Tampilkan postingan dengan label lika-liku negeriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lika-liku negeriku. Tampilkan semua postingan

3 Oktober 2011

ORDE KORUP DI NEGERI KU

Pada dasarnya aku adalah termasuk orang yang sangat haus akan informasi, sehari tanpa meng-update berita baik menyaksikan berita di TV, membaca Koran, atau menyimak berita melalui media online tentu saja akan membuatku serasa ling-lung. Tak hanya menikmati berita yang tersaji namun bahkan seringkali pada berita-berita khusus yang dimuat dalam sebuah kemasan ‘Breaking News” aku sering ditemani oleh selembar kertas dan sebuah pulpen untuk mencatat nama-nama penting, waktu-waktu kronologis, dan alur sebuah kejadian atau kasus yang sedang dibahas.

Kadang aku merasa aneh sendiri manakala dalam suasana berkumpul dengan teman-teman kuliah yang sedang mengerjakan tugas aku membahas issue-issue penting yang sedang hangat diperbincangkan di TV berita dengan menyebutkan nama-nama yang terkait. Mengapa aneh? Karena kebanyakan dari mereka ‘tidak nyambung’ dengan apa yang kubahas. Hmm… tentunya bukan salah mereka karena memang aku saja yang aneh, karena lebih tertarik dengan berita politik, terorisme, krisis pendidikan, sosial kemasyarakatan, dll dari pada membaca buku kuliah berbahasa inggris yang tebalnya ratusan bahkan ribuan halaman. Dan hasilnya, seperti dapat dibaca dalam note-note facebookku sebelumnya yang lebih banyak membahas dan menyoroti issue-issue politik, sosial kemasyarakatan, terorisme, dll.

Namun, semakin banyak informasi aku dalami, semakin membuatku gerah sekaligus geram. Betapa tidak? Kian hari kita terus saja dihadapkan kasus-kasus ketidakadilan yang terjadi dimana-mana, semakin hari semakin tampak bagaimana potret manusia Indonesia yang serakah, tidak hanya terjadi dan dilakukan oleh para pemegang kekuasaan, tetapi rakyat kecil pun ketika mendapatkan jalan menuju surga dunia dengan cara tidak halal, maka jalan itu pun ditempuhnya.

Ggghhhrrrrr…!! Geraaammm…!!! Gemas.. aku sungguh gemas!! Entah memang seperti itu kejadiannya atau eksploitasi media saja yang berlebihan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa dua televisi berita nasional kita memang dimiliki oleh dua orang tokoh yang memiliki kepentingan khusus atas aib pemerintah, walhasil bagi media bad news is a good news. Ah entahlah, yang jelas semua sangat kusut. Ketidak adilan ini telah mendarah daging, terlebih kala mengingat bahwa pihak-pihak tersebut tidak lain adalah mantan mahasiswa yang dahulu di masanya duduk di bangku kuliah mereka berada di barisan depan perjuangan meraih reformasi dan menurunkan Orde Baru yang mereka anggap Orde Korup.

Saatnya yang muda memimpin, begitu slogan digembar-gemborkan, cukup lama diperjuangkan, cukup banyak menarik simpati masyarakat, hingga akhirnya mimpi mereka terwujud. Lantas, terwujudnya impian mereka apakah berarti impian masyarakat Indonesia juga terwujud?? Tidak sama sekali alias Nol Besar!!

Ini dia variasi pelaku korup di negeri ini yang mulai makin berwarna, mulai dari yang tua sampai yang muda bahkan anak-anak yang mulai diajari curang secara massal dalam Ujian Nasional, mulai dari pejabat tinggi dan pemerintahan hingga pejabat kelurahan dan RT, mulai dari konglomerat direksi sebuah Bank hingga rakyat jelata berprofesi TKW yang juga tak mau menyia-nyiakan ‘pundi-pundi sumbangan rakyat’ yang tak sepantasnya dihambur-hamburkan. Namun, meski berbeda-beda golongan, motif dan caranya, ada satu hal yang sama dari mereka semua, yaitu Tak Punya Malu.

Dari 230 juta rakyat Indonesia yang adil dan beradap ini, apakah semuanya sudah terjangkiti virus tak malu untuk korupsi??? Dari lubuk hati yang paling dalam, tentu kayakinan akan adanya segelintir manusia Indonesia yang berhati nurani dan tak doyan korupsi. Tapi bisa dibayangkan keberadaan yang segelintir itu ketika dihadapkan dengan lingkungan yang mana korupsi sudah mendarah daging, tentu saja akan banyak ditemui penjegalan, timpuk dari belakang, hingga jebakan demi jebakan untuk mematikan langkah hingga Skak Mat!!

Sebut saja Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar yang harus rela meregang usia dibalik jeruji penjara karena kejujuran dan kelugasannya bersuara dan bertindak, atau Ketua MK Mahfud MD yang setiap pagi sarapan dengan ancaman terror pembunuhan atas dirinya, belum lagi Walikota Solo Joko Widodo yang menebalkan telinga meski terus di goblok-goblokkan oleh atasannya karena menolak proyek yang sarat potensi mendulang pundi-pundi tidak halal, dan yang sangat menyedihkan melihat Aam, siswa SD yang diusir dari desanya karena menyuarakan kejujuran di sekolahnya.

Fiuuh….susah memang jadi orang jujur di negara dalam orde korup. That's why, Aku sekarang jadi agak males nonton berita dan segera kuganti begitu melewati channel berita dan membaca title tentang 'itu-itu' lagi dan menghadirkan narasumber 'mereka-mereka' lagi.

27 Oktober 2010

PEKERTI SANG KUNCEN SETIA


Lama sudah ku tak menulis, dan kini aku benar-benar ingin melakukannya, menggerakkan jemari di atas keyboard putih ini, mengayunkan pikiran merasakan dorongan besar yang ingin segera tertumpahkan. Aku sedih, hatiku pilu…


Berita wafatnya Sang Juru Kunci Gunung Merapi tempo hari cukup mengejutkan, Mbah Marijan yang namanya mulai tenar beberapa tahun silam saat merapi menggoda kita dengan bersinnya, saat dimana situasi dinyatakan waspada oleh Badan Vulkanologi, saat semua warga sekitar gunung teraktif di dunia itu diinstruksikan untuk segera meninggalkan kediaman menuju pengungsian. Tapi dia, dia si kuncen renta itu tak beranjak sedikitpun, bahkan hingga Rajanya sendiri yang memerintahkan sang abdi untuk segera turun gunung, tapi tetap saja ia bergeming, dengan satu alasan, iya hanya satu alasan “Merapi adalah amanah untukku


Srrr… berdesir darah ini mendengar satu kecap kalimat itu, bergejolak darah ini merasakan betapa kesetiaan seorang abdi terhadap apa yang telah diamanahkan kepadanya, kalimat itu tentu bukan buah dari kesadaran pribadi yang terbentuk secara instan, kalimat itu tentu bukan bentuk dari tanggung jawab yang telah dibayar dengan lembaran rupiah yang mahal. Kalimat itu adalah sebuah kalimat yang terlontar dari hati, hati seorang abdi yang begitu taat kepada padukanya, abdi yang begitu menjunjung amanah yang diembankan kepadanya, abdi yang meski hanya digaji dengan belasan ribu rupiah per bulannya, namun abdi ini adalah abdi negeri yang patut menjadi suri tauladan bagi abdi-abdi negara tercinta ini.


