20 Januari 2010

Ayahku (juga) Ayah Juara Satu Seluruh Dunia


Rabu, 30 Desember 2009, tak kusangka di hari itu menjadi hari di mana aku tergerak kembali untuk menulis setelah beberapa lamanya aku tak mampu melakukannya. Hari itu aku sengaja pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas kuliahku, kemudian melanjutkannya dengan menonton film Sang Pemimpi (sekuel film Laskar Pelangi), film yang didedikasikan setinggi-tingginya oleh si pemilik cerita (Andrea Hirata) kepada Ayahnya, Ayah juara satu seluruh dunia.

Dari film itu, hanya ada satu tanggapan yang ingin kukeluarkan dari mulutku, ”Ayahku juga Ayah juara satu seluruh dunia”. Meski aku tak sempat lama mengenalnya, tetaplah beliau Ayah paling juara. Meski Ayahku tak pernah mengambilkan rapor sekolah untukku, tetaplah beliau yang paling juara. Meski Ayahku tak pernah mengantarkan kepergianku ke perantauan untuk menuntut ilmu, tetaplah beliau Ayah paling juara. Iya, juara satu seluruh dunia.

Aku masih belum genap berusia 8 tahun saat aku menyaksikan kesibukan Ibu tidak seperti biasa. Ibu yang biasanya setia menemaniku dan saudara-saudariku di rumah, menyiapkan keperluan sekolah, menemani mengerjakan PR sekolah, dan mengejar-ngejarku yang sering enggan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tapi saat itu semua pekerjaan Ibu itu dipindah tangan oleh bulekku yang tidak lain adalah adik kandung Ibuku.

Setiap aku bangun pagi, tak kulihat lagi Ibuku hingga aku tertidur lagi di malam harinya. Ibu menghabiskan waktu menemani Ayah di Rumah Sakit selama berminggu-minggu. Aku sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi dengan Ayahku, yang jelas aku masih ingat saat hari Minggu aku dan saudara-saudariku pernah diantar oleh Bulekku menemui Ayah, di sebuah kamar rumah sakit yang dihuni oleh tiga orang pasien yang salah satunya adalah Ayah.

Aku masih ingat, saat itu aku masuk ke dalam kamar itu dan segera berhambur memeluk Ayah yang sama sekali tak kulihat sedang sakit, karena selain tubuhnya yang tampak lebih kurus dari sebelumnya aku tak melihat tanda-tanda lain layaknya orang yang sedang sakit selain senyumnya yang sangat kurindukan. Ia membentangkan kedua tangannya menantiku yang sedang berlari kearah pelukannya.

Diciumnya kepalaku sangat dalam, aku tak tau apa yang sedang dirasakannya. Yang jelas aku bahagia karena bisa memeluk Ayahku meski sempat pula aku heran mengapa aku yang sedang diliputi bahagia saat itu justru kulihat Bulekku menangis sejadi-jadinya menyaksikan apa yang kami lakukan.

Setelah beberapa saat aku dalam pelukan Ayah di atas tempat tidurnya, Ibu menghampiri kami kemudian menggendong dan membawaku ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Ibu, aku melihat saudara-saudariku secara bergantian dipeluk Ayah dan lagi-lagi Bulek menangis menyaksikannya.

Dalam kesempatan itu, aku sempat bertanya kepada Ayah kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah tidur di rumah lagi? “Kan adek kangen, Yah…” aku merengek kepada Ayah dan Ibuku di sana.
Aku masih ingat betul Ayah menjawab pertanyaanku “Iya, bentar lagi Ayah dan Ibu pulang kok”. Aku bahagia sekali mendengarnya, apalagi kusaksikan Ayah tersenyum kepadaku.

Beberapa saat berselang, saat aku manikmati jeruk yang disuapkan oleh Ayah, kami melihat salah seorang pasien di kamar itu sedang diperiksa oleh seorang dokter wanita berjilbab. Dari jauh aku memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh dokter anggun itu kepada pasiennya. Tampaknya Ayah senang melihatku memberi perhatian atas apa yang dilakukan oleh dokter muslimah itu.

