Tampilkan postingan dengan label song of mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label song of mind. Tampilkan semua postingan

9 Oktober 2011

Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH


Hari-hari di bulan Dzulqo’dah hingga Dzulhijjah seperti ini menjadi bulan yang ‘mellow’ banget buatku, dan itu sudah berlangsung sejak belasan tahun yang lalu. Pasalnya, di bulan tersebut adalah saat dimana ummat Muslim di dunia ini melaksanakan ibadah haji. Nah, lantas apa hubungannya bulan haji dengan mellow-nya diriku? Yups, nggak tau kenapa aku selalu saja merasakan getaran yang sangat dahsyat ketika melihat ka’bah (gambarnya ya, kan belum pernah secara langsung). Selain ka’bah, ada satu lagi ‘pernik’ haji yang ketika muncul maka silahkan sahabat sekalian menghitung mundur 3 s/d 1 maka langsung byuurrr….. melelehlah air mataku.

Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika laa syariika laka labbaik…

Getaran itu tak pernah sembuh dan aku pun tidak menginginkannya menghilang dari diriku. Tentunya sudah tidak perlu ditanyakan lagi sebesar apa keinginanku untuk beribadah di sana, amat sangat banget-banget very much!!!

Menyadari bahwa keinginan mulia itu haruslah diusahakan, selain dengan ibadah yang terus diperbanyak dan ditambah kualitasnya agar ‘panggilan’ itu segera datang, juga yang tidak boleh dikesampingkan adalah tabungan.

Dulu saat masih kuliah di Jakarta, secara tidak sengaja aku membeli sebuah celengan terbuat dari kaleng yang hanya terdapat satu lubang yang digunakan untuk memasukkan uang ke dalamnya, selain dari lubang tersebut tidak ada jalan lain menuju rongga di dalamnya, sehingga tak ada cara buatku untuk tergiur membukanya saat kepepet butuh duit. Berawal dari celengan seharga sepuluh ribu rupiah itulah komitmen untuk rutin mengisinya dimulai. Uang pecahan seribu rupiah yang akhirnya kupilih untuk mengisinya, alasannya karena tidak terlalu berat buat anak kost sepertiku, biasanya sisa kembalian uang angkot atau sisa beli sarapan sebelum berangkat kuliah kusisihkan dan segera kumasukkan ke dalam celengan kaleng itu. Dan yang tak kalah menyenangkan adalah karena kedua orang teman di pesantren pun mengekor, mereka ikut-ikut membeli celengan yang sama, walhasil kita bertiga pun berpacu untuk serajin mungkin mengisinya, meski tak jarang berbuntut dengan ledek-meledek kala ada satu orang yang mengisi celengannya sementara yang lain merasa sudah berminggu-minggu absen mengisi celengan.


Cieee…. Ehm..ehm..  Nyelengi teruusss! Ngisi Teruusss! Penuh, penuh, penuh!!

Ada satu lagi yang menarik dari celengan itu, di sisi kaleng tersebut kutempelkan kertas bertuliskan “ONH” alias Ongkos Naik haji. Hihihi… lucu kan?? Terlihat konyol sih, tapi nggak tau kenapa aku benar-benar sepenuh hati waktu menulisnya, dan satu lagi, aku dengan PD-nya memajang kaleng itu di atas lemari bukuku.

Saat kami bertiga telah lulus, satu persatu membuka celengan masing-masing yang memang sudah penuh. Meski membukanya di rumah masing-masing kami berkomitmen untuk saling memberitahu isi tabungan yang diperolehnya. Karena si Munay yang lulus terlebih dahulu, maka dialah yang pertama kali memecah celengannya, dan totalnya tigaratus sekian ribu. Ahhhaaa…. Aku langsung menghayal dan PD dalam hati, “pasti punyaku lebih dari 500 ribu ” karena aku masih ingat banget selain uang pecahan Rp.1000 aku juga pernah mengisinya dengan uang pecahan Rp.5000 sampai Rp.20.000. (Oh ya, by the way, Celengan si Mamah berapa ya isinya? Lupa nanyain sampai sekarang, lulusnya belakangan sih…)

