Tampilkan postingan dengan label psychofreak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psychofreak. Tampilkan semua postingan

25 November 2009

2012; Sebuah Realitas Gerak Pendulum

Dirilisnya film terbaru berjudul “2012” disambut oleh besarnya antusiasme penonton di Indonesia, bioskop-bioskop memutar film ini dalam 3 studio sekaligus dan tiketpun terjual habis hanya dalam hitungan menit sejak loket dibuka, beramai-ramai orang ingin menyaksikan kedahsyatan film ini yang gaungnya sudah didengung-dengungkan di berbagai media, sebenarnya bukan karena kualitas gambar film yang tersuguh dengan begitu dahsyat, tapi lebih pada judulnya “2012” itulah yang menarik animo penonton hingga menyingkirkan beberapa film yang rilis di saat yang sama.


Ada apa dengan angka ”2012” ini? Angka yang setahun terakhir menjadi perbincangan hangat para peselancar dunia cyber, hingga terangkat oleh media yang paling dekat dengan masyarakat pelbagai kalangan; televisi. Sebuah angka yang diramalkan oleh Suku Maya sebagai angka di mana akan terjadi suatu fenomena kerusakan yang maha dahsyat yang terjadi di alam semesta. Tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, demikianlah tepatnya suku Maya menyebutkan. Sontak isu ini berkembang luas, terlebih beberapa media televisi mulai melansir pandangan beberapa pihak yang dipercaya oleh masyarakat memiliki kemampuan ’melihat masa depan’.


Isu tersebut akhirnya terus berkembang liar, pembenaran yang dikemukakan paranormal Indonesia dan disiarkan secara cuma-cuma oleh televisi pun dicerna oleh masyarakat sebagai sesuatu yang layak dipercaya, spekulasi kian merebak, apalagi banyak artikel di internet yang mencoba menganalisa kebenarannya dengan dikaitkan beberapa ayat yang terdapat di beberapa kitab suci dari agama yang berbeda-beda, semua seolah-olah ingin menyimpulkan ramalan tersebut dengan satu kata ”benar”.


Fenomena Paradoksial

Fenomena ini tentulah paradoks. Di saat lebih dari 50 % pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh produk elektronik, di saat itu pula produksi film-film bergenre horor semakin marak seiring animo penonton yang sangat tinggi untuk menikmatinya. Di saat pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara dan hingga kini masih terus mendapatkan protes dari masyarakat setempat, di saat itu pula polisi menggunakan bantuan Jaelangkung untuk menemukan di mana seorang buronan bersembunyi. Di saat NASA terus mengembangkan penelitian untuk menemukan cara agar bulan dapat dihuni oleh manusia secara sempurna dan di saat modernitas hanya tinggal menyisihkan sepersekian belahan bumi saja yang belum tersentuh oleh kemajuannya, di saat itu pula manusia dibuat resah oleh sebuah ramalan kiamat yang dirilis oleh rakyat dari suku yang hampir punah eksistensinya.


Tampaklah dari sini, bahwa di saat manusia telah mencapai pergerakan jauh ke depan, maka di saat itu pula ia mundur sejauh jarak saat ia bergerak maju. Seperti yang tergambar pada gerak pendulum, seberapa jauh pendulum bergerak ke kanan, maka sejauh itu pula ia akan bergerak ke kiri.

Psikologi Kognitif

Fenomena realitas gerak pendulum yang saat ini melanda masyarakat kita ini dalam teori psikologi kognitif diterangkan sebagai cognitive map (peta kognisi) dan cognitive schemata (skema kognisi), dimana setiap individu membentuk peta dan skema kognisinya masing-masing yang tentu saja semua tersusun berdasarkan pengalaman dalam proses kognisinya baik yang telah mengalami siklus persepsi ataupun masih berupa harapan individu atas sebuah realitas kehidupan sebelum dan sesudah hari ini.


Kini dapat dipahami mengapa di saat yang bersamaan seseorang mengalami kemajuan serta kemunduran dalam berfikir sekaligus, sebab peta kognisi yang dimiliki oleh individu tersebut berdasarkan kemajuan yang dilihatnya berimbas pada menjadi lebih pragmatisnya seseorang dalam melihat hal-hal yang sebetulnya tidak sederhana yang kemudia diupayakan menjadi sesederhana mungkin dengan mempercayai hal-hal yang berupa prediksi seorang paranormal.


