Tampilkan postingan dengan label baca-baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baca-baca. Tampilkan semua postingan

15 Desember 2011

Princess Sultana; Feminist di Negeri Patriarkis yang Agamis

Di Indonesia para kaum Feminist memperjuangkan emansipasi wanita sudah sangat lama, hasilnya tentu sudah jauh berkembang, meski pada akhirnya tak jarang aspirasi mereka dalam memperjuangkan kesetaraan kaumnya menjadi berbenturan dengan nilai agama.

Siapa sangka, di Arab saudi pun ada kaum serupa dan tentu saja perjuangan Feminist di sana menjadi sangat alot dan terjal, karena mereka berada di negara berhukum Islam dengan budaya yang sangat patriarkis.

Dialah Putri Sultana binti Al Saud, seorang putri dari kerajaan yang memerintah di Arab Saudi. Setelah jatuh bangun merintis pemberontakan terhadap ketertindasan kaum wanita atas dominasi lak-laki dan akhirnya berujung tak manis, ia akhirnya menggunakan buku sebagai medianya. Melalui buku yg di tulis oleh temannya dari Amerika, Jean P. Sasson, sang putri bercerita dan membongkar budaya patriarkis di negaranya yg mengganggunya seumur hidup karena tingginya tembok kerajaan menutup segala akses langkahnya.

Berikut statement terakhir dari sang putri:
"Hingga fakta-fakta yang hina ini diberitahukan kepada publik, tidak akan ada yang menolong; buku ini seperti langkah awal seorang bayi yang tidak akan pernah dapat lari tanpa usaha pertama yang berani untuk berdiri di atas kaki sendiri. Jean, aku dan kamu yang akan mengaduk-aduk abu dan menghidupkan api pertama. Katakan padaku, bagaimana dunia akan datang membantu kita jika ia tidak mendengar teriakan kita? Dalam jiwaku kurasakan; inilah permulaan perubahan untuk kita, perempuan."

PRINCESS
By: Jean P. Sasson

20 Juni 2008

Do I Still Believe In Miracle?

Kususuri rak demi rak toko buku Gramedia, yang kucari belum juga kudapatkan. Aku terus mencari sembari melirik beberapa buku yang terlihat tak kalah menariknya. Usai menonton Talk Show favoritku “Kick Andy” di Metro TV aku dilanda rasa penasaran yang hebat untuk segera membaca Novel yang based on the true story mengenai perjalanan hidup seorang dengan kelamin ganda itu. Sebab berawal dari talk show itu pula seketika terbersit dan kemudian dengan cepat mengakar sebuah planning besar yang ingin kugarap nanti di my postgraduate university (hmm… boleh dong optimis dan bercita-cita??)

Ahhaa…!! Middlesex, itu dia yang kucari”, kulihat cover depan dan belakangnya, ada yang menarik, sebuah stiker yang menunjukkan bahwa buku itu merupakan buku yang telah mendapatkan rekomendasi dari Oprah Show (wow… lagi-lagi talk show favoritku), nggak salah kalau aku berkeras untuk memburunya, sebab kalau berharap mendapatkan undian buku yang digelar oleh Kick Andy di setiap episodenya, hmm… susah deh, yang ada malah nggak jadi baca buku dan meraup sebanyak-banyaknya ilmu.

Ditengah-tengah ekspresi kepuasan pada raut mukaku karena telah menemukan buku yang kucari, tiba-tiba mukaku berubah masam begitu melirik harga yang tertera, “Hhh… mahal sekali! Beli nggak ya?”, maka kuputuskan untuk kembali berkeliling rak untuk melihat-lihat buku-buku yang lain, dan tanpa sengaja aku menemukan satu buku yang mengajakku untuk berkerut dahi “apaan tuh maksudnya?

HORELUYA, sebuah novel karya Arswendo Atmowiloto, menarik sekali judulnya, kata yang harusnya “Haleluya”, tapi disitu ditulis dengan “Horeluya”, saking penasarannya apalagi usai membaca synopsis yang tertera di cover belakangnya, aku memutuskan untuk membayar di kasir dan menunda untuk memiliki Middlesex (sabar ya, bulan depan semoga udah bisa kebeli).