Siapapun layak berkaca terhadap sikap Kuncen renta yang kini telah menghadap haribaan-nya itu, baik kita, terlebih para wakil rakyat dan pemegang amanah rakyat di gedung terhormat sana. Wakil rakyat yang bisa duduk di kursi empuknya dari hasil urunan suara rakyat, pemegang amanah rakyat yang harusnya bertugas memikirkan dan memperbaiki negeri untuk kepentingan rakyat, pemimpin rakyat yang harusnya menomorsatukan rakyat yang meski sedari awal menjadikan rakyat sebagai bulan-bulanannya.


Tentu bukan karena besarnya gaji dari Raja yang membuat Mbah Marijan begitu setia dan teguh menjaga amanahnya, tentu bukan karena popularitas menjadi bintang iklan yang membuat Mbah Marijan rela bertukar nyawa, keteguhannya adalah karena ia tidak ingin masuk ke dalam golongan orang yang ‘idza ’tumina khoon’. Ya, ia tidak ingin menjadi orang yang mencederai kepercayaan (amanah).


Lantas, bagaimana dengan gaji besar, popularitas meroket, dan citra (body lotion?? Ups! Tentu bukan, tapi political & individual image) yang sudah dan terus diusahakan tetap berkibar itu? Tidakkah sudah sangat cukup bagi anda-anda sekalian untuk menyadari bahwa itu semua bukanlah cuma-cuma? Demi Tuhan, itu semua harus dibayar, Paduka! Tidak perlu kontak kok, kami beri waktu lima tahun untuk dilunasi…


Oooh, betapa pilu hati ini, mendapati bahwa para pemegang amanah yang telah kami beri kredit berupa gaji besar, popularitas tinggi dan citra yang baik itu justru sibuk berpesta di kursi empuknya, berantem di gedung, mengemplang pajak, membungkus erat para tikus pengerat, kolusi, nepotisme, mengkrikiti (bahasa jawa tuh, buat yang kagak ngarti cari sendiri artinya) uang rakyat, mendesain gedung baru nan mahal, plesir ke negeri antah berantah (bahkan kabar terbaru ada yang karena takut kena demo, eh plesir ke Yunani berangkat jam 2 malam lho, Astaghfirullah…). Lantas, ada juga yang kerjaannya mewek dan sok terharu plus sok terdzalimi, belum lagi yang hampir tiap hari sibuk dengan citranya yang sedikitpun tak boleh menurun (owalah kenapa gak dibeli aja tuh pabrik citra body lotion, hmm…).


Tidakkah kalian sadar bahwa kalian adalah pemimpin, pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya? Oh Tuhan, bagaimanakah cara menegur pemimpin kami yang tak juga tersentil dengan berbagai sindiran dan kritikan itu?


Allahummaqsimlanâ min khasyatika mâ tahûlu bihî baynanâ wa bayna ma’shiyatik, wa min thâ’atika mâ tuballighunâ bihî jannatak, wa minal yaqîn mâ tuhawwinu bihî ‘alaynâ mashâi’bad dunyâ, wa matti’nâ bi a’smâ’inâ wa a’bshârinâ wa quwwatinâ mâ a’hyaytanâ, waj’al dzâlika khayrân lanâ, waj’al tsa’ranâ ‘alâ man zhalamanâ, wanshurnâ ‘alâ man ‘âdânâ, wa lâ taj’al mushîbatanâ fî dîninâ, wa lâ taj’alid dunyâ ‘akbara hamminâ wa lâ mablagha ‘ilminâ, wa lâ tusallith ‘alaynâ man lâ yakhâfuka wa lâ yarhamunâ. Wa shallalahu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.

(Ya Allah, anugerahilah kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan kedurhakaan kepada-Mu, dan anugerahi kami ketaatan yang mengantar kami ke surga-Mu serta limpahkan kepada kami keyakinan yang dapat meringankan petaka duniawi yang kami pikul. Anugerahilah kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan kekuatan selama hidup kami. Jadikan semua itu kebaikan buat kami, dan jadikan pembalasan-Mu terhadap orang-orang yang menganiaya kami. Ya Allah, menangkan kami menghadapi siapa yang memusuhi kami dan jangan Engkau jatuhkan petaka ukhrawi menimpa kami, jangan juga ya Allah, Engkau jadikan dunia perhatian terbesar kami serta batas pengetahuan kami. Ya Allah, jangan Engkau jadikan penguasa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu lagi tidak mengasihi kami.) Wa shallalâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.

28 Februari 2010

Jusuf Kalla - Tsunami Aceh

Cerita ini udah hadir lewat facebook dan kompasiana meskipun ditulis oleh Tempo 4 tahun yg lalu. Berikut ceritanya:

Tiga Hari Penuh Badai

Inilah kisah di pusat kekuasaan selama tiga hari pertama setelah tsunami. Mengenang setahun tragedi itu, beberapa sumber termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Menteri Komunikasi dan Informasi Sofjan Djalil menuturkan kenang-kenangan mereka kepada Tempo.
****

Baru duduk di jok mobilnya, telepon seluler Jusuf Kalla berdering-dering. Staf pribadinya melaporkan: “Pak, di Aceh ada tsunami. Dahsyat sekali.” Pagi itu, 26 Desember 2004, Kalla hendak menghadiri halal bihalal warga Aceh di Senayan, Jakarta. Kalla lalu mengirim pesan pendek ke telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang pagi itu berada nun jauh di Nabire, Papua. Presiden menemui korban gempa yang melumat Nabire sehari sebelumnya.

Presiden membalas: “Saya sudah dengar. Tolong koordinasikan.” Kalla lalu menelepon Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Aceh. Gubernur Abdullah Puteh saat itu telah ditahan di penjara Salemba karena dugaan kasus korupsi.

Kalla juga mengontak Kapten Didit Soerjadi, pilot pesawat pribadinya. Didit sedang beristirahat. “Kau segera mandi dan berangkat ke Aceh,” perintah Kalla. Semuanya serba buru-buru. Perintah terus mengalir saat Didit mandi. “Lucu juga, saya mandi sambil terima telepon Pak Wapres,” kenang sang pilot. Wapres menggegas semua stafnya menelepon semua pejabat di Aceh. Sial, tak satu pun menyahut. Kalla mulai cemas.

Di Aceh, dunia berhenti pagi itu. Bumi berguncang dengan kekuatan 8,6 pada skala Richter, air laut tumpah ke daratan. Beberapa keluarga sempat mengabarkan soal air bah kepada kerabat di Jakarta. Cuma sebentar. Lalu telepon putus total.

Halal bihalal warga Aceh di Senayan dibuka pada pukul sembilan lebih, berlangsung dalam suasana tegang sekali. Berita tsunami sudah menyebar. Banyak yang sibuk menelepon. Beberapa orang berlinang air mata. Ada yang histeris, gusar kian-kemari. Kalla berpidato sekenanya. Hampir tak ada yang mendengar. “Orang-orang ingin acara itu cepat kelar,” tutur Kalla kepada Tempo. Turun panggung, Kalla menggelar rapat mendadak di situ.

