26 November 2013

My Pregnant Story (Part.2) Seni Berkomunikasi dengan Janin


Meski semua wanita hamil pernah merasakannya, tapi tetap saja aku merasa perlu mencatatkannya di sini, sebab begitu takjubnya aku atas kekuasaan Allah ini. Setidaknya, menjadi dokumentasi pribadi yang suatu saat bisa dibaca oleh tokoh utama dalam cerita ini. Selain itu juga sebagai bahan muhasabah diri, bahwa kekuasaan Allah sungguhlah luas dan mencapai hal-hal yang tidak terhingga oleh kemampuan manusia, sehingga tidak pantas bagi kita untuk berhenti mensyukurinya.

Trisemester kedua kehamilan adalah masa kehamilan yang paling enjoy. Kenapa? Karena pada masa ini aku sudah tidak lagi dipusingkan dengan yang namanya mual dan pusing karena segala macam bebauan, selain itu nafsu makan juga lagi lancar-lancarnya, serta ditunjang dengan tubuh yang masih belum terasa berat membawa perut. So, mulai masuk trisemester kedua, aku yang sebelumnya stop nge-mall demi menjaga janin di masa rawannya, sekarang mulai lagi deh ngidar-ngider mall (Horraayyy, akhirnya ziaroh ke mall juga. wkwkwkwk)

Di masa ini juga aku mulai menanti-nanti tiap minggunya, organ apa lagi yang sudah berfungsi dan bisa distimulasi (ooh, indahnya :) ) . menikmati setiap gerakan mulai dari yang hanya gelembung-gelembung udara, gelitikan lembut, hingga tendangan-tendangan yang selalu bikin kangen dan ketawa.

Si dedek anteng saat didengerin murottal, si dedek bergoyang riang saat didengarkan music klasik. si dedek antusias saat dibacakan dongeng, si dedek menggeliat penasaran saat bermain-main dengan cahaya lampu senter yang diarahkan ke perut. fiuuhhh… luar biasa rasanya.

Komunikasi pun selalu kulakukan terlebih saat berdua saja di dalam kamar, aku bercerita, mendongeng, meminta dedek bayi berada di jalan lahirnya, merayu plasenta agar tidak menghalangi jalan lahirnya si dedek, mewanti-wanti si dedek supaya nggak main-mainin tali pusat  ke lehernya biar nggak kelilit, membacakan doa, menjelaskan apa saja yang terjadi di sekelilingnya, dan lain sebagainya.

Saat usia kehamilan memasuki minggu ke 32, itu terakhir kalinya aku periksa ke dokter Maksum. di hari terakhir periksa aku pun menyampaikan keinginanku untuk melanjutkan periksa ke dokter lain dan di ruumah sakit lain yang nantinya akan menangani persalinanku, karena tidak memungkinkan bagiku jika harus memaksakan diri agar ditolong oleh dokter Maksum saat persalinan nanti karena terlalu jauuuh dari rumah. Oleh karenanya kami harus mulai menentukan di rumah sakit mana nanti aku akan melakukan persalinan dan dengan dokter siapa. Alhamdulillah dokter Maksum dengan sangat baik mempersilahkannya, dan kemudian menuliskan resume pemeriksaan selama kurang lebih 32 minggu untuk diserahkan kepada dokter berikutnya beserta surat pengantarnya. (hiks, jadi sedih deh berpisah dengan pak dokter Maksum). Jazaakallah ya, Dok. sudah membantu dari mulai proses program hamil hingga hamil 7 bulan. Sediihh… jadi pengen peluk (ups!)

Berdasarkan cerita yang kami himpun dari sana-sini, akhirnya kami memutuskan memilih RS.Bunda sebagai tempat persalinan, dan dokter Iman, SpOG sebagai dokter yang menangani. Waktu pertama kali periksa dengan dokter Iman, Alhamdulillah dokternya baiiiiik banget, sangat komunikatif, Pro normal, Pro IMD, Pro ASI, dan rumah sakitnya sendiri menerapkan system rawat gabung. dan mulai saat itu pula aku udah mulai merubah jadwal periksa kandungan yang biasanya sebulan sekali menjadi seminggu sekali karena sudah memasuki minggu-minggu akhir.

