15 Desember 2011
Princess Sultana; Feminist di Negeri Patriarkis yang Agamis
13 November 2011
Tulisanku dalam Buku Antologi Perjalanan Haji dan Umroh "Too Good To Be True"
Dan akhirnya fotocopy KTP beserta segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku,Bismillahirrahmanirrahiim….Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus menguras air mataku.Labbaik Allahumma Labbaik…Labbaika Laa syariika laka labbaik…Innalhamda wan ni’mata laka wal mulk…Laa syariika laka…
9 Oktober 2011
Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH
Dan akhirnya fotocopy KTP beserta
segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku, Bismillahirrahmanirrahiim…. Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan
bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma
sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk
segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat
rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer
bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku
rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus
menguras air mataku.6 Oktober 2011
TAK SEKEDAR NYAMPAH
Dari alasan yang tidak disengaja
itulah akhirnya aku mulai terampil memilah sampah, nanti kalau sudah punya tong
sampah yang representatif aku mau mulai meng-komposter sendiri sampah rumah
tanggaku aaah… Ternyata memilah sampah itu nggak berat kok. Yuk kita mulai
membiasakan memilah sampah dari rumah!! Biar bumi kita makin indah. OK,
sahabat!!5 Oktober 2011
(a lil story of) MY NEW LIFE
Dan akhirnya, setelah berlelah-lelah
ria selama 2 bulan (plus libur-liburnya lho, terutama karena banjir di
kecamatan sebelah), tarrraaaaa…. Ini dia Our Paradise!!3 Oktober 2011
ORDE KORUP DI NEGERI KU
Pada dasarnya aku adalah termasuk orang yang sangat haus akan informasi, sehari tanpa meng-update berita baik menyaksikan berita di TV, membaca Koran, atau menyimak berita melalui media online tentu saja akan membuatku serasa ling-lung. Tak hanya menikmati berita yang tersaji namun bahkan seringkali pada berita-berita khusus yang dimuat dalam sebuah kemasan ‘Breaking News” aku sering ditemani oleh selembar kertas dan sebuah pulpen untuk mencatat nama-nama penting, waktu-waktu kronologis, dan alur sebuah kejadian atau kasus yang sedang dibahas. Kadang aku merasa aneh sendiri manakala dalam suasana berkumpul dengan teman-teman kuliah yang sedang mengerjakan tugas aku membahas issue-issue penting yang sedang hangat diperbincangkan di TV berita dengan menyebutkan nama-nama yang terkait. Mengapa aneh? Karena kebanyakan dari mereka ‘tidak nyambung’ dengan apa yang kubahas. Hmm… tentunya bukan salah mereka karena memang aku saja yang aneh, karena lebih tertarik dengan berita politik, terorisme, krisis pendidikan, sosial kemasyarakatan, dll dari pada membaca buku kuliah berbahasa inggris yang tebalnya ratusan bahkan ribuan halaman. Dan hasilnya, seperti dapat dibaca dalam note-note facebookku sebelumnya yang lebih banyak membahas dan menyoroti issue-issue politik, sosial kemasyarakatan, terorisme, dll.
Namun, semakin banyak informasi aku dalami, semakin membuatku gerah sekaligus geram. Betapa tidak? Kian hari kita terus saja dihadapkan kasus-kasus ketidakadilan yang terjadi dimana-mana, semakin hari semakin tampak bagaimana potret manusia Indonesia yang serakah, tidak hanya terjadi dan dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, tetapi rakyat kecil pun ketika mendapatkan jalan menuju surga dunia dengan cara tidak halal, maka jalan itu pun ditempuhnya.
Ggghhhrrrrr…!! Geraaammm…!!! Gemas.. aku sungguh gemas!! Entah memang seperti itu kejadiannya atau eksploitasi media saja yang berlebihan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa dua televisi berita nasional kita memang dimiliki oleh dua orang tokoh yang memiliki kepentingan khusus atas aib pemerintah, walhasil bagi media bad news is a good news. Ah entahlah, yang jelas semua sangat kusut. Ketidak adilan ini telah mendarah daging, terlebih kala mengingat bahwa pihak-pihak tersebut tidak lain adalah mantan mahasiswa yang dahulu di masanya duduk di bangku kuliah mereka berada di barisan depan perjuangan meraih reformasi dan menurunkan Orde Baru yang mereka anggap Orde Korup.
