Tampilkan postingan dengan label terratozoospermia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terratozoospermia. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2013

PROGRAM HAMIL (Part.3) Terapi Untuk Terratozoospermia; Suntik, Jus Tomat Rebus, Makan Sayur, Pakai Sarung

(Sebelumnya baca juga yang Part.1 ya! klik di sini  dan untuk yang Part.2 ada di sini)

Malam itu juga kami meluncur ke tempat praktek Dr.Ryan, Sp.And. Hanya butuh kurang dari 10 menit dari tempat praktek Dr.Maksum kami sudah sampai dan melihat deretan beberapa orang yang sedang mengantre untuk periksa. Ruang tunggu yang berada diteras rumah saat itu terasa terlalu tamaram karena sinar lampu yang kurang maksimal, deru mobil dan kendaraan bermotor lain juga menambah bising ruang tunggu  tersebut yang memang berada persis di pinggir jalan utama.

Sambil menunggu giliran, aku dan si mas menghabiskan waktu dengan mongobrol ringan, dan tiba-tiba aku teringat bahwa sedang tidak membawa uang lebih malam itu. *wadduuh* padahal seingatku tarif periksa di Androlog itu lumayan besar lho! Kalo di Dr.Maksum sih masih sangat terjangkau, hanya Rp.90.000 sudah termasuk konsultasi, USG, print hasil USG, dan resep obat. Kami langsung memeriksa dompet masing-masing. Di dompetku ada uang 400.000, dan di dompet si mas ada uang 150.000. Ya Allah… semoga cukup.. kan gak lucu kalau kita periksa pertama udah kurang aja uangnya. Mau lari ke ATM juga tanggung, takut nggak keburu apalagi gak bisa memperkirakan butuh waktu berapa lama untuk bolak-balik ke ATM karena memang gak tau pasti di mana ATM terdekat. Aku kembali membongkar tas yang kubawa, siapa tahu ada uang yang nyelip. Hehe… yups! Aku mendadak girang setelah menemukan bahwa dompet yang baru kemarin kupakai belanja kain batik ternyata belum sempat kusimpan dalam lemari. Yes!! insyaAllah selamat. Hehehe… paling tidak ada dana darurat yang bisa digunakan terlebih dahulu jika memang uang 550.000 tadi masih kurang.

Akhirnya, giliran kami pun tiba. Kami berdua masuk ke dalam ruangan periksa yang terbilang sempit itu. Dokter Ryan menyapa kami dengan ramah, “Pasiennya dokter Maksum ya?” kamipun mengiyakan.

Ada apa? Ada apa?

Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerahkan amplop hasil pemeriksaan sprema si mas pada beliau. Sambil membuka amplop, dokter Ryan terus mengajak bicara, beliau sangat hangat dan bersahabat.

Sudah berapa tahun nikahnya?
2 tahun, Dok
Waah.. pasti masnya menganut adat kuno nih, kalo istri belum hamil juga berarti istri yang bermasalah. Iya toh? Trus jadinya masnya gak mau periksa dari dulu deh

Kami mesam-mesem aja mendengarnya, tapi setelah berfikir sejenak, aku jawab saja,

Beberapa kali ganti dokter kandungan, baru kali ini dok disuruh tes sperma. Dokter yang dulu-dulu cuman saya aja yang diperiksa
Oooo” gumamnya sambil membetulkan kacamata sembari membaca hasil lab tadi.

Selang beberapa menit, pak dokter meminggirkan kertas tersebut dari hadapannya dan kemudian mengambil kertas kosong yang lain.

Jadi gini, Pak, Bu, permasalahan yang dialami bapak ini gak terlalu serius kok, insyaAllah 2 sampai 3 kali kontrol sudah selesai
Aamiin…” kami berdua serempak

Dokter Ryan kemudian menjelaskan mengenai apa itu terratozoospermia. Bagaimana gambaran sperma si Mas. Jumlahnya sebenarnya cukup banyak, namun yang aktif hanya 17%, artinya selain yang 17% itu bentuk spermanya tidak bagus sehingga kurang agresif dalam perjalanannya menemukan sel telur, malah sebagian besar dari sperma-sperma itu sudah mati duluan di perjalanan.