Semua pasti tau bahwa janin bisa diajak komunikasi, bahkan aku beberapa kali merasakan keajaiban dari komunikasi itu. Ceritanya, saat memasuki usia 36 minggu, usai periksa ke dokter kandungan diketahui bahwa si dedek belum masuk panggul. nah, sebagai ibu lebay yang baru pertama kali hamil otomatis aku panik karepe dewe, baca-baca di internet banyak cerita yang bilang usia segitu udah pada masuk panggul tuh dedek bayinya. Nah, akhirnya aku berusaha keras untuk mendapatkan kesuksesan yang sama (duileee… kesuksesan!!! wkwkwk). Jadilah setelah browsing ke sana kemari tentang kiat-kiat agar dedek bayi cepet masuk panggul, aku juga intens merayu si dedek agar cepet masuk panggul, kira-kira beginilah wiridanku ke dedek bayi (sambil elus-elus perut), “Sayang, mama mau minta tolong nih, kan kata pak dokter kamu belum masuk panggul nih, padahal kan kita berdua maunya nanti lahirannya normal dan cepet. Nah, yuk dek, kita sama-sama usaha ya, mama akan rajin olahraga biar bisa bantu kamu turun ke panggul, trus mama juga akan berdoa terus supaya Allah bantuin kita berdua biar dedek bisa cepet turun ke panggul. Yuk dek, dedek juga bantuin mama ya, dedek berusaha turun ke panggul juga, ok! kita sama-sama kerjasama, insyaAllah nanti dimudahkan sama Allah” rangkaian kalimat itu selalu aku bisikkan ke dedek bayi setiap hari, dan tidak lupa olahraga-olahraga ‘aneh’nya, mulai dari nungging setiap bangun tidur pagi, sujud sholatnya di-agak lama-in, trus jongkok-berdiri 30 kali setiap di kamar mandi (biar gak ketauan orang, hihi… namanya juga misi rahasia! hahaha). dan akhirnya, taraaaa…. dalam satu minggu si dedek dengan keajaiban Allah, turun panggul. yeaayyy… pak dokternya langsung bilang “mamanya hebat nih!” (hihihi jadi malu, kan ini kerja sama alias gotong royong bareng dedek bayi, makanya langsung di’KUN’ sama Allah. Alhamdulillah)

Selanjutnya, pas mulai masuk bulan puasa, hmm… kira-kira menjelang usia kehamilan ke 37, hasil USG menunukkan bahwa si dedek berat badannya udah mulai memasuki kepala 3, waduh, udah mulai hati-hati nih, gak boleh kegedean, biar nanti lahirannya lebih mudah keluar, hihihi…. akhirnya dipakailah jurus yang sama, yaitu ngerayu si dedek dengan kalimat-kalimat keramat, wkwkwk… tapi ya nggak cuman ‘sepik-sepik’ doank ya, usahanya harus tetep ada, yaitu mulai diet gula (maaf ya, kalau diet karbo aku nggak sanggup, makanku kan banyak. hahaha). Alhasil, di awal bulan puasa, meski berbuka dengan bermaca-macam es, aku mengganti gulanya denga gula low fat. hasilnya??? Alhamdulillah, seminggu kemudian si dedek kenaikan berat badannya hanya setengah ons (dalam satu minggu, padahal minggu sebelumnya kenaikannya 2ons dalam satu minggu. Horaaayyy… ups! Alhamdulillah..) dan lagi-lagi pak dokter bilang “mama hebat”, yes! makasih dedek atas kerjasamanya. ohya, selain minta kerjasama dengan si dedek, aku juga ngerayu ke plasentanya lho, jangan salah plasenta juga harus di ajak ngobrol. Aku bilang ke plasenta “Plasenta, minta tolong ya, kalau ngirimin makanan buat dedek tolong pilihin yang bergizi-bergizi, trus makanan-makanan yang bisa bikin dedek terlalu endut tolong dipinggirin dulu ya, kasian si dedek nanti kalo kegedean jadi kesempitan pas mau keluar dari perut. Makasih Plasenta…”.

Komunikasi demi komunikasi terus aku lakukan dengan si dedek, hingga di hari-hari penantian kedatangannya di dunia yang saat itu lumayan bikin dag dig dug, kapan ya dia mau di-launching??!! kok belum ada tanda-tanda ya??!! aku terus berkomunikasi secara mesra dengan si dedek, “Sayang, kamu mau keluar kapan nih?? Mama udah selesaiin khataman Alquran-nya nih, itu khusus buat kamu lho! Mama insyaAllah udah siap kapanpun kamu mau keluar. Yang jelas dedek nggak usah khawatir dan takut ya buat keluar, di luar banyaaak banget yang sayang sama kamu, ada ayah, mama, eyang, tante, teman2, semuaaa sayang sama kamu, jadi kamu nggak usah khawatir ya, meskipun selama di perut kamu merasa selalu disayang dan dilindungi, nanti pas di luar juga pasti sama kayak gitu, malah lebih banyak yang sayang” 

Alhamdulillah, aku merasakan begitu banyak keajaiban dari komunikasi dengan dedek bayi. Dan itu tentu saja sangat luar biasa. syukur kepada Yang Maha Pengasih yang selalu memberikan kemudahan dalam kehamilanku, dan semoga Allah senantiasa merahmati dan memberi perlindungan kepada seluruh ibu hamil di dunia ini. Aamiin….