Adek, mau nggak jadi dokter?” Tanya Ayah membuyarkan konsentrasiku.
Mau, adek mau, Ayah!” jawabku bersemangat.
Iya, ntar kalau adek udah gede, adek jadi dokter ya! Kayak Bu Dokter itu, pinter, baik, dan pakai jilbab
Iya, Ayah. adek mau ntar jadi dokter kayak Bu Dokter itu, cantik, trus bisa nolongin orang, iya kan, Yah?
Iya, Sayang…

Aku merasa sangat tenteram mendengar ucapan Ayah. Ucapan Ayah yang akhirnya menjadi kalimat terakhir yang mampu kuingat dari Ayah yang sangat kucintai itu. Janji Ayah untuk segera kembali pulang ke rumah dipenuhinya, tapi tidak untuk menemani tidurku lagi, karena beberapa hari berselang dari hari itu, Ayah kembali pulang ke rumah diantar mobil jenazah.

Semua orang bersedih, menangis terlebih saat melihatku yang saat itu masih sangat kecil untuk menjalani hidup sebagai anak yatim. Saat itu memang aku tidak menangis karena aku belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tapi, saat aku sudah beranjak besar dan dewasa, barulah kurasakan rindu yang amat mendalam kepada Ayah yang tak sempat dekat kukenal itu. Ayah…

Januari, 2010
Tahun ini, adalah tahun ke-17 kami hidup tanpa ayah, ayah yang wajahnya hanya bisa kulihat dari lukisan besar yang dipajang di kamar Kakak sulungku, ayah yang kehadirannya selalu kurasakan terlebih saat menyambangi rumah abadinya.

Ayah... tahun ini usiaku sudah 25, ayah ’di sana’ pasti ngikutin kan semua perkembanganku? Ayah, di usiaku yang akan bertambah bulan depan, aku ingin cerita banyak hal sama ayah, tentang kuliahku, tentang teman-temanku, tentang kekasihku, dan semuanya. Ayah pasti seneng deh!

Ayah... Tahun ini, kita ulang tahunnya deketan lho! Beda cuman 6 hari, tapi aku janji deh ntar aku khataman sendirian 30 juz, khusus buat kita berdua. Setuju?!

I Love you, Dad!

(maaf, nggak bisa nulis lebih banyak, udah nggak kuat nahan air mata)

16 Desember 2009

Renungan 1 Muharram 1431 H

Seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade bisa merasakan betapa pentingnya makna satu mili detik. Orang yang selamat dari kecelakaan bersyukur atas waktu satu detik untuk bisa menyelamatkan iri. Orang yang ketinggalan kereta tentu menyesali keterlambatannya datang ke stasiun meski hanya satu menit. Pemuda yang sedang menunggu kekasihnya bisa merasakan betapa lamanya waktu satu jam. Seorang pekerja harian merasakan bermaknanya waktu satu hari. Seorang editor majalah mingguan paham benar bagaimana singkatnya waktu satu minggu. Ibu yang melahirkan bayi premature berangan seandainya saja ia melahirkan bulan depan. Seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas, menatap dengan pandangan kosong panjangnya waktu satu tahun. Orang yang sudah mati… menyadari sungguh bermaknanya arti kehidupan.


Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas



Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature



Untuk memahami makna SATU MINGGU

Tanyalah seorang editor majalah mingguan



Untuk memahami makna SATU HARI
Ta nyalah seorang pekerja dengan gaji harian



Untuk memahami makna SATU JAM
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya



Untuk memahami makna SATU MENIT
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta



Untuk memahami makna SATU DETIK
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan



Untuk memahami makna SATU MILI DETIK
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade




Dan akhirnya, sadarkah anda bahwa waktu terus berlalu?
Siapkah Anda mempertanggungjawabkan kepada Allah
Bagaimana Anda menggunakan setiap mili detik waktu Anda?