Dia memerintahkan Sofjan Djalil memimpin rombongan pertama ke Aceh. “Pakai pesawat saya saja,” kata Wapres. Anggota rombongan 30 orang, antara lain Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Azhari, Azwar Abubakar, dan beberapa tetua Aceh. Kalla membekali Sofyan uang Rp 200 juta dan sebuah telepon satelit. “Begitu kau tiba di Aceh, langsung telepon saya,” perintahnya. Mereka menjadi rombongan pertama pemerintah yang terbang ke Aceh di hari pertama tsunami.

Pesawat berputar dua kali di langit Banda Aceh. “Dari udara Aceh terlihat hancur total,” tutur Kapten Didit. Menara bandara retak. Tak satu pun petugas di menara. Untung, pesawat mulus mendarat, sekitar pukul enam sore.

Anggota rombongan membeli beras dan mi instan di beberapa toko dekat bandara, lalu beranjak ke pendapa kantor gubernur sekitar pukul tujuh malam. Jalanan sunyi senyap. Gelap gulita. Satu-satunya penerangan cuma lampu mobil. Sungguh mengerikan. Mayat bergelimpangan di jalan, di kolong rumah, tersangkut di dahan pohon. Beberapa ekor anjing berlari ke sana kemari. Anggota rombongan mulai menangis sesenggukan.

Malam itu ratusan orang menumpuk di pendapa kantor gubernur. Banyak yang luka parah. Puluhan mayat dijejerkan di latar depan pendapa. Aceh lumpuh total. Koordinasi tak jalan karena aparat pemerintah pusing mencari sanak keluarga. Kepala Polres Banda Aceh hanyut ditelan tsunami.

Azwar Abubakar, Wakil Gubernur Aceh, bisa memimpin. Namun, dia sedang galau. Rumahnya di Blang Padang hancur. Ia tak tahu nasib anak-anaknya. Wakil Gubernur ini pulang ke rumahnya ditemani Sofjan Djalil, Jusuf Azhari dikawal dua tentara. Mobil melaju dalam gelap, menghindari mayat-mayat yang direbahkan di kiri-kanan jalan. Mobil berhenti kira-kira 50 meter dari rumah Azwar sebab sampah menggunung menutup jalan.

Wakil Gubernur turun ditemani seorang tentara. Dipandu nyala senter, mereka mengendap-endap. Sofjan menunggu dengan cemas. Setengah jam berlalu, Azwar pulang. “Di rumah banyak mayat, tapi anak-anakku tak kelihatan,” katanya penuh kecemasan. Mereka lalu balik ke pendapa.

Berkali-kali Sofjan menelepon Jusuf Kalla di Jakarta. Tak bersahut. Di Jakarta, Wapres menggelar sidang kabinet darurat di rumah dinas Jalan Diponegoro pada pukul 21.30 WIB. Sembilan menteri dan Panglima TNI hadir. Sembari rapat, Kalla berkali-kali pula mengontak Sofjan. Tak bersambung juga. “Sofjan itu bawa telepon satelit kok tidak sambung-sambung,” kata Kalla.

Di Aceh, Sofjan memutuskan mengirim kabar lewat Orari Angkatan Udara di Aceh. Orari Jakarta meneruskan pesan itu ke telepon seluler Jusuf Kalla. Ini laporan pertama Sofjan dari wilayah bencana: ”Pak, korban sekitar 5.000 hingga 6.000.” “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Kalla berkali-kali sembari mengusap wajah. Sejumlah menteri tertunduk. Hening menyapu ruang rapat.

Kalla melanjutkan pesan ke Presiden Yudhoyono yang malam itu sudah tiba di Jayapura. Presiden menyampaikan belasungkawa kepada korban bencana. Besoknya, Presiden terbang menuju Aceh.

Pukul sepuluh malam, telepon satelit Sofjan sukses menembus Jakarta. “Eh, ini Sofjan,” ujar Kalla kegirangan. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tak telepon-telepon?” tanya Kalla dengan suara keras. “Saya stres, Pak. Di sini gelap sekali,” sahut Sofjan dari seberang. “Besok aku susul ke sana,” ujar Kalla. Percakapan ditutup.

Malam itu Kalla mematangkan persiapan ke Aceh. “Saya minta Anda menyediakan dana sepuluh miliar uang kontan,” perintah Kalla kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf tertegun. “Pak, kalau segitu tak ada,” jawabnya. “Saya tidak mau tahu. Itu urusanmu,” kata Kalla. Rapat bubar larut malam.

Di larut malam itu, pendapa kantor gubernur di Banda Aceh masih gaduh. Warga yang luka parah dirawat seadanya. Koordinasi sulit karena aparat sibuk mencari keluarga masing-masing. Kepala Polda Aceh Bahrumsyah datang ke pendapa dengan terengah-engah. Wajahnya letih. Si Kapolda cuma mengenakan pakaian dinas tanpa alas kaki alias nyeker. Orang hilir-mudik di pendapa membikin Sofjan bingung menjaga uang Rp 200 juta yang dia bawa dari Jakarta. Ia meminta seorang anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera menjaga uang itu. “Orangnya berjenggot. Uang pasti aman,” ujar Sofjan.

Sang Menteri lalu merebahkan badan di atas karpet. Belum lagi mata terpejam, terdengar pekikan, “Gempa! Gempa!” Orang-orang berlari. Sofjan ikut kabur. Setelah bergoyang beberapa menit, bumi kembali tenang. Warga kembali ke pendapa. Tak berapa lama, teriakan gempa terdengar lagi. Semua berhamburan, termasuk Pak Menteri. Malam itu gempa datang berkali-kali. Lama-lama, Sofjan putus urat takutnya. Saat orang-orang kabur, ia terlelap. “Sudah jam dua pagi, masak lari-lari terus. Saya lelah sekali,” kenangnya. Besoknya, orang ramai menggunjingkan kehebatan nyali Pak Menteri.

*****

Hari kedua, 27 Desember. Entah bagaimana caranya, Menteri Keuangan berhasil menyediakan uang kontan pagi itu. Jumlah Rp 6 miliar. Menjelang siang, Kalla terbang ke Aceh membawa serta uang satu peti. Petang hari, Presiden Yudhoyono mendarat di Lhokseumawe. Wajahnya sedih. “Tadi pagi saya meninjau Nabire. Sore ini saya di Lhokseumawe menemui saudara-saudara yang tertimpa musibah lebih besar lagi,” katanya.

Setibanya di Banda Aceh, Kalla memerintahkan stafnya memborong beras, mi instan, dan aneka makanan lain. Karena berasnya kurang, Kalla bertanya, “Eh, berasnya sedikit sekali. Mana beras dari Dolog?” Seseorang menjawab, pintu Dolog digembok. Si pemegang kunci tak diketahui rimbanya. Wakil Presiden menyergah dalam nada tinggi “Buka! Kalau tak bisa, tembak gerendelnya. Apa perlu tanda tangan Wapres untuk buka pintu Dolog?” Suasana tegang. Beberapa polisi bergegas membidik gembok. Beras pun mengalir.

Rombongan Kalla berlalu ke pendapa kantor gubernur. Di Lambaro, mereka menyaksikan ratusan mayat berjejer di depan toko. “Masya Allah,” ucap Kalla. Badannya lemas. Di pendapa ia menggelar rapat, lalu keliling kota bersama Mar’ie Muhammad, Ketua Palang Merah Indonesia, yang datang sehari sebelumnya. Kota itu lautan mayat.