6 November 2013

My Pregnant Story (Part.1) Melawan Mual, Melawan Mitos

Usai bersuka ria melihat hasil testpack yang menunjukkan 2 strip, aku dan si mas mulai mendiskusikan ke dokter siapa dan dimana kami akan memeriksakan janin kami hingga 9 bulan ke depan. Ada beberapa pilihan dokter kandungan yang direkomendasikan, baik yang praktek pribadi atau di Rumah Sakit. Namun, dengan segala pertimbangan, akhirnya si mas memutuskan untuk tetap ke dokter Maksum, dengan pertimbangan karena beliau yang menanganiku sedari awal, meskipun jauh tapi perjalanan menuju ke sana tidak melewati titik kemacetan sama sekali, lalu juga pertimbangan dekat dengan rumah Barir (sahabatku) sehingga meskipun dokter maksum prakteknya malam hari, kami bisa menginap di rumah sahabatku tersebut jika suatu waktu kemalaman.

Jadilah aku rutin periksa ke dokter maksum setiap bulan. Secara keseluruhan, Alhamdulillah kehamilanku relatif lancar, tidak ada ngidam, nggak pernah nge-flek, kenaikan berat badan normal, tensi darah stabil. Mulai merasa mual di bulan kedua, pada fase-fase ini aku benar-benar bersyukur mempunyai suami yang sangat siaga, karena kondisi mabukku cukup menghalangiku untuk beraktifitas, jadilah pak suami yang meng-handle pekerjaan rumah tangga, mulai dari belanja sayuran, masak, sampai bersih-bersih. Bagaimana tidak, mencium bau nasi saja aku sudah mual, belum lagi bau masakan-masakan yang lain. Dan kebetulan, rumah kami yang mungil ini tidak memungkinkan untuk bersembunyi dari bebauan yang dihasilkan dari dapur, alhasil akupun mendekam di kamar (hahaha).

Tiap hari kerjaanku cuman melungker di atas kasur, menikmati rasa mual setiap saat (noted! Setiap saat, bukan hanya pagi hari seperti istilah yang umum dibilang morning sickness). Awalnya cukup  melelahkan, tapi lama kelamaan aku mulai bisa berdamai dengan kondisiku. Bagaimana agar tidak muntah, aku harus mengurangi gerak, sehingga setiap habis makan aku akan segera naik kembali ke atas kasur, entah bisa tidur atau enggak yang penting tuh makanan yang baru saja masuk perut kuberi waktu untuk masuk lebih dalam, yang jelas aku harus meminimalisir gerakan, agar apa yang baru saja kumakan tidak mendesak keluar lagi. Hihihi… Beruntung aku tidak ada pantangan makanan apa-apa, semua makanan doyan-doyan aja, jadi meskipun sering muntah, tapi aku tetap semangat untuk makan dan makan lagi (ini mah rakus kaliii :D).

Seperti diketahui, di kepercayaan yang dianut oleh manusia Indonesia ini, ketika dinyatakan hamil, seseorang mendadak menjadi sasaran ‘pamali’, yups! Dikit-dikit pamali, kalo dalam bahasa jawa ‘gak ilok’, dikit-dikit dilarang, yang tentunya hampir semuanya menyebalkan karena tanpa ada alasan yang jelas dan ilmiah yang mendasari. Apalagi mertuaku adalah orang desa yang masih menganut larangan-larangan tidak masuk akal itu, jadilah selama hamil aku berkawan dengan pak guru google untuk mencari kebenaran dan fakta-fakta, juga berkawan dengan twitter untuk meng-counter hal-hal itu dengan jawaban dokter yang kudapat dari akun-akun twitter para dokter yang kuikuti. Hahaha…

Mulai dari dilarang makan rawon (rawon setan maknyuss lhoo…), nangka (hmm… enak panget lho padahal), duren (yang ini emang nggak doyan), dilarang tidur pagi/siang (gileee, ngantuk boo’), dilarang duduk di tengah pintu (kalo makan daun pintu boleh kali yeee…), dan bla..bla..bla..