(Tafakur; Gado-gado Simpang Lima. By: Mohammad Agung Wibowo)

25 November 2009

2012; Sebuah Realitas Gerak Pendulum

Dirilisnya film terbaru berjudul “2012” disambut oleh besarnya antusiasme penonton di Indonesia, bioskop-bioskop memutar film ini dalam 3 studio sekaligus dan tiketpun terjual habis hanya dalam hitungan menit sejak loket dibuka, beramai-ramai orang ingin menyaksikan kedahsyatan film ini yang gaungnya sudah didengung-dengungkan di berbagai media, sebenarnya bukan karena kualitas gambar film yang tersuguh dengan begitu dahsyat, tapi lebih pada judulnya “2012” itulah yang menarik animo penonton hingga menyingkirkan beberapa film yang rilis di saat yang sama.


Ada apa dengan angka ”2012” ini? Angka yang setahun terakhir menjadi perbincangan hangat para peselancar dunia cyber, hingga terangkat oleh media yang paling dekat dengan masyarakat pelbagai kalangan; televisi. Sebuah angka yang diramalkan oleh Suku Maya sebagai angka di mana akan terjadi suatu fenomena kerusakan yang maha dahsyat yang terjadi di alam semesta. Tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, demikianlah tepatnya suku Maya menyebutkan. Sontak isu ini berkembang luas, terlebih beberapa media televisi mulai melansir pandangan beberapa pihak yang dipercaya oleh masyarakat memiliki kemampuan ’melihat masa depan’.


Isu tersebut akhirnya terus berkembang liar, pembenaran yang dikemukakan paranormal Indonesia dan disiarkan secara cuma-cuma oleh televisi pun dicerna oleh masyarakat sebagai sesuatu yang layak dipercaya, spekulasi kian merebak, apalagi banyak artikel di internet yang mencoba menganalisa kebenarannya dengan dikaitkan beberapa ayat yang terdapat di beberapa kitab suci dari agama yang berbeda-beda, semua seolah-olah ingin menyimpulkan ramalan tersebut dengan satu kata ”benar”.


Fenomena Paradoksial

Fenomena ini tentulah paradoks. Di saat lebih dari 50 % pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh produk elektronik, di saat itu pula produksi film-film bergenre horor semakin marak seiring animo penonton yang sangat tinggi untuk menikmatinya. Di saat pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara dan hingga kini masih terus mendapatkan protes dari masyarakat setempat, di saat itu pula polisi menggunakan bantuan Jaelangkung untuk menemukan di mana seorang buronan bersembunyi. Di saat NASA terus mengembangkan penelitian untuk menemukan cara agar bulan dapat dihuni oleh manusia secara sempurna dan di saat modernitas hanya tinggal menyisihkan sepersekian belahan bumi saja yang belum tersentuh oleh kemajuannya, di saat itu pula manusia dibuat resah oleh sebuah ramalan kiamat yang dirilis oleh rakyat dari suku yang hampir punah eksistensinya.


Tampaklah dari sini, bahwa di saat manusia telah mencapai pergerakan jauh ke depan, maka di saat itu pula ia mundur sejauh jarak saat ia bergerak maju. Seperti yang tergambar pada gerak pendulum, seberapa jauh pendulum bergerak ke kanan, maka sejauh itu pula ia akan bergerak ke kiri.

Psikologi Kognitif

Fenomena realitas gerak pendulum yang saat ini melanda masyarakat kita ini dalam teori psikologi kognitif diterangkan sebagai cognitive map (peta kognisi) dan cognitive schemata (skema kognisi), dimana setiap individu membentuk peta dan skema kognisinya masing-masing yang tentu saja semua tersusun berdasarkan pengalaman dalam proses kognisinya baik yang telah mengalami siklus persepsi ataupun masih berupa harapan individu atas sebuah realitas kehidupan sebelum dan sesudah hari ini.


Kini dapat dipahami mengapa di saat yang bersamaan seseorang mengalami kemajuan serta kemunduran dalam berfikir sekaligus, sebab peta kognisi yang dimiliki oleh individu tersebut berdasarkan kemajuan yang dilihatnya berimbas pada menjadi lebih pragmatisnya seseorang dalam melihat hal-hal yang sebetulnya tidak sederhana yang kemudia diupayakan menjadi sesederhana mungkin dengan mempercayai hal-hal yang berupa prediksi seorang paranormal.