Sekali lagi, pemetaan kognisi ini sangat berdasar atas sejauh mana pengetahuan dimiliki beserta dasar kuat yang melandasinya. Jika sebelumnya telah terikat kuat pemahaman kita akan sebuah fenomena yang bernama kiamat, baik secara ilmiah maupun kepercayaan dari agama masing-masing tentang bagaimana terjadi, kapan, oleh siapa, melibatkan siapa dan apa saja, bagaimana tanda-tandanya, dan segala macamnya yang jauh sebelum ini telah dipahami oleh masyarakat dengan porsi pemahaman masing-masing, maka pemahaman itulah yang kemudian menjadi landasan pemetaan kognisi kita atas prediksi kiamat yang terus merebak, ikut terpengaruh atau tidak sama sekali.


Oleh karenanyalah kita dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi segala sesuatu, ada sebuah proses berfikir yang selayaknya kita tempuh sebelum akhirnya memutuskan untuk bersikap, terlebih pada sebuah prediksi, tentunya akal sehat kita jauh lebih kuat dari pada membiarkannya terhenti bekerja hanya karena tertohok oleh ramalan yang sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Membiasakan terus berfikir positif tentu akan lebih menyehatkan pikiran dari pada merelakan diri dibayangi oleh ketakutan akan datangnya suatu bencana yang entah dari mana asalnya.

13 Oktober 2009

Teroris di Ciputat, Sebuah Elegi; Antara Aku, Mereka, dan Kampusku

Lagi, penggerebekan sarang teroris terjadi, Jum’at 9 Oktober 2009 media kembali beramai-ramai memberitakan secara eksklusif penggerebekan sarang teroris yang diduga adalah dua orang yang selama ini masauk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Aku yang siang itu baru datang dari luar rumah serasa tak hendak beranjak dari depan layar kaca, bukan hanya karena beritanya tentang teroris, tapi juga (atau lebih tepatnya, lebih karena) TKPnya; Jalan Semanggi Cempaka Putih Ciputat Tangerang Banten.

Jika di pertengahan pemberitaan aku mengganti status Facebook dengan kalimat “Gokil, tempat maen gue ternyata juga dipake Teroris maenan petak umpet”, barangkali memang demikianlah deskripsi paling mengena dalam mengggambarkan kedekatanku dengan TKP. Jadi keterikatan yang sangat dekat itulah yang memintaku untuk stay tuned.

Menit demi menit berlalu, berita yang dikabarkan semakin berkembang, dari nama korban penggerebekan, nama pengelola kost, pemilik kamar no.15 hingga para penghuni rumah kost tersebut. Para pengguna facebook tak kalah heboh, bagaimana tidak, 40 % teman facebookku adalah teman-teman UIN Ciputat, sampai-sampai heboh pula masalah tentang kakak kelas kami yang diinterogasi oleh Densus 88 dan diliput oleh sebuah media online.

Saat hari mulai petang, Kabid Humas POLRI memberikan statement kepada halayak mengenai kejadian siang itu, tapi alih-alih merilis nama korban tewas, yang keluar justru sebuah inisial nama yang disebut-sebut sebagai kurir sang gembong teroris dan telah ditangkap sebelum penggerebekan itu terjadi.

Senin 12 Oktober 2009, berita yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga, setelah menjalani serangkaian tes DVI dan DNA dipastikan bahwa korban tewas dalam penggerebekan hari Jum’at adalah Syaifudin Zuhri/Jaelani dan M.Syahrir, dua gembong teroris otak pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Tidak berhenti sampai di sini, Sony sang pemilik kamar no.15 pun dipastikan adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Deg! Jantungku berdegup kencang, seolah tak percaya sebab dari awal aku tak ingin mempercayai berbagai spekulasi yang bergulir.

Kejutan belum berhenti, hingga diumumkan identitas Fajar yang dari awal telah dikatakan sebagai kurir bagi SJ dan MS, Fajar Firdaus alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi. Plak!! Wajahku serasa ditampar sekencang-kencangnya mendengar berita itu, terlebih setelah beberapa waktu kemudian kusadari bahwa aku sangat mengenalnya. Hanya satu kalimat yang selalu kugumamkan saat foto-fotonya mulai beredar di layar kaca, “Nggak mungkin” (sebuah ungkapan denial tentunya).

Apa yang sebenarnya terjadi pada teman-teman UINku? Pikiranku mulai menerawang, mencoba memahami apa yang tengah terjadi. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki segudang prestasi, itu biasa. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki pemikiran nyeleneh bahkan cenderung liberal, itu bukan hal baru. Jika mahasiswa/alumni UIN berada di baris terdepan sebuah demonstrasi menyarakan suara rakyat, itu sudah sejak dulu. Jika mahasiswa/alumni UIN tertangkap karena kasus narkoba, itupun sudah pernah ada. Tapi ini, ini sungguh memprihatinkan.