Mayat-mayat harus segera dikubur karena bau busuk menikam hidung. Untung, ada seorang ustad. Kalla minta ustad itu mendoakan tumpukan jenazah sebelum dikuburkan. Tapi siapa yang menjamin sahnya pemakaman? “Saya jamin,” kata Kalla. Ia mencorat-coret di atas kertas, lalu membubuhkan parafnya. “Tolong keluarkan ayat yang pantas-pantas saja,” pintanya kepada ustad.

Sore hari Kalla terbang dengan helikopter ke Lhok Nga untuk menjatuhkan mi instan dari udara. Helikopter itu tak punya sabuk pengaman. Setiap pesawat memutar, tubuh Kalla serong ke kiri, serong ke kanan. Rombongan Kalla terbang ke Medan pukul tujuh malam. Sofjan Djalil yang sudah dua hari di Banda Aceh minta ikut pulang. “Baru dua hari sudah minta pulang. Kau tetap di sini,” jawab Kalla. Malam itu Sofjan pusing tujuh keliling menjaga uang satu peti yang dibawa Kalla. Takut uang itu dicolong, Menteri Sofjan dan kawan-kawannya tidur mengitari peti itu.

*****

Hari ketiga, 28 Desember. Presiden Yuhdoyono terbang dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kalla yang sudah berada di Medan mendapat kabar Meulaboh rata tanah. Ia memerintahkan stafnya mencari pesawat ke Meulaboh. Dapat pesawat Angkatan Udara. Dari udara, Meulaboh tampak seperti tanah gusuran. “Astagfirullah,” ucap Kalla berkali-kali.

Kalla meminta pilot terbang lebih rendah. Pilot mengangguk. Kalla minta lebih rendah lagi. Kali ini pilot bilang, “Tak bisa, Pak. Bahaya.” “Kau ini orang mana?” tanya Kalla. “Saya orang Makassar, Pak,” jawab si pilot. “Ah, orang Makassar kok penakut,” sergah Kalla. Pilot mengalah, pesawat melayang cuma beberapa meter di atas pucuk kelapa. Untung saja arahnya ke laut.

Setelah berkali-kali memutar di atas Meulaboh, pesawat kembali ke Medan. Kalla langsung rapat dengan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin—kini sudah almarhum. Dia memerintahkan Gubernur mengirim makanan ke Meulaboh. Keduanya sempat bersoal-jawab.

+ “Bagaimana caranya, Pak?” tanya Gubernur.
- “Lewat udara, buang dari pesawat,” jawab Kalla.
+ “Kalau dibuang nanti pecah, Pak.”
- “Tidak apa-apa, toh sampai di perut pecah juga.”
+ “Ya, tapi nanti basah Pak.”
- “Bungkus saja pakai plastik.”
+ “Pak, nanti jatuh ke GAM,” Gubernur berusaha menjelaskan.
- “ Tidak apa-apa. GAM juga manusia. Perlu makan,” nada Kalla mulai meninggi.
Beberapa orang membisiki Gubernur supaya jangan membantah.
+ “Jadi, bagaimana, bisa atau tidak?” tanya Kalla.
- “Siap, Pak,” jawab Gubernur.

Pesawat pemasok makanan melayang ke Meulaboh. Presiden dan Wakil Presiden kembali ke Jakarta pada hari ketiga.

Lalu, bantuan kemanusiaan mulai mengalir dari segenap penjuru dunia….

21 November 2009

Obsesi = Jadi Presiden


Cita-citaku… (cita-citaku), ingin jadi presiden…
Masih ingat dengan lagunya Susan dan Ria Enes yang itu? Sangat familiar tentunya. Renyah didengar, menggelitik, dan ’anak-anak banget’.

Cita-cita, sebuah kata yang selalu ditanyakan saat kita masih kecil dulu, jawabannya pun beragam dan berubah-ubah, ingin jadi dokter lah, jadi insinyur lah, jadi presiden, jadi guru, jadi pilot, dan lain sebagainya. Sah-sah saja, toh dulu ketika kecil aku juga seperti itu. Masih ingat sekali saat itu aku selalu menjawab ”ingin jadi dokter”, kadang juga bilang ”ingin jadi polwan ”. Semua orang juga begitu tentunya?!.

Bagaimana dengan keinginan untuk menjadi presiden? Juga tidak sedikit anak-anak yang mencita-citakannya, dan semua itu terdengar lumrah saat keluar dari mulut mungil anak kecil. Tapi pernahkah di usia matang seperti saat ini kita mengucapkan cita-cita ingin menjadi seorang presiden (meskipun dalam hati)?

Aku pernah! Serius! Aku pernah mengucapkannya. Dan bukan cuma main-main! Meski tidak berlangsung lama keinginan itu muncul, tapi kalimat itu keluar bukan sebagai gurauan, bukan juga igauan, kalimat itu muncul sebagai klimaks dari sebuah keresahan yang saat itu dengan hebat melanda alam fikirku.

Tepatnya di pertengahan tahun 2008, saat aku iseng-iseng ikut bergabung dengan teman-teman yang lain menjadi suveyor untuk Lembaga Survey Indonesia (LSI), survey tentang sosial kemasyarakatan di propinsi Jawa Barat saat itu menugaskanku berada di sebuah desa kecil di daerah Bogor. Sebuah desa yang telah membuatku jatuh cinta dengan keramahan warganya. Luar biasa! Sebagai seorang pendatang yang tak punya satupun sanak maupun kerabat dan bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi itu, dengan kepentingan yang barangkali menurut orang desa dianggap ”apaan sih? ”, tapi betapa mengagumkan masyarakatnya, aku diterima dengan begitu ramahnya, dilayani dengan begitu khidmatnya, dan dihargai dengan begitu mempesonanya.

Pokoknya, ”Wonderful”

Selama tiga hari dua malam aku berada di sana, menginap di rumah salah seorang warga yang mengaku juga punya anak yang kuliah di UIN Jakarta (tempat kuliahku saat itu). Pagi, siang, sore, hingga malam aku berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain sesuai hasil random pemilihan sample penelitian yang telah kuhitung sedemikian rupa, jumlahnya ada 20 rumah (belum termasuk rumah pak lurah, beberapa rumah pak RW dan beberapa rumah Pak RT untuk pendataan sebelum dilakukan random, juga minta ijin plus tanda tangan dan stempel tentunya).

Satu per satu responden telah kuambil datanya, di masing-masingnya melekatkan cerita tersendiri yang senantiasa membuatku rindu kepayang dengan mengingatnya. Hingga sampailah aku pada responden yang kesekian. Seperti biasa, aku disambut dengan keramahan dan binar wajah dari pak RT setempat, kuutarakan maksudku untuk meminta data warganya untuk kemudian dirandom dan diambil datanya, beliau menurut. Ditemani segelas air putih, aku mulai menulis data warga di lembar kertas yang kuambil dari dalam map yang kubawa, dengan sabar beliau menungguiku yang berkutat dengan kertas-kertas di hadapanku, menghitung, mengurutkan, menandai, dan seterusnya. Tentu saja tidak hanya dengan diam membisu, sesekali aku bertanya tentang ini dan itu, dan beliaupun menjawabnya dengan nada tulus dan sama sekali tanpa beban. Kerenlah pokoknya!