Beberapa bulan berkutnya, giliran aku yang lulus dan kembali ke kampung halaman. Harusnya sih tiba waktunya aku mebuka celengan, tapi entah kenapa aku tak sampai hati membongkar kaleng berwarna pink bergambar strawberry itu. Bulan berganti bulan sampai aku masuk kuliah S2 pun tak segera kubuka. Alasannya, karena masih bingung. Bingung nanti mau diapain uangnya, nggak seberapa sih, tapi kan sayang kalau ujung-ujungnya cuman buat jajan atau beli baju, secara kan ngumpulinnya lama banget, masa iya dihabisin buat jajan begitu aja. Buat daftar haji?? Owalah… jauh banget….!!! Hehehe

Sampai suatu hari di bulan Ramadhan, aku yang gandrung banget sama sinetron Para Pencari Tuhan dibuat terharu dengan perjuangan Asrul dan Udin. Asrul, tokoh yang digambarkan amat sangat miskin, bahkan untuk makan sehari-hari pun menunggu uluran tangan dari tetangga dan juga memetik bayam yang tumbuh liar seperti rumput di kebun pak Jalal. Sementara Udin, seorang Hansip yang menyambi bekerja sebagai tukang ojek dan sesekali juga melakukan apa saja yang disuruhkan oleh Pak Jalal kepadanya. Mereka berdua dengan gigih mengumpulkan uang gopek demi gopek, seceng demi seceng, goceng demi goceng mereka kedalam sebuah kotak kayu yang ia simpan di dalam tanah saking pengennya bisa naik haji.

Hmm… pengen deh kayak gitu. Mungkin nggak sih itu ada dalam kehidupan nyata?? Tentu sangat mungkin, karena beberapa hari yang lalu aku menyaksikan sendiri liputan di TV mengenai cerita yang serupa. Seorang janda setengah baya dengan 3 orang anak yang tinggal di sebuah desa kecil di salah satu kabupaten di Jawa tengah, sehari-hari ia tinggal di sebuah gubuk yang penuh dengan rongga cahaya di sana-sini karena terbuat dari bilik bambu dan seng yang telah lapuk. Setiap hari ia berjualan kue khas daerah setempat (aku lupa nama makanannya, yang jelas aku belum pernah menemuinya di daerah tempat tinggalku). Dengan penghasilan paling besar adalah 25.000 rupiah setiap hari, siapapun tak akan menyangka, bahwa di tahun ini ia berhasil mewujudkan impiannya untuk beribadah di tanah suci memenuhi panggilan-Nya.

Rahasianya? Ternyata si ibu sudah menabung sejak 13 tahun yang lalu, ia rajin mengumpulkan uang yang didapatnya (setelah digunakan untuk keperluan sehari-hari) dan kemudian membelanjakannya untuk membeli perhiasan emas yang kemudian ia masukkan ke dalam sebuah gelas plastik dan menguburnya di dalam tanah yang tidak lain adalah lantai rumahnya. Dari tabugnan yang disiplin ia kumpulkan itulah, tahun ini telah menggenapkan keinginannya untuk mencium Hajar Aswad dengan dibelai cinta-Nya di tanah yang sangat mulia, Makkah al-Mukarromah.

Dari situlah aku meneguhkan hatiku untuk tidak tergoda menggunakan uang celengan yang tak seberapa itu, bagaimanapun juga, sampai kapanpun juga, menunggu se-lama apapun juga, celengan itu harus tetap pada niatnya sedari awal, yaitu ONH, sesuai dengan tulisan yang masih menempel di sisi kaleng berdiameter 15 cm tersebut.

Dan setelah menganggur hampir setahun sejak kelulusanku dari S1, akhirnya celengan itu bertemu dengan nasib yang digariskan untuknya. Semua berawal tatkala kakakku yang nomer dua mengadu nasib di Jakarta, ijazah Sarjana Hukum yang digenggamnya gagal mengantarkannya untuk duduk di sebuah law firm seperti yang diidamkannya, karena nasib memaksanya banting stir dan menerima apapun peluang yang ada didepan matanya.