Seperti yang sudah menjadi ciri khas karya Arswendo dimana kisah-kisah yang digarapnya hampir selalu bertema realis, ihwal kehidupan “orang-orang kecil” yang berjuang keras menyiasati hidup. Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang sederhana; humor-humor yang miris, serta akhir yang kerap menyentuh. Tokoh-tokoh ceritanya dipungut dari orang-orang biasa dengan persoalan-persoalan yang biasa yang dapat dengan mudah kita jumpai sehari-hari di sekitar kita. Tokoh-tokohnya tak pernah berpretensi sebagai pahlawan tangguh atau manusia sempurna yang tak pernah berbuat salah. Mereka adalah manusia biasa yang sering putus asa dan tak luput dari dosa. Itulah yang membuat karya-karya Arswendo terasa begitu akrab dan membumi.

Demikian pula dengan novel Horeluya ini, sebuah kisah mengharukan mengenai perjuangan seorang anak yang belum genap berusia 5 tahun bernama Lilin dalam menghadapi penyakit langka berupa kelainan darah yang hanya bisa disembuhkan melalui transfusi dari donor dengan golongan darah yang sejenis. Dari hasil tes laboratorium diduga ada kelainan pada sel darah merahnya. Lilin memiliki golongan darah rhesus negative dan tak mampu memproduksi sel-sel darah putih. Gangguan kesehatan yang paling remehpun akan sangat memperburuk kondisi Lilin, sebab ia tak memiliki kekebalan tubuh. Satu-satunya upaya penyembuhan medis adalah dengan cara transfusi dari golongan darah yang sama. Malangnya, jenis darah Lilin tergolong jenis yang langka. Dokter telah memvonis hidup Lilin hanya akan berkisar antara 3 bulan hingga 6 bulan lagi jika tidak segera mendapatkan donor.

Dalam cerita ini tersebut beberapa keajaiban yang terjadi pada diri Lilin dan keluarganya, namun bagiku keajaiban sesungguhnya justru adalah seorang Lilin sendiri, sebab karena Lilin-lah semua mampu bertahan dalam keterpurukan, sebab Lilin-lah Ayahnya tetap mampu tersenyum saat diminta menandatangani surat penguduran diri dari perusahaannya, karena Lilin-lah Ibunya tetap bertahan menjahitkan pakaian Natal untuk Lilin yang bahkan mungkin tidak ernah sempat dikenakan, dan masih banyak lagi.

Bahkan, pamannya (Nayarana) bisa berbuat apapun untuk Lilin, Nayarana yang berperawakan preman dan ditakuti oleh siapa saja menjadi mudah menangis ketika dengan setia menjagai Lilin yang terbaring lemah berbulan-bulan di kamarnya, Nayarana bisa betah tidak menghisap rokok untuk Lilin, Nayarana rela berbuat apapun untuk Lilin bahkan untuk mencukur habis rambutnya yang selama ini menjadi salah satu modal untuk membuat orang lain bertekuk lutut padanya, bahkan karena keinginan Lilin untuk merayakan Natal sebelum waktunya –karena usia Lilin yang diperkitakan tidak sampai bertemu dengan hari Natal—dengan salju dan Bunda Maria serta gua. Nayarana lagi-lagi tidak mau berkata ‘tidak’ untuk keponakan kecilnya bahkan untuk membuat salju buatan di malam Natal.

Tekanan yang melanda keluarga Lilin, berdampak sangat luar biasa, masing-masing sering mengalami peristiwa-peristiwa konyol yang sama sekai tidak disadari, sebab tekanan yang terlalu lama dan mendalamnya demi melihat Lilin sembuh dan menunggu adanya kabar pendonor darah Rhesus Negative yang entah kapan datangnya.

Dan dari serentetan keajaiban yang turun bersama dengan Lilin, keajaiban terindah berkenaan dengan kesembuhan Lilin pun datang bersertaan dengan ketulusan Lilin yang dengan suara parau dan ekspresi polosnya berkata “Mauuu” yang kemudian menjadi katalisator keajaiban terindah itu, kalimat itu seketika membuat dunia bergetar hingga akhirnya suara dahsyat bernada ketulusan itu menggerakkan semua pihak untuk membantunya.