Setelah selesai merandom dan aku sudah kembali tegak di posisi dudukku, mulailah dia bercerita lebih leluasa. Mulai dari keluarganya, anaknya yang sudah berkeluarga hingga saat cucunya berusia SMA masih tinggal bersama dengannya dan menempati sebuah kamar berukuran 2,5 x 3 meter. Kemudian, tentang warganya yang baru saja menerima kompor hasil konversi minyak tanah ke gas yang digagas pemerintah dengan segala permasalahannya. Hingga soal BLT yang alih-alih memberi kesejahteraan warganya malah dianggapnya menimbulkan kecemburuan sosial karena pada kenyataannya tidak tepat sasaran, dan lain sebagainya.

Srrr...! darahku berdesir mendengar penuturan miris dari mulut pria berusia kurang lebih 60 tahun ini. Tampaknya bapak di depanku ini ’membaca’ panampilanku dan dikiranya aku adalah pegawai pemerintahan yang punya kesempatan untuk menyampaikan keluhannya kepada pemerintah. Tuhan, akan Engkau selipkan amanah apakah sampai aku harus mendengar ini semua? . Perlahan, aku mulai merasa air sudah berkumpul di sudut mataku, aku ingin menangis, terlebih saat aku diantar oleh Bu RT menemui warga yang kusebutkan masuk sebagai respondenku, begitu masuk rumah sederhana itu tanganku langsung diraih dan diajak untuk melihat keadaan rumahnya yang sangat tidak layak, dengan kondisi dapur yang beratapkan langit karena gentingnya sudah enggan lagi berjibaku dengan terik mentari.

Hatiku gerimis, menyaksikan betapa kondisi ini baru pertama kali kulihat di depan mataku, kuinjak dengan kakiku, dan kudengar keluhan miris langsung dari aktor utamanya dengan telingaku sendiri. Ilahi, rahasia apa yang Kau simpan di balik takdir-Mu untuk mereka? Tiba-tiba saja aku teringat pemimpin dari rakyat yang ada di hadapanku ini, pemimpin yang mereka pilih dan titipkan amanah besar dipundaknya, pemimpin yang berkewajiban memberikan kesejahteraan bagi mereka. Pernahkah pemimpin mereka dengan mata kepalanya menyaksikan apa yang kusaksikan hari ini? Oh, I don’t think so.

Dadaku bergemuruh, sakit, miris, sedih, marah, berebut memenuhi rongga dada, membuncah, mancabik, meletup-letup, hingga memuntahkan sebuah kalimat pamungkas,
AKU INGIN JADI PRESIDEN

Hhh...! lega rasanya, akhirnya kalimat itulah yang keluar. Meski tak tau arti dari kalimatku sendiri, tapi setidaknya keresahan hebat itu menemukan klimaksnya, tidak mengantung-gantung, meronta-ronta menunggu jawaban hingga berlarut-larut. Entahlah, apa yang saat itu berkecamuk di alam fikirku, yang kuingat hanyalah bahwa aku ingin berbuat sesuatu, tidak mungkin Allah memberiku kesempatan bertemu dan mendengarkan keluhan mereka jika Aku tak diminta untuk berbuat sesuatu.
Menjadi seorang presiden, bukan keinginan yang kecil tentunya. Dan benakku pun sama sekali tak pernah mampu meski hanya membayangkannya, jauh, sangat jauh. Dan hingga akhirnya, keinginan itu pun luruh oleh waktu.

Tapi, benarkah pengalaman sedemikian dramatis tak memberi bekas apapun dalam kehidupanku seiring tak berlanjutnya cita-cita? Tidak! Tidak benar! Pengalaman itu telah membekaskan sebuah ukiran di seluruh persendianku. Meski tidak dengan melanjutkan keinginan menjadi presiden, tapi semua itu kini membelalakkan mataku yang bertahun-tahun kututup karena telah terlalu apatisnya dengan yang namanya pesta demokrasi di Indonesia.

Iya, benar. Aku tak pernah sekali pun ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi di negeri ini sebelumnya, di tingkat manapun, daerah ataupun pusat. Tapi kali ini, aku benar-benar ingin memberikan suaraku kepada seseorang yang kuanggap paling mampu mengemban amanah besar ini. Aku ingin menitipkan negeri ini kepada pemimpin yang benar-benar manjadikan kesejahteraan rakyat sebagai aliran darahnya. Dan akhirnya, aku pun menemukannya. Tak satupun orang di sekelilingku yang tak menertawakan pilihanku, tapi aku tak peduli, aku telah menelusuri rekam jejak kehidupannya, aku mencoba mempelajari karakteristik dan gaya kepemimpinannya, dan aku pun memilihnya karena hatiku mengatakan dialah orang yang paling tulus diantara kandidat yang ada, tulus ingin memberikan perubahan atas negerinya yang selama ini terbuai dan terlelap dalam ketidakadilan.

Meski akhirnya, KALAH!!!

Tak apalah, inilah demokrasi. Dan kini, aku tetap tak boleh berhenti, aku tetap harus berbuat sesuatu, sebanyak-banyaknya, meski tak mampu berbuat dalam skala makro seperti seorang presiden dengan kebijakan dan undang-undangnya, tapi setidaknya aku bisa berusaha menjadi ummat Muhammad yang melaju mengejar ”Khoirunnas anfa’uhum linnas ” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya).

18 Oktober 2009

Ketika Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mengerat

Hhh…Tarik nafas dulu ya sebelum menulis, karena sebetulnya berat bagiku untuk menuliskannya, atau lebih tepatnya dilematis. Apa yang ingin kutulis ini sebuah fenomena yang diaklamasikan oleh semua orang sebagai tindakan yang tidak terpuji, tak terkecuali aku sendiri, tapi pandanganku kini menjadi sedikit berbeda, karena….” (nanti ya lanjutannya)

Indonesia, bukan rahasia lagi tingkat korupsinya di mata dunia Internasional. Mulai dari unit pemerintahan terendah hingga tertinggi, baik BUMN maupun swasta, bahkan di lingkup para penegak hukum pun berkali-kali terungkap. Hina, sungguh perbuatan tak berperikemanusiaan, di tengah jutaan rakyat Indonesia yang bahkan mungkin tinggal ‘oksigen untuk bernafas’ saja kebutuhan primer yang bisa mereka penuhi setiap hari, sebab kebutuhan 3 kebutuhan primer yang dulu sering diajarkan oleh Guru kita saat sekolah dasar; Sandang, Pangan, dan Papan sudah menjadi hal yang tak utama lagi.

Terhadap perilaku kejam ini, siapa yang tak ingin mengutuk?
Bahkan kemungkinan besar para pelaku korupsi sendiri menyadari betapa tidak terpujinya perilaku korupsi itu. Inilah yang sulit dimengerti, pada dasarnya para pejabat itu tahu betul dampak korupsi secara luas, tapi mengapa mareka masih banyak yang tidak menjaga dirinya untuk berlaku jujur dan bersih.

