Tampilkan postingan dengan label almamater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label almamater. Tampilkan semua postingan

28 Maret 2009

SITU GINTUNG; Antara Aku, Kau dan Kampusku

Tidak semua orang tahu tentunya kalau danau gintung adalah danau kebanggaan UIN Jakarta. Betapa tidak, lokasinya tepat berada di belakang kampus UIN Jakarta, barangkali di setiap pemberitaan televisi menyebutkan bahwa lokasi situ gintung berseberangan dengan kampus UIN Jakarta, tidak salah memang, tapi pasti mereka lupa bahwa terdapat beberapa fakultas yang gedungnya berlokasi di Jalan Kertamukti, tentu saja membenarkan akan keberadaannya tepat di belakang kampus tercinta, terlebih lagi fakultas-fakultas yang berada di kampus Kertamukti adalah Kampus Pascasarjana, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Psikologi. Iya, fakultas tercintaku Psikologi.

Kedekatan antara kampus kami dengan Situ Gintung tidaklah hanya sebatas lokasi, tapi juga ikatan emosional, rasa-rasanya jika menyebut kata Situ Gintung maka seolah-olah mengatakan Danaunya kampus UIN Jakarta. Sangat tidak berlebihan tentunya, sebab merunut perjalanan perkuliahanku di UIN Jakarta selama 4 tahun selalu diwarnai kenangan demi kenangan dengan Danau ini. Dari mulai awal hingga akhir.

Teringat saat masih menjadi mahasiswa baru di UIN Jakarta, di sela-sela kesibukan Propesa (Ospek) aku dan kawan-kawan bermain di sana (di Pulau Situ Gintung), saat mengikuti pengkaderan PMII aku juga ditempatkan di sana (di Villa Situ Gintung), rapat-rapat organisasi FP2I (Forum Pengkajian Psikologi Islam) (di Saung Situ Gintung), meeting-meeting Star Act, rapat bersama guru-guru Yayasan (Restoran Situ Gintung), hingga hanya sekedar bermain-main bersama sepupu-sepupu kecilku juga di sana (di Out Bond Situ Gintung). Belum lagi saat olah raga pagi di hari Minggu, aku dan teman-teman sering melanjutkan perjalanan ke sana (di kawasan bermain Situ Gintung), dan yang terakhir detik-detik saat aku hendak meninggalkan kampus tercinta, saat usai upacara wisuda aku dan keluarga melepas dahaga dan lapar di restoran Situ Gintung.

Bencana yang terjadi Jum’at pagi kemarin, seolah hendak memaksaku menghentikan semua kerinduanku akan keindahan Situ Gintung. Ingin aku tetap mempercayai bahwa nanti saat aku kembali ke Situ Gintung, aku akan tetap menemui keindahannya, seperti sedia kala, dan akan terus begitu, selamanya, setidaknya ia akan tetap terpelihara indah dihatiku.

29 Desember 2008

As’aluka al-‘Ishmata ‘ala hadzihi an-Nafs


Kupeluk bibir meja di hadapanku, kepalaku tertunduk dalam, lama, mataku terpejam erat hingga kepalaku merasakan sensasi yang tak biasa, sakit.

Otakku berusaha keras memutar memori selama setahun ini, mengais, menyibak, mengorek, dan ada, semua ada di sana. Namun kepalaku semakin mengerjang hingga kerutan dahi mulai kurasakan menyiksa karena terlalu kuatnya. Ada yang kucari tapi tak dapat dengan jelas kutemukan, aku masih ingin menemukannya, tapi, Ufh…. Aku tak menemukannya.

Love, Let me go ahead without you! B’coz, I’m really realize, actually, everything gonna be better without you.


Tahun 2008 tersisa beberapa hari lagi, ling-lung aku mulai mempertanyakan apakah aku melewatinya dengan sadar ataukah 365 hari itu lewat begitu saja tanpa kuisi dengan apapun dan bahkan kusesali karena terlewat begitu saja?