Sekali lagi, pemetaan kognisi ini sangat berdasar atas sejauh mana pengetahuan dimiliki beserta dasar kuat yang melandasinya. Jika sebelumnya telah terikat kuat pemahaman kita akan sebuah fenomena yang bernama kiamat, baik secara ilmiah maupun kepercayaan dari agama masing-masing tentang bagaimana terjadi, kapan, oleh siapa, melibatkan siapa dan apa saja, bagaimana tanda-tandanya, dan segala macamnya yang jauh sebelum ini telah dipahami oleh masyarakat dengan porsi pemahaman masing-masing, maka pemahaman itulah yang kemudian menjadi landasan pemetaan kognisi kita atas prediksi kiamat yang terus merebak, ikut terpengaruh atau tidak sama sekali.


Oleh karenanyalah kita dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi segala sesuatu, ada sebuah proses berfikir yang selayaknya kita tempuh sebelum akhirnya memutuskan untuk bersikap, terlebih pada sebuah prediksi, tentunya akal sehat kita jauh lebih kuat dari pada membiarkannya terhenti bekerja hanya karena tertohok oleh ramalan yang sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Membiasakan terus berfikir positif tentu akan lebih menyehatkan pikiran dari pada merelakan diri dibayangi oleh ketakutan akan datangnya suatu bencana yang entah dari mana asalnya.

21 November 2009

Obsesi = Jadi Presiden


Cita-citaku… (cita-citaku), ingin jadi presiden…
Masih ingat dengan lagunya Susan dan Ria Enes yang itu? Sangat familiar tentunya. Renyah didengar, menggelitik, dan ’anak-anak banget’.

Cita-cita, sebuah kata yang selalu ditanyakan saat kita masih kecil dulu, jawabannya pun beragam dan berubah-ubah, ingin jadi dokter lah, jadi insinyur lah, jadi presiden, jadi guru, jadi pilot, dan lain sebagainya. Sah-sah saja, toh dulu ketika kecil aku juga seperti itu. Masih ingat sekali saat itu aku selalu menjawab ”ingin jadi dokter”, kadang juga bilang ”ingin jadi polwan ”. Semua orang juga begitu tentunya?!.

Bagaimana dengan keinginan untuk menjadi presiden? Juga tidak sedikit anak-anak yang mencita-citakannya, dan semua itu terdengar lumrah saat keluar dari mulut mungil anak kecil. Tapi pernahkah di usia matang seperti saat ini kita mengucapkan cita-cita ingin menjadi seorang presiden (meskipun dalam hati)?

Aku pernah! Serius! Aku pernah mengucapkannya. Dan bukan cuma main-main! Meski tidak berlangsung lama keinginan itu muncul, tapi kalimat itu keluar bukan sebagai gurauan, bukan juga igauan, kalimat itu muncul sebagai klimaks dari sebuah keresahan yang saat itu dengan hebat melanda alam fikirku.

Tepatnya di pertengahan tahun 2008, saat aku iseng-iseng ikut bergabung dengan teman-teman yang lain menjadi suveyor untuk Lembaga Survey Indonesia (LSI), survey tentang sosial kemasyarakatan di propinsi Jawa Barat saat itu menugaskanku berada di sebuah desa kecil di daerah Bogor. Sebuah desa yang telah membuatku jatuh cinta dengan keramahan warganya. Luar biasa! Sebagai seorang pendatang yang tak punya satupun sanak maupun kerabat dan bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi itu, dengan kepentingan yang barangkali menurut orang desa dianggap ”apaan sih? ”, tapi betapa mengagumkan masyarakatnya, aku diterima dengan begitu ramahnya, dilayani dengan begitu khidmatnya, dan dihargai dengan begitu mempesonanya.

