasnya untuk melakukan penolakan. Selama kita bisa melihat dan mendefinisikan bahwa aksi yang dilakukan oleh seseorang adalah lebih sebagai alat untuk menundukkan kita ketimbang memberi sebuah jasa atau bantuan, maka orang tersebut tidak lagi memiliki hukum resiprokal sebagai sekutunya. Hukumnya mengatakan bahwa sebuah jasa atau bantuan seharusnya dibalas dengan jasa atau bantuan yang sama; tidak disebutkan bahwa sebuah trik harus dibalas dengan jasa atau bantuan.

Jelaslah bahwa sebuah ‘dedikasi’ yang telah diberikan sepatutnya kita telaah terlebih dahulu, apakah benar-benar dedikasi untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pemenangan, apakah pencapaian benar-benar dilakukan untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pra pemilu. Semua kembali kepada rakyat tentunya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dan sebagai pemegang otoritas mutlak atas suaranya sendiri.

4 Februari 2009

Empat Februari; in My Birthday


Waktu yang terus mewaktu, perjalanan terus bergerak tanpa bisa disadur. Hanya tangan yang tergerak ke angkasa dan mata yang menatap ujungnya langit yang mahabiru. Tak ada yang menyangsikan bahwa segala sesuatu selalu menyimpan, menyimpan apa-apa yang sudah terbenam di lorong-lorong sejarah. Orang kemudian menyebutnya dengan nostalgia.

Hari ini ada karena hari lalu tak teringkari, banyak noktah menghiasi, tapi bukan untuk dijadikan alasan membenci hari ini dan bahkan hari esok. Demi Tuhan, satu detik hari ini tidak mengulang sari satu detik pun di hari lalu, dan tak kan pernah terulang di satu detik hari esok, sampai kapanpun.

Bak melihat kaca spion, memandang masa lalu tidak harus dengan menoleh ke belakang, cukup dikaca, agar dapat menghindar dari kesalahan hari lalu, dan tetap lurus menghadap jalan yang terus berjalan menuju hari esok.

Baarakallahu lanaa fi ‘umuurinaa