Di pembuka tahun 2008 lalu aku ingat betul saat aku terkejar deadline untuk menyelesaikan persiapan KKL di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Yups, I did it! Di bulan Januari itu pula aku ketahui bahwa hasil pemerksaan darah di laboratorium menyatakan aku positif typhus. But, I have to against it.

Tepat dihari ulang tahunku, aku berangkat ke lokasi KKL sebab esoknya aku memulai hari pertamaku di RSJI Klender. Benar-benar pengalaman yang luar biasa, tak terlupakan dan tak tergantikan, sebab dari sinilah semua ilmu yang kudapat di bangku kuliah dapat kulihat secara nyata aplikasinya. Hmm… It’s a wonderful experience! Saking bersemangatnya, hari-hari padat bertugas di sana membuatku kembali terbaring tak berdaya. Tepat di minggu kedua, aku ambruk lagi, dan lagi-lagi Typhus. Kali ini adalah yang ketiga dalam tiga bulan terakhir. What??? Tiga kali dalam tiga bulan??? Oh my Lord! Yups, sebab yang pertama terjadi di bulan Desember 2007, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dr.Erwin dan seseorang disana yang saat itu menemaniku. I don’t know what I have to say to you; I miss you!

Bulan berikutnya, sepulang dari Klender, usai menyelesaikan laporan KKL kami, aku terserang homesick, parah. Hiks…hiks… entah sudah berapa lama aku tak pulang dan merasakan pelukan hangat Ibuku. Aku bener-bener ingin pulang…! Oke, setelah laporan KKL dan pengajuan proposal skripsi beres semua, aku pulang.

Bulan-bulan berikutnya, aku hanya berkonsentrasi penuh pada skripsiku. Meski sesekali masih menerima permintaan training dan beberapa selingan kegiatan baru lainnya, seperti menjadi Tim Pemantau Independen Ujian Nasional SMP 2008, menjadi surveyor dari LSI (Lembaga Survey Indonesia), dan tentunya ‘mondok’ di LP Cipinang buat penelitian Skrispsiku yang berjudul “Gambaran Guilt and Anxiety pada Narapidana Pembunuhan”.

Puji Syukur, skripsiku selesai di bulan Agustus, dan akhirnya disidangkan pada tanggal 15 September 2008 yang juga bertepatan dengan tanggal 15 Ramadlan 2008. Ufh… lega rasanya, dengan mengantongi nilai cumlaud, akupun diwisuda. Dan yang lebih membahagiakan lagi, apa yang kuidam-idamkan pun terjadi, aku diwisuda bersama dengan Paman dan Bulekku. Sangat membanggakan tentunya, wisuda bersama keluarga dengan masing-masing gelar S1 (untukku), S2 (untuk Bulek), dan S3 (untuk Paman).

Namun yang tak kalah menyedihkan adalah karena impianku untuk merayakan wisuda bersama seluruh anggota keluarga tak dapat terpenuhi. Iya, aku hanya bisa merayakannya bersama Ibu dan Adikku, sebab Mas Robith harus menemani Mas Afa yang juga diwisuda di hari yang sama, 18 Oktober 2008. What??? Hari yang sama? Yups, sangat-sangat tak terduga. Aku dan kakak keduaku diwisuda pada hari yang sama, dan akhirnya dengan besar hati kakakku merelakan Ibu terbang menemani aku di Jakarta, sementara dia ditemani oleh kakak pertamaku di Surabaya.

Kebahagiaan demi kebahagiaan menyertai perjalanan hidupku selama tahun 2008 ini, dan saat ini sembari menunggu pendaftaran perkuliahan Pascasarjana aku mengisinya dengan mulai belajar mengamalkan ilmu dengan bekerja. Semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih berkah dari tahun ini.