Aku mencoba terus menganalisa, seperti apa pribadi dua orang mahasiswa dan alumni UIN ini? Mahasiswa dari fakultas ilmu umum (lih: bukan ilmu agama) sering diidentifikasi sebagai mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang lebih manakala disuguhkan dengan hal-hal yang selama ini tak didapatinya (yang berbau agama), taruhlah jika kita perhatikan teman-teman lembaga dakwah kampus yang didominasi oleh mahasiswa/i lulusan SMA (bukan Madrasah Aliyah atau bahkan pesantren, pen.), selain itu bisa dipastikan organisasi ini tampak lebih subur ketika tumbuh di fakultas ilmu umum, bandingkan pertumbuhannya antara di fakultas Sain Teknologi atau Psikologi dengan di fakultas Syariah atau Ushuluddin. Fenomena ini sangat terbaca di lingkungan UIN Jakarta yang semenjak berubah menjadi Universitas tidak lagi menjadi kampusnya anak pesantren, akan tetapi telah berbagi porsi secara seimbang dengan anak-anak lulusan SMA.

Jika melihat nama Universitas yang menaungi berbagai fakultas-fakultas tersebut, seolah membuat orang lain tidak mau tau bagaimana keragaman latar belakang mahasiswa di sana, yang mereka tau bahwa UIN Jakarta adalah Universitas Islam yang tentunya diekspektasikan secara berbeda oleh orang kebanyakan terutama dalam penguatan ajaran Islamnya. Tidak salah memang, di UIN semua fakultas diajarkan Bahasa Arab, Tafsir-Hadits, Akhlak Tasawuf dan lain sebagainya sebagai MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) tapi toh hal itu tidak menjadi jaminan bagi mahasiswa/alumni akan menjadi seorang ahli Tafsir maupun Tasawuf.

Ada fenomena yang cukup menarik, manakala mahasiswa berlatar belakang umum (sekali lagi, bukan agama, pen.) tampak memiliki ketertarikan yang lebih besar terhadap pengkajian agama yang di kampus biasa disajikan dan dikemas dengan cara se-mahasiswa mungkin, artinya dengan cara diskusi, tanya jawab, bedah buku-buku agama kontemporer. Bagi mereka, menemukan hal baru dalam bidang spiritual yang melalui proses yang logis dan aplikatif adalah kebutuhan yang selama ini tak ditemukannya di bangku SMA. Menelisik hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang dipilah menjadi D-need (deficiency need) dan B-need (being need) atau biasa disebut dengan kebutuhan Meta, atau lebih familiar lagi adalah Self-Actualization (Aktualisasi Diri)., maka apa yang dicapai oleh mahasiswa-mahasiswa kelompok ini adalah kebutuhan di atasnya B-Need, dimana tahap aktualisasi diri sendiri bukanlah tahap yang hanya akan dicapai oleh pribadi-pribadi yang secara kasat mata telah mapan lahir dan batin, aktualisasi diri masing-masing orang memiliki kadarnya sendiri-sendiri, sebagaimana kadar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di bawahnya (Physiologic, Safety, Belonging and Love, Self Esteem) yang juga berbeda porsi antara satu orang dengan yang lainnya.

Setelah mencapai tahap aktualisasi diri, ada satu fase lagi di atasnya yakni Transendensi, dalam fase ini sisi spiritual seseorang lah yang membutuhkan pemenuhan, dimana kebutuhannya akan sesuatu ‘hal’ di luar dirinya diharapkan bisa menutupi ‘kehampaan diri’ yang dirasakannya. Pemenuhan kebutuhan ini lebih bersifat sangat pribadi, hanya antara individu dengan ‘dzat’ di luar dirinya, yang mana kesempurnaan dari transendensi ini akan mengantarkan seseorang pada Peak Experience, sebuah pengalaman puncak yang bersifat spiritual yang hanya akan dicapai setelah melalui serangkaian proses yang sangat terjal dan membutuhkan tingkat pengorbanan yang sangat tinggi.