Pokoknya, ”Wonderful”

Selama tiga hari dua malam aku berada di sana, menginap di rumah salah seorang warga yang mengaku juga punya anak yang kuliah di UIN Jakarta (tempat kuliahku saat itu). Pagi, siang, sore, hingga malam aku berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain sesuai hasil random pemilihan sample penelitian yang telah kuhitung sedemikian rupa, jumlahnya ada 20 rumah (belum termasuk rumah pak lurah, beberapa rumah pak RW dan beberapa rumah Pak RT untuk pendataan sebelum dilakukan random, juga minta ijin plus tanda tangan dan stempel tentunya).

Satu per satu responden telah kuambil datanya, di masing-masingnya melekatkan cerita tersendiri yang senantiasa membuatku rindu kepayang dengan mengingatnya. Hingga sampailah aku pada responden yang kesekian. Seperti biasa, aku disambut dengan keramahan dan binar wajah dari pak RT setempat, kuutarakan maksudku untuk meminta data warganya untuk kemudian dirandom dan diambil datanya, beliau menurut. Ditemani segelas air putih, aku mulai menulis data warga di lembar kertas yang kuambil dari dalam map yang kubawa, dengan sabar beliau menungguiku yang berkutat dengan kertas-kertas di hadapanku, menghitung, mengurutkan, menandai, dan seterusnya. Tentu saja tidak hanya dengan diam membisu, sesekali aku bertanya tentang ini dan itu, dan beliaupun menjawabnya dengan nada tulus dan sama sekali tanpa beban. Kerenlah pokoknya!

Setelah selesai merandom dan aku sudah kembali tegak di posisi dudukku, mulailah dia bercerita lebih leluasa. Mulai dari keluarganya, anaknya yang sudah berkeluarga hingga saat cucunya berusia SMA masih tinggal bersama dengannya dan menempati sebuah kamar berukuran 2,5 x 3 meter. Kemudian, tentang warganya yang baru saja menerima kompor hasil konversi minyak tanah ke gas yang digagas pemerintah dengan segala permasalahannya. Hingga soal BLT yang alih-alih memberi kesejahteraan warganya malah dianggapnya menimbulkan kecemburuan sosial karena pada kenyataannya tidak tepat sasaran, dan lain sebagainya.

Srrr...! darahku berdesir mendengar penuturan miris dari mulut pria berusia kurang lebih 60 tahun ini. Tampaknya bapak di depanku ini ’membaca’ panampilanku dan dikiranya aku adalah pegawai pemerintahan yang punya kesempatan untuk menyampaikan keluhannya kepada pemerintah. Tuhan, akan Engkau selipkan amanah apakah sampai aku harus mendengar ini semua? . Perlahan, aku mulai merasa air sudah berkumpul di sudut mataku, aku ingin menangis, terlebih saat aku diantar oleh Bu RT menemui warga yang kusebutkan masuk sebagai respondenku, begitu masuk rumah sederhana itu tanganku langsung diraih dan diajak untuk melihat keadaan rumahnya yang sangat tidak layak, dengan kondisi dapur yang beratapkan langit karena gentingnya sudah enggan lagi berjibaku dengan terik mentari.

Hatiku gerimis, menyaksikan betapa kondisi ini baru pertama kali kulihat di depan mataku, kuinjak dengan kakiku, dan kudengar keluhan miris langsung dari aktor utamanya dengan telingaku sendiri. Ilahi, rahasia apa yang Kau simpan di balik takdir-Mu untuk mereka? Tiba-tiba saja aku teringat pemimpin dari rakyat yang ada di hadapanku ini, pemimpin yang mereka pilih dan titipkan amanah besar dipundaknya, pemimpin yang berkewajiban memberikan kesejahteraan bagi mereka. Pernahkah pemimpin mereka dengan mata kepalanya menyaksikan apa yang kusaksikan hari ini? Oh, I don’t think so.