Lowongan sebagai marketing di Bank Mega Syari’ah pun diterimanya. Kejaran target perolehan nasabah yang harus didapatnya untuk bisa memantapkan posisinya di kantor lah yang akhirnya mau tidak mau membuat seisi rumah dibuat heboh, karena ia memaksa kami serumah untuk membuka rekening haji di bank tempat ia bekerja, tidak hanya kami serumah, saudara-saudara dekat, saudara-saudara jauh, hingga teman-teman lama pun ia todong untuk mau menyisihkan uangnya sebagai saldo awal membuka tabungan haji. Semua pun tak tega melihat dia pontang-panting mencari nasabah sebegitu banyaknya, demi memenuhi target yang bisa mengubah nasibnya dari pegawai kontrak menjadi seorang karyawan tetap, bahkan terus menanjak menjadi Team Leader hingga (kandidat) Regional Marketing Manager seperti yang telah dicapainya sekarang.

Dari situlah celenganku menemukan masa depannya, dengan minimal saldo awal sebesar Rp.200 ribu saja kami sudah bisa mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM bergambar ka’bah.

Yes, it’s time to break the Celengan. Disaksikan orang seisi rumah, celengan kaleng itu kubuka menggunakan gunting, lembar demi lembar kubuka lipatannya dan kususun per sepuluh lembar agar lebih mudah menghitung. Deg-degan banget rasanya, rasa percaya diri bahwa isinya akan melebihi nominal 500 ribu pun perlahan berangsur-angsur memudar, karena ternyata isi celengan itu hanya Dua Ratus Enam Puluh Dua Ribu Rupiah. Alhamdulillah…. Yang penting bisa buat membuka rekening haji lah… hehehe…

Dan akhirnya fotocopy KTP beserta segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku, Bismillahirrahmanirrahiim…. Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus menguras air mataku.

Labbaik Allahumma Labbaik…
Labbaika Laa syariika laka labbaik…
Innalhamda wan ni’mata laka wal mulk…
Laa syariika laka…

28 Maret 2009

SITU GINTUNG; Yang Tertakdir Untukmu

Dihempas gelombang dilemparkan angin
Terkisah bersedih bahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencanaNya

semua berjalan dalam kehendakNya
nafas hidup cinta dan segalaNya


Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi

Bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti (hilang kan berganti)

Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkan hati merindukan Dia
karena hanya denganNya hati tenang
Damai jiwa dan raga

Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Hanya padaMu ya robbi

(lagu "Takdir", by Opick)
(foto; www.liputan6.com)

12 Agustus 2008

Aku dan DIA

Tanpa lisan meminta pun
Tak jarang Dia memberi apa yang dibutuhkan

Tanpa Lisan berdoa pun
Seringkali Dia penuhi seluruh hajat

Dan tanpa lisan berterima kasih pun
Dia masih tetap memberi

Mestinya,
Karunia setetes air pun sudah cukup tuk sadarkan diri ini

Lalu mengapa,
Tetesan-tetesan yang telah menggenang itu malah menyuburkan kesombongan diri

6 Juni 2008

Aku Juga "Sayang Pada-MU"


……

Andaikan dunia mengusirku dari buminya
Tak akan aku merintih ataupun menangis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukan alasan bagiku untuk membalasnya
Asalkan, karena ituTuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendak-Nya menjadi surga bagi cintaku

……

Merinding sekali saat aku pertama kali mendengarnya dibacakan oleh Bapak Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Muhammad Nuh. Puisi yang indah dan sarat makna dan satu lagi yang mungkin menjadi alasan utama mengapa syair itu dapat dengan mudah membuat hati semua yang mendengarkannya luluh lantah. Iya sebab puisi itu ditulis dengan hati, dengan penghayatan tinggi dan oleh orang yang memiliki cinta yang amat tinggi kepada Khaliqnya.