Barangkali inilah kemudian yang disasar oleh oknum-oknum pencuci otak dalam merekrut anggota ‘jihad’ versi mereka, termasuk dalam menyiapkan para suicide bomber, dengan segala nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya yang kesemuanya adalah versi yang mereka buat sendiri sebagai pembenaran atas langkah yang mereka jalani. Menyoal rekrut-merekrut ini sebenarnya bukan hal baru, sebelumnya di tahun 2006/2007 UIN dihebohkan dengan banyaknya mahasiswa yang menjadi korban perekrutan sebuah aliran keagamaan dengan ajaran Islam yang telah mereka modifikasi sesuka hati, dengan penggunaan dalil ayat-ayat Alquran yang asal comot sini comot sana tanpa prosedur yang jelas dengan tujuan sekuat mungkin landasan ajaran yang diberikan dan agar tampak lebih masuk akal dan berdasar (dua hal yang harus dipenuhi ketika berbicara dengan pelajar level mahasiswa). Ketika itu banyak teman kami yang menjadi korbannya, sampai-sampai ada yang telah mengeluarkan uang untuk kelompok tersebut dengan mengatasnamakan loyalitas, meski tak sampai terjadi penculikan seperti yang dialami oleh seorang mahasiswa ITB 2 tahun silam.

Di balik semuanya, hanya mampu berharap kedua teman kami terbukti tidak memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kejadian terorisme yang hina itu, dan semoga tak ada lagi terror-teror lain yang menghantui persada tercinta.

Rabbi ij’al haadzaa baladaan aaminan warzuq ahlahu minats tsamaraati man aamana minhum billahi wal yaumil aakhir... (Al-Baqarah: 126)

17 Februari 2009

Iklan Politik; Sebuah Trik Resiprokal

‘Jadi pilihlah aku!’, semua orang pasti setuju kalau petikan kalimat pamungkas dari lagu yang pernah dipopulerkan oleh Diva Pop Indonesia —Krisdayanti-- ini sangat tepat digunakan untuk menyingkat dan menyimpulkan ratusan bahkan ribuan kalimat yang digunakan oleh partai politik dalam berbagai iklannya.

Tahun ini, Indonesia memiliki serentetan hajatan pemilu. Mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Partai, hingga Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebenarnya ini bukanlah hal baru, sebab rentetan Pemilu telah dirasakan selama tahun 2008 kemarin. Pada musim pemilu seperti ini, manuver-manuver politik gencar disuguhkan oleh para mereka yang berkepentingan memperoleh sebanyak mungkin simpati dari rakyat sebagai pemilihnya.

Lihat saja iklan-iklan politik yang kerap menghiasi layar kaca kita, seolah berlomba beranjangsana memenuhi ruang publik dengan segala kreatifitas hasil pengemasan para Advertiser yang tak jarang memunculkan reaksi masyarakat yang beragam. Tidak dapat disangkal, bahwa tradisi ini memang cukup ampuh untuk menaklukkan hati masyarakat dalam menjatuhkan pilihan, sebab bagaimanapun juga banyaknya partai-partai baru yang terus bermunculan menuntut mereka untuk mensosialisasikan diri secara intensif demi mendapatkan simpati atau setidaknya sekedar membuat tahu masyarakat atas keberadaan mereka.

Sosialisasi sendiri bukan hanya wajib dan diperuntukkan bagi partai-partai baru, karena ternyata partai-partai lama dan besarlah yang justru terlihat memiliki kepentingan yang lebih besar atas pemenangan pemilu. Taruhlah Partai A, B, C, dan D, yang tiap hari mempertontonkan diri di layar kaca, dengan mengusung materi dan pengemasan yang beraneka ragam, bahkan tak jarang hingga saling berebut klaim.
Strategi mengemukakan prestasi demi prestasi yang pernah dicapai oleh partai saat memegang estafet pemerintahan memang dianggap sebagai senjata yang cukup ampuh dalam menggaet massa sebanyak-banyaknya, sebab dari situlah Partai Politik berusaha mengingatkan kepada masyarakat bahwa dalam kurun waktu pemerintahan di bawah kepemimpinannya, terdapat prestasi gemilang yang perlu diingat oleh rakyat dan diharap rakyat --yang ingin prestasi tersebut terus berlanjut-- menjatuhkan pilihan kepada mereka.

Hukum Resiprokal
Berhasil menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak tiga kali, berhasil menyukseskan swasembada pangan, berhasil mengatasi konflik di beberapa daerah, berhasil menstabilkan harga sembako, dan lain sebagainya. Berbagai klaim digunakan oleh masing-masing partai sebagai pencapaian yang patut diingat oleh masyarakat sebagai prestasi.