Saatnya yang muda memimpin, begitu slogan digembar-gemborkan, cukup lama diperjuangkan, cukup banyak menarik simpati masyarakat, hingga akhirnya mimpi mereka terwujud. Lantas, terwujudnya impian mereka apakah berarti impian masyarakat Indonesia juga terwujud?? Tidak sama sekali alias Nol Besar!!
Ini dia variasi pelaku korup di negeri ini yang mulai makin berwarna, mulai dari yang tua sampai yang muda bahkan anak-anak yang mulai diajari curang secara massal dalam Ujian Nasional, mulai dari pejabat tinggi dan pemerintahan hingga pejabat kelurahan dan RT, mulai dari konglomerat direksi sebuah Bank hingga rakyat jelata berprofesi TKW yang juga tak mau menyia-nyiakan ‘pundi-pundi sumbangan rakyat’ yang tak sepantasnya dihambur-hamburkan. Namun, meski berbeda-beda golongan, motif dan caranya, ada satu hal yang sama dari mereka semua, yaitu Tak Punya Malu.
Dari 230 juta rakyat Indonesia yang adil dan beradap ini, apakah semuanya sudah terjangkiti virus tak malu untuk korupsi??? Dari lubuk hati yang paling dalam, tentu kayakinan akan adanya segelintir manusia Indonesia yang berhati nurani dan tak doyan korupsi. Tapi bisa dibayangkan keberadaan yang segelintir itu ketika dihadapkan dengan lingkungan yang mana korupsi sudah mendarah daging, tentu saja akan banyak ditemui penjegalan, timpuk dari belakang, hingga jebakan demi jebakan untuk mematikan langkah hingga Skak Mat!!
Sebut saja Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar yang harus rela meregang usia dibalik jeruji penjara karena kejujuran dan kelugasannya bersuara dan bertindak, atau Ketua MK Mahfud MD yang setiap pagi sarapan dengan ancaman terror pembunuhan atas dirinya, belum lagi Walikota Solo Joko Widodo yang menebalkan telinga meski terus di goblok-goblokkan oleh atasannya karena menolak proyek yang sarat potensi mendulang pundi-pundi tidak halal, dan yang sangat menyedihkan melihat Aam, siswa SD yang diusir dari desanya karena menyuarakan kejujuran di sekolahnya.
Fiuuh….susah memang jadi orang jujur di negara dalam orde korup. That's why, Aku sekarang jadi agak males nonton berita dan segera kuganti begitu melewati channel berita dan membaca title tentang 'itu-itu' lagi dan menghadirkan narasumber 'mereka-mereka' lagi.
27 Oktober 2010
PEKERTI SANG KUNCEN SETIA

Lama sudah ku tak menulis, dan kini aku benar-benar ingin melakukannya, menggerakkan jemari di atas keyboard putih ini, mengayunkan pikiran merasakan dorongan besar yang ingin segera tertumpahkan. Aku sedih, hatiku pilu…
Berita wafatnya Sang Juru Kunci Gunung Merapi tempo hari cukup mengejutkan, Mbah Marijan yang namanya mulai tenar beberapa tahun silam saat merapi menggoda kita dengan bersinnya, saat dimana situasi dinyatakan waspada oleh Badan Vulkanologi, saat semua warga sekitar gunung teraktif di dunia itu diinstruksikan untuk segera meninggalkan kediaman menuju pengungsian. Tapi dia, dia si kuncen renta itu tak beranjak sedikitpun, bahkan hingga Rajanya sendiri yang memerintahkan sang abdi untuk segera turun gunung, tapi tetap saja ia bergeming, dengan satu alasan, iya hanya satu alasan “Merapi adalah amanah untukku”
Srrr… berdesir darah ini mendengar satu kecap kalimat itu, bergejolak darah ini merasakan betapa kesetiaan seorang abdi terhadap apa yang telah diamanahkan kepadanya, kalimat itu tentu bukan buah dari kesadaran pribadi yang terbentuk secara instan, kalimat itu tentu bukan bentuk dari tanggung jawab yang telah dibayar dengan lembaran rupiah yang mahal. Kalimat itu adalah sebuah kalimat yang terlontar dari hati, hati seorang abdi yang begitu taat kepada padukanya, abdi yang begitu menjunjung amanah yang diembankan kepadanya, abdi yang meski hanya digaji dengan belasan ribu rupiah per bulannya, namun abdi ini adalah abdi negeri yang patut menjadi suri tauladan bagi abdi-abdi negara tercinta ini.