Sejujurnya aku sudah tau jawaban dari hampir semua larangan itu, dan tentu saja semuanya mitos alias tidak perlu dipercaya, namun suatu ketika aku pernah diresahkan oleh salah satu pamali yg lumayan menggangguku. Yaitu, katanya, orang yang hamil pamali membunuh makhluk hidup, tidak hanya ibu hamilnya, termasuk juga suaminya. Makhluk hidup di sini lebih merujuk kepada hewan, termasuk yang biasa dikonsumsi, misalnya udang, lele, mujaer, gurami, dsb. Nah loh, nyebelin nggak tuh? Apalagi pas ditanya alasannya, dibilang bahwa nanti bisa karma pada si jabang bayi, entah cacat, atau malah mukanya mirip hewan tersebut. Na’udzubillah min dzaalik.

Suatu hari, nggak tau kenapa tiba-tiba rumah kami dihuni banyak tokek. Serem doong??! Sebetulnya tidak mengganggu, tapi aku yang kebetulan memang agak-agak gampang kagetan, sering terlonjak kaget ketika tiba-tiba si tokek menampakkan diri. Puncaknya, pernah saat aku membuka lemari dapur, tiba-tiba “Huaaaa…..!!!” tokek loncat keluar dari balik daun pintu lemari itu. Aku teriak sekuat tenaga, si tokek tak juga beranjak menjauh, masih di sekitar dapur, aku yang ketakutan reflek loncat naik ke atas wastafel tempat cuci piring. Mendengar keributan di dapur, si mas segera berhambur keluar dari kamar dan langsung memburu si pembuat onar (bukan aku yaaa.. hehe). Sejak saat itu, si mas rajin memburu hewan-hewan pembuat onar yang berpotensi bikin aku kaget. Kan nggak lucu banget, demi mempercayai mitos geje, malah membahayakan kondisi bumil (gimana nggak bahaya, lha wong perut udah gede dibikin sampe naik ke atas wastafel itu lho)

Perburuan demi perburuan kerap dilakukan oleh si mas, hingga akhirnya pernah suatu kali si mas berhasil menjebak tikus. Karena sangking jengkelnya dengan tuh tikus, aku mem-fotonya dan kujadikan Display Picture di BBM. Tak kurang dari satu menit, banyak BBM masuk, semua mengingatkan untuk tidak menyiksa hewan karena aku sedang hamil, pamali katanya. Karena sangking banyaknya yang mengomentari, akhirnya aku galau juga. Malam itu aku gelisah tiada tara *tsaahhh… tak berani menyampaikan kegalauanku pada si mas, akhirnya aku mencari jawaban sendiri, atau lebih tepatnya pembenaran diri. Dan Alhamdulillah dapat :)

Dari pak guru Google aku menemukan hasil tanya jawab mengenai mitos tersebut. Jawabannya adalah bahwa hal tersebut sama sekali tidak patut dipercayai, sebab itu sama saja dengan mendahului kehendak Allah SWT. Pada zaman Rasulullah, beliau tidak pernah melarang shahabatnya (yang istrinya sedang hamil) untuk menyembelih binatang kurban. Yes, I got it!!! So, ngapain galau soal mitos dan omongan geje begituan, sala-salah bisa menggiring kita pada kekufuran lho, kan mendahului takdir Allah. Na’udzubillah min dzaalik.

Bersambung ke Part.2

Respon Untuk Postingan PROGRAM HAMIL Part 1-4

Alhamdulillah, cerita tentang program hamil yang saya publish di sini mendapatkan apresiasi yang luar biasa, meski tidak banyak yang memberi komentar, namun dapat disaksikan dari julmah visitor/viewer yang setiap hari mampir bisa dibilang tertinggi dalam sejarah blog ini, maklum sebelum-sebelumnya minim pengunjung (baca: nggak laku)

Nah, entah ini ke-PeDean atau apa, yang jelas saya ingin lebih banyak berbagi melalui pengalaman ini, terutama bagi pengunjung dan pembaca sekalian yang ingin bertanya secara langsung mengenai pengalaman saya tersebut secara pribadi, barangkali ada yang merasa terlalu privasi jika ditanyakan via comment posting. jadi monggo bisa melalui alamat email saya berikut ini:
faiq_ku@yahoo.com