Keikhlasan dan ketulusan hati Lilin dengan kalimat “Mauuu”-nya untuk mendonorkan darahnya kepada sang calon pendonor darah yang mendadak membutuhkan darah karena kecelakaan yang menimpanya, membuat semua yang mendengarnya menangis.

Sering manusia memang tidak mengerti rencana Tuhan. "Karena rencana-Nya, bukan rencana kita," aku Kokro (hlm. 97). Tetapi, semestinya apa yang terjadi, seperih apapun dampaknya, menjadi sarana "untuk lebih mendekat pada-Nya. Untuk lebih memahami dan mensyukuri Kasih-Nya." (hlm. 97).) Ketulusan kasih Lilin untuk menyumbangkan darah yang sangat ia perlukan adalah bentuk syukur akan kasih Tuhan.

Tampaklah bahwa cinta dan ketulusan Lilin-lah keajaiban yang sebenarnya. Lilin alias Sekartaji ingin menjadi bidadari kendati dalam hidupnya, bagi keluarganya, ia memang telah memperlihatkan 'keajaiban bidadari'. Tetapi, ketika ia menyebutkan kata "Mauuu", ia lebih jauh memperlihatkan kualitas 'keajaiban bidadari' yang dikenal keluarganya. Ia memperlihatkan kualitas keajaiban bidadari dalam bentuk yang paling tinggi, belas kasih yang menyentuh hati, yang sanggup membaurkan teriakan hore dan haleluya (bahasa Ibrani, berarti Pujilah Tuhan) menjadi HORELUYA.

Dari sini kita dapat belajar, bahwa ketulusan dan keikhlasan dapat menjelma menjadi keajaiban yang tak terbandingkan.

29 Maret 2008

WE WILL GRIEVE NOT, RATHER FIND STRENGTH WHAT REMINDS BEHIND

Saking terlalu hafalnya dengan kata mutiara ini, aku sampai lupa siapa yang merangkainya. Dalam buku Autobiografi berjudul ”Menerobos Kegelapan" yang merupakan terjemahan dari "The Spiral Staircase: My climb Out of Darkness" milik Karen Armstrong, aku serta merta terhenyak saat membacanya, bukan hanya terhenyak, antara tertohok, malu, merasa bodoh, dan menangis khilaf beradu merasuki perasaan di alam sadarku. Ungkapan ini bukan hanya ‘dalam’ alias sarat makna, namun sudah sampai pada taraf mutlak untuk teraplikasi dalam ranah nyata sehari-hari manusia, manusia yang seperti apakah? tentu saja meraka yang tidak pernah punya keinginan untuk terus-terusan berada dalam keterpurukan. .

Aku sadar atas segala keterbatasanku sebagai manusia, aku sadar atas segala kelemahanku yang tiada daya, aku sadar atas segala ketidakberdayaanku atas nihilnya kuasa. Namun akankah semua itu membuat kita layak untuk diam dalam keterpurukan?

Dalam hidup, siapakah yang akan luput dari permasalahan? Siapakah yang akan berjalan mulus tanpa aral? Siapakah yang bisa menjadi lebih dewasa tanpa upaya mencari pelita atas kegelapan?

Aku pernah marah kepada dunia atas apa yang menimpaku, aku pernah berteriak pada matahari kala aku merasa terdzalimi, aku pernah enggan menyapa-Nya karena merasa telah diperlakukan tidak adil, aku pernah menutup mulut rapat sebab berat bagiku untuk memberi maaf.

We Will Grieve Not, Rather Find Strength What Reminds Behind (tak akan kami meratap, tapi mencari dalam apa yang tersisa). Iya, sebab memang kita tidaklah selayaknya berlama-lama membiarkan diri kita terpuruk dalam satu keadaan tanpa berusaha untuk mencari jalan menuju ke arah perbaikan, sementara dengan meratapi, menyalahkan bahkan melampiaskan atas kehancuran yang pernah terjadi hanya akan mengantarkan kita ke dalam kubangan derita yang tanpa penghujung.

Kini, aku menangis. Betapa tidak bijaknya aku, bukankah manusia hidup untuk menghamba? Lantas kenapa aku harus marah, merasa terdzalimi, enggan bersimpuh, serta enggan menebar maaf, sementara permasalahan tidak akan pernah berhenti untuk bergulir, sementara tidak pernah ada jalan tanpa aral, dan sementara tiada pernah akan ditemukan cercah cahaya tanpa pelita. Aku malu, harusnya aku sadar penuh bahwa Allah-lah yang menulis scenario ini semua, dan Allah pulalah jawaban atas segalanya.

Sekarang, masihkah kita tak hendak bangkit, picingkan mata tajamkan telinga, kaislah hikmah di balik semua masalah. Sibaklah jalan-Nya, sebab Dia lebih tahu dari apa yang kita mau.


11 Januari 2008

Harus Adil Sudah Sejak dalam Pikiran

Terpaksa, itulah awal dari akhirnya saya mau menyentuh buku ini, betapa tidak! Saya yang memang terbiasa tersugesti oleh judul serta cover buku sebelum akhirnya berkenan membacanya itu tentu sediktpun tidak ada rasa tertarik untuk melahap habis novel jadul (jaman dulu) yang satu ini. Tapi teman sekamar saya tetap saja ngotot untuk memaksa saya membacanya dengan jaminan "Loe nggak akan nyesel deh, pokoknya!" begitulah janji yang dia lontarkan sambil menyerahkan novel berjudul BUMI MANUSIA.

Sebuah tetralogi karya sang Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Cukup membosankan awalnya, namun semakin saya paksakan untuk menyelesaikan bacaan saya itu mulailah tumbuh rasa penasaran yang membahana, entah apa pemicu utamanya yang jelas saya merasa buku yang saya baca itu sangat jauh berbeda dengan novel-novel yang biasa saya baca.

Seolah diayun-ayun, naik-turun saya dibawa ikut larut terbuai dalam alur cerita tempoe doeloe yang disuguhkan dalam novel ini. Hingga sampailah pada satu scene dimana saya menemukan sebuah ungkapan yang keluar dari salah seorang tokoh yang ikut andil dalam keseluruhan cerita yang menokohkan seorang Pribumi bernama Minke ini. Ungkapan yang mau tak mau memaksa saya untuk sedikit keras dalam berfikir menyelami dan mendapatkan pemaknaan yang tepat, "Harus Adil sudah Sejak dalam Pikiran"

Kesan pertama saat membaca kalimat itu adalah "Wah gila, dahsyat banget kalimat ini, dalem!". Keluarnya komentar itu dari mulut saya bukan berarti serta merta saya sudah mendapatkan kesempurnaan maknanya. Sekali, dua kali, tiga kali, saya coba mengulangi sambil berkerut dahi dan akhirnya setelah bab demi bab terus saya telusuri barulah saya bisa berkata "Ooo… Aku ngerti…!"

Harus Adil Sudah Sejak dalam Pikiran. Tepat sekali, banar-benar kalimat yang sangat brilliant. Bagaimana tidak, di kehidupan real (nyata) baik saat kita menjadi individu ataupun sebagai makhluk sosial, keadilan adalah kunci sebuah kesejahteraan sebab ketidakadilan lah yang hampir selalu membuat kehidupan di dunia ini menjadi tidak harmonis. Tentu semua orang akan setuju akan hal itu, namun pernahkah kita sadar kapan kedilan itu harus ditegakkan?

Dalam ungkapan pendek yang saya cermati dari novel Bumi Manusia ini, saya temukan sebuah jawaban yang entah pertanyaannya pernah dimunculkan ataukah tidak di muka bumi ini, yang jelas harus kita pahami dan yakini bahwa bahkan hanya di alam fikiran saja kita tidak diperkenankan untuk berbuat tidak adil. Lantas seperti apakah sebenarnya contoh dari ketidakadilan dalam fikiran ini? Entah sudah anda sadari atau belum, sebab tindakan itu pasti bukan hal yang asing lagi bagi manusia, satu perilaku yang sering dianggap ringan dan biasa diperbuat namun tragisnya sering tidak disadari ketidaktepatan serta dampaknya. Iya, perbuatan itu tidak lain adalah Suudhdhon atau Negative Thinking.
Astagfirulloh al-'Adhiim…