Siapapun layak berkaca terhadap sikap Kuncen renta yang kini telah menghadap haribaan-nya itu, baik kita, terlebih para wakil rakyat dan pemegang amanah rakyat di gedung terhormat sana. Wakil rakyat yang bisa duduk di kursi empuknya dari hasil urunan suara rakyat, pemegang amanah rakyat yang harusnya bertugas memikirkan dan memperbaiki negeri untuk kepentingan rakyat, pemimpin rakyat yang harusnya menomorsatukan rakyat yang meski sedari awal menjadikan rakyat sebagai bulan-bulanannya.
Tentu bukan karena besarnya gaji dari Raja yang membuat Mbah Marijan begitu setia dan teguh menjaga amanahnya, tentu bukan karena popularitas menjadi bintang iklan yang membuat Mbah Marijan rela bertukar nyawa, keteguhannya adalah karena ia tidak ingin masuk ke dalam golongan orang yang ‘idza ’tumina khoon’. Ya, ia tidak ingin menjadi orang yang mencederai kepercayaan (amanah).
Lantas, bagaimana dengan gaji besar, popularitas meroket, dan citra (body lotion?? Ups! Tentu bukan, tapi political & individual image) yang sudah dan terus diusahakan tetap berkibar itu? Tidakkah sudah sangat cukup bagi anda-anda sekalian untuk menyadari bahwa itu semua bukanlah cuma-cuma? Demi Tuhan, itu semua harus dibayar, Paduka! Tidak perlu kontak kok, kami beri waktu lima tahun untuk dilunasi…
Oooh, betapa pilu hati ini, mendapati bahwa para pemegang amanah yang telah kami beri kredit berupa gaji besar, popularitas tinggi dan citra yang baik itu justru sibuk berpesta di kursi empuknya, berantem di gedung, mengemplang pajak, membungkus erat para tikus pengerat, kolusi, nepotisme, mengkrikiti (bahasa jawa tuh, buat yang kagak ngarti cari sendiri artinya) uang rakyat, mendesain gedung baru nan mahal, plesir ke negeri antah berantah (bahkan kabar terbaru ada yang karena takut kena demo, eh plesir ke Yunani berangkat jam 2 malam lho, Astaghfirullah…). Lantas, ada juga yang kerjaannya mewek dan sok terharu plus sok terdzalimi, belum lagi yang hampir tiap hari sibuk dengan citranya yang sedikitpun tak boleh menurun (owalah kenapa gak dibeli aja tuh pabrik citra body lotion, hmm…).
Tidakkah kalian sadar bahwa kalian adalah pemimpin, pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya? Oh Tuhan, bagaimanakah cara menegur pemimpin kami yang tak juga tersentil dengan berbagai sindiran dan kritikan itu?
Allahummaqsimlanâ min khasyatika mâ tahûlu bihî baynanâ wa bayna ma’shiyatik, wa min thâ’atika mâ tuballighunâ bihî jannatak, wa minal yaqîn mâ tuhawwinu bihî ‘alaynâ mashâi’bad dunyâ, wa matti’nâ bi a’smâ’inâ wa a’bshârinâ wa quwwatinâ mâ a’hyaytanâ, waj’al dzâlika khayrân lanâ, waj’al tsa’ranâ ‘alâ man zhalamanâ, wanshurnâ ‘alâ man ‘âdânâ, wa lâ taj’al mushîbatanâ fî dîninâ, wa lâ taj’alid dunyâ ‘akbara hamminâ wa lâ mablagha ‘ilminâ, wa lâ tusallith ‘alaynâ man lâ yakhâfuka wa lâ yarhamunâ. Wa shallalahu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.
(Ya Allah, anugerahilah kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan kedurhakaan kepada-Mu, dan anugerahi kami ketaatan yang mengantar kami ke surga-Mu serta limpahkan kepada kami keyakinan yang dapat meringankan petaka duniawi yang kami pikul. Anugerahilah kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan kekuatan selama hidup kami. Jadikan semua itu kebaikan buat kami, dan jadikan pembalasan-Mu terhadap orang-orang yang menganiaya kami. Ya Allah, menangkan kami menghadapi siapa yang memusuhi kami dan jangan Engkau jatuhkan petaka ukhrawi menimpa kami, jangan juga ya Allah, Engkau jadikan dunia perhatian terbesar kami serta batas pengetahuan kami. Ya Allah, jangan Engkau jadikan penguasa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu lagi tidak mengasihi kami.) Wa shallalâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.