Sekian
Salam Keep Smile :)

22 Mei 2013

PROGRAM HAMIL (Part.4) Akhirnya Terapi dan Penantian itu Bermuara Juga, "Alhamdulillah, Aku Positif Hamil! "

Posting kali ini bakalan sangat panjang ya! Semoga tidak bosan membacanya…
Ohya, cerita program hamil bagian sebelumnya ada di link-link berikut ini ya:

Akhir Agustus 2012 – Akhir September 2012
Berbunga-bunganya hati usai berkonsultasi dengan dokter Ryan terus menjadi warna tersendiri dalan hari-hari kami, aku melihat semangat yang lebih membara pada hari-hari si Mas, aku tau si Mas sedang dalam kondisi high motivated. Aku pun tak mau ketinggalan, aku juga harus mengimbangi semangat yang sedang berkobar itu.

Keesokan harinya, aku segera mengatur rencana untuk menjalankan semua saran dokter. Pertama-tama aku beli satu set gelas tutup bervolume + 500ml dari Tupperware, gelas ini akan kugunakan untuk menyimpan jus-jus tomat yang akan dikonsumsi si Mas tiap hari, selain itu aku juga membeli wadah-wadah lain yang lebih besar yang akan kugunakan untuk menyimpan sayur yang harus dikonsumsi si Mas sesering mungkin. Oke, semua sudah siap! Saatnya beraksi…! :)

Setelah periksa dengan dokter Ryan tanggal 30 Agustus 2012, rutinitas baru kami saat ini adalah belanja tomat buah (yang besar-besar itu lho, bukan yang buat sayur), biasanya aku beli langsung 5kg, itu juga gak sampai seminggu sudah habis, karena aku mau ikutan si Mas minum jus tomatnya, bukan apa-apa sih, ya biar si Mas ada temennya aja, kan jadi lebih semangat kalo bareng-bareng minum jus tiap hari :)

Selain tomat, item belanjaan yang baru adalah sayuran. Aku biasanya beli wortel import (kenapa import, karena menurutku kalau dimakan mentah dia lebih bersahabat baunya, nggak ‘langu’), lalu jagung manis, baby buncis (buncis yang biasa juga nggak papa, tapi aku memang lebih suka yang baby buncis karena menurutku lebih padat teksturnya dan tidak mudah lembek ketika direbus), kemudian selada, dan brokoli (awalnya beli yang hijau, tapi ternyata si Mas kurang suka, makanya ganti yang putih)

Nah, setelah semua sudah siap, perjalanan hari-hari dengan sayur dan tomat pun berlangsung. Tiap malam aku merebus tomat untuk kusimpan dalam kulkas dan di-jus keesokan harinya, kenapa merebusnya malam? Karena kalau direbus pagi seringkali nggak keburu karena si Mas berangkat ke kantor pagi-pagi sementara untuk membuat jus harus menunggu tomatnya dingin lebih dulu. Nah, kalau sudah direbus sejak malam kan pagi-pagi bisa langsung di jus. Ohya untuk ukurannya, memakai 4 buah tomat untuk satu orang ya! Airnya jangan banyak-banyak biar nggak terlalu encer, yah sewajarnya aja seperti kita bikin jus biasanya. Untuk airnya bisa pakai air rebusannya itu, trus bisa ditambah susu atau gula, atau air perasan jeruk, apa aja deh, yang penting doyan :). Ohya, banyak juga lho yang nanya, kenapa harus direbus tomatnya? Kalau tomat segar aja bisa nggak? Oke, jadi begini, menurut bapak dokter yang baik hati *tsaaahh* kalau tomat segar biasa itu hanya mengandung vitamin C saja. Sedangkan kalau direbus, tuh tomat mengandung Lycopene (likopen), kalo kata dokter Ryan Lycopene itu pigmen merah yang terdapat pada buat tomat dan semangka, manfaatnya juga banyak yang tentu saja diantaranya adalah untuk memperlancar pembuluh darah sehingga bisa meningkatkan jumlah sperma dan mempercepat gerakannya. Kalau menurut mbah gugel kurang lebih sama, bisa di cek di sini 