Setelah menjelaskan panjang lebar dan menjawab semua pertanyaan kami bahkan sampai menggambarkan bentuk-bentuk sperma yang bagus dan yang kurang bagus, kemudian dokter Ryan memeriksa si mas. Hmm… menurut beliau kantung sperma si mas cukup hangat, artinya kurang rileks dan kurang istirahat. Terapi pertama yang dianjurkan oleh dokter Ryan adalaaaahh… sepulang kerja, selama ada di rumah sebaiknya pakai sarung saja, tanpa celana dalam. Whattt?? Aneh banget kan?? Tapi memang kata dokter Ryan harus begitu, agar kantung sperma lebih rileks, tidak panas, dan tidak membunuh sperma di dalamnya. Beliau malah bercanda, “Makanya kyai-kyai itu anaknya banyak, soale kan tiap hari pakai sarung” *dienggg* hahaha….

Kemudian dokter Ryan masuk kedalam ruangan lain, sambil berjalan beliau menyuruh si mas berbaring di atas kasur untuk disuntik. Si mas pun menurut, untungnya si mas gak takut dengan jarum suntik. Hihihi… setelah disuntik kami semua kembali duduk melanjutkan konsultasi dan mendengarkan wejangan dari dokter Ryan.

Dokter Ryan ini orangnya suka sekali mengobrol, akhirnya di sela-sela membicarakan terapi kami, beliau juga sambil bertanya-tanya tentang rumah, pekerjaan, dsb. Di sesi itu, dokter menganjurkan terapi ke-dua yang harus dijlani si mas, yaitu setiap hari minum jus tomat rebus. *waduuhhh* aku langsung berpandang-pandangan dengan si mas, aku tau dia agak gusar, karena dia kurang suka dengan yang namanya tomat. Tapi dokter Ryan menekankan bahwa rasanya akan berbeda kok jika tomatnya direbus terlebih dahulu. “Boleh dicampur dengan gula atau jeruk atau madu, Dok?” si mas menyahut. “Oooo boleh aja, terserah, apa aja boleh, yang penting bisa bikin bapak doyan minumnya”. Oke deh…

Dan terapi berikutnya, harus memperbanyak makan sayur. Yes!! Terapi yang paling aku suka nih, soalnya selama ini aku suka gemes dengan si mas yang malas makan sayur, kalau di rumah aku memasak sayur, misal sop atau sayur bayam, si mas pasti maemnya ambil sayur sedikiiiiiit sekali, dan lebih banyak ambil kuah dan lauknya aja. Hmm…

Mas tampak sangat bersemangat konsultasi dengan Dokter Ryan, karena memang pak dokter yang satu ini sangat supportif sekali, beliau meyakinkan si mas untuk tidak khawatir, insyaAllah bisa cepat teratasi, kasusnya si mas ini tergolong ringan kok, begitu kata beliau. Yang penting harus disiplin saja. Berkali-kali dokter Ryan berkata, “InsyaAllah 2 sampai 3 kali kontrol istrinya sudah hamil, insyaAllah”. Makanya si mas jadi optimis sekali karena dokter Ryan juga terus memberikan motivasi dan membesarkan hati kami. “Pokoknya nanti kalau istrinya hamil saya dikabari lho ya! Biar saya tahu, saya pasti ikut bahagia”. 