Usai dibacakan oleh Pak Menteri, si penulis syair berceletuk “Baru kali ini saya dengar puisi saya dibaca kayak baca surat keputusan menteri…!!??”, “Ggrrrr…..!!!” seisi auditorium bersorak atas celotehan garing tapi ‘mengena’ itu, dan tanpa jeda waktu yang lama kembali syair itu dilantunkan, namun kali ini berbeda, lebih indah, lebih mempesona, lebih semuanya! Syair itu dilantunkan oleh istri si penulis syair dengan diiringi alunan nada indah yang kental dengan nuansa etnis jawa oleh kawan-kawan dari Kyai Kanjeng. Semua terkesima, Syair itu dibawakannya dengan sepenuh penghayatan, dan semakin menyayat kalbu.

Iya, Emha Ainun Najib beserta Kyai Kanjeng dan Novia Kolopaking, serta grup band Letto, berkumpul memeriahkan acara di Auditorium Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam acara Kongres BEM PTAI se-Indonesia Raya ini selain menghadirkan para pengisi acara di atas hadir pula Menkominfo RI Bapak Muhammad Nuh, Menpora Bapak Adhyaksa Dault, Rektor UIN Jakarta Prof.Komarudin Hidayat.

Acara yang bertajuk “Merajut Gerakan Mahasiswa Menuju Kemandirian Bangsa” ini sangat menarik animo mahasiswa untuk berpartisipasi bahkan bukan hanya para civitas akademika UIN Jakarta saja yang memenuhi Auditorium Utama UIN Jakarta, sebab acara yang sebelumnya sempat diumumkan keberlangsungannya melalui pengeras suara di Masjid Fathullah ini mengundang masyarakat sekitar untuk ikut memeriahkan acara akbar yang dihadiri utusan BEM Perguruan Tinggi Agama Islam dari seluruh Indonesia.

Acara langsung dipandu oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Najib) dengan nuansa damai, Cak Nun beberapa kali tampak berusaha menentralisir suasana ketika forum tiba-tiba menunjukkan tindakan kurang kooperatif, selain itu kedekatan emosional antara Cak Nun dengan Pak Nuh dan Pak komaruddin membuat suasana diskusi semakin mencair.

Saat giliran berbicara, Pak Nuh dengan terang-terangan tidak ingin langsung mengklarifikasi atas kebijakan pemerintak berkitan dengan dinaikkannya harga BBM yang akhir-akhir ini terus menimbulkan serangan dari mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, beliau justru membuka sesi interaktif seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mempertanyakan segala hal yang ingin mereka pertanyakan termasuk soal BBM.

Dan benarlah, pertanyaan itu pun meluncur. Audience seketika diam, hampir tak terdengar suara apapun yang sebelumnya memenuhi seisi ruangan selain suara Pak Nuh saat memberikan penjelasan. Satu demi satu diterangkan dengan detil, soal APBN, subsidi, harga minyak dunia, dan alasan serta perhitungan dampak yang telah diprediksikan oleh pemerintah akan muncul sebagai buntut dari dinaikkan atau tidak dinaikkannya harga BBM di tahun 2008 ini. Tak ketinggalan program BLT yang ternyata hanya satu part kecil dari usaha pemerintah memberikan kompensasi yang selama ini dituding oleh mahasiswa sebagai langkah pemalasan rakyat, dan lain sebaiknya, saya yakin semua orang yang hadir dan mendengarkan penjelasan Pak Nuh malam itu dapat dipastikan baru ‘terbuka mata’ atas semua kenyataan sebenarnya yang terjadi, dapat dipastikan penjelasan Pak Nuh malam itu telah mematahkan konsep-konsep mereka soal bejatnya pemerintah karena telah menyengsarakan rakyat dengan kenaikan harga BBM.

Malam itu,bukannya kami (mahasiswa) menjadi berhenti untuk membela rakyat, bukan berarti kami (mahasiswa) serta merta membela segala apa yang diputuskan oleh pemerintah, namun bermula dari malam itu setidaknya kami tau bahwa dibalik semua yang terjadi pastilah akan ada penjelasan di baliknya. Sebagaimana cara berpikir yang saya usung dalam tulisan terbaru saya tentang UN yang sedang dalam proses editing di sebuah penerbit untuk segera diterbitkan, dalam buku itu salah satu misi yang saya kemukakan adalah kebiasaan untuk berpikir lebih bijak, sehingga apapun yang kita suarakan nantinya telah berlandaskan atas dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga dalam menyikapi kenaikan harga BBM ini, tentunya kami (mahasiswa) akan terus memperjuangkan nasib rakyat dan tentu saja dengan hujatan atau kritikan yang berdasar dan bertanggung jawab.