Selanjutnya, untuk sayur-sayurnya mau kubikin salad sayur
  • Wortel di parut kasar (kalau bahasa jawa ‘di pasrah’)
  • Jagung manis dipipil kemudian di rebus sebentar (sebentar banget ya!)
  • Baby buncis dipotong-potong 2cm atau sesuai selera kemudian direbus sebentar (biar gak kematengan, biasanya setelah direbus langsung kumasukkan dalam air dingin untuk menghentikan pemasakan)
  • Brokoli juga direbus sebentar
  • Selada cukup dipotong-potong sesuai selera aja
Nb: untuk yang merebus sayuran hijau jangan lupa airnya dikasih garam sedikit ya, biar khasiat warna hijau sayurannya gak hilang

Setelah semua selesai, langsung kusimpan dalam wadah Tupperware, bukannya promosi merek ya, tapi memang beda kok kalau disimpan dalam wadah yang kurang kedap udara, soalnya aku biasanya bikin langsung banyak, makanya biar lebih awet harus disimpan dalam wadah yang kedap udara. Contohnya wortel parut kasar itu pernah kusimpan dalam wadah biasa, eee baru disimpan pagi, sorenya udah kering. Nah, kalau ditaruh di wadah yang kedap udara, bisa tahan sampai 2 hari atau maksimal 3 hari sudah harus habis. Trus, bagaimana mengkonsumsinya? Masa iya tuh sayur-sayur dimakan gitu aja? Hmm… tentu tidak! Tenang aja, dijamin enak kok! Karena sayur-sayur itu dimakan pakai mayonnaise, so rasanya gak kalah dengan salad sayur di Pizza Hut (ups!). biasanya aku beli mayonnaise yang ada di Indo atau Alfamart, merek Mamasuka, nah karena si mas gak suka dengan yang tawar (warna putih) makanya biasanya kubikin kayak di Pizza Hut yang warna agak merah itu, caranya dengan dicampur saus sambal dan merica bubuk. Taraaaa…. Makanan sudah siaaappp!!! :) si mas suka banget lho dengan salad ini, aku pun jadi girang, secara kan si Mas sebelumnya susah banget kalau disuruh banyak makan sayur, alhasil saat ke kantor pun dia minta dibawain salad dan jus tomat, biasanya begitu sampai kantor langsung disimpan dalam kulkas dan nanti pas istirahat baru dimakan. Kadang-kadang juga di atas saladnya kutaruh udang goreng crispy, wah makin mantap aja kayak Fresh Garden Salad nya KFC. Yummy…..

Rutinitas itu pun kami jalani hingga kurang lebih sebulan (sebenernya obatnya si mas hanya untuk 20 hari) tapi karena waktu periksa ke dokter Ryan pertama kali itu aku sedang haid, makanya mas nunggu sampai siklusku datang dulu, baru kalau memang beneran haid bulan itu baru kembali kontrol.

Akhir September – Akhir Oktober 2012
Assalamu’alaikum, dokter Ryan….
Yups! Tanggal 29 September 2012 kami kembali kontrol ke dokter Ryan, seperti biasa pak dokter yang satu ini memang doyan ngobrol, so meskipun sudah periksa ke dua kalinya tetap saja beliau mengajak ngobrol panjang, tentunya di luar tema pemeriksaan ya…
Setelah disuntik dan diberi obat, dokter menanyakan siklus haid-ku. Ohya bulan lalu saat periksa pertama dokter juga menghitung siklus haid-ku yang kemudian diberikan jadwal berhubungan buat kami. Yups! Memang harus dijadwal, karena biar bisa pas menyesuaikan dengan masa ovulasi sel telur. Nah, begitu sudah dihitung tanggal berapa terjadi ovulasi, maka dibuatlah jadwal berhubungan dalam radius 5 hari sebelum dan sesudah penghitungan masa ovulasi. Trus, bagaimana jadwalnya? Kalau menggunakan ilmunya dokter Ryan, hubungan suami istri dilakukan dengan memberi jarak 2 hari, contohnya; tanggal 10, kemudian tanggal 13, lalu tanggal 16, dst. Kenapa demikian? Karena sperma mampu bertahan selama 2 hari, sehingga meskipun dikeluarkan tanggal 10 dan pada tanggal itu belum bertemu dengan sel telur, maka sperma tersebut masih bisa bertahan (tidak mati) sampai 2 hari. Selain itu, pemberian jarak 2 hari adalah agar sperma kembali diproduksi oleh suami dan dimatangkan terlebih dahulu sebelum kembali dikeluarkan, karena jika misalnya dikeluarkan setiap hari maka kualitas sperma belumlah bagus atau belum matang, sementara jika kondisi sperma belum matang maka tidak akan mampu bertahan lama apalagi untuk membuahi, malah sperma yang baru tersebut berpotensi bisa merusak sperma yang telah dikeluarkan di hari sebelumnya yang sedianya masih harus bertahan 2 hari menunggu sang sel telur. Hhhhh…. Udah kayak ngasih 2SKS kuliah reproduksi nih. Hehe… ohya, kenapa aku bilang menurut ilmunya dokter Ryan? Karena aku udah beberapa kali ganti dokter kandungan di sidoarjo, dan menurut beliau-beliau penjadwalan hubungan suami istri beda dengan yang dibilang dokter Ryan. Begonooo… :)
 