Jadi teringat teori Disonansi Kognitif (Festinger, 1957) yang menjelaskan inkonsistensi antara suatu keadaan atau perilaku dengan apa yang selama ini dipahami baik secara individual maupun kolektif.Yah, sepertinya inkonsistensi antara sikap dan perilaku dalam tindakan korupsi ini bisa menjadi fatal jika individu tidak menyadari, apalagi sampai melakukan rasionalisasi sebagai self defense mechanism-nya, bisa-bisa makin menjadi dan tak memunculkan perasaan bersalah. Padahal guilty feeling itu meskipun sebuah bentuk emosi negatif, tapi keberadaannya dianggap cukup baik mengingat perasaan itu sendiri muncul ketika seseorang mengevaluasi pikiran, perasaan dan tindakan(Tangney & Fischer, 1995). Paling tidak dari perasaan itu individu berpotensi sadar dan memperbaiki kesalahannya.

Sebesar apapun kehinaan tindak korupsi, tetapi pernahkah kita berfikir apabila kita berada dalam situasi dimana orang terdekat kita divonis bersalah atas sebuah kasus korupsi dan harus segera dieksekusi? Pastilah tidak mudah, meskipun kita termasuk orang yang menyalahkan perilaku korupsi. Barangkali situasi itu yang saat ini sedang kualami, dan lagi-lagi ingin rasanya sekuat tenaga menyangkal kenyataan ini, tapi apalah daya, toh kenyataannya uang hak rakyat itu memang pernah mampir di dompetnya.

Senin 12 Oktober 2009, bukan hanya menjadi hari diumumkannya identitas korban mati dalam penggerebekan sarang Teroris di Ciputat, sebab di hari yang sama, dan masih di belahan bumi yang sama, 11 mantan anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dijebloskan ke dalam penjara atas kasus korupsi massal dana APBD senilai Rp 20 miliar. Satu diantara mereka adalah orang tuaku semasa duduk di Sekolah Dasar. Iya, beliau adalah guru sekaligus kepala sekolahku.

Bahkan untuk bereaksi pun aku bingung. Sedih, prihatin, kasihan, tidak tega, bercampur menjadi satu, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Barangkali jika hari ini aku bertemu muka dengan beliau, aku memilih untuk tidak berbicara apapun, dan pergi dengan tubuh lunglai menahan tangis. Aku jadi teringat cerita pamanku di Jakarta, bagaimana saat beliau bertemu dengan mantan Menteri Agama KH. Said Agil Al-Munawwar untuk pertama kali setelah keluar dari penjara atas kasus korupsi Departemen Agama beberapa tahun silam. Siapa yang tak miris, guru bahkan ustadz yang sepanjang masa akan kita kenang jasanya harus menjadi seorang pesakitan di balik jeruji besi.

Tapi jika aku diizinkan berpendapat, jujur dari hati yang paling dalam, sampai sekarang pun aku tak percaya jika beliau melakukan tindakan itu secara sadar, dan terencana. Aku lebih nyaman ketika mempercayai bahwa Ayahanda guruku itu hanya menerima jatah pembagian ‘kue kenduri’ dari sebuah tindakan korupsi yang dilakukan oleh atasannya yang telah terlebih dahulu mendekam di hotel prodeo, sama sekali tidak menyumbang otak apalagi ikut berstrategi atas tindakan hina itu.

Jika sikapku itu masih kurang tepat, maka aku memilih pembelaan yang selanjutnya, yaitu apa yang diajarkan oleh Nabi Saw. bahwa yang pantas kita hina dan rendahkan adalah sebatas pada perilakunya, bukan orangnya, karena bagaimanapun pelakunya tetap harus dihormati sebagai individu sama seperti yang lain.

Terdengar sangat naif memang pembelaanku, tapi entahlah, aku bingung dalam menentukan sikap, yang jelas aku hanya ingin menjadi murid yang hormat kepada guru sejak dulu, kini dan nanti. selamanya, tak kan berubah, dan tak kan pernah ingin mengubahnya.

17 Februari 2009

Iklan Politik; Sebuah Trik Resiprokal

‘Jadi pilihlah aku!’, semua orang pasti setuju kalau petikan kalimat pamungkas dari lagu yang pernah dipopulerkan oleh Diva Pop Indonesia —Krisdayanti-- ini sangat tepat digunakan untuk menyingkat dan menyimpulkan ratusan bahkan ribuan kalimat yang digunakan oleh partai politik dalam berbagai iklannya.

Tahun ini, Indonesia memiliki serentetan hajatan pemilu. Mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Partai, hingga Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebenarnya ini bukanlah hal baru, sebab rentetan Pemilu telah dirasakan selama tahun 2008 kemarin. Pada musim pemilu seperti ini, manuver-manuver politik gencar disuguhkan oleh para mereka yang berkepentingan memperoleh sebanyak mungkin simpati dari rakyat sebagai pemilihnya.

Lihat saja iklan-iklan politik yang kerap menghiasi layar kaca kita, seolah berlomba beranjangsana memenuhi ruang publik dengan segala kreatifitas hasil pengemasan para Advertiser yang tak jarang memunculkan reaksi masyarakat yang beragam. Tidak dapat disangkal, bahwa tradisi ini memang cukup ampuh untuk menaklukkan hati masyarakat dalam menjatuhkan pilihan, sebab bagaimanapun juga banyaknya partai-partai baru yang terus bermunculan menuntut mereka untuk mensosialisasikan diri secara intensif demi mendapatkan simpati atau setidaknya sekedar membuat tahu masyarakat atas keberadaan mereka.

Sosialisasi sendiri bukan hanya wajib dan diperuntukkan bagi partai-partai baru, karena ternyata partai-partai lama dan besarlah yang justru terlihat memiliki kepentingan yang lebih besar atas pemenangan pemilu. Taruhlah Partai A, B, C, dan D, yang tiap hari mempertontonkan diri di layar kaca, dengan mengusung materi dan pengemasan yang beraneka ragam, bahkan tak jarang hingga saling berebut klaim.
Strategi mengemukakan prestasi demi prestasi yang pernah dicapai oleh partai saat memegang estafet pemerintahan memang dianggap sebagai senjata yang cukup ampuh dalam menggaet massa sebanyak-banyaknya, sebab dari situlah Partai Politik berusaha mengingatkan kepada masyarakat bahwa dalam kurun waktu pemerintahan di bawah kepemimpinannya, terdapat prestasi gemilang yang perlu diingat oleh rakyat dan diharap rakyat --yang ingin prestasi tersebut terus berlanjut-- menjatuhkan pilihan kepada mereka.

Hukum Resiprokal
Berhasil menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak tiga kali, berhasil menyukseskan swasembada pangan, berhasil mengatasi konflik di beberapa daerah, berhasil menstabilkan harga sembako, dan lain sebagainya. Berbagai klaim digunakan oleh masing-masing partai sebagai pencapaian yang patut diingat oleh masyarakat sebagai prestasi.

Mengklaim sebuah pencapaian untuk membeli suara masyarakat memang sebuah cara yang tidak dapat dipersalahkan, bahkan boleh dibilang sebagai cara cerdas. Sedikit berlebihan memang, namun tidak demikian manakala kita mengetahui bahwa strategi itu ternyata memang cara yang sangat ampuh dan ironisnya sering hampir tidak dipahami oleh masyarakat bahwa sesungguhnya strategi itu berjalan sebagai trik resiprokal. Dalam Psikologi Persuasif, hukum resiprokal dikatakan sebagai aturan social yang membuat kita –yang tidak menyadari telah berada dalam lingkaran hukum itu—seolah-olah berhutang dan wajib membalasnya.

