Tampilkan postingan dengan label dokter Spog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter Spog. Tampilkan semua postingan

1 Desember 2013

AQUEENA'S BIRTH REPORT; Allahu Akbar, Telah Lahir Putri Kami...


Alhamdulillaaahh… akhirnya kesampean juga menuliskan birth report si dedek. Gara-gara kelewat males,  pas hamil yang ditulis program hamil, pas habis lahiran yang ditulis cerita kehamilan. Alhasil, birth report-nya jadi moloooorr deh. hihihi….

Alhamdulillah (lagi), secara keseluruhan kelahiran si dedek tergolong lancar dan cepat (kata orang-orang sih) untuk ukuran anak pertama, kurang lebih 4 jam dari mulai menginjakkan kaki di RS hingga si dedek lahir, tapi yang jelas saya sangat bersyukur diberi kemudahan dalam melewati perjuangan menjadi seorang ibu.

Selasa, 23 Juli 2013

Selepas Dzuhur, saya merasakan sakit di bagian perut bawah, tidak terlalu sakit sih (menurut saya dengan membandingkan cerita-cerita kontraksi yang katanya aduhai rasanya). Tapi tetap saja saya waspada, karena belum pernah merasakan rasa sakit seperti itu sebelumnya, saya bilang ke si mas yang hari itu kebetulan nggak ngantor. Melihat saya meringis-meringis si mas mengelus-elus perut saya dan menanyakan apakah benar-benar terasa sakit sekali?

Apa kita ke rumah sakit sekarang?

Nggak usah, belum sakit-sakit banget kok”.

Setengah jam berlalu, saya merasa sakitnya timbul tenggelam, si mas tanpa meminta persetujuan dengan sendirinya berangkat ke kamar mandi, mandi, ganti baju rapi, berkemas, memasukkan berkas-berkas untuk check in rumah sakit, aku cuman ngeliatin aja.

Mau ngapain, mas? Rapih amat? Mau ke rumah sakit ya? Siapa juga yang mau lahiran sekarang? hihihi…

Aku masih guya-guyu menggoda si mas yang sibuk sendiri. Tapi aku tetap yakin bahwa ‘bukan sekarang waktunya’. Dan benar saja, setelah wudlu, sholat dan berdiam sebentar, rasa sakit itu hilang dengan sendirinya. Hmm… Braxton Hicks!!.

Jumat, 26 Juli 2013

Jam 14.00 jadwal periksa ke RS.Bunda.

Adek bayinya masih betah ya, bu?” dokter Iman menggoda.

Iya nih dok, belum mau keluar kayaknya, jangan-jangan nunggu lebaran nih?? Aduuh, kalo bisa jangan deh, nanti semua orang lagi pada repot” jawabku.

Air ketuban masih banyak dan jernih, masih aman, kita tunggu aja deh sampe adek bayinya mau keluar” kata dokter Iman sambil meng-USG. “Saya periksa dalam ya!” sambungnya.

Aku dan si mas nurut aja.

Hmm… kayaknya kalau nggak nanti malam ya besok lah ya lahirnya

*dienggg!!!* lho kok?? Yah okelah, insyaAllah siap grak!!

Jam 16.00 saat mendi sore, hmm… spotting!

Menjelang maghrib, saat si mas dan adekku heboh di dapur menyiapkan buka puasa (ohya, sejak hari Jumat yang lalu adekku sudah datang ke rumahku, menemani kalau-kalau aku merasakan tanda-tanda melahirkan sementara si mas sedang di kantor) perutku terasa kencang sekali dan mulas, tapi masih bisa kutahan. Kupakai jalan bolak balik di teras rumah sampai maghrib tiba.

Seperti biasa, saat buka puasa aku tidak langsung makan nasi melainkan minum es dan gorengan sampai kenyang dan bisa dipastikan berujung dengan malas makan karena sudah kekenyangan dan baru makan nasi setelah sholat tarawih. Malam itu aku punya firasat yang berbeda, setelah takjil mengenyangkan itu, aku segera sholat maghrib dan kemudian makan nasi. Sambil menahan mulas yang muncul-tenggelam aku memaksakan diri agar nasi bisa masuk ke perut. Akhirnya, hanya beberapa suap saja, aku sudah mulai tidak tahan berlama-lama duduk di kursi. Kuletakkan piring makanku yang masih bersisa nasi cukup banyak, aku merebahkan diri di kasur di dalam kamar.

Di dalam kamar, aku mengambil hp dan mulai menyalakan stopwatch untuk memastikan bahwa kontraksinya semakin lama semakin dekat intervalnya dan semakin panjang durasinya. Dugaanku benar, durasinya 25 detik dengan interval 10 - 8 menit. Aku segera memanggil si mas.

Mas, ayo kita ke bidan Juraida

Lho, ngapain? nggak langsung ke RS aja tah?

Nggak deh, ke bidan dulu aja, suruh liatin udah bukaan berapa, biar ntar nggak kecele waktu ke RS kalo ternyata masih bukaan satu

Si mas menurut saja dan segera menyalakan motor. Sesampainya di rumah bidan Juraida ternyata rumahnya tutup.

Langsung ke RS aja ya say?” Si Mas menawarkan

Nggak ah, kita ke bidan Yatin aja

Lagi-lagi Si Mas menuruti kemauanku. Sesampainya di rumah bu Yatin, sambil meringis merasakan mulas yang semakin sering, aku minta diperiksa dalam untuk memastikan sudah bukaan berapa dan apakah kami sudah disarankan untuk segera ke RS sekarang juga. Setelah utak atik – utak atik.

Sudah bukaan tiga, ke RS sekarang saja, Bu

*diengggg!!!* oke, insyaAllah siap!

Keluar dari ruangan bu bidan, si Mas yang menunggu di luar sudah cemas tingkat propinsi.

Telpon taksi sekarang say, udah bukaan tiga

Si Mas mendadak gugup, dan buru-buru menelpon taksi.

Disuruh nunggu 20 menit say, gimana??

Nggak papa deh, sambil siap-siap. nggak usah panik” jawabku

Kami pun segera bergegas pulang.