Tak lupa, dokter Ryan gak ketinggalan berpesan “Kalo istrinya positif, saya dikabari ya…!:) trus dilanjutin lagi, “Kalo sudah telat 2 hari, boleh di-testpack

Oke, capcuss..!!

Di bulan ini kami masih terus menjalankan terapi dari dokter Ryan ya… mulai dari jus tomat rebus, konsumsi banyak sayur, pakai sarung, dan obat tentunya. Sampai kurang lebih sebulan kami kembali kontrol, lagi-lagi tentu saja menunggu siklus datang bulanku datang dulu (meskipun obatnya si Mas udah habis. Hehehe…)

Akhir Oktober – Akhir November 2012
Kembali kencan dengan dokter Ryaaan…!!!
Masih seperti 2 kali kontrol sebelumnya, kali ini tanggal 27 Oktober 2012 kami kembali kontrol. Masih seperti biasa, si Mas disuntik dan diberi obat dan kami masih diminta terus melanjutkan terapi-terapinya. Karena ini sudah kontrol ke tiga kali, menurut perhitungan dokter Ryan seharusnya sperma si Mas sudah pulih dan normal, makanya malam itu kami juga diberi surat rujukan untuk menjalani tes analisis sperma kembali untuk melihat peningkatan hasil treatment yang sudah dijalani selama kurang lebih 3 bulan itu.

Kata dokter Ryan, kalo sudah normal, bisa kembali melanjutkan program hamil dengan Dokter Maksum, Sp.Og. Kalau masih belum normal, ya lanjut dengan dokter Ryan dulu. Ohya, aku lupa cerita, jadi selama si Mas treatment dengan obat dari dokter Ryan, aku terus mengkonsumsi vitamin dan asam folat lho! Itu pesan dokter maksum waktu itu, makanya meski gak periksa dengan dokter maksum aku terus beli obat itu di apotik dan mengkonsumsinya tiap hari (jiaaahh… ketauan bo’ong-nya, padahal kan munim obatnya sering lupa-lupa males gitu. Wkwkwk…)

Setelah sebulan berlalu, sesuai siklus harusnya tanggal 27 November 2012 (hari Selasa) aku datang bulan, tapi sampai hari itu tak ada ‘tamu’ datang. Aku nggak kepikiran sama sekali kalau siklus bulan itu bakalan mundur, karena melihat beberapa bulan terakhir siklusku selalu tepat, atau kalaupun meleset maka bukannya mundur tetapi maju, itupun 1 hari saja.

Rabu, 28 November 2012, aku masih menunggu si ‘dia’ datang namun tak jua muncul. Belum sempat aku bilang sama si Mas, ternyata si Mas yang juga ikut menghitung siklusku akhirnya nyinggung duluan. “Udah telat sehari ya, Say? Kalo sampe 2 hari kan kata dokter Ryan boleh di testpack?!” Hmm…

Kamis, 29 November 2012, haid-nya tak juga datang. Sebetulnya aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku, terutama sejak kemarin dan hari ini, nggak tau kenapa kok tiba-tiba mual, mungkin efek sakit fertigo-ku yang baru-baru ini muncul, tapi aku simpan sendiri, aku nggak berani nunjukin ke si Mas, takutnya si Mas terlalu berharap namun akhirnya ternyata aku haid juga. Pagi itu kami melaksanakan aktifitas seperti biasa, si Mas pergi ke kantor, dan aku pergi ke Sekolah. Hari itu aku tak banyak jadwal mengajar, lebih banyak duduk-duduk di kantor, tapi aku merasa lemas sekali dan sedikit mual (meskipun nggak ada rasa ingin muntah).