Dadaku bergemuruh, sakit, miris, sedih, marah, berebut memenuhi rongga dada, membuncah, mancabik, meletup-letup, hingga memuntahkan sebuah kalimat pamungkas,
AKU INGIN JADI PRESIDEN

Hhh...! lega rasanya, akhirnya kalimat itulah yang keluar. Meski tak tau arti dari kalimatku sendiri, tapi setidaknya keresahan hebat itu menemukan klimaksnya, tidak mengantung-gantung, meronta-ronta menunggu jawaban hingga berlarut-larut. Entahlah, apa yang saat itu berkecamuk di alam fikirku, yang kuingat hanyalah bahwa aku ingin berbuat sesuatu, tidak mungkin Allah memberiku kesempatan bertemu dan mendengarkan keluhan mereka jika Aku tak diminta untuk berbuat sesuatu.
Menjadi seorang presiden, bukan keinginan yang kecil tentunya. Dan benakku pun sama sekali tak pernah mampu meski hanya membayangkannya, jauh, sangat jauh. Dan hingga akhirnya, keinginan itu pun luruh oleh waktu.

Tapi, benarkah pengalaman sedemikian dramatis tak memberi bekas apapun dalam kehidupanku seiring tak berlanjutnya cita-cita? Tidak! Tidak benar! Pengalaman itu telah membekaskan sebuah ukiran di seluruh persendianku. Meski tidak dengan melanjutkan keinginan menjadi presiden, tapi semua itu kini membelalakkan mataku yang bertahun-tahun kututup karena telah terlalu apatisnya dengan yang namanya pesta demokrasi di Indonesia.

Iya, benar. Aku tak pernah sekali pun ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi di negeri ini sebelumnya, di tingkat manapun, daerah ataupun pusat. Tapi kali ini, aku benar-benar ingin memberikan suaraku kepada seseorang yang kuanggap paling mampu mengemban amanah besar ini. Aku ingin menitipkan negeri ini kepada pemimpin yang benar-benar manjadikan kesejahteraan rakyat sebagai aliran darahnya. Dan akhirnya, aku pun menemukannya. Tak satupun orang di sekelilingku yang tak menertawakan pilihanku, tapi aku tak peduli, aku telah menelusuri rekam jejak kehidupannya, aku mencoba mempelajari karakteristik dan gaya kepemimpinannya, dan aku pun memilihnya karena hatiku mengatakan dialah orang yang paling tulus diantara kandidat yang ada, tulus ingin memberikan perubahan atas negerinya yang selama ini terbuai dan terlelap dalam ketidakadilan.

Meski akhirnya, KALAH!!!

Tak apalah, inilah demokrasi. Dan kini, aku tetap tak boleh berhenti, aku tetap harus berbuat sesuatu, sebanyak-banyaknya, meski tak mampu berbuat dalam skala makro seperti seorang presiden dengan kebijakan dan undang-undangnya, tapi setidaknya aku bisa berusaha menjadi ummat Muhammad yang melaju mengejar ”Khoirunnas anfa’uhum linnas ” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya).

18 Oktober 2009

Ketika Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Mengerat

Hhh…Tarik nafas dulu ya sebelum menulis, karena sebetulnya berat bagiku untuk menuliskannya, atau lebih tepatnya dilematis. Apa yang ingin kutulis ini sebuah fenomena yang diaklamasikan oleh semua orang sebagai tindakan yang tidak terpuji, tak terkecuali aku sendiri, tapi pandanganku kini menjadi sedikit berbeda, karena….” (nanti ya lanjutannya)

Indonesia, bukan rahasia lagi tingkat korupsinya di mata dunia Internasional. Mulai dari unit pemerintahan terendah hingga tertinggi, baik BUMN maupun swasta, bahkan di lingkup para penegak hukum pun berkali-kali terungkap. Hina, sungguh perbuatan tak berperikemanusiaan, di tengah jutaan rakyat Indonesia yang bahkan mungkin tinggal ‘oksigen untuk bernafas’ saja kebutuhan primer yang bisa mereka penuhi setiap hari, sebab kebutuhan 3 kebutuhan primer yang dulu sering diajarkan oleh Guru kita saat sekolah dasar; Sandang, Pangan, dan Papan sudah menjadi hal yang tak utama lagi.

Terhadap perilaku kejam ini, siapa yang tak ingin mengutuk?
Bahkan kemungkinan besar para pelaku korupsi sendiri menyadari betapa tidak terpujinya perilaku korupsi itu. Inilah yang sulit dimengerti, pada dasarnya para pejabat itu tahu betul dampak korupsi secara luas, tapi mengapa mareka masih banyak yang tidak menjaga dirinya untuk berlaku jujur dan bersih.