Kita minta tolong Aan (tetangga, red) aja ya say, kelamaan kalo nunggu 20 menit” Si Mas menawarkan

Wes terserah lah” jawabku singkat (bin pasrah)

Sampai di rumah, si mas bergerak cepat, menyuruh adekku segera berkemas. Tas bayi dan tas pakaian untuk aku dan si mas kebetulan sudah disiapkan jauh-jauh hari, tinggal angkut. Ada beberapa list barang bawaan yang belum masuk tas tapi sudah kucatat di buku kecil andalanku, dan adekku segera menyiapkannya. Setelah barang bawaan beres, menu buka puasa yang belum sempat dimakan oleh si mas diangkut juga, aku sudah ganti baju, mobil juga sudah menunggu di depan rumah. Siap capcuss. Aku dan adekku naik mobil diantarkan Mas Aan (tetangga), dan si Mas naik motor (buat nanti transportasi si Mas selama di RS yang tentunya perlu mondar-mandir ke mana-mana).

Jam 19.00 Perjalanan dari rumah menuju RS.Bunda di Benowo-Surabaya memakan waktu kurang lebih 25 menit, sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya membaca Surat Al-Insyiroh, berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran, Adekku mengabari keluarga di sidoarjo, ibu, mas, mbak, tapi pesan tidak juga sampai karena semua sedang terawih di masjid. Sesampainya di RS, Si Mas yang sudah sampai lebih dulu menyambut di depan pintu IGD dan aku langsung diantar ke IGD untuk diperiksa dalam.

Di balik tirai tempat dimana aku diperiksa, banyak suara berisik dari para perawat yang sedang bercanda dan tertawa-tertawa keras, tentu saja sebagai pasien yang sedang mulas yang aduhai rasanya ini, rasanya pengen ngelempar sandal ke kepala mereka. Agghhrrr!!!

Aku diperiksa oleh seorang bidan yang bertugas jaga IGD, dari awal aku udah nggak sreg sama nih bidan, mukanya kurang bersahabat, cara menyambut pasiennya juga tidak hangat, tidak seperti image yang selama ini aku simpulkan dari RS.Bunda yang semua orang di dalamnya sangat ramah mulai dari karyawan, perawat, bidan, dokter, hingga satpam dan tukang parkirnya. tapi image itu tidak kutemui pada bidan yang satu ini (atau akunya aja yang lagi sensi karena lagi mulas berat. wkwkwk).

Menurut si bidan, setelah diperiksa dalam ternyata baru pembukaan satu. Whattt??!! Nggak mungkin, merasa sebelumnya sudah periksa di bidan waktu mau berangkat ke RS, tentu saja aku dan si Mas esmosi dong??!! Malah disuruh pulang lagi pula! Whattt?? Yang lebih bikin kesel tuh cara bicara dia yang seolah-olah meremehkan. “Baru bukaan satu kok bu, masih lama, bisa jadi lahirnya masih besok malam atau lusa. Anak pertama ya?? pantes kalau panik”. Aaghhrrr!!! rasanya pengen gue telen hidup-hidup deh nih orang. Lo kira gue anak manja yang nggak tahan sakit sedikit aja?? Lo kira gue orang bodoh apa, yang nggak tau hitungan durasi kontraksi?? Ini tuh udah gue hitung durasi dan interval kontraksinya tauuu!! Dan udah gue periksain ke bidan juga!!

Dan benar saja, gara-gara bidan dudul itu tadi, kami tidak mendapatkan rekomendasi untuk masuk ruang inap, sehingga kalau memaksakan diri untuk tetap menginap mulai malam ini juga maka kami tidak bisa menggunakan fasilitas askes, karena tidak ada rekomendasi dari bidan yang jaga dan memeriksa di IGD.

Si Mas mulai kesal, di bagian check-in rawat inap si mas nantangin, “Ya sudah, pasien umum gak masalah, yang penting kami tidak pulang kembali” .

Ohya Mas, kalau misalnya memang malam ini istri saya masuk rawat inap sebagai pasien umum karena dianggap belum akan melahirkan dalam waktu dekat, trus misalnya nanti tengah malam ternyata bukaannya sudah banyak, bagaimana statusnya??” Si Mas dengan nada geram mengajukan protes pada Mas-masnya.

Wah, kalau seperti itu, saya juga tidak tau, pak

Nahloh??!!

Akhirnya, tidak kehabisan akal, Si Mas langsung menelpon dokter Iman. Dengan tegas dokter Iman bilang, “Jangan pulang, saya yang akan kasih rekomendasi, biar nanti saya telpon pihak RS. Nanti jam 21.30 saya ke sana

Mampus lo!!!

Merasa di pihak yang menang, si mas segera mengurusi semuanya, aku dan adekku memilih untuk jalan-jalan dulu  sambil belanja cemal-cemil makanan ringan sekalian untuk sahur. Sambil terus menyambung kontak dengan ibu di rumah kami pun jalan menuju ke Indomaret yang letaknya hanya 150 meter dari RS sambil meringis-meringis saat kontraksinya datang, selama di indomaret pun aku menyerahkan pada adekku yang belanja dan memilih apa saja yang ingin dibeli, sementara aku jalan mondar-mandir di dalam indomaret, itung-itung olahraga agar pembukaannya cepat bertambah.