اللهم ما عملت فى هذه السنة مما نهيتنى عنه فلم اتب منه ولم ترضه ونسيته ولم تنسه وحلمت علي بعد قدرتك على عقوبتى الى التوبة بعد جراءتى على معصيتك فاءنى استغفرك فاغفرلى بفضلك وما عملت فيها مما ترضاه ووعدتنى عليه الثواب فأ سئلك اللهم يا كريم يا ذا الجلال ولاءكرام ان تتقبله منى ولا تقطع رجائى منك يا كريم

4 April 2008

Telah Fenomenal di Usia Prenatal

Oleh: Dep. Litbang FP2I UIN Jakarta
Diterbitkan dalam FP2I Newspaper Special Edition
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Pendahuluan:
Saat Amanah Menjadikan Kami Lebih Dewasa

Puji syukur senantiasa kami haturkan kepada Dzat Yang telah ada sebelum semua ada, Yang membuat ada semua yang awalnya tidak ada, dan Yang tetap ada saat semua telah tiada.

Shalawat serta salam kami junjungkan kepada pelopor reformasi di zaman keemasan Islam, Nabi Akhiruzzaman, Nabi Muhammad Saw. Andai tiada pernah engkau diutus kepada kami, sungguh cita-cita pengembangan Psikologi Islam yang kami emban tiada pernah bertemu dengan tauladan sesempurna ini.

Divisi Litbang, sebagai satu dari lima divisi yang ada di Forum Pengkajian Psikologi Islam, memfokuskan diri pada ranah penelitian dimana hasil yang dilahirkan dari penelitian-penelitian kami diharapkan dapat membantu terrealisasinya misi besar yakni pengembangan Psikologi Islam sebagai madzhab kelima dalam ilmu Psikologi. Selain itu, divisi ini juga bertanggung jawab untuk mengembangankan eksistensi Forum ini secara lebih signifikan dan lagi-lagi demi membantu semakin berkibarnya Psikologi Islam.

Divisi ini lahir sebagai anak bungsu di FP2I, dikatakan sebagai anak bungsu sebab sejak berdirinya FP2I divisi ini baru dibentuk di pertengahan periode 2005-2006 kemarin. Sebagai anak bungsu, tentu kami pun memulai menjalankan amanah ini berawal dari sebuah perjalanan yang tertatih. Tak hanya itu, bantuan berupa acuan yang kami harapkan dapat kami peroleh dari kinerja yang sudah terrealisasi pada periode sebelum ini pun tak jua kami temukan sebab ternyata bisa dibilang hanya 5% yang mampu terwujud dari keseluruhan rencana yang dicanangkan di periode itu.

Meski tertatih, namun sepenuh hati kami dapatkan support yang luar biasa dari Ketua FP2I hingga langkah kami pun makin tertata, dan lambat laun menjadi lebih mantap tuk songsong masa depan cerah dalam misi pengembanan amanah. (Faiq)

Sekapur sirih di atas menjadi pembuka dalam draft Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Forum Pengkajian Psikologi Islam (FP2I) dari Departeman Penelitian dan Pengembangan yang dimotori oleh Faiqoh, Rizki Amali, Pitrie Indrayati, dan Vinayanti Marlian. FP2I sebagai salah satu LSO (Lembaga Semi Otonom) yang berdiri di bawah naungan Fakultas Psikologi UIN Jakarta mrupakan LSO yang menjadi pusat perhatian seluruh civitas akademika Fakultas Psikologi UIN Jakarta, disamping selalu mengetengahkan ide-ide cemerlang di setiap kegiatan yang digelar juga para anggota yang menggawangi organisasi ini terhitung sebagai generasi-generasi cemerlang di angkatannya. Sebagai wadah yang diharapkan dapat mengakomodir buah pikir cemerlang mahasiswa khususnya mengenai Psikologi Islam ─yang terbilang madzhab baru dalam ilmu Psikologi─ maka FP2I menjadi satu-satunya forum resminya.

Begitu berartinya keberadaan forum ini, maka keberlangsungannya pun semakin menjadi mutlak diharapkan yang tidak lain berupa hasil-hasil penelitian dan juga pengembangan atas Psikologi Islam itu sendiri.

Tidak berlebihan memang bila dibilang bahwa periode kepengurusan FP2I angkatan 2006-2007 menjadi angkatan paling cemerlang dan berhasil mengangkat nama FP2I setinggi-tingginya, terlihat dari kegiatan-kegiatan yang hampir tak pernah berhenti diselenggarakan dengan beraneka ragam jenisnya, dan hampir semua selalu dapat mengguncang Psikologi bahkan fakultas-fakultas lain di UIN, tidak hanya itu gaung forum yang usianya belum genap 10 tahun ini sampai terdengar di telinga mahasiswa-mahasiswa Psikologi dari Universitas-Universitas terkemuka di Jabodetabek, hingga kunjungan-kunjungan persahabatan pun mulai mengalir.

Segala pencapaian FP2I angkatan 2006-2007 ini tidak lepas dari keberhasilan yang disumbangkan oleh Deperteman Litbang, di usianya yang masih prenatal (baca: sangat muda, red) Departeman ini justru menjadi departeman yang fenomenal, kegiatan-kegiatan yang dilangsungkan oleh departemen ini tidak pernah sepi dari peserta, baik yang diselenggarakan di dalam kampus maupun yang sengaja dikonsep di luar kampus seperti Study Tour and Obsevation yang sempat menggemparkan Fakultas Psikologi. Betapa tidak, besarnya uang kontribusi yang disyaratkan oleh panitia tidak menghalangi besarnya animo peserta untuk mendaftar, bahkan pada hari ditutupnya pendaftaran karena kapasitas yang disediakan memang telah penuh, mahasiswa-mahasiwa masih terus beradatangan untuk mencoba mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari acara yang sangat menarik ini.

Tidak salah memang, acara yang langsung diketuai oleh Koordinator Departeman Litbang ini merupakan acara yang sangat menarik, sebab di tengah kejenuhan mahasiswa akan acara-acara seminar yang begitu-begitu saja, acara ini seolah mengobatinya dengan mengajak mahasiswa Psikologi langsung turun ke lapangan untuk mengenal dari dekat pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan atau yang biasa dikenal dengan RSJ Grogol. “Sebagai mahasiswa Psikologi, Skizofrenia bukanlah barang langka sebab hampir di setiap semester akan ditemukan pembahasan mengenainya, namun jika tidak pernah bertemu dengan pasiennya dan hanya berkutat dengan teori dan teori saja di bangku kuliah lantas apa bisa dibilang cukup memahami skizofrenia dengan segudang ke-kompleks-annya?”, ujar Faiqoh selaku ketua pelaksana sekaligus ketua Departeman Litbang

Acara yang juga mendapatkan sambutan hangat dari Dekan Fakultas Psikologi serta didukung langsung oleh Ketua Ikatan Dokter Jiwa Indonesia DR. Fidiansjah, Sp.Kj ini benar-benar menjadi acara fenomenal dan unforgettable yang tentu saja karena pengemasan acara dan materi yang disuguhkan, termasuk juga akomodasi dan fasilitas yang diberikannya termasuk kaos seragam yang wajib dikenakan oleh seluruh peserta yang ternyata didesain sendiri oleh ketua pelaksana.

Meski menetapkan batas maksimal peserta yang ikut di acara ini sebanyak 100 orang (karena pertimbangan keefektifan acara dan kapasitas tempat) , namun panitia dapat mengumpulkannya dalam waktu yang sangat singkat. Keberhasilan acara ini membawa angin segar bagi nama FP2I yang disebut-sebut sebagai pesaing Student Government Fakultas Psikologi (BEM) yang notabene sebagai organisasi paling bergengsi di tingkat fakultas, sebab pada kenyataannya FP2I sebagai lembaga yang seharusnya berhak mendapat bantuan pendanaan dari pihak fakultas karena statusnya sebagai Lembaga Semi Otonom ternyata lebih pantas disebut sebagai Lembaga Seratus Persen Otonom. Kenyataan tersebut justru tidak pernah menghalangi FP2I terus melangkah dengan inovasi-inovasi cerdik, kreatif dan terus melambung jauh meninggalkan BEM Fakultas Psikologi di angkatan yang sama (2006-2007) yang harus rela dibilang ‘mandul’ dari kretivitas