18 Januari 2008

Tepis Hari yang Sedih, Rengkuh Gemilang Pagi Hari

Kutatap langit
Tak kutemukan
Kuarahkan pandangan
Tak mampu kudapatkan
Kutengok ke belakang
Tak jua tampak


Memang…
Tlah kulewati tahunku dengan prestasi yang tak membahana
Tlah kuhempaskan nafas dengan tanpa mutiara sebagai hasilnya
Tlah kututup bukuku dengan warna sederhana

Layakkah aku meratap?
Layakkah aku meronta ingin kembali?
Layakkah aku mengutuk diri?
Layakkah aku diam lumpuh, sementara kaki masih harus terus melangkah?
Layakkah aku berhenti dan memejamkan mata, sementara nafas ini masih harus dipacu?
Layakkah aku…?

Tuhan…
Izinkan aku terus memupuk iman ini…
Izinkan aku menjadi insanMU yang bisa membuat dunia ini tersenyum
Izinkan aku merengkuh kebahagiaan yang sempurna

Tentu, wahai Tuhan…
Bukan PR yang mudah bagi insanMU yang kerdil ini
Bukan janji yang ringan bagi sahayaMU yang tanpa daya ini

Namun…
KebesertaanMU adalah kekuatanku
Kasih sayangMU adalah nyawaku
RidloMU
adalah penyempurna semua ikhtiyar ini

Gegap gempita pembuka tahun baru dikumandang-siarkan di seluruh penjuru bumi, sorak sorai makhluk bumi menyambut pergantian tahun yang tak pernah mengenal sepi. Ibu Kota bergemuruh tawarkan berjuta keindahan pesta yang semua orang ingin menjadi saksi atas kemewahannya. TMII, Monas, Ancol, dibanjiri manusia dengan tujuan yang sama meski bukan atas perintah komandan yang sama.

Aku diam, hendakkah aku menyatukan diriku di tengah kebahagiaan manusia seisi bumi ini? Hendakkah aku turut meneriakkan mundur deretan angka menuju detik bergantinya tahun? Hendakkah aku menenggelamkan diri ke dalam lautan manusia yang telah siap meniupkan terompet layaknya proklamator pergantian tahun?

Iya, aku memang melakukan sesuatu, aku memang haru ikut bersibuk ria di malam yang tak berlangsung tiap hari itu, aku memang hendak turut berteriak di malam yang semua orang tak pernah akan lupa akan kedatangannya itu. Namun, kudapati aku yang berlumur dosa dan berkecambah nista ini, merasa begitu tidak pantasnya jika setelah melewati malam ini aku mematut wajah di depan cermin masih dengan wajah yang sama dengan kemarin. Dan begitu malunya diri ini jika sampai embun sebelum cahaya yang kusentuh di hari pertama tahun yang baru ini mendapati aku dengan pakaian dosa yang tak sempat kubersihkan di penutup malam ini.

Nas'aluKA Yaa Man Huwa Allohu Alladzii laa ilaaha illa Huwa
ArRohmaan, ArRohiim, AlMalik, AlQudduus, AsSalaam, AlMu'min, AlMuhaimin, Al'Aziiz, AlJabbaar………………

Kuterbenam di antara lautan hamba Alloh yang memadati area komplek Masjid AtTiin TMII. Bersama Ustadz Arifin Ilham, kami mencoba meruntut rangkaian butir-butir dosa sepanjang usia yang telah dikenyam, mengalunkan dzikir dan tasbih mengagungkan namaNYA, memuhasabah-i diri atas kekhilafan yang harus segera dimohonkan ampun atasnya, menumpahkan air mata penyesalan atas semua kedzaliman terhadap Sang Pemilik Nirwana, meneguhkan hati atas sebuah pertaubatan sempurna demi menggapai RidloNYA.