Kami berdua pun ikut senang mendengar optimisme dokter Ryan atas kami berdua. Setelah memberikan obat tablet yang harus diminum selama 20 hari, kamipun segera berpamitan dan diminta untuk kembali kontrol begitu obatnya sudah habis. Oke deh pak dokter, makasih….

nb: ohya, untungnya uangnya gak kurang lho… melainkan paaaassss banget, 550 ribu. Hehehe…

17 April 2013

PROGRAM HAMIL (Part.2) Terratozoospermia



Melanjutkan dari cerita sebelumnya ya! Part.1 bisa dibaca di sini!

Setelah mendapatkan surat rujukan dari Dr.maksum untuk melakukan tes analisis sperma, kukira ini adalah titik terang yang akan membuka jalanku untuk melakukan ikhtiyar lebih lanjut. Kupikir, setelah mendapat rujukan itu, suami langsung mau cap-cus berangkat ke lab. Eeehh.. tenyata eh ternyata. Big No No..!! Si Mas masih aja mbulet gak mau ke lab, aku dah berusaha mengatur jadwal ‘berhubungan’ sebagaimana aturan yg diberikan dokter sebelum melakukan tes sperma. Eee pas udah diatur-atur gitu, si doi gak juga merespon dan tak kunjung berangkat ke lab.

Hingga akhirnya sebulan telah berlalu, setelah berkali-kali aku mengatur jadwal buat dia ke lab. Tepatnya saat itu adalah pertengahan bulan Syawal, dia setuju untuk berangkat ke lab. Lab pertama yang kami tuju tentu saja di RS.Semen Gresik, alasannya karena kita tahunya Dr.maksum itu dinasnya di situ, selain itu suami sahabatku dulu juga tes analisis sperma di situ.

Berangkat dari rumah menjelang Maghrib, kita sholat maghrib di masjid di pinggir jalan, setelah itu langsung menuju RS.Semen Gresik. Setelah mencari-cari tempat pendaftaran laboratoriumnya, eeee ternyata eh ternyata kata mbak-mbaknya sudah tutup lab-nya, selain itu menurut perhitungan dia ‘puasa berhubungan’ kita masih kurang 1 hari lagi. Nah loh??? Perasaan sudah sesuai dengan instruksi dokter deh. Akhirnya kita melenggang keluar RS tanpa hasil. Namun karena sudah terlanjur jauh-jauh berangkat dari rumah, masa’ iya gak dapet apa-apa. Akhirnya masih di parkiran RS si mas coba-coba cari alamat Lab.Parahita terdekat melalui mbah Google. Setelah ditelpon ternyata masih buka dan masih melayani tes. Tanpa banyak cing-cong kita langsung cap-cus meluncuurrr….

Sampai di TKP, si mas langsung registrasi dan gak lama petugasnya memberikan pengarahan dalam pengambilan sampel. Kurang dari 1 jam kami sudah keluar dari Parahita dan meluncur pulang. Sesampainya di rumah malam sudah cukup larut, dan setelah makan malam aku sudah merebahkan diri di kasur, tampak si mas masih melakukan ini itu di depan TV, waktu aku pamit untuk tidur duluan si mas mempersilahkan. Tapi gak lama dia nyusul ke kamar, saat itu lampu kamar sudah kumatikan meskipun aku belum terlelap, kulirik si mas di sampingku yang rebahan namun matanya masih melek, tampak wajahnya sangat gelisah, aku tidak ingin menerka-nerka, namun tiba-tiba saja si mas membuka pembicaraan, “Halah, ternyata di parahita aja simple, di RS.Semen kok pake ribet gitu”. Aku tidak menanggapi topiknya melainkan justru ‘menembaknya’, “Lho, kok tiba-tiba ngomongin parahita?? Masih kepikiran yang tadi ya??”. Si mas mengangguk pelan, dan akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan serius malam itu hingga hampir pagi.