Akhirnya, karena makin siang aku merasa makin mual, aku memutuskan untuk keluar ke apotik yang kebetulan ada di seberang gerbang sekolah. Biasanya aku selalu punya persediaan testpack di rumah, soalnya setiap belanja bulanan aku selalu mampir di Century beli testpack yang model compact merek HCG, harganya lumayan juga, tapi ya selalu terbuang sia-sia dengan hasil negatif. Hehehe… makanya hari itu mumpung di apotik ada banyak pilihan merek, aku mau beli yang murah aja, merek OneMed yang harganya 3000 rupiah itu lho! Dan gak tanggung-tanggung aku langsung beli 3pcs, tapi tiba-tiba jadi ragu sendiri, hmm… ya udah deh beli satu lagi yang sedikit mahal (meskipun masih lebih mahal yang HCG), kalau nggak salah mereknya Amor (what?? Merek apaan tuh?) ah, yah sudahlah, pokoknya beli aja, harganya juga cuman 10.000 rupiah kok.

Allahu Akbar…!!!
Sesampainya di kantor, aku langsung menuju ke kamar mandi, membawa gelas plastic kosong untuk penampung urine, kubuka kemasan testpack yang merek Amor dan kucelupkan strip-nya. Muncullah garis pertama, aku masih santai, “ah udah biasa” pikirku. Biasanya aku lantas mengalihkan pandangan dari strip testpack tersebut, karena memang biasanya aku akan menunggu cukup lama menanti garis kedua yang akhirnya nggak muncul juga sampai berjam-jam kemudian (hehehe…). Namun hari itu berbeda, karena setelah garis pertama muncul, hanya berselang beberapa detik muncullah garis ke-dua dengan sangat jelasnya. Hatiku menjerit, “ALLAHU AKBAR!!!” tak terasa tiba-tiba air mata meleleh begitu saja, aku masih belum juga percaya, dalam benakku terbersit keraguan “Jangan-jangan testpack merek Amor (yang belum pernah kubeli sebelumnya) punya aturan berbeda, jangan-jangan kalo yang merek amor itu 2 garis berarti negatif” akupun segera membaca petunjuk di kemasannya. “Allahu Akbar!! Ini benar-benar positif” aku menangis sesenggukan di dalam kamar mandi kantor. Akhirnya aku bergegas keluar dari kamar mandi. Kebetulan kamar mandi di kantor berdempetan dengan musholla kecil, entah sadar atau tidak sadar, aku yang tidak sedang memakai mukena, tidak dalam keadaan suci (belum wudlu) langsung saja bersimpuh di atas sajadah yang terhampar di lantai musholla, kupanjatkan sujud syukur sedalam-dalamnya, aku menangis, memekik dalam doa, mensyukuri betapa Allah Maha Baik, Allah Maha Memberi kejaiban, Allah Maha Mengabulkan doa hamba-Nya. Subhaanallah wal hamdu lillah wa laailaha illallah Allahu Akbar

Setelah selesai memanjatkan syukur, aku keluar kembali menuju kantor, tiba-tiba saja aku ling-lung mau berbuat apa, berpindah duduk dari satu ruangan ke ruangan yang lain hingga akhirnya aku bisa mengendalikan diriku sendiri. Kuraih handphone, hmm pulsa telpon sedang habis, kukirim BBM ke si Mas, “Mas telpon sekarang! Penting!”, dan si Mas langsung menelpon,

Ada apa, say?” aku langsung menangis, si Mas bingung,
 “Kenapa?”, tanyanya.
Sambil terbata-bata aku menjawab,
Adek hamil, Mas! Barusan di tes, positif
Alhamdulillaaah….” Kudengar si Mas spontan berseru. Ada getar dalam suaranya, aku tau si Mas juga ingin menahan haru namun ia terdengar lebih tenang.
Kapan tes-nya? Sekarang dimana? Sudah di rumah?” si Mas memberondongku dengan pertanyaan.
Kujelaskan semuanya kronologis yang kualami hari itu. Kudengar si Mas berulang kali mengucapkan syukur, seolah tak percaya bahwa panantian panjang itu akhirnya menemukan muaranya. Kami bersuka cita meski lewat media antara. Hari itu kami diliputi kebahagiaan tiada tara, tak terungkapkan. Terima kasih Ya Allah…..

Sesampainya kami berdua di rumah, kamipun berpelukan erat, berbahagia, dan bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Sang Pencipta yang memberikan anugrah pada saat yang tentunya sangat tepat. Setelah 2,5 tahun menunggu sejak kami menikah Juli 2010 lalu. Iya, memang hanya Allah yang tau yang terbaik untuk kita, dan hanya Allah yang tau saat yang paling tepat untuk kita. Fa biayyi aalaa’i Robbikumaa tukadzdzibaan….