Mengklaim sebuah pencapaian untuk membeli suara masyarakat memang sebuah cara yang tidak dapat dipersalahkan, bahkan boleh dibilang sebagai cara cerdas. Sedikit berlebihan memang, namun tidak demikian manakala kita mengetahui bahwa strategi itu ternyata memang cara yang sangat ampuh dan ironisnya sering hampir tidak dipahami oleh masyarakat bahwa sesungguhnya strategi itu berjalan sebagai trik resiprokal. Dalam Psikologi Persuasif, hukum resiprokal dikatakan sebagai aturan social yang membuat kita –yang tidak menyadari telah berada dalam lingkaran hukum itu—seolah-olah berhutang dan wajib membalasnya.

Resiprokal sendiri yang berarti timbal balik bukanlah suatu hukum tertulis dan berpasal, sebab dalam timbal balik ini hukum berjalan karena aturan social dalam masyarakat. Taruhlah contoh yang sering digunakan oleh perusahaan-perusaan yang sering melakukan pemasarannya dengan cara menyuguhkan agenda pengobatan gratis kepada masyarakat, dengan memajang berbagai atribut produk yang kemudian secara tidak sadar masyarakat seolah memiliki kewajiban sebagai balas jasa atas pengobatan gratis yang diterimanya dengan membeli produk yang ditawarkan.

Bukan hanya itu, strategi yang sama juga pernah marak digunakan oleh pengikut sekte Hare Krishna yang dahulu sangat dikenal oleh masyarakat di India, modus yang digunakan adalah dengan cara membagi-bagikan hadiah-hadiah kecil, seperti buku dan sekuntum bunga kepada setiap orang yang berlalu-lalang di tempat umum, dari situ kemudian masyarakat –karena merasa telah diberi sesuatu-- secara suka rela membalasnya dengan memberikan sumbangan yang tidak lain adalah digunakan untuk membiayai kehidupan kelompok tersebut.

Maka tidak heran jika untuk mendapatkan perhatian sebanyak-banyaknya, partai politik menggunakan jalan mengingatkan masyarakat atas jasa, keberhasilan dan dedikasi yang telah diberikan oleh sebuah partai politik kepada rakyat. Tidak dapat dipersalahkan juga jika efek dari langkah tersebut memang benar-benar membuat rakyat cenderung memberikan suaranya, namun untuk diketahui bahwa tidak ada satupun aturan yang mewajibkan kita merespon dengan memberikan suara, sebab bagaimanapun juga aturan resiprokal lebih bersifat sosial.

Perasaan tidak nyaman apabila tidak memenuhi permintaan setelah sebelumnya mendapatkan sesuatu dari mereka, itulah sasarannya. Sehingga perasaan tidak nyaman itulah yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu sebagai balasannya.

Cara Menyikapi
Sejatinya, sebagai hukum yang tidak menuliskan kewajiban untuk membalasnya, kita memiliki hak yang seluas-luasnya untuk melakukan penolakan. Selama kita bisa melihat dan mendefinisikan bahwa aksi yang dilakukan oleh seseorang adalah lebih sebagai alat untuk menundukkan kita ketimbang memberi sebuah jasa atau bantuan, maka orang tersebut tidak lagi memiliki hukum resiprokal sebagai sekutunya. Hukumnya mengatakan bahwa sebuah jasa atau bantuan seharusnya dibalas dengan jasa atau bantuan yang sama; tidak disebutkan bahwa sebuah trik harus dibalas dengan jasa atau bantuan.

Jelaslah bahwa sebuah ‘dedikasi’ yang telah diberikan sepatutnya kita telaah terlebih dahulu, apakah benar-benar dedikasi untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pemenangan, apakah pencapaian benar-benar dilakukan untuk rakyat, ataukah hanya sebuah trik pra pemilu. Semua kembali kepada rakyat tentunya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dan sebagai pemegang otoritas mutlak atas suaranya sendiri.

4 April 2008

Telah Fenomenal di Usia Prenatal

Oleh: Dep. Litbang FP2I UIN Jakarta
Diterbitkan dalam FP2I Newspaper Special Edition
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Pendahuluan:
Saat Amanah Menjadikan Kami Lebih Dewasa

Puji syukur senantiasa kami haturkan kepada Dzat Yang telah ada sebelum semua ada, Yang membuat ada semua yang awalnya tidak ada, dan Yang tetap ada saat semua telah tiada.

Shalawat serta salam kami junjungkan kepada pelopor reformasi di zaman keemasan Islam, Nabi Akhiruzzaman, Nabi Muhammad Saw. Andai tiada pernah engkau diutus kepada kami, sungguh cita-cita pengembangan Psikologi Islam yang kami emban tiada pernah bertemu dengan tauladan sesempurna ini.

Divisi Litbang, sebagai satu dari lima divisi yang ada di Forum Pengkajian Psikologi Islam, memfokuskan diri pada ranah penelitian dimana hasil yang dilahirkan dari penelitian-penelitian kami diharapkan dapat membantu terrealisasinya misi besar yakni pengembangan Psikologi Islam sebagai madzhab kelima dalam ilmu Psikologi. Selain itu, divisi ini juga bertanggung jawab untuk mengembangankan eksistensi Forum ini secara lebih signifikan dan lagi-lagi demi membantu semakin berkibarnya Psikologi Islam.

Divisi ini lahir sebagai anak bungsu di FP2I, dikatakan sebagai anak bungsu sebab sejak berdirinya FP2I divisi ini baru dibentuk di pertengahan periode 2005-2006 kemarin. Sebagai anak bungsu, tentu kami pun memulai menjalankan amanah ini berawal dari sebuah perjalanan yang tertatih. Tak hanya itu, bantuan berupa acuan yang kami harapkan dapat kami peroleh dari kinerja yang sudah terrealisasi pada periode sebelum ini pun tak jua kami temukan sebab ternyata bisa dibilang hanya 5% yang mampu terwujud dari keseluruhan rencana yang dicanangkan di periode itu.

Meski tertatih, namun sepenuh hati kami dapatkan support yang luar biasa dari Ketua FP2I hingga langkah kami pun makin tertata, dan lambat laun menjadi lebih mantap tuk songsong masa depan cerah dalam misi pengembanan amanah. (Faiq)

Sekapur sirih di atas menjadi pembuka dalam draft Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Forum Pengkajian Psikologi Islam (FP2I) dari Departeman Penelitian dan Pengembangan yang dimotori oleh Faiqoh, Rizki Amali, Pitrie Indrayati, dan Vinayanti Marlian. FP2I sebagai salah satu LSO (Lembaga Semi Otonom) yang berdiri di bawah naungan Fakultas Psikologi UIN Jakarta mrupakan LSO yang menjadi pusat perhatian seluruh civitas akademika Fakultas Psikologi UIN Jakarta, disamping selalu mengetengahkan ide-ide cemerlang di setiap kegiatan yang digelar juga para anggota yang menggawangi organisasi ini terhitung sebagai generasi-generasi cemerlang di angkatannya. Sebagai wadah yang diharapkan dapat mengakomodir buah pikir cemerlang mahasiswa khususnya mengenai Psikologi Islam ─yang terbilang madzhab baru dalam ilmu Psikologi─ maka FP2I menjadi satu-satunya forum resminya.

Begitu berartinya keberadaan forum ini, maka keberlangsungannya pun semakin menjadi mutlak diharapkan yang tidak lain berupa hasil-hasil penelitian dan juga pengembangan atas Psikologi Islam itu sendiri.

Tidak berlebihan memang bila dibilang bahwa periode kepengurusan FP2I angkatan 2006-2007 menjadi angkatan paling cemerlang dan berhasil mengangkat nama FP2I setinggi-tingginya, terlihat dari kegiatan-kegiatan yang hampir tak pernah berhenti diselenggarakan dengan beraneka ragam jenisnya, dan hampir semua selalu dapat mengguncang Psikologi bahkan fakultas-fakultas lain di UIN, tidak hanya itu gaung forum yang usianya belum genap 10 tahun ini sampai terdengar di telinga mahasiswa-mahasiswa Psikologi dari Universitas-Universitas terkemuka di Jabodetabek, hingga kunjungan-kunjungan persahabatan pun mulai mengalir.

Segala pencapaian FP2I angkatan 2006-2007 ini tidak lepas dari keberhasilan yang disumbangkan oleh Deperteman Litbang, di usianya yang masih prenatal (baca: sangat muda, red) Departeman ini justru menjadi departeman yang fenomenal, kegiatan-kegiatan yang dilangsungkan oleh departemen ini tidak pernah sepi dari peserta, baik yang diselenggarakan di dalam kampus maupun yang sengaja dikonsep di luar kampus seperti Study Tour and Obsevation yang sempat menggemparkan Fakultas Psikologi. Betapa tidak, besarnya uang kontribusi yang disyaratkan oleh panitia tidak menghalangi besarnya animo peserta untuk mendaftar, bahkan pada hari ditutupnya pendaftaran karena kapasitas yang disediakan memang telah penuh, mahasiswa-mahasiwa masih terus beradatangan untuk mencoba mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari acara yang sangat menarik ini.