Jam 21.00 aku disuruh masuk ke ruangan untuk rekam jantung. Selama 30 menit dilakukan rekam jantung, mulasnya sudah semakin sering dan dekat jaraknya. Selesai rekam jantung, aku dipersilahkan istirahat di kamar perawatan, di sana adekku bersama barang-barang keperluan camping-nya sudah menunggu

Jam 21.30 di kamar perawatan, kami bertiga masih bercanda-canda sambil sesekali menggunjing bidan menyebalkan di ruang IGD tadi. Hihihi… Tak lama kemudian (jam 22.00) dokter Iman datang dengan wajah sumringahnya

Gimana bu? Sudah sering mulasnya

Iya, dokter

Coba saya periksa dalam dulu ya” utak atik – utak atik, “Sudah hampir bukaan lima, untung tadi nggak jadi pulang lagi, sudah saya marahin bidannya, sembrono dia

Kami mesam-mesem aja

Ya sudah, saya tinggal dulu ya, di lantai bawah mau ada operasi hamil di luar kandungan

Dan bidan yang mengantar dokter iman pun berpamitan juga, “Nanti jam 24.00 saya datang lagi untuk meriksa kemajuan pembukaannya ya! Kalau butuh apa-apa pencet bel itu

Jam 22.30 mulasnya semakin menjadi, aku mencoba menenangkan diri dengan memutar musik klasik, kemudian berganti murottal, namun semakin lama aku merasakan jeda dari satu kontraksi ke kontraksi berikutnya semakin dekat, sangat dekat bahkan, kurang dari 1 menit kayaknya (hehehe… pake ilmu kira-kira, karena udah nggak sanggup buat utak-atik stopwatch di hp). Si mas kuminta mengelus-elus punggungku, terus, dan terus. Hingga akhirnya, aku sudah tidak tahan lagi. sambil setengah berteriak

Pencet bel, Mas! udah nggak kuat” Si mas sigap memencet bel, 2 orang bidan segera datang.

Sudah nggak tahan katanya, mbak” lapor si mas ke dua bidan itu.

Langsung ke ruang bersalin ya bu!” aku menurut saja

Di ruang bersalin, aku langsung diminta mengganti rok yang kukenakan dengan kain jarik, setelah itu di utak atik – utak atik, “Sudah bukaan tujuh hampir ke delapan

Aku sudah tidak bisa merasakan apapun selain mulas yang teramat sangat.

Hanna waladat Maryam, wa Maryam waladat ‘Isa, ukhruj ayyuhal maulud, bi qudrotil Malik al-Ma’bud” berulang-ulang kuucapkan doa itu, sambil sesekali merintih, rasanya pengen buang air besar.

Tahan ya bu, jangan mengejan. tarik nafas, buang, tarik nafas, buang” bidan-bidan itu begitu sangat sabar meladeniku.

Mbak, pengen pup” aku merengek di tengah rasa sakit yang luar biasa.

Iya, ibu. pengen pup ya… tahan ya ibu, jangan mengejan, kalo mengejan sebelum waktunya bisa bikin bengkak, tahan ya, sebentar lagi dokternya datang

Duuuh, kalau ingat mbak-mbak bidan baik hati ini, rasanya pengen peluukkk deh, abisnya mereka tuh sabaaar banget, udah kayak ditenangin sama ibu.

Ups! ngomong-ngomong soal ibu, beliau masih dalam perjalanan dari sidoarjo menuju ke TKP.

Jam 23.00 dokter Iman datang dengan pakaian operasi lengkap. Ternyata beliau masih ada tindakan operasi dan berlari menuju ke ruang persalinanku begitu ditelpon oleh mbak-mbak bidan bahwa aku sudah mau melahirkan.

Dokter datang, semua peralatan sudah siap, mbak-mbak bidan masih mencegahku untuk mengejan, padahal sumpeh deh, dorongan untuk mengejan udah nggak ketahan sama sekali, malah seingatku udah sempat mengejan sekali sangking nggak tahannya.

Kalau mulasnya datang, langsung mengejan ya bu, dorong!” dokter iman memberi instruksi.

Sudah boleh mengejan, dokter?

Ya boleh dong!” jawab dokter iman santai.

Si mulas pun datang, daaan… Mengejan!

satu…

dua…

tiga…

empat…

lima…

bersamaan dengan mengejan yang ke lima kali, keluarlah sebongkah benda besar dari jalan lahir, dan itu lah dia, yang kami tunggu-tunggu, tepat jam 23.30 di tanggal 26 Juli 2013 lahirlah our lil princess “AQUEENA ADHWA TSURAYYA”

ALLAHU AKBAR!!!

Si Mas yang selalu mendimpingiku langsung memeluk dan menciumku berkali-kali.

Dedeknya udah lahir say, Makasih banyak ya, sayang…” bergetar suaranya diikuti derai air mata bahagia.

Aku yang masih setengah sadar antara percaya dan tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi, diam saja tak bereaksi, hingga kemudian ibu yang baru datang pun memeluk dan meminta maaf karena terlambat beberapa menit saja. Setelah itu adekku yang sebelumnya kularang untuk mendekati ruang persalinan (karena dia belum menikah, takutnya bikin trauma, hehehe) juga berhambur mendekat ingin melihat my lil princess. Kami semua berbahagia.

Robbanaa hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, waj’alna lil muttaqiina imaama.

22 Mei 2013

PROGRAM HAMIL (Part.4) Akhirnya Terapi dan Penantian itu Bermuara Juga, "Alhamdulillah, Aku Positif Hamil! "

Posting kali ini bakalan sangat panjang ya! Semoga tidak bosan membacanya…
Ohya, cerita program hamil bagian sebelumnya ada di link-link berikut ini ya:

Akhir Agustus 2012 – Akhir September 2012
Berbunga-bunganya hati usai berkonsultasi dengan dokter Ryan terus menjadi warna tersendiri dalan hari-hari kami, aku melihat semangat yang lebih membara pada hari-hari si Mas, aku tau si Mas sedang dalam kondisi high motivated. Aku pun tak mau ketinggalan, aku juga harus mengimbangi semangat yang sedang berkobar itu.