Jadi teringat teori Disonansi Kognitif (Festinger, 1957) yang menjelaskan inkonsistensi antara suatu keadaan atau perilaku dengan apa yang selama ini dipahami baik secara individual maupun kolektif.Yah, sepertinya inkonsistensi antara sikap dan perilaku dalam tindakan korupsi ini bisa menjadi fatal jika individu tidak menyadari, apalagi sampai melakukan rasionalisasi sebagai self defense mechanism-nya, bisa-bisa makin menjadi dan tak memunculkan perasaan bersalah. Padahal guilty feeling itu meskipun sebuah bentuk emosi negatif, tapi keberadaannya dianggap cukup baik mengingat perasaan itu sendiri muncul ketika seseorang mengevaluasi pikiran, perasaan dan tindakan(Tangney & Fischer, 1995). Paling tidak dari perasaan itu individu berpotensi sadar dan memperbaiki kesalahannya.

Sebesar apapun kehinaan tindak korupsi, tetapi pernahkah kita berfikir apabila kita berada dalam situasi dimana orang terdekat kita divonis bersalah atas sebuah kasus korupsi dan harus segera dieksekusi? Pastilah tidak mudah, meskipun kita termasuk orang yang menyalahkan perilaku korupsi. Barangkali situasi itu yang saat ini sedang kualami, dan lagi-lagi ingin rasanya sekuat tenaga menyangkal kenyataan ini, tapi apalah daya, toh kenyataannya uang hak rakyat itu memang pernah mampir di dompetnya.

Senin 12 Oktober 2009, bukan hanya menjadi hari diumumkannya identitas korban mati dalam penggerebekan sarang Teroris di Ciputat, sebab di hari yang sama, dan masih di belahan bumi yang sama, 11 mantan anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dijebloskan ke dalam penjara atas kasus korupsi massal dana APBD senilai Rp 20 miliar. Satu diantara mereka adalah orang tuaku semasa duduk di Sekolah Dasar. Iya, beliau adalah guru sekaligus kepala sekolahku.

Bahkan untuk bereaksi pun aku bingung. Sedih, prihatin, kasihan, tidak tega, bercampur menjadi satu, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Barangkali jika hari ini aku bertemu muka dengan beliau, aku memilih untuk tidak berbicara apapun, dan pergi dengan tubuh lunglai menahan tangis. Aku jadi teringat cerita pamanku di Jakarta, bagaimana saat beliau bertemu dengan mantan Menteri Agama KH. Said Agil Al-Munawwar untuk pertama kali setelah keluar dari penjara atas kasus korupsi Departemen Agama beberapa tahun silam. Siapa yang tak miris, guru bahkan ustadz yang sepanjang masa akan kita kenang jasanya harus menjadi seorang pesakitan di balik jeruji besi.

Tapi jika aku diizinkan berpendapat, jujur dari hati yang paling dalam, sampai sekarang pun aku tak percaya jika beliau melakukan tindakan itu secara sadar, dan terencana. Aku lebih nyaman ketika mempercayai bahwa Ayahanda guruku itu hanya menerima jatah pembagian ‘kue kenduri’ dari sebuah tindakan korupsi yang dilakukan oleh atasannya yang telah terlebih dahulu mendekam di hotel prodeo, sama sekali tidak menyumbang otak apalagi ikut berstrategi atas tindakan hina itu.

Jika sikapku itu masih kurang tepat, maka aku memilih pembelaan yang selanjutnya, yaitu apa yang diajarkan oleh Nabi Saw. bahwa yang pantas kita hina dan rendahkan adalah sebatas pada perilakunya, bukan orangnya, karena bagaimanapun pelakunya tetap harus dihormati sebagai individu sama seperti yang lain.

Terdengar sangat naif memang pembelaanku, tapi entahlah, aku bingung dalam menentukan sikap, yang jelas aku hanya ingin menjadi murid yang hormat kepada guru sejak dulu, kini dan nanti. selamanya, tak kan berubah, dan tak kan pernah ingin mengubahnya.