Tidak salah memang, acara yang langsung diketuai oleh Koordinator Departeman Litbang ini merupakan acara yang sangat menarik, sebab di tengah kejenuhan mahasiswa akan acara-acara seminar yang begitu-begitu saja, acara ini seolah mengobatinya dengan mengajak mahasiswa Psikologi langsung turun ke lapangan untuk mengenal dari dekat pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan atau yang biasa dikenal dengan RSJ Grogol. “Sebagai mahasiswa Psikologi, Skizofrenia bukanlah barang langka sebab hampir di setiap semester akan ditemukan pembahasan mengenainya, namun jika tidak pernah bertemu dengan pasiennya dan hanya berkutat dengan teori dan teori saja di bangku kuliah lantas apa bisa dibilang cukup memahami skizofrenia dengan segudang ke-kompleks-annya?”, ujar Faiqoh selaku ketua pelaksana sekaligus ketua Departeman Litbang

Acara yang juga mendapatkan sambutan hangat dari Dekan Fakultas Psikologi serta didukung langsung oleh Ketua Ikatan Dokter Jiwa Indonesia DR. Fidiansjah, Sp.Kj ini benar-benar menjadi acara fenomenal dan unforgettable yang tentu saja karena pengemasan acara dan materi yang disuguhkan, termasuk juga akomodasi dan fasilitas yang diberikannya termasuk kaos seragam yang wajib dikenakan oleh seluruh peserta yang ternyata didesain sendiri oleh ketua pelaksana.

Meski menetapkan batas maksimal peserta yang ikut di acara ini sebanyak 100 orang (karena pertimbangan keefektifan acara dan kapasitas tempat) , namun panitia dapat mengumpulkannya dalam waktu yang sangat singkat. Keberhasilan acara ini membawa angin segar bagi nama FP2I yang disebut-sebut sebagai pesaing Student Government Fakultas Psikologi (BEM) yang notabene sebagai organisasi paling bergengsi di tingkat fakultas, sebab pada kenyataannya FP2I sebagai lembaga yang seharusnya berhak mendapat bantuan pendanaan dari pihak fakultas karena statusnya sebagai Lembaga Semi Otonom ternyata lebih pantas disebut sebagai Lembaga Seratus Persen Otonom. Kenyataan tersebut justru tidak pernah menghalangi FP2I terus melangkah dengan inovasi-inovasi cerdik, kreatif dan terus melambung jauh meninggalkan BEM Fakultas Psikologi di angkatan yang sama (2006-2007) yang harus rela dibilang ‘mandul’ dari kretivitas


29 Maret 2008

TRAINING MOTIVASI

Belum hilang rasa lelahku setelah 18 jam menempuh perjalanan bus Surabaya- Jakarta, begitu sampai di kost pukul 9.00 aku bergegas menyalakan laptop dan mematangkan materi yang masih belum rapi dengan ditambah beberapa materi yang diberikan Rizki Amali (pimpinan tim trainer di club training kami, "Star Act Development Centre"), sesekali aku melirik jam tangan yang masih setia bertengger di pergelangan tangan kiriku, menurut jadwal acara akan dimulai pukul 10.00 sementara aku harus finishing materi, mandi dan makan pagi sebelum panitia datang menjemputku.

Oke, selesai. Tepat jam 10.00 handphone berbunyi tanda SMS masuk yang ternyata dari sang ketua pelaksana acara dan mengabarkan bahwa panitia yang akan menjemputku sudah bertolak menuju rumah kostku, aku segera merapikan laptop dan beberapa atribut yang lain dan kemudian baru merapikan diri.

Pukul 10.20 aku sudah sampai di lokasi acara yakni MTs Jamiyyatul Khair, saat aku datang sedang berlangsung sambutan dari Kepala Sekolah MTs yang bersangkutan, semua peralatanku kuserahkan kepada panitia agar segera disiapkan sebab aku harus duduk manis mendengarkan sambutan Pak Kepsek untuk menghormati acara ceremonial itu.

Sungguh luar biasa, berdasarkan penuturan beliau (kepsek, pen), acara pelatihan seperti ini baru pertama kalinya digelar di sekolah ini dan beliau berharap banyak agar acara ini memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan siswa-siswa MTs Jamiyyatul Khair.