Keesokan harinya, aku segera mengatur rencana untuk menjalankan semua saran dokter. Pertama-tama aku beli satu set gelas tutup bervolume + 500ml dari Tupperware, gelas ini akan kugunakan untuk menyimpan jus-jus tomat yang akan dikonsumsi si Mas tiap hari, selain itu aku juga membeli wadah-wadah lain yang lebih besar yang akan kugunakan untuk menyimpan sayur yang harus dikonsumsi si Mas sesering mungkin. Oke, semua sudah siap! Saatnya beraksi…! :)

Setelah periksa dengan dokter Ryan tanggal 30 Agustus 2012, rutinitas baru kami saat ini adalah belanja tomat buah (yang besar-besar itu lho, bukan yang buat sayur), biasanya aku beli langsung 5kg, itu juga gak sampai seminggu sudah habis, karena aku mau ikutan si Mas minum jus tomatnya, bukan apa-apa sih, ya biar si Mas ada temennya aja, kan jadi lebih semangat kalo bareng-bareng minum jus tiap hari :)

Selain tomat, item belanjaan yang baru adalah sayuran. Aku biasanya beli wortel import (kenapa import, karena menurutku kalau dimakan mentah dia lebih bersahabat baunya, nggak ‘langu’), lalu jagung manis, baby buncis (buncis yang biasa juga nggak papa, tapi aku memang lebih suka yang baby buncis karena menurutku lebih padat teksturnya dan tidak mudah lembek ketika direbus), kemudian selada, dan brokoli (awalnya beli yang hijau, tapi ternyata si Mas kurang suka, makanya ganti yang putih)

Nah, setelah semua sudah siap, perjalanan hari-hari dengan sayur dan tomat pun berlangsung. Tiap malam aku merebus tomat untuk kusimpan dalam kulkas dan di-jus keesokan harinya, kenapa merebusnya malam? Karena kalau direbus pagi seringkali nggak keburu karena si Mas berangkat ke kantor pagi-pagi sementara untuk membuat jus harus menunggu tomatnya dingin lebih dulu. Nah, kalau sudah direbus sejak malam kan pagi-pagi bisa langsung di jus. Ohya untuk ukurannya, memakai 4 buah tomat untuk satu orang ya! Airnya jangan banyak-banyak biar nggak terlalu encer, yah sewajarnya aja seperti kita bikin jus biasanya. Untuk airnya bisa pakai air rebusannya itu, trus bisa ditambah susu atau gula, atau air perasan jeruk, apa aja deh, yang penting doyan :). Ohya, banyak juga lho yang nanya, kenapa harus direbus tomatnya? Kalau tomat segar aja bisa nggak? Oke, jadi begini, menurut bapak dokter yang baik hati *tsaaahh* kalau tomat segar biasa itu hanya mengandung vitamin C saja. Sedangkan kalau direbus, tuh tomat mengandung Lycopene (likopen), kalo kata dokter Ryan Lycopene itu pigmen merah yang terdapat pada buat tomat dan semangka, manfaatnya juga banyak yang tentu saja diantaranya adalah untuk memperlancar pembuluh darah sehingga bisa meningkatkan jumlah sperma dan mempercepat gerakannya. Kalau menurut mbah gugel kurang lebih sama, bisa di cek di sini 

Selanjutnya, untuk sayur-sayurnya mau kubikin salad sayur
  • Wortel di parut kasar (kalau bahasa jawa ‘di pasrah’)
  • Jagung manis dipipil kemudian di rebus sebentar (sebentar banget ya!)
  • Baby buncis dipotong-potong 2cm atau sesuai selera kemudian direbus sebentar (biar gak kematengan, biasanya setelah direbus langsung kumasukkan dalam air dingin untuk menghentikan pemasakan)
  • Brokoli juga direbus sebentar
  • Selada cukup dipotong-potong sesuai selera aja
Nb: untuk yang merebus sayuran hijau jangan lupa airnya dikasih garam sedikit ya, biar khasiat warna hijau sayurannya gak hilang

Setelah semua selesai, langsung kusimpan dalam wadah Tupperware, bukannya promosi merek ya, tapi memang beda kok kalau disimpan dalam wadah yang kurang kedap udara, soalnya aku biasanya bikin langsung banyak, makanya biar lebih awet harus disimpan dalam wadah yang kedap udara. Contohnya wortel parut kasar itu pernah kusimpan dalam wadah biasa, eee baru disimpan pagi, sorenya udah kering. Nah, kalau ditaruh di wadah yang kedap udara, bisa tahan sampai 2 hari atau maksimal 3 hari sudah harus habis. Trus, bagaimana mengkonsumsinya? Masa iya tuh sayur-sayur dimakan gitu aja? Hmm… tentu tidak! Tenang aja, dijamin enak kok! Karena sayur-sayur itu dimakan pakai mayonnaise, so rasanya gak kalah dengan salad sayur di Pizza Hut (ups!). biasanya aku beli mayonnaise yang ada di Indo atau Alfamart, merek Mamasuka, nah karena si mas gak suka dengan yang tawar (warna putih) makanya biasanya kubikin kayak di Pizza Hut yang warna agak merah itu, caranya dengan dicampur saus sambal dan merica bubuk. Taraaaa…. Makanan sudah siaaappp!!! :) si mas suka banget lho dengan salad ini, aku pun jadi girang, secara kan si Mas sebelumnya susah banget kalau disuruh banyak makan sayur, alhasil saat ke kantor pun dia minta dibawain salad dan jus tomat, biasanya begitu sampai kantor langsung disimpan dalam kulkas dan nanti pas istirahat baru dimakan. Kadang-kadang juga di atas saladnya kutaruh udang goreng crispy, wah makin mantap aja kayak Fresh Garden Salad nya KFC. Yummy…..

Rutinitas itu pun kami jalani hingga kurang lebih sebulan (sebenernya obatnya si mas hanya untuk 20 hari) tapi karena waktu periksa ke dokter Ryan pertama kali itu aku sedang haid, makanya mas nunggu sampai siklusku datang dulu, baru kalau memang beneran haid bulan itu baru kembali kontrol.

Akhir September – Akhir Oktober 2012
Assalamu’alaikum, dokter Ryan….
Yups! Tanggal 29 September 2012 kami kembali kontrol ke dokter Ryan, seperti biasa pak dokter yang satu ini memang doyan ngobrol, so meskipun sudah periksa ke dua kalinya tetap saja beliau mengajak ngobrol panjang, tentunya di luar tema pemeriksaan ya…
Setelah disuntik dan diberi obat, dokter menanyakan siklus haid-ku. Ohya bulan lalu saat periksa pertama dokter juga menghitung siklus haid-ku yang kemudian diberikan jadwal berhubungan buat kami. Yups! Memang harus dijadwal, karena biar bisa pas menyesuaikan dengan masa ovulasi sel telur. Nah, begitu sudah dihitung tanggal berapa terjadi ovulasi, maka dibuatlah jadwal berhubungan dalam radius 5 hari sebelum dan sesudah penghitungan masa ovulasi. Trus, bagaimana jadwalnya? Kalau menggunakan ilmunya dokter Ryan, hubungan suami istri dilakukan dengan memberi jarak 2 hari, contohnya; tanggal 10, kemudian tanggal 13, lalu tanggal 16, dst. Kenapa demikian? Karena sperma mampu bertahan selama 2 hari, sehingga meskipun dikeluarkan tanggal 10 dan pada tanggal itu belum bertemu dengan sel telur, maka sperma tersebut masih bisa bertahan (tidak mati) sampai 2 hari. Selain itu, pemberian jarak 2 hari adalah agar sperma kembali diproduksi oleh suami dan dimatangkan terlebih dahulu sebelum kembali dikeluarkan, karena jika misalnya dikeluarkan setiap hari maka kualitas sperma belumlah bagus atau belum matang, sementara jika kondisi sperma belum matang maka tidak akan mampu bertahan lama apalagi untuk membuahi, malah sperma yang baru tersebut berpotensi bisa merusak sperma yang telah dikeluarkan di hari sebelumnya yang sedianya masih harus bertahan 2 hari menunggu sang sel telur. Hhhhh…. Udah kayak ngasih 2SKS kuliah reproduksi nih. Hehe… ohya, kenapa aku bilang menurut ilmunya dokter Ryan? Karena aku udah beberapa kali ganti dokter kandungan di sidoarjo, dan menurut beliau-beliau penjadwalan hubungan suami istri beda dengan yang dibilang dokter Ryan. Begonooo… :)
 
Tak lupa, dokter Ryan gak ketinggalan berpesan “Kalo istrinya positif, saya dikabari ya…!:) trus dilanjutin lagi, “Kalo sudah telat 2 hari, boleh di-testpack

Oke, capcuss..!!

Di bulan ini kami masih terus menjalankan terapi dari dokter Ryan ya… mulai dari jus tomat rebus, konsumsi banyak sayur, pakai sarung, dan obat tentunya. Sampai kurang lebih sebulan kami kembali kontrol, lagi-lagi tentu saja menunggu siklus datang bulanku datang dulu (meskipun obatnya si Mas udah habis. Hehehe…)

Akhir Oktober – Akhir November 2012
Kembali kencan dengan dokter Ryaaan…!!!
Masih seperti 2 kali kontrol sebelumnya, kali ini tanggal 27 Oktober 2012 kami kembali kontrol. Masih seperti biasa, si Mas disuntik dan diberi obat dan kami masih diminta terus melanjutkan terapi-terapinya. Karena ini sudah kontrol ke tiga kali, menurut perhitungan dokter Ryan seharusnya sperma si Mas sudah pulih dan normal, makanya malam itu kami juga diberi surat rujukan untuk menjalani tes analisis sperma kembali untuk melihat peningkatan hasil treatment yang sudah dijalani selama kurang lebih 3 bulan itu.

Kata dokter Ryan, kalo sudah normal, bisa kembali melanjutkan program hamil dengan Dokter Maksum, Sp.Og. Kalau masih belum normal, ya lanjut dengan dokter Ryan dulu. Ohya, aku lupa cerita, jadi selama si Mas treatment dengan obat dari dokter Ryan, aku terus mengkonsumsi vitamin dan asam folat lho! Itu pesan dokter maksum waktu itu, makanya meski gak periksa dengan dokter maksum aku terus beli obat itu di apotik dan mengkonsumsinya tiap hari (jiaaahh… ketauan bo’ong-nya, padahal kan munim obatnya sering lupa-lupa males gitu. Wkwkwk…)

Setelah sebulan berlalu, sesuai siklus harusnya tanggal 27 November 2012 (hari Selasa) aku datang bulan, tapi sampai hari itu tak ada ‘tamu’ datang. Aku nggak kepikiran sama sekali kalau siklus bulan itu bakalan mundur, karena melihat beberapa bulan terakhir siklusku selalu tepat, atau kalaupun meleset maka bukannya mundur tetapi maju, itupun 1 hari saja.

Rabu, 28 November 2012, aku masih menunggu si ‘dia’ datang namun tak jua muncul. Belum sempat aku bilang sama si Mas, ternyata si Mas yang juga ikut menghitung siklusku akhirnya nyinggung duluan. “Udah telat sehari ya, Say? Kalo sampe 2 hari kan kata dokter Ryan boleh di testpack?!” Hmm…

Kamis, 29 November 2012, haid-nya tak juga datang. Sebetulnya aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku, terutama sejak kemarin dan hari ini, nggak tau kenapa kok tiba-tiba mual, mungkin efek sakit fertigo-ku yang baru-baru ini muncul, tapi aku simpan sendiri, aku nggak berani nunjukin ke si Mas, takutnya si Mas terlalu berharap namun akhirnya ternyata aku haid juga. Pagi itu kami melaksanakan aktifitas seperti biasa, si Mas pergi ke kantor, dan aku pergi ke Sekolah. Hari itu aku tak banyak jadwal mengajar, lebih banyak duduk-duduk di kantor, tapi aku merasa lemas sekali dan sedikit mual (meskipun nggak ada rasa ingin muntah).

Akhirnya, karena makin siang aku merasa makin mual, aku memutuskan untuk keluar ke apotik yang kebetulan ada di seberang gerbang sekolah. Biasanya aku selalu punya persediaan testpack di rumah, soalnya setiap belanja bulanan aku selalu mampir di Century beli testpack yang model compact merek HCG, harganya lumayan juga, tapi ya selalu terbuang sia-sia dengan hasil negatif. Hehehe… makanya hari itu mumpung di apotik ada banyak pilihan merek, aku mau beli yang murah aja, merek OneMed yang harganya 3000 rupiah itu lho! Dan gak tanggung-tanggung aku langsung beli 3pcs, tapi tiba-tiba jadi ragu sendiri, hmm… ya udah deh beli satu lagi yang sedikit mahal (meskipun masih lebih mahal yang HCG), kalau nggak salah mereknya Amor (what?? Merek apaan tuh?) ah, yah sudahlah, pokoknya beli aja, harganya juga cuman 10.000 rupiah kok.

Allahu Akbar…!!!
Sesampainya di kantor, aku langsung menuju ke kamar mandi, membawa gelas plastic kosong untuk penampung urine, kubuka kemasan testpack yang merek Amor dan kucelupkan strip-nya. Muncullah garis pertama, aku masih santai, “ah udah biasa” pikirku. Biasanya aku lantas mengalihkan pandangan dari strip testpack tersebut, karena memang biasanya aku akan menunggu cukup lama menanti garis kedua yang akhirnya nggak muncul juga sampai berjam-jam kemudian (hehehe…). Namun hari itu berbeda, karena setelah garis pertama muncul, hanya berselang beberapa detik muncullah garis ke-dua dengan sangat jelasnya. Hatiku menjerit, “ALLAHU AKBAR!!!” tak terasa tiba-tiba air mata meleleh begitu saja, aku masih belum juga percaya, dalam benakku terbersit keraguan “Jangan-jangan testpack merek Amor (yang belum pernah kubeli sebelumnya) punya aturan berbeda, jangan-jangan kalo yang merek amor itu 2 garis berarti negatif” akupun segera membaca petunjuk di kemasannya. “Allahu Akbar!! Ini benar-benar positif” aku menangis sesenggukan di dalam kamar mandi kantor. Akhirnya aku bergegas keluar dari kamar mandi. Kebetulan kamar mandi di kantor berdempetan dengan musholla kecil, entah sadar atau tidak sadar, aku yang tidak sedang memakai mukena, tidak dalam keadaan suci (belum wudlu) langsung saja bersimpuh di atas sajadah yang terhampar di lantai musholla, kupanjatkan sujud syukur sedalam-dalamnya, aku menangis, memekik dalam doa, mensyukuri betapa Allah Maha Baik, Allah Maha Memberi kejaiban, Allah Maha Mengabulkan doa hamba-Nya. Subhaanallah wal hamdu lillah wa laailaha illallah Allahu Akbar

Setelah selesai memanjatkan syukur, aku keluar kembali menuju kantor, tiba-tiba saja aku ling-lung mau berbuat apa, berpindah duduk dari satu ruangan ke ruangan yang lain hingga akhirnya aku bisa mengendalikan diriku sendiri. Kuraih handphone, hmm pulsa telpon sedang habis, kukirim BBM ke si Mas, “Mas telpon sekarang! Penting!”, dan si Mas langsung menelpon,

Ada apa, say?” aku langsung menangis, si Mas bingung,
 “Kenapa?”, tanyanya.
Sambil terbata-bata aku menjawab,
Adek hamil, Mas! Barusan di tes, positif
Alhamdulillaaah….” Kudengar si Mas spontan berseru. Ada getar dalam suaranya, aku tau si Mas juga ingin menahan haru namun ia terdengar lebih tenang.
Kapan tes-nya? Sekarang dimana? Sudah di rumah?” si Mas memberondongku dengan pertanyaan.
Kujelaskan semuanya kronologis yang kualami hari itu. Kudengar si Mas berulang kali mengucapkan syukur, seolah tak percaya bahwa panantian panjang itu akhirnya menemukan muaranya. Kami bersuka cita meski lewat media antara. Hari itu kami diliputi kebahagiaan tiada tara, tak terungkapkan. Terima kasih Ya Allah…..

Sesampainya kami berdua di rumah, kamipun berpelukan erat, berbahagia, dan bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Sang Pencipta yang memberikan anugrah pada saat yang tentunya sangat tepat. Setelah 2,5 tahun menunggu sejak kami menikah Juli 2010 lalu. Iya, memang hanya Allah yang tau yang terbaik untuk kita, dan hanya Allah yang tau saat yang paling tepat untuk kita. Fa biayyi aalaa’i Robbikumaa tukadzdzibaan….

17 April 2013

PROGRAM HAMIL (Part.2) Terratozoospermia



Melanjutkan dari cerita sebelumnya ya! Part.1 bisa dibaca di sini!

Setelah mendapatkan surat rujukan dari Dr.maksum untuk melakukan tes analisis sperma, kukira ini adalah titik terang yang akan membuka jalanku untuk melakukan ikhtiyar lebih lanjut. Kupikir, setelah mendapat rujukan itu, suami langsung mau cap-cus berangkat ke lab. Eeehh.. tenyata eh ternyata. Big No No..!! Si Mas masih aja mbulet gak mau ke lab, aku dah berusaha mengatur jadwal ‘berhubungan’ sebagaimana aturan yg diberikan dokter sebelum melakukan tes sperma. Eee pas udah diatur-atur gitu, si doi gak juga merespon dan tak kunjung berangkat ke lab.

Hingga akhirnya sebulan telah berlalu, setelah berkali-kali aku mengatur jadwal buat dia ke lab. Tepatnya saat itu adalah pertengahan bulan Syawal, dia setuju untuk berangkat ke lab. Lab pertama yang kami tuju tentu saja di RS.Semen Gresik, alasannya karena kita tahunya Dr.maksum itu dinasnya di situ, selain itu suami sahabatku dulu juga tes analisis sperma di situ.

Berangkat dari rumah menjelang Maghrib, kita sholat maghrib di masjid di pinggir jalan, setelah itu langsung menuju RS.Semen Gresik. Setelah mencari-cari tempat pendaftaran laboratoriumnya, eeee ternyata eh ternyata kata mbak-mbaknya sudah tutup lab-nya, selain itu menurut perhitungan dia ‘puasa berhubungan’ kita masih kurang 1 hari lagi. Nah loh??? Perasaan sudah sesuai dengan instruksi dokter deh. Akhirnya kita melenggang keluar RS tanpa hasil. Namun karena sudah terlanjur jauh-jauh berangkat dari rumah, masa’ iya gak dapet apa-apa. Akhirnya masih di parkiran RS si mas coba-coba cari alamat Lab.Parahita terdekat melalui mbah Google. Setelah ditelpon ternyata masih buka dan masih melayani tes. Tanpa banyak cing-cong kita langsung cap-cus meluncuurrr….

Sampai di TKP, si mas langsung registrasi dan gak lama petugasnya memberikan pengarahan dalam pengambilan sampel. Kurang dari 1 jam kami sudah keluar dari Parahita dan meluncur pulang. Sesampainya di rumah malam sudah cukup larut, dan setelah makan malam aku sudah merebahkan diri di kasur, tampak si mas masih melakukan ini itu di depan TV, waktu aku pamit untuk tidur duluan si mas mempersilahkan. Tapi gak lama dia nyusul ke kamar, saat itu lampu kamar sudah kumatikan meskipun aku belum terlelap, kulirik si mas di sampingku yang rebahan namun matanya masih melek, tampak wajahnya sangat gelisah, aku tidak ingin menerka-nerka, namun tiba-tiba saja si mas membuka pembicaraan, “Halah, ternyata di parahita aja simple, di RS.Semen kok pake ribet gitu”. Aku tidak menanggapi topiknya melainkan justru ‘menembaknya’, “Lho, kok tiba-tiba ngomongin parahita?? Masih kepikiran yang tadi ya??”. Si mas mengangguk pelan, dan akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan serius malam itu hingga hampir pagi.

Hal yang tak pernah kusangka sebelumnya bahwa kejadian malam tadi diiringi dengan pergolakan psikologis yang sangat besar dalam diri si mas. Malam itu, ia mencurahkan semuanya, mulai dari kenapa ia dulu sangat malas diajak memulai program hamil, kemudian bagaimana gejolak hatinya ketika harus melangkahkan kaki untuk melakukan tes sperma. Baginya, ia yakin bahkan telah mem-vonis dirinya sendiri bahwa  dirinya-lah yang ‘bermasalah’ sehingga kami tak kunjung diberikan momongan, sebab menurutnya selama ini aku sudah melakukan berbagai upaya baik medis maupun non medis dan hasilnya tetap nihil, begitu juga beberapa kali di USG dokter semua menyatakan aku dalam keadaan baik. Makanya si mas berkesimpulan bahwa dirinya-lah yang bermasalah, karena ia belum pernah diperiksa sama sekali dan belum pernah melakukan terapi medis atau non medis apapun.

Semakin larut, pembicaraan kami semakin emosional, mas mengutarakan kemungkinan-kemingkinan jika ternyata hasil lab menunjukkan ia tidak bisa memiliki anak. Kami menangis berdua, si mas bahkan sampai mengikhlaskan aku untuk memilih melanjutkan pernikahan atau memilih menghentikannya demi memperoleh keturunan. Aku pun histeris, bagaimana mungkin si mas memiliki pemikiran seperti itu, bukannya biasanya yang punya pemikiran seperti itu adalah istri, jika istri yang dinyatakan sulit untuk bisa memiliki keturunan. Kami pun berpelukan dengan erat, janji-janji pun kita perkuat tentang ikatan pernikahan kami, bahwa apapun yang terjadi kita akan terus mengarungi bahtera ini bersama, selamanya.

Seminggu berlalu, saatnya hasil lab bisa diambil. Saat itu kami berangkat dengan penuh kepasrahan, tak ada pembicaraan khusus mengenai hal ini lagi. Sampai Parahita aku turun dari motor dan langsung mengambil hasil labnya dan kemudian meluncur ke tempat praktek Dr.Maksum untuk menyerahkan hasil lab itu. Selama mengantre dokter, tanpa sepengetahuan si mas aku membuka segel amplop hasil lab itu, kulihat kesimpulan pemeriksaan yang tertera di sana, “Terratozoospermia”, alisku berkerut, gak ngerti. Yah sudahlah, karna kucari-cari istilah itu di internet juga tak ada yang membuatku yakin akhirnya aku pun bersabar sampai bertemu dengan Dr.maksum. Di dalam ruangan dokter, kamipun menyerahkan amplop tersebut, dokter membacanya dengan seksama, tak tampak ekspresi yang mencolok dari raut muka dokter maksum, beliau tampak tenang dan santai. Hingga akhirnya beliau membka pembicaraan “Hmm… insyaAllah gak papa, hanya ada sedikit masalah saja, diobati sebentar nanti sehat lagi” Alhamdulillah… kami berdua saling berpandangan dan si mas tersenyum lega.

Dokter menjelaskan bahwa jumlah sperma si mas jumlahnya sudah cukup banyak (tidak kurang), namun yang aktif dan bentuknya bagus hanya 17%, sementara normalnya untuk bisa membuahi adalah 44-50%, ada banyak factor yang menyebabkan kondisi ini, diantaranya kesibukan dan asupan makanan, kterangan selengkapnya nanti bisa ditanyakan pada doter spesialis andrologi. Okelah kalau begitu, kami mengerti. Dan di akhir sesi konsultasi dokter maksum memberikan surat rujukan keepada kami untuk menemui dokter spesialis andrologi untuk mengatasi kondisi yang dialami si mas, yakni Dr.Ryantono, Sp.And.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, si mas sekalian bertanya ke dokter maksum dimana lokasi praktek dokter Ryan dan apakah malam ini masih buka prakteknya karena waktu sudah pukul 8 malam. Setelah diberitahu arah menuju tempat prakteknya dan dipastikan bahwa jam segini masih buka, si mas mengajakku langsung meluncur ke sana menemui sang dokter andrologi malam itu juga.

4 Maret 2013

PROGRAM HAMIL (Part.1) Dari sini cerita PROGRAM HAMIL Bermula


Cerita ini kumulai dari sejak sebelum bulan Ramadhan tahun 2012 lalu. Saat itu, aku yang biasanya melepaskan gundah soal pengen momongan kepada sahabatku Barir (yang juga sedang menantikan hal yang sama), tiba-tiba mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan sahabatku tersebut. Aku sungguh ikut bahagia, mengingat curhatan kita setiap saat, kegalauan saat mendapat pertanyaan-pertanyaan menyudutkan soal momongan dari keluarga dan kerabat terdekat, beban-beban psikologis yang kami rasakan melihat suami yang sudah sangat menginginkan punya anak, hingga tingkat sensitifitas batin yang semakin tinggi seiring sikap-sikap suami yang tampak begitu care dengan keponakan-keponakannya hingga diri sendiri merasa terabaikan dan tidak berdaya.

Ikut bahagia sudah tentu, tapi tak dapat dipungkiri bahwa rasa iri dan cemburu itu dengan halus menelusup dalam hati. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” terlebih dulu diberikan kebahagiaan itu. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” kuanggap setelah ini akan menjadi tidak se-mengerti dulu dengan keadaan yang masih kualami. Namun aku sangat bersyukur, ia adalah sahabat yang sebenar-benar sahabat. Ia tidak meninggalkanku, justru ia mendorongku untuk tetap bersemangat dan tidak berhenti berusaha.

Awal Ramadhan 2012
Ramadhan tahun ini, aku merasa sangat beruntung karena Allah tidak membiarkan aku melewatkan salah satu episode tausiyah Ustadz Yusuf Mansur. Saat itu, sang ustadz membuka hari pertama bulan Ramadhan dengan menyerukan bahwa bulan ini adalah bulan bonus bagi semua umat Islam, dan secara spesifik beliau menyerukan kepada para jomblowan-jomblowati yang belum juga mendapatkan jodoh, kepada para pasangan yang ingin punya anak, dst. Bahwa bulan ini adalah SAATNYA. Saat dimana kita bersungguh-sungguh berdoa, ber-riyadhoh, bermunajat, meminta dengan segenap kemampuan beribadah agar segera terkabul keinginannya. Fiuuhh…. Seolah mendapat dorongan yang luar biasa, maka saat itu pula kuputuskan aku akan ber-riyadhoh sekuat tenaga untuk meminta kepada-Nya.

Maka mulai hari pertama bulan Ramadhan, aku pending doa-doa dan permintaan yang lain. Hanya doa minta anak, anak, dan anak. Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan di setiap usai sholat sunnat, lagi-lagi minta anak, anak, dan anak. Aku tidak mau menyia-nyiakan bulan besar ini, karena aku yakin, bahwa inilah SAATNYA meneroboskan doaku menuju ‘Arsy yang sedang dibuka selebar-lebarnya bagi seluruh umat islam yang beribadah dan berdoa serta bertaubat.

Pertengahan Ramadhan
Aku lupa dalam rangka apa aku dan suami main ke rumah sahabatku di Gresik, yang jelas saat itu bertepatan dengan hari dimana sahabatku sedang ada jadwal periksa kandungan. Nah, dari sinilah cerita bermula. Usai buka puasa bersama di rumahnya, aku dan sahabatku berbisik-bisik merencanakan sesuatu, dan akhirnya dia sepakat untuk membujuk suamiku untuk ikut serta ke dokter. Awalnya suami nggak mau, alasannya “mau ngapain, bengong nungguin orang periksa”, sahabatku tak habis pikir, ia bilang “ya dari pada diem di rumah, mending ikutan, nanti pas kita periksa, kalian bisa jalan-jalan sambil wisata kuliner, kan di sekitar tempat praktek dokterku banyak makanan enak-enak”. Akhirnya suami setuju. Yes!!

Memasuki tempat praktek dokter Spog, ternyata suasananya tidak begitu ramai, mungkin karena bulan puasa dan baru lepas Maghrib, jadi antreannya belum terlalu panjang. Nah, lagi-lagi sahabatku menawari aku (tapi cuman pura-pura, soalnya emang dah rencana dari awal) dan suami untuk ikut mengantre. Suami pun menolak, atau lebih tepatnya tidak terlalu merespon. Sahabatku kembali membujuk, “Ayolah, iseng-iseng aja periksa, mumpung gak antre”, akupun menimpali “Yuk say! Coba-coba..”. Setelah beberapa saat lamanya, keluarlah kata sakti dari mulut suamiku “yo wes, sembarang” (ya udah, terserah). Yes!! Kalo udah keluar kata ‘terserah’ itu artinya suamiku setuju.

Setelah menunggu, tibalah giliran kami. Kami ditanya sudah berapa lama menikah, sudah pernah ikut program hamil di dokter kandungan sebelumnya atau belum, obat apa saja yang pernah dikonsumsi, bagaimana siklus haid-ku, apakah selalu disertai nyeri haid, dst. Setelah itu aku di-USG. Alhamdulillah menurut pantauan dokter kondisi rahimku sejauh ini baik. Barulah setelah itu dokternya menjelaskan step-step yang harus dilalui. Mulai dari si istri minum vitamin (asam folat), paling tidak selama 3 bulan, kemudian jika belum hamil dilanjutkan minum obat penyubur 3 bulan, dan jika belum hamil juga maka akan dilakukan HSG (USG vagina / USG dalam) yang akan dilihat apakah ada penyumbatan yang mengharuskan dilakukan operasi atau tidak, dan step-step selanjutnya yang akan bisa diusahakan bila belum kunjung hamil juga.

Setelah bicara tentang istri, barulah untuk suami. Menurut pak dokter, kalo untuk suami simple aja, yang pertama harus dilakukan tes analisis sperma. Katanya, dari situ akan dilihat kondisi sperma suami sehat atau tidak, jika kurang sehat maka harus diterapi hingga normal kembali. Sudah!! Yups, memang hanya itu saja stepnya, tidak seperti step-nya istri yang ada banyak. Nah, malam itu juga dokter memberi surat pengantar ke laboratorium untuk melakukan tes analisis sperma, dengan dijelaskan aturan-aturannya sebelum melakukan tes tersebut (yaitu puasa ‘berhubungan’ beberapa hari sebelum tes).

Oke deh pak Dr.Maksum, Sp.Og. makasih….