Resiprokal sendiri yang berarti timbal balik bukanlah suatu hukum tertulis dan berpasal, sebab dalam timbal balik ini hukum berjalan karena aturan social dalam masyarakat. Taruhlah contoh yang sering digunakan oleh perusahaan-perusaan yang sering melakukan pemasarannya dengan cara menyuguhkan agenda pengobatan gratis kepada masyarakat, dengan memajang berbagai atribut produk yang kemudian secara tidak sadar masyarakat seolah memiliki kewajiban sebagai balas jasa atas pengobatan gratis yang diterimanya dengan membeli produk yang ditawarkan.

Bukan hanya itu, strategi yang sama juga pernah marak digunakan oleh pengikut sekte Hare Krishna yang dahulu sangat dikenal oleh masyarakat di India, modus yang digunakan adalah dengan cara membagi-bagikan hadiah-hadiah kecil, seperti buku dan sekuntum bunga kepada setiap orang yang berlalu-lalang di tempat umum, dari situ kemudian masyarakat –karena merasa telah diberi sesuatu-- secara suka rela membalasnya dengan memberikan sumbangan yang tidak lain adalah digunakan untuk membiayai kehidupan kelompok tersebut.

Maka tidak heran jika untuk mendapatkan perhatian sebanyak-banyaknya, partai politik menggunakan jalan mengingatkan masyarakat atas jasa, keberhasilan dan dedikasi yang telah diberikan oleh sebuah partai politik kepada rakyat. Tidak dapat dipersalahkan juga jika efek dari langkah tersebut memang benar-benar membuat rakyat cenderung memberikan suaranya, namun untuk diketahui bahwa tidak ada satupun aturan yang mewajibkan kita merespon dengan memberikan suara, sebab bagaimanapun juga aturan resiprokal lebih bersifat sosial.

Perasaan tidak nyaman apabila tidak memenuhi permintaan setelah sebelumnya mendapatkan sesuatu dari mereka, itulah sasarannya. Sehingga perasaan tidak nyaman itulah yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu sebagai balasannya.

Cara Menyikapi
Sejatinya, sebagai hukum yang tidak menuliskan kewajiban untuk membalasnya, kita memiliki hak yang seluas-luasnya untuk melakukan penolakan. Selama kita bisa melihat dan mendefinisikan bahwa aksi yang dilakukan oleh seseorang adalah lebih sebagai alat untuk menundukkan kita ketimbang memberi sebuah jasa atau bantuan, maka orang tersebut tidak lagi memiliki hukum resiprokal sebagai sekutunya. Hukumnya mengatakan bahwa sebuah jasa atau bantuan seharusnya dibalas dengan jasa atau bantuan yang sama; tidak disebutkan bahwa sebuah trik harus dibalas dengan jasa atau bantuan.

Jelaslah bahwa sebuah ‘dedikasi’ yang telah diberikan sepatutnya kita telaah terlebih dahulu, apakah benar-benar dedikasi untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pemenangan, apakah pencapaian benar-benar dilakukan untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pra pemilu. Semua kembali kepada rakyat tentunya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dan sebagai pemegang otoritas mutlak atas suaranya sendiri.

1 Juni 2008

UN 2008: Setitik Tanya di Tengah Damai

Hari masih gelap saat kami menginjakkan kaki di pelataran SMPN 1 Balaraja Kabupaten Tangerang, tepat pukul 05.00 WIB kami telah bersiap di sana, menunggu datangnya pihak-pihak utusan sekolah dari seluruh sekolah yang merupakan bagian dari rayon 07 yang berpusat di SMPN 1 Balaraja. Setengah jam berselang, Koordinator Tim Pemantau Independen (TPI) beserta kepala Sub Rayon yang sekaligus Kepala Sekolah SMPN 1 Balaraja mengajak kami berkumpul di sebuah ruangan yang dihadiri oleh seluruh TPI-E (TPI tingkat sekolah/madrasah) dan juga dihadiri oleh para kepala sekolah atau ketua pelaksana UN di tingkat sekolah. Usai briefing, para TPI menemui kepala sekolah tempat bertugas masing-masing untuk menyaksikan penyerahan lembar soal dan lembar jawaban UN dari sub rayon ke sekolah, dan di situ TPI bertugas untuk memantau, memeriksa segel dan kelengkapan lainnya serta menandatangani berita acara penyerahan.

Saya yang kebetulan ditugaskan memantau jalannya Ujian Nasional SMP di SMP Islam Al-Falah Kec.kresek bergegas melaksanakan tugas pertama saya, bersama dengan bapak M.Abu Nu’man, S.Pd.I selaku kepala Sekolah sekaligus Ketua Panitia Pelaksana UN di SMP Islam Al-Falah menyiapkan lembar soal beserta LJUN yang diperuntukkan untuk sekolah kami, tak lama berselang panitia pembawa soal yang ditugaskan dari SMP Islam Al-Falah datang untuk menjemput saya beserta Soal dan lembar jawaban UN, sementara Pak Maman (panggilan akrab Bapak Abu Nu’man) mengendarai mobil bersama Kepsek-kepsek lain yang juga dari Kecamatan Kresek.

Sesampainya di lokasi ujian, saya disambut dengan hangat oleh seluruh civitas akademika SMP Islam Al-Falah Kec.Kresek, begitu juga saat para pengawas silang dari SMPN 1 Kec.Kresek datang, mereka menyambut dengan ramah perkenalan saya sehingga tak ada yang tampak canggung maupun kaku atas keberadaan saya di tengah-tengah mereka.

Saat UN dimulai, saya bergegas menuju lokasi ujian setelah menyaksikan penyerahan berkas-berkas ujian dari pihak sekolah (panitia) kepada pengawas silang, pemantauan dimulai dari pengecekan segel soal, pendistribusian soal dan lembar jawaban kepada peserta, kapasitas ruang, peserta ujian, ada dan tidaknya alat bantu untuk peserta ujian, sampai pada hal-hal yang mungkin ditemukan di tempat-tempat tertentu yang dicurigai sebagai bantuan bagi peserta ujian.

Sejauh kemampuan saya dalam memantau UN di SMP Islam Al-Falah yang terdiri dari 109 peserta ujian dan tersebar menjadi 6 ruang, UN di sekolah ini bisa saya kategorikan sangat lancar, mengingat hampir tidak saya temukan hal-hal ganjil yang bisa dianggap sebagai pelanggaran UN, meski begitu bukan berarti sekolah ini mulus dari penyimpangan, sebab di hari pertama saya menemukan adanya alat bantu berupa poster peraga yang masih terpasang di dinding ruangan ujian, memang hal ini adalah sebuah pelanggaran tapi saya masih bisa memakluminya karena saya menganggap hal ini sebuah ketidaksengajaan dari pihak sekolah yang kelupaan untuk menurunkan poster tersebut, oleh karenanya meski di hari pertama saya masukkan dalam kolom pelanggaran namun saya berinisiatif untuk menyampaikan perihal ini kepada pihak kepala sekolah, dan benarlah kepala sekolah tampak sangat menyesal atas kealpaannya sehingga ia berjanji akan menurunkan semua alat peraga yang masih terpasang di ruang ujian esok hari.