13 Oktober 2009

Teroris di Ciputat, Sebuah Elegi; Antara Aku, Mereka, dan Kampusku

Lagi, penggerebekan sarang teroris terjadi, Jum’at 9 Oktober 2009 media kembali beramai-ramai memberitakan secara eksklusif penggerebekan sarang teroris yang diduga adalah dua orang yang selama ini masauk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Aku yang siang itu baru datang dari luar rumah serasa tak hendak beranjak dari depan layar kaca, bukan hanya karena beritanya tentang teroris, tapi juga (atau lebih tepatnya, lebih karena) TKPnya; Jalan Semanggi Cempaka Putih Ciputat Tangerang Banten.

Jika di pertengahan pemberitaan aku mengganti status Facebook dengan kalimat “Gokil, tempat maen gue ternyata juga dipake Teroris maenan petak umpet”, barangkali memang demikianlah deskripsi paling mengena dalam mengggambarkan kedekatanku dengan TKP. Jadi keterikatan yang sangat dekat itulah yang memintaku untuk stay tuned.

Menit demi menit berlalu, berita yang dikabarkan semakin berkembang, dari nama korban penggerebekan, nama pengelola kost, pemilik kamar no.15 hingga para penghuni rumah kost tersebut. Para pengguna facebook tak kalah heboh, bagaimana tidak, 40 % teman facebookku adalah teman-teman UIN Ciputat, sampai-sampai heboh pula masalah tentang kakak kelas kami yang diinterogasi oleh Densus 88 dan diliput oleh sebuah media online.

Saat hari mulai petang, Kabid Humas POLRI memberikan statement kepada halayak mengenai kejadian siang itu, tapi alih-alih merilis nama korban tewas, yang keluar justru sebuah inisial nama yang disebut-sebut sebagai kurir sang gembong teroris dan telah ditangkap sebelum penggerebekan itu terjadi.

Senin 12 Oktober 2009, berita yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga, setelah menjalani serangkaian tes DVI dan DNA dipastikan bahwa korban tewas dalam penggerebekan hari Jum’at adalah Syaifudin Zuhri/Jaelani dan M.Syahrir, dua gembong teroris otak pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Tidak berhenti sampai di sini, Sony sang pemilik kamar no.15 pun dipastikan adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Deg! Jantungku berdegup kencang, seolah tak percaya sebab dari awal aku tak ingin mempercayai berbagai spekulasi yang bergulir.

Kejutan belum berhenti, hingga diumumkan identitas Fajar yang dari awal telah dikatakan sebagai kurir bagi SJ dan MS, Fajar Firdaus alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi. Plak!! Wajahku serasa ditampar sekencang-kencangnya mendengar berita itu, terlebih setelah beberapa waktu kemudian kusadari bahwa aku sangat mengenalnya. Hanya satu kalimat yang selalu kugumamkan saat foto-fotonya mulai beredar di layar kaca, “Nggak mungkin” (sebuah ungkapan denial tentunya).

Apa yang sebenarnya terjadi pada teman-teman UINku? Pikiranku mulai menerawang, mencoba memahami apa yang tengah terjadi. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki segudang prestasi, itu biasa. Jika mahasiswa/alumni UIN Jakarta memiliki pemikiran nyeleneh bahkan cenderung liberal, itu bukan hal baru. Jika mahasiswa/alumni UIN berada di baris terdepan sebuah demonstrasi menyarakan suara rakyat, itu sudah sejak dulu. Jika mahasiswa/alumni UIN tertangkap karena kasus narkoba, itupun sudah pernah ada. Tapi ini, ini sungguh memprihatinkan.

Aku mencoba terus menganalisa, seperti apa pribadi dua orang mahasiswa dan alumni UIN ini? Mahasiswa dari fakultas ilmu umum (lih: bukan ilmu agama) sering diidentifikasi sebagai mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang lebih manakala disuguhkan dengan hal-hal yang selama ini tak didapatinya (yang berbau agama), taruhlah jika kita perhatikan teman-teman lembaga dakwah kