4 Maret 2013

PROGRAM HAMIL (Part.1) Dari sini cerita PROGRAM HAMIL Bermula


Cerita ini kumulai dari sejak sebelum bulan Ramadhan tahun 2012 lalu. Saat itu, aku yang biasanya melepaskan gundah soal pengen momongan kepada sahabatku Barir (yang juga sedang menantikan hal yang sama), tiba-tiba mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan sahabatku tersebut. Aku sungguh ikut bahagia, mengingat curhatan kita setiap saat, kegalauan saat mendapat pertanyaan-pertanyaan menyudutkan soal momongan dari keluarga dan kerabat terdekat, beban-beban psikologis yang kami rasakan melihat suami yang sudah sangat menginginkan punya anak, hingga tingkat sensitifitas batin yang semakin tinggi seiring sikap-sikap suami yang tampak begitu care dengan keponakan-keponakannya hingga diri sendiri merasa terabaikan dan tidak berdaya.

Ikut bahagia sudah tentu, tapi tak dapat dipungkiri bahwa rasa iri dan cemburu itu dengan halus menelusup dalam hati. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” terlebih dulu diberikan kebahagiaan itu. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” kuanggap setelah ini akan menjadi tidak se-mengerti dulu dengan keadaan yang masih kualami. Namun aku sangat bersyukur, ia adalah sahabat yang sebenar-benar sahabat. Ia tidak meninggalkanku, justru ia mendorongku untuk tetap bersemangat dan tidak berhenti berusaha.

Awal Ramadhan 2012
Ramadhan tahun ini, aku merasa sangat beruntung karena Allah tidak membiarkan aku melewatkan salah satu episode tausiyah Ustadz Yusuf Mansur. Saat itu, sang ustadz membuka hari pertama bulan Ramadhan dengan menyerukan bahwa bulan ini adalah bulan bonus bagi semua umat Islam, dan secara spesifik beliau menyerukan kepada para jomblowan-jomblowati yang belum juga mendapatkan jodoh, kepada para pasangan yang ingin punya anak, dst. Bahwa bulan ini adalah SAATNYA. Saat dimana kita bersungguh-sungguh berdoa, ber-riyadhoh, bermunajat, meminta dengan segenap kemampuan beribadah agar segera terkabul keinginannya. Fiuuhh…. Seolah mendapat dorongan yang luar biasa, maka saat itu pula kuputuskan aku akan ber-riyadhoh sekuat tenaga untuk meminta kepada-Nya.

Maka mulai hari pertama bulan Ramadhan, aku pending doa-doa dan permintaan yang lain. Hanya doa minta anak, anak, dan anak. Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan di setiap usai sholat sunnat, lagi-lagi minta anak, anak, dan anak. Aku tidak mau menyia-nyiakan bulan besar ini, karena aku yakin, bahwa inilah SAATNYA meneroboskan doaku menuju ‘Arsy yang sedang dibuka selebar-lebarnya bagi seluruh umat islam yang beribadah dan berdoa serta bertaubat.

Pertengahan Ramadhan
Aku lupa dalam rangka apa aku dan suami main ke rumah sahabatku di Gresik, yang jelas saat itu bertepatan dengan hari dimana sahabatku sedang ada jadwal periksa kandungan. Nah, dari sinilah cerita bermula. Usai buka puasa bersama di rumahnya, aku dan sahabatku berbisik-bisik merencanakan sesuatu, dan akhirnya dia sepakat untuk membujuk suamiku untuk ikut serta ke dokter. Awalnya suami nggak mau, alasannya “mau ngapain, bengong nungguin orang periksa”, sahabatku tak habis pikir, ia bilang “ya dari pada diem di rumah, mending ikutan, nanti pas kita periksa, kalian bisa jalan-jalan sambil wisata kuliner, kan di sekitar tempat praktek dokterku banyak makanan enak-enak”. Akhirnya suami setuju. Yes!!

Memasuki tempat praktek dokter Spog, ternyata suasananya tidak begitu ramai, mungkin karena bulan puasa dan baru lepas Maghrib, jadi antreannya belum terlalu panjang. Nah, lagi-lagi sahabatku menawari aku (tapi cuman pura-pura, soalnya emang dah rencana dari awal) dan suami untuk ikut mengantre. Suami pun menolak, atau lebih tepatnya tidak terlalu merespon. Sahabatku kembali membujuk, “Ayolah, iseng-iseng aja periksa, mumpung gak antre”, akupun menimpali “Yuk say! Coba-coba..”. Setelah beberapa saat lamanya, keluarlah kata sakti dari mulut suamiku “yo wes, sembarang” (ya udah, terserah). Yes!! Kalo udah keluar kata ‘terserah’ itu artinya suamiku setuju.

Setelah menunggu, tibalah giliran kami. Kami ditanya sudah berapa lama menikah, sudah pernah ikut program hamil di dokter kandungan sebelumnya atau belum, obat apa saja yang pernah dikonsumsi, bagaimana siklus haid-ku, apakah selalu disertai nyeri haid, dst. Setelah itu aku di-USG. Alhamdulillah menurut pantauan dokter kondisi rahimku sejauh ini baik. Barulah setelah itu dokternya menjelaskan step-step yang harus dilalui. Mulai dari si istri minum vitamin (asam folat), paling tidak selama 3 bulan, kemudian jika belum hamil dilanjutkan minum obat penyubur 3 bulan, dan jika belum hamil juga maka akan dilakukan HSG (USG vagina / USG dalam) yang akan dilihat apakah ada penyumbatan yang mengharuskan dilakukan operasi atau tidak, dan step-step selanjutnya yang akan bisa diusahakan bila belum kunjung hamil juga.

Setelah bicara tentang istri, barulah untuk suami. Menurut pak dokter, kalo untuk suami simple aja, yang pertama harus dilakukan tes analisis sperma. Katanya, dari situ akan dilihat kondisi sperma suami sehat atau tidak, jika kurang sehat maka harus diterapi hingga normal kembali. Sudah!! Yups, memang hanya itu saja stepnya, tidak seperti step-nya istri yang ada banyak. Nah, malam itu juga dokter memberi surat pengantar ke laboratorium untuk melakukan tes analisis sperma, dengan dijelaskan aturan-aturannya sebelum melakukan tes tersebut (yaitu puasa ‘berhubungan’ beberapa hari sebelum tes).

Oke deh pak Dr.Maksum, Sp.Og. makasih….

New Labels, New Story


Tulisan ini kutulis saat kehamilanku memasuki usia hampir 20 minggu. Ada beberapa alasan yang membuat akhirnya aku ingin mendokumentasikan semua proses yang kami jalani beberapa bulan terakhir ini. Diantaranya;
  • Supaya bisa dijadikan kenang-kenangan suatu saat nanti, coz aku percaya bahwa tulisan adalah dokumentasi paling abadi dan mudah dimengerti.
  • Selama menantikan datangnya kehamilan, aku banyak membaca tulisan di blog-blog pribadi wanita-wanita di luar sana, so aku ngerasa terbantu sekali sekaligus termotivasi untuk tidak berhenti berharap dalam penantian menunggu buah hati yang saat itu telah lewat dari 2 tahun dari pernikahan kami. Makanya, aku juga berharap tulisan ini akan menambah masukan, referensi, dan motivasi bagi wanita-wanita  cantik di luar sana yang juga sedang mengalami hal yang serupa
  • Harapannya sih bisa konsisten nulis terus dokumentasinya (alias nggak angot-angotan), sehingga ceritanya bisa runtut dan kelak bisa dibaca oleh si kecil yang tidak lain adalah salah satu tokoh utama dalam tulisan-tulisan ini ke depannya.
  • Semoga juga bisa ketulis terus mulai dari proses program hamilnya sampai kelahiran, hari-hari bersamanya, hingga kelak ia besar. Aamiin…
  • Dst.
Dan akhirnya, dengan ini resmi saya mulai tulisan tentang kami (aku, suami, si dedek kecil), yang tentunya akan muncul label-label baru tentang semua itu. Selamat menikmati!! :)

15 Desember 2011

Princess Sultana; Feminist di Negeri Patriarkis yang Agamis

Di Indonesia para kaum Feminist memperjuangkan emansipasi wanita sudah sangat lama, hasilnya tentu sudah jauh berkembang, meski pada akhirnya tak jarang aspirasi mereka dalam memperjuangkan kesetaraan kaumnya menjadi berbenturan dengan nilai agama.

Siapa sangka, di Arab saudi pun ada kaum serupa dan tentu saja perjuangan Feminist di sana menjadi sangat alot dan terjal, karena mereka berada di negara berhukum Islam dengan budaya yang sangat patriarkis.

Dialah Putri Sultana binti Al Saud, seorang putri dari kerajaan yang memerintah di Arab Saudi. Setelah jatuh bangun merintis pemberontakan terhadap ketertindasan kaum wanita atas dominasi lak-laki dan akhirnya berujung tak manis, ia akhirnya menggunakan buku sebagai medianya. Melalui buku yg di tulis oleh temannya dari Amerika, Jean P. Sasson, sang putri bercerita dan membongkar budaya patriarkis di negaranya yg mengganggunya seumur hidup karena tingginya tembok kerajaan menutup segala akses langkahnya.

Berikut statement terakhir dari sang putri:
"Hingga fakta-fakta yang hina ini diberitahukan kepada publik, tidak akan ada yang menolong; buku ini seperti langkah awal seorang bayi yang tidak akan pernah dapat lari tanpa usaha pertama yang berani untuk berdiri di atas kaki sendiri. Jean, aku dan kamu yang akan mengaduk-aduk abu dan menghidupkan api pertama. Katakan padaku, bagaimana dunia akan datang membantu kita jika ia tidak mendengar teriakan kita? Dalam jiwaku kurasakan; inilah permulaan perubahan untuk kita, perempuan."

PRINCESS
By: Jean P. Sasson

13 November 2011

Tulisanku dalam Buku Antologi Perjalanan Haji dan Umroh "Too Good To Be True"

Dan akhirnya fotocopy KTP beserta segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku, 

Bismillahirrahmanirrahiim….
Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus menguras air mataku.

Labbaik Allahumma Labbaik…
Labbaika Laa syariika laka labbaik…
Innalhamda wan ni’mata laka wal mulk…
Laa syariika laka…

Tulisan di atas adalah sedikit potongan cerita dalam tulisanku yang berjudul "Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH" (full version-nya ada di sini, tapi before editing ya..!!)

Cerita dalam tulisan tersebut memang untuk kebanyakan orang agak lucu, menggelikan, dan konyol. Tapi bagiku, cerita di dalamnya sangat serius, se-serius niatku yang kutumpahkan di dalamnya. Awalnya hanya ingin mendokumentasikan kejadian yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu, kemudian muncul keinginan untuk mempublikasikan dalam blog pribadiku, dan lagi-lagi bukan untuk apa atau apa, hanya ingin semakin memantapkan niat dan agar diamini dan didoakan oleh siapapun yang membacanya dan merestui niat itu.

Namun, beberapa minggui yang lalu aku justru menemukan jalan bagi tulisan ini. Berawal dari secara tidak sengaja membaca tulisan di FB tentang sayembara menulis pengalaman nyata menganai Haji dan Umroh. Nyata?? iya, memang harus cerita nyata. Pengen banget ikutan, tapi aku?? Aku nggak punya pengalaman nyata tentang itu.

Tiba-tiba aku teringat tulisan yang baru beberapa hari kutulis dan masih kusimpan dalam file laptop. Hmm.. Anyway, coba saja deh! Kalau tidak lolos, at least sudah dibaca oleh panitia seleksi yang artinya ada tambahan orang yang membaca dan semoga saja mengamini doaku yang kutuangkan di dalamnya. Akhirnya, tepat satu hari sebelum daedline pengumpulan naskah, tulisanku tersebut kukirimkan.

Dua minggu berlalu, dan aku tak banyak membuka FB karena pulang ke rumah orang tua selama suami bertugas ke luar kota. Tak taunya, jereng..jreng..jreng..jreng.... barulah kuketahui bahwa tulisanku tersebut lolos seleksi menjadi salah satu tulisan yang dibukukan dalam buku Antologi Perjalanan Haji dan Umroh berjudul "Too Good To Be True"

Dari Event Menulis Pengalaman Berkesan Umroh & Haji
Judul: Too Good To Be True
Penulis : DianNafi dkk
Penerbit: Hasfa Publishing
170 hlm.

Naskah yang masuk di antologi ini :

1. Panggilan Datang Lewat Mimpi – Nenny Makmun
2. Surga Dan Neraka Dunia
3. 30 Tahun Panggilan Tak Terjawab
4. Ketika Panggilan Itu Datang
5. Taman Penuh Bintang
6. Tips Dalam Haji
7. Keajaiban Doa Yang Terkabul
8. Perjalanan Kami Menuju Baitulloh 1430 H
9. Baitullah, Tempat Allah Memperkenalkan Padaku Cara Mencintainya
10. Saat Hatiku Menuju Cahayamu
11. Kasih-Nya Begitu Indah
12. Pendar Di Sepenggal Malam
13. Air Mata Untukmu…Hajar Aswad
14. Napak Tilas Jejak Nabi
15. Janganlah Menunda-Menunda Niatan Suci Kita!
16. Mendulang Berkah Umroh
17. Dalam Pelukan Serindu
18. Oleh-Oleh Dari Tanah Suci
19. Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH, by Faiqoh Fauzie
20. Ucapanku, Doaku
21. Hasratku Menggapai Rumahmu
22. Nazar Yang Diijabah – Nenny Makmun
23. Kenangan Indah Di Nabawi
24. SITI HAJAR DAN ANAH
25. Another Journeys
26. Story Mom From Mecca
27. Menjejak Cinta-Mu Di Bumi Para Nabi
28. Hajiku Untuk-Mu Adalah Citaku
29. Jalan Panjang Menuju Baitullah
30. Bismillah, Kupenuhi Panggilan Mu Ya Allah
31. Menuai Hikmah Dari Si Kaki Pincang
32. Tenggelam Di Gurun Teguran Untuk Pencuri Air

Ohya, tulisan ini juga khusus kupersembahkan untuk orang-orang yang terlibat di dalam cerita yang ada di dalamnya;
- Mahmudah alias Mamah dan Manawaroh alias Munay,dua orang teman kost yg juga celengers
- Eiz, saksi mata kehebohan kita bertiga saat celeng-menceleng
- Mas Afa, Kakak sekaligus karyawan Marketing tabungan haji Bank Mega Syari'ah yang menerima uang penuh lipatanku
- Neng Aniq, teman lama yg tak sengaja aku menemukan tulisan tentang sayembara ini di wall FBnya.

9 Oktober 2011

Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH


Hari-hari di bulan Dzulqo’dah hingga Dzulhijjah seperti ini menjadi bulan yang ‘mellow’ banget buatku, dan itu sudah berlangsung sejak belasan tahun yang lalu. Pasalnya, di bulan tersebut adalah saat dimana ummat Muslim di dunia ini melaksanakan ibadah haji. Nah, lantas apa hubungannya bulan haji dengan mellow-nya diriku? Yups, nggak tau kenapa aku selalu saja merasakan getaran yang sangat dahsyat ketika melihat ka’bah (gambarnya ya, kan belum pernah secara langsung). Selain ka’bah, ada satu lagi ‘pernik’ haji yang ketika muncul maka silahkan sahabat sekalian menghitung mundur 3 s/d 1 maka langsung byuurrr….. melelehlah air mataku.

Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika laa syariika laka labbaik…

Getaran itu tak pernah sembuh dan aku pun tidak menginginkannya menghilang dari diriku. Tentunya sudah tidak perlu ditanyakan lagi sebesar apa keinginanku untuk beribadah di sana, amat sangat banget-banget very much!!!

Menyadari bahwa keinginan mulia itu haruslah diusahakan, selain dengan ibadah yang terus diperbanyak dan ditambah kualitasnya agar ‘panggilan’ itu segera datang, juga yang tidak boleh dikesampingkan adalah tabungan.

Dulu saat masih kuliah di Jakarta, secara tidak sengaja aku membeli sebuah celengan terbuat dari kaleng yang hanya terdapat satu lubang yang digunakan untuk memasukkan uang ke dalamnya, selain dari lubang tersebut tidak ada jalan lain menuju rongga di dalamnya, sehingga tak ada cara buatku untuk tergiur membukanya saat kepepet butuh duit. Berawal dari celengan seharga sepuluh ribu rupiah itulah komitmen untuk rutin mengisinya dimulai. Uang pecahan seribu rupiah yang akhirnya kupilih untuk mengisinya, alasannya karena tidak terlalu berat buat anak kost sepertiku, biasanya sisa kembalian uang angkot atau sisa beli sarapan sebelum berangkat kuliah kusisihkan dan segera kumasukkan ke dalam celengan kaleng itu. Dan yang tak kalah menyenangkan adalah karena kedua orang teman di pesantren pun mengekor, mereka ikut-ikut membeli celengan yang sama, walhasil kita bertiga pun berpacu untuk serajin mungkin mengisinya, meski tak jarang berbuntut dengan ledek-meledek kala ada satu orang yang mengisi celengannya sementara yang lain merasa sudah berminggu-minggu absen mengisi celengan.


Cieee…. Ehm..ehm..  Nyelengi teruusss! Ngisi Teruusss! Penuh, penuh, penuh!!

Ada satu lagi yang menarik dari celengan itu, di sisi kaleng tersebut kutempelkan kertas bertuliskan “ONH” alias Ongkos Naik haji. Hihihi… lucu kan?? Terlihat konyol sih, tapi nggak tau kenapa aku benar-benar sepenuh hati waktu menulisnya, dan satu lagi, aku dengan PD-nya memajang kaleng itu di atas lemari bukuku.

Saat kami bertiga telah lulus, satu persatu membuka celengan masing-masing yang memang sudah penuh. Meski membukanya di rumah masing-masing kami berkomitmen untuk saling memberitahu isi tabungan yang diperolehnya. Karena si Munay yang lulus terlebih dahulu, maka dialah yang pertama kali memecah celengannya, dan totalnya tigaratus sekian ribu. Ahhhaaa…. Aku langsung menghayal dan PD dalam hati, “pasti punyaku lebih dari 500 ribu ” karena aku masih ingat banget selain uang pecahan Rp.1000 aku juga pernah mengisinya dengan uang pecahan Rp.5000 sampai Rp.20.000. (Oh ya, by the way, Celengan si Mamah berapa ya isinya? Lupa nanyain sampai sekarang, lulusnya belakangan sih…)

Beberapa bulan berkutnya, giliran aku yang lulus dan kembali ke kampung halaman. Harusnya sih tiba waktunya aku mebuka celengan, tapi entah kenapa aku tak sampai hati membongkar kaleng berwarna pink bergambar strawberry itu. Bulan berganti bulan sampai aku masuk kuliah S2 pun tak segera kubuka. Alasannya, karena masih bingung. Bingung nanti mau diapain uangnya, nggak seberapa sih, tapi kan sayang kalau ujung-ujungnya cuman buat jajan atau beli baju, secara kan ngumpulinnya lama banget, masa iya dihabisin buat jajan begitu aja. Buat daftar haji?? Owalah… jauh banget….!!! Hehehe

Sampai suatu hari di bulan Ramadhan, aku yang gandrung banget sama sinetron Para Pencari Tuhan dibuat terharu dengan perjuangan Asrul dan Udin. Asrul, tokoh yang digambarkan amat sangat miskin, bahkan untuk makan sehari-hari pun menunggu uluran tangan dari tetangga dan juga memetik bayam yang tumbuh liar seperti rumput di kebun pak Jalal. Sementara Udin, seorang Hansip yang menyambi bekerja sebagai tukang ojek dan sesekali juga melakukan apa saja yang disuruhkan oleh Pak Jalal kepadanya. Mereka berdua dengan gigih mengumpulkan uang gopek demi gopek, seceng demi seceng, goceng demi goceng mereka kedalam sebuah kotak kayu yang ia simpan di dalam tanah saking pengennya bisa naik haji.

Hmm… pengen deh kayak gitu. Mungkin nggak sih itu ada dalam kehidupan nyata?? Tentu sangat mungkin, karena beberapa hari yang lalu aku menyaksikan sendiri liputan di TV mengenai cerita yang serupa. Seorang janda setengah baya dengan 3 orang anak yang tinggal di sebuah desa kecil di salah satu kabupaten di Jawa tengah, sehari-hari ia tinggal di sebuah gubuk yang penuh dengan rongga cahaya di sana-sini karena terbuat dari bilik bambu dan seng yang telah lapuk. Setiap hari ia berjualan kue khas daerah setempat (aku lupa nama makanannya, yang jelas aku belum pernah menemuinya di daerah tempat tinggalku). Dengan penghasilan paling besar adalah 25.000 rupiah setiap hari, siapapun tak akan menyangka, bahwa di tahun ini ia berhasil mewujudkan impiannya untuk beribadah di tanah suci memenuhi panggilan-Nya.

Rahasianya? Ternyata si ibu sudah menabung sejak 13 tahun yang lalu, ia rajin mengumpulkan uang yang didapatnya (setelah digunakan untuk keperluan sehari-hari) dan kemudian membelanjakannya untuk membeli perhiasan emas yang kemudian ia masukkan ke dalam sebuah gelas plastik dan menguburnya di dalam tanah yang tidak lain adalah lantai rumahnya. Dari tabugnan yang disiplin ia kumpulkan itulah, tahun ini telah menggenapkan keinginannya untuk mencium Hajar Aswad dengan dibelai cinta-Nya di tanah yang sangat mulia, Makkah al-Mukarromah.

Dari situlah aku meneguhkan hatiku untuk tidak tergoda menggunakan uang celengan yang tak seberapa itu, bagaimanapun juga, sampai kapanpun juga, menunggu se-lama apapun juga, celengan itu harus tetap pada niatnya sedari awal, yaitu ONH, sesuai dengan tulisan yang masih menempel di sisi kaleng berdiameter 15 cm tersebut.

Dan setelah menganggur hampir setahun sejak kelulusanku dari S1, akhirnya celengan itu bertemu dengan nasib yang digariskan untuknya. Semua berawal tatkala kakakku yang nomer dua mengadu nasib di Jakarta, ijazah Sarjana Hukum yang digenggamnya gagal mengantarkannya untuk duduk di sebuah law firm seperti yang diidamkannya, karena nasib memaksanya banting stir dan menerima apapun peluang yang ada didepan matanya.

Lowongan sebagai marketing di Bank Mega Syari’ah pun diterimanya. Kejaran target perolehan nasabah yang harus didapatnya untuk bisa memantapkan posisinya di kantor lah yang akhirnya mau tidak mau membuat seisi rumah dibuat heboh, karena ia memaksa kami serumah untuk membuka rekening haji di bank tempat ia bekerja, tidak hanya kami serumah, saudara-saudara dekat, saudara-saudara jauh, hingga teman-teman lama pun ia todong untuk mau menyisihkan uangnya sebagai saldo awal membuka tabungan haji. Semua pun tak tega melihat dia pontang-panting mencari nasabah sebegitu banyaknya, demi memenuhi target yang bisa mengubah nasibnya dari pegawai kontrak menjadi seorang karyawan tetap, bahkan terus menanjak menjadi Team Leader hingga (kandidat) Regional Marketing Manager seperti yang telah dicapainya sekarang.

Dari situlah celenganku menemukan masa depannya, dengan minimal saldo awal sebesar Rp.200 ribu saja kami sudah bisa mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM bergambar ka’bah.

Yes, it’s time to break the Celengan. Disaksikan orang seisi rumah, celengan kaleng itu kubuka menggunakan gunting, lembar demi lembar kubuka lipatannya dan kususun per sepuluh lembar agar lebih mudah menghitung. Deg-degan banget rasanya, rasa percaya diri bahwa isinya akan melebihi nominal 500 ribu pun perlahan berangsur-angsur memudar, karena ternyata isi celengan itu hanya Dua Ratus Enam Puluh Dua Ribu Rupiah. Alhamdulillah…. Yang penting bisa buat membuka rekening haji lah… hehehe…

Dan akhirnya fotocopy KTP beserta segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku, Bismillahirrahmanirrahiim…. Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus menguras air mataku.

Labbaik Allahumma Labbaik…
Labbaika Laa syariika laka labbaik…
Innalhamda wan ni’mata laka wal mulk…
Laa syariika laka…