Kendali langsung diserahkan kepadaku begitu rangkaian acara pembuka usai, siswa-siswi mulai tampak antusias mengikuti acara training yang bertajuk Training Motivasi “Kiat Sukses dalam Menulis” ini. Aku sebagai pembicara tunggal dalam acara ini bisa dengan leluasa mengeksplor peserta yang terdiri dari para pengurus dan anggota OSIS.

Materi demi materi terus kugulirkan, yel-yel penuh semangat juga kuajarkan agar tak ada satupun dari mereka yang bosan dengan acara ini, beruntung dari keseluruhan tampak excited dengan apa-apa yang kusampaikan, belum lagi semangat mereka saat kutampilkan beberapa movie-movie pendek yang mengisyaratkan kisah-kisah sukses dengan bermodalkan motivasi yang kukuh.

Riuh rendah suara peserta saat mengikuti semua proses acara siang hari itu, sesekali mereka serempak berkata “Wow…!”, lantas tergelak begitu ada tampilan yang cukup menggelitik dan konyol, sorak sorai pun bergemuruh saat beberapa kali kulemparkan kuis dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, belum lagi ketika kuajak mereka serempak menjawab “Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar” ala pesantren Daarut Tauhid saat kutanyakan bagaimana keadaan mereka, dan juga mereka akan serempak menjawab dengan kata “Yes” saat kutanya “Are You Ready?”. Sempat pula ada sesi dimana para peserta tercekat dan tidak habis pikir atas kesalahan fatal akibat terkecoh dengan tes IQ yang kuberikan, tampak sederhana tentunya tapi tak dinyana justru karena terlalu sepele itulah mereka semua terkecoh hingga tak satupun yang memberikan jawaban dengan benar. Dan saat mereka tersadar akan kekonyolan yang mereka perbuat sendiri, seisi ruangan semakin heboh.

Suasana semakin semarak saat kebiasaanku mulai meluncur dengan ‘mengolok-olok’ panitia karena kalah dengan peserta dalam simulation games yang kukondisikan di dalam ruangan itu. Sebagaimana yang telah kuduga, sang panitia acara yang tidak lain adalah guru Praktek Kerja Lapangan yang telah beberapa bulan bertugas mengajar di sana seketika nyengir melihat tingkah lakuku yang sebenarnya sudah berusaha diantisipasinya sedari awal. Memang, saat membahas acara ini dia sudah mengemukakan kekhawatirannya akan dipermalukan, sebab berdasarkan pengalaman dia telah beberapa kali mengikuti training dengan aku sebagai pengisinya, dan di setiap training itu pula ia selalu mendapati aku tidak pernah melewatkan sesi simulation games yang selalu saja panitia akan menjadi korbannya, what a pity you are! (kasian deh lo!).

Acara ditutup dengan permainan uji konsentrasi berupa mematahkan pensil dengan menggunakan satu jari yakni jari kelingking, peserta semakin bergemuruh atas intstruksi yang menurut mereka mustahil dilakukan, hingga aku memberikan contoh kepada meraka dan sontak membuat seluruh isi ruangan bersorak memberikan applause yang meriah. Lantas aku pun segera memberikan instruksi lebih spesifik dengan beberapa sugesti kepada semua peserta yang telah siap menghadap pensil masing-masing yang berada dalam genggaman kedua tangan teman di sampingnya, dan 1… 2…3…, prak! Hampir 50% dari mereka bisa mematahkan pensil, semua peserta kegirangan bukan main merasa dirinya hebat (mungkin mereka merasa seperti telah melakukan atraksi debus kali ya?! Ah whatever lah!), hal yang sama kemudian dilakukan oleh siswa-siswa yang lain yang tadi belum mendapatkan giliran, unfortunately, pada sesi yang kedua ini tidak ada satupun yang bisa mematahkan pensil dalam kesempatan pertama, namun ada beberapa yang akhirnya berhasil di kesempatan selanjutnya. Yah, apapun yang terjadi setidaknya mereka telah memiliki keinginan untuk menghancurkan segala penghalang cita-cita meraka yang terrefleksikan dari permainan mematahkan pensil ini, dari sini juga mereka bisa belajar akan pentingnya konsentrasi dan sudah bisa menyerap sugesti motivasi yang kuberikan.

Acara ditutup dengan doa dan peserta membubarkan diri tepat pukul 13.30. Hari ini aku belajar banyak dari acara ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kesempatan padaku untuk menjadi orang yang memberikan manfaat bagi orang lain. Amin. Khairun naas anfa'uhum lin naas.