Hari-hari selanjutnya tetap tidak ada yang istimewa, semua berjalan dengan baik bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada peserta ataupun pengawas yang keluar ruangan saat ujian berlangsung, kegiatan di luar ruang ujian ketika ada yang meninggalkan ruangan pun tetap dalam pantauan saya dan tidak ditemukan penyimpangan apapun.

Kedamaian yang saya dapati di dalam pelaksanaan UN di SMP Islam Al-Falah Kec.Kresek sangatlah di luar dugaan, sebab berdasarkan pengalaman rekan-rekan yang pernah bertugas memantau jalannya UN SMA 2 minggu sebelumnya tampak oleh mereka geliat para tim sukses UN di sekolah yang menarik perhatian, juga pandangan-pandangan tidak bersahabat yang diterima oleh rekan-rekan saya baik dari pihak guru, pengawas, bahkan dari peserta UN sendiri. Bersyukur semua keadaan mengerikan itu tidak saya terima selama melaksanakan tugas pemantauan di SMP Islam Al-Falah Kec.Kresek, bahkan pernah satu kali saat sebelum bel dimulainya ujian berbunyi saya menyempatkan waktu beberapa menit untuk mengunjungi lokasi ujian, tempat dimana siswa sedang membuka-buka kembali materi ujian, di sana saya juga mendapatkan sambutan yang antusias dari mereka, meraka segera mengerubungi saya dan mengajak berkenalan, namun karena khawatir keberadaan saya mengganggu aktivitas belajar mereka maka saya putuskan untuk segera kembali ke ruangan panitia dan pengawas.

Namun semua kedamaian itu justru mengusik saya, hingga pada suatu ketika di hari terakhir UN yakni tanggal 8 Mei 2008 saya berkesempatan untuk berbicara panjang lebar bersama Pak Maman (kepala sekolah SMP Islam Al-Falah Kec.Kresek), dalam sebuah diskusi bernada santai saya mencoba menanyakan kegelisahan yang selama beberapa hari ini coba saya temukan dan nihil yakni soal tidak tampaknya geliat tim sukses di sekolah ini. Dengan diawali dengan senyum, Pak Maman menguraikan bahwa ia yakin sekolahnya telah melakukan yang terbaik untuk siswa, proses belajar mengajar telah diusahakan bisa berjalan seoptimal mungkin, Try Out juga dilaksanakan beberapa kali untuk menunjang serta memprediksi keberhasilan siswa dalam menjawab soal-soal UN.

Dalam kesempatan itu Pak Maman juga menegaskan bahwa dari pihak Sub Rayon yang berkedudukan di SMPN 1 Balaraja juga menginstruksikan kepada pihak-pihak sekolah yang menjadi anggota rayon agar membiarkan UN berjalan sebagaimana mestinya, Pak Aceng Syakur selaku kepala Sub Rayon sekaligus Kepala Sekolah SMPN 1 Balaraja menginstruksikan bahwa selama kegiatan belajar mengajar yang difasilitasi oleh sekolah telah baik dan optimal serta latihan-latiahan juga telah diberikan maka sudah tidak ada yang perlu dilakukan lagi selain pasrah , berdoa, dan menunggu hasil yang terbaik.

Sangat kontras dengan praktek-praktek UN yang terjadi di sekolah-sekolah di daerah lain yang penuh dengan pelanggaran dan kecurangan, terus terang saya sangat terkesima dan menaruh hormat kepada seluruh sekolah yang menjadi anggota rayon 07 yang berpusat di SMPN 1 Balaraja khususnya SMP Islam Al-Falah Kec.Kresek selaku sekolah yang dengan mata kepala saya sendiri saya pantau pelaksanaan UNnya. Dan di akhir perbincangan kami, Pak Maman menguraikan optimisme mereka akan keberhasilan siswa juga berdasarkan atas janji yang diberikan pemerintah daerah Banten yang telah menjanjikan bahwa rakyat di bawah pimpinannya dijanjikan akan meraih kelulusan sebesar 99%, oleh karenanya menurut Pak Maman dikeluarkannya janji yang bernilai prestise bagi daerah Banten tersebut mustahil tanpa perhitungan, oleh karenanya apa pentingnya pihak sekolah melakukan banyak manipulasi UN di tingkat sekolah, sementara pemerintah daerah yang telah menyuarakan janji tentu saja akan menanggung malu jika tidak terbukti, maka Pak Maman menutup diskusi kami dengan kalimat, “Biarlah mereka ‘yang di atas’ (pemerintah, pen) yang telah mengeluarkan janji atas rakyatnya itu yang melakukan ‘permainan’ di tingkat atas”, mendengar hal itu saya tersenyum tipis sambil mengerutkan dahi dan bergumam dalam hati, “Ada apa ini?”.

(note: photo from: www.liputan6.com)

17 Januari 2008

Andai Kau Tahu

Tak jua kunjung beranjak, hujan mnegguyur Jakarta tanpa permisi, di saat semua terlelap di peraduan, mengistirahatkan raga yang lelah terbanting penuhi tuntutan kehidupan. Banjir rutin lima tahunan tak lagi peduli siapa yang akan menjadi korbannya, tak kenal miskin atau kaya, kaum papa ataukah para platinum society, semua terlahap habis disapu air bah. Rumah tenggelam, harta benda terhanyutkan, para keluarga terpisah dari sanaknya, sawah-sawah tersulap menjadi danau.

Ironis memang, namun apa hendak dikata, dan siapa hendak dibantah, tak jua akan dapat menghentikan musibah.

Jelas dan tak dapat lagi kita mengelak jika memang telah tersurat dalam firman-Nya bahwa segala kerusakan yang terjadi di muka bumi ini tidak lain adalah sebab tangan-tangan manusia.

Dhoharo al-fasaadu fi al-barri wa al-bahri bi maa kasabat aydiy an-naas.

Namun apa guna meratap, apa guna menyesali, toh sapuan air bah tetaplah terjadi.

Seolah dikomando, masyarakat dengan inisiatif mereka masing-masing bahu membahu melakukan evakuasi warga yang terisolir di rumah-rumah mereka yang tinggal atap. Subhaanallah, Maha Suci Allah. Jika tiada air bah, sulit rasanya dapat kita saksikan pemandangan seperti ini di Jakarta. Tak kenal kawan, tak kenal lawan, semua adalah saudara yang harus dilindungi dan diselamatkan. Daya kreatifitas mereka pun tumbuh dengan sangat mempesona, mengulurkan tali demi membantu saudaranya keluar dari kepungan air, mendirikan posko-posko bantuan kesehatan serta air bersih, bahkan banyak pula kita temui dapur-dapur umum yang sengaja dibangun secara darurat demi menyuplai makanan bagi saudara-saudara yang lain

Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Di balik sebuah musibah pastilah terselip hikmah yang sangat indah jika kita dapat merenungkannya. Persaudaraan, kepedulian, kebersamaan, kesetaraan. Bahkan dalam sebuah wawancara yang saya saksikan di sebuah stasiun televisi, seorang korban banjir dari kalangan ekonomi atas mengutarakan sebuah kesadaran yang teramat menyentuh, “ Bukan Honda saya yang menyelamatkan, bahkan Kijang saya pun tak mampu memberikan bantuan, namun justru saudara-saudara saya yang tinggal di wilayah kumuh di belakang rumah lah yang dikirim Tuhan untuk kami sekeluarga”. Subhaanallah.