Hal yang tak pernah kusangka sebelumnya bahwa kejadian malam tadi diiringi dengan pergolakan psikologis yang sangat besar dalam diri si mas. Malam itu, ia mencurahkan semuanya, mulai dari kenapa ia dulu sangat malas diajak memulai program hamil, kemudian bagaimana gejolak hatinya ketika harus melangkahkan kaki untuk melakukan tes sperma. Baginya, ia yakin bahkan telah mem-vonis dirinya sendiri bahwa  dirinya-lah yang ‘bermasalah’ sehingga kami tak kunjung diberikan momongan, sebab menurutnya selama ini aku sudah melakukan berbagai upaya baik medis maupun non medis dan hasilnya tetap nihil, begitu juga beberapa kali di USG dokter semua menyatakan aku dalam keadaan baik. Makanya si mas berkesimpulan bahwa dirinya-lah yang bermasalah, karena ia belum pernah diperiksa sama sekali dan belum pernah melakukan terapi medis atau non medis apapun.

Semakin larut, pembicaraan kami semakin emosional, mas mengutarakan kemungkinan-kemingkinan jika ternyata hasil lab menunjukkan ia tidak bisa memiliki anak. Kami menangis berdua, si mas bahkan sampai mengikhlaskan aku untuk memilih melanjutkan pernikahan atau memilih menghentikannya demi memperoleh keturunan. Aku pun histeris, bagaimana mungkin si mas memiliki pemikiran seperti itu, bukannya biasanya yang punya pemikiran seperti itu adalah istri, jika istri yang dinyatakan sulit untuk bisa memiliki keturunan. Kami pun berpelukan dengan erat, janji-janji pun kita perkuat tentang ikatan pernikahan kami, bahwa apapun yang terjadi kita akan terus mengarungi bahtera ini bersama, selamanya.

Seminggu berlalu, saatnya hasil lab bisa diambil. Saat itu kami berangkat dengan penuh kepasrahan, tak ada pembicaraan khusus mengenai hal ini lagi. Sampai Parahita aku turun dari motor dan langsung mengambil hasil labnya dan kemudian meluncur ke tempat praktek Dr.Maksum untuk menyerahkan hasil lab itu. Selama mengantre dokter, tanpa sepengetahuan si mas aku membuka segel amplop hasil lab itu, kulihat kesimpulan pemeriksaan yang tertera di sana, “Terratozoospermia”, alisku berkerut, gak ngerti. Yah sudahlah, karna kucari-cari istilah itu di internet juga tak ada yang membuatku yakin akhirnya aku pun bersabar sampai bertemu dengan Dr.maksum. Di dalam ruangan dokter, kamipun menyerahkan amplop tersebut, dokter membacanya dengan seksama, tak tampak ekspresi yang mencolok dari raut muka dokter maksum, beliau tampak tenang dan santai. Hingga akhirnya beliau membka pembicaraan “Hmm… insyaAllah gak papa, hanya ada sedikit masalah saja, diobati sebentar nanti sehat lagi” Alhamdulillah… kami berdua saling berpandangan dan si mas tersenyum lega.

Dokter menjelaskan bahwa jumlah sperma si mas jumlahnya sudah cukup banyak (tidak kurang), namun yang aktif dan bentuknya bagus hanya 17%, sementara normalnya untuk bisa membuahi adalah 44-50%, ada banyak factor yang menyebabkan kondisi ini, diantaranya kesibukan dan asupan makanan, kterangan selengkapnya nanti bisa ditanyakan pada doter spesialis andrologi. Okelah kalau begitu, kami mengerti. Dan di akhir sesi konsultasi dokter maksum memberikan surat rujukan keepada kami untuk menemui dokter spesialis andrologi untuk mengatasi kondisi yang dialami si mas, yakni Dr.Ryantono, Sp.And.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, si mas sekalian bertanya ke dokter maksum dimana lokasi praktek dokter Ryan dan apakah malam ini masih buka prakteknya karena waktu sudah pukul 8 malam. Setelah diberitahu arah menuju tempat prakteknya dan dipastikan bahwa jam segini masih buka, si mas mengajakku langsung meluncur ke sana menemui sang dokter andrologi malam itu juga.