Terbuai dalam jernih embun tetesan Cinta
Terkulai dalam kemanjaan Kasih dan MaghfirahNYA
Kubersujud memohon diampuninya diri atas lumpur dosa yang terlah diperbuat
Kujatuhkan diri serendah-rendahnya karena aku memang tak mampu tegak di hadiratMU
Tangisku meledak
Ratapku mengisak

Alloh…..
Beri aku kesempatan tuk abdikan diri, jiwa dan cinta ini hanya untukMU,
untuk kesempurnaan penghambaan kepadaMU
Beri aku kesempatan terus berjalan dan menatap masa depan dengan senyum dan cinta terindahMU.

17 Januari 2008

SANDARAN HATI


Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi bolehkah aku mendengar-Mu

Terkubur dalam emosi tak bisa bersembunyi aku dan nafasku merindukan-Mu
Terpurukku di sini teraniaya sepi dan kutahu pasti Kau menemani
Dalam hidupku kesendirianku

Teringatku teringat pada janji-Mu kuterikat
Hanya sekejap kuberdiri ku lakukan sepenuh hati

Tak peduli ku tak peduli siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti jika Kaulah sandaran hati

Inikah yang Kau mau benarkah ini jalan-Mu hanyalah Engkau yang kutuju
Pegang erat tanganku bimbing langkah kakiku aku hilang arah tanpa hadir-Mu
Dalam gelapnya malam hariku

Saat kali pertamanya saya secara tidak sengaja mendengar lagu ini terlantun apik dari Winamp di PC salah seorang teman di rumah kostnya, terus terang saya tersentak kaget dan seolah dipaksa untuk kembali mendengarkannya untuk kedua kali. Segera saya menanyakan soal siapa pelantun lagu tersebut yang kemudian saya ketahui bahwa lagu tang berjudul Sandaran Hati itu adalah lagu yang dipopulerkan oleh sebuah Group Band yang baru saja ikut meramaikan kancah perindustrian musik di Indonesia, Letto. Dari situ saya hanya bisa berdecak kagum terhadap pengarang lagu serta penulis lirik yang saya anggap cukup menyita perhatian saya. Melihat ketertarikan saya yang besar terhadap lagu itu, maka teman saya tersebut menyodorkan selembar kertas bertulskan lirik lagu indah itu secara lengkap yang sempat dia tulis meski masih berantakan.

Benarlah dugaan saya, bahwa lagu itu tidak hanya sekedar syair-syair biasa yang dilantunkan oleh seorang Vokalis group band, namun lebih dari itu, bait-bait indah itu menyimpan makna yang sungguh mempesona ketika coba untuk didefinisikan.

Sebuah nyanyian hati seorang hamba yang memiliki kesadaran yang sungguh luar biasa atas kekerdilan dirinya di hadapan Sang Ilahi, yang dengan kepasrahan penuh sengaja ia gantungkan segala ketidakberdayaannya sebagai sahaya Tuhan sehingga menumbuhsuburkan keikhlasannya atas skenario besar yang dimainkan oleh Sang Maha Segala terhadap dirinya. Hingga pada titik puncak penyerahan jiwa dan raganya lenyaplah segala kekhawatiran akan kesendirian hidup, kesepian ruhani, maupun kekosongan naluri, sebab keyakinan akan kebesertaan Allah dalam setiap helaan nafasnya adalah pilar untuk terus maju menapaki hidup dengan bertopang pada Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Sandaran Hatinya, hingga tiada lagi kesedihan ataupun bahkan keterpurukan yang tak lain adalah scenario Sang Maha Perkasa yang praktis merupakan media pembelajaran hidup menuju insan yang diridloi.
(Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi bolehkah aku mendengar-Mu
Terkubur dalam emosi tak bisa bersembunyi aku dan nafasku merindukan-Mu
Terpurukku di sini teraniaya sepi dan kutahu pasti Kau menemani
Dalam hidupku kesendirianku)

(Tak peduli ku tak peduli siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti jika Kaulah sandaran hati)


Kembali dada saya tersentak haru oleh dendang lagu pada bait-bait berikutnya.
Teringatku teringat pada janji-Mu kuterikat
Bagaimana tidak, serasa dipaksa untuk kembali bermuhasabah atas kelalaian tak termaafkan.
Robbanaa Dhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa lanakuunanna min al-khaasiriin

Entah masih pantaskah kita mengaku sebagai hamba-Nya yang beriman, sementara kita seolah lupa dengan saat-saat di mana Allah SWT mengambil sumpah atas ruh-ruh manusia untuk mengikrarkan janji setia sebagai hamba yang berkewajiban senantiasa menegakkan syari’at serta sunnatullah di hamparan alam semesta layaknya seorang khalifatullah.
Harusnya kita selalu sadar bahwa kehidupan yang telah Allah anugerahkan kepada kita saat ini adalah sebuah medan di mana kita harus menunaikan janji kita kepada-Nya yang telah kita ikrarkan dalam Alam Musyahadah.
Alastu bi Robbikum?
Qooluu: Balaa, syahidnaa...
Lalu mengapa, masih saja kita tak hendak beranjak dari kedzaliman yang kita perbuat terhadap diri kta sendiri ini?


Wa ma al-hayaatu ad-dunya illaa qaliil
Memang, harus selalu disadari bahwa kehidupan di dunia yang selalu kita agung-agungkan ini semuanya adalah sementara. Tak lebih dari sekejap seperti yang digambarkan dalam lagu di atas
(Hanya sekejap kuberdiri ku lakukan sepenuh hati)
namun, yang perlu kita pahami bukan hanya terletak pada seberapa lama kehidupan fana ini kita jalani, melainkan juga seberapa maksimal kita mengisi kehidupan ini dengan ketakwaan sebagai bekal amal ibadah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di Hari Perhitungan. Oleh sebab itu, sebagaimana yang tersurat dalam lanjutan bait syair milik Letto di atas yakni keteguhan untuk menjalankan perintah Tuhan dengan sepenuih hati mengingat begitu singkatnya waktu yang Allah berikan kepada kita dalam mengumpulkan bekal hidup di alam kekekalan, akhirat.

Inikah yang Kau mau benarkah ini jalan-Mu hanyalah Engkau yang kutuju
Pegang erat tanganku bimbing langkah kakiku aku hilang arah tanpa hadir-Mu
Dalam gelapnya malam hariku

Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-'Aliyy al-'Adhiim
Tiada daya ataupun upaya melainkan atas pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’ala

10 Januari 2008

DEMI MASA (Renungan di Penghujung Tahun)

Seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade bisa merasakan betapa pentingnya makna satu mili detik. Orang yang selamat dari kecelakaan bersyukur atas waktu satu detik untuk bisa menyelamatkan iri. Orang yang ketinggalan kereta tentu menyesali keterlambatannya datang ke stasiun meski hanya satu menit. Pemuda yang sedang menunggu kekasihnya bisa merasakan betapa lamanya waktu satu jam. Seorang pekerja harian merasakan bermaknanya waktu satu hari. Seorang editor majalah mingguan paham benar bagaimana singkatnya waktu satu minggu. Ibu yang melahirkan bayi premature berangan seandainya saja ia melahirkan bulan depan. Seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas, menatap dengan pandangan kosong panjangnya waktu satu tahun. Orang yang sudah mati… menyadari sungguh bermaknanya arti kehidupan.


Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas

Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature

Untuk memahami makna SATU MINGGU
Tanyalah seorang editor majalah mingguan

Untuk memahami makna SATU HARI
Tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian

Untuk memahami makna SATU JAM
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya

Untuk memahami makna SATU MENIT
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta

Untuk memahami makna SATU DETIK
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan

Untuk memahami makna SATU MILI DETIK
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade

Dan akhirnya, sadarkah anda bahwa waktu terus berlalu?
Siapkah Anda mempertanggungjawabkan kepada Allah
Bagaimana Anda menggunakan setiap mili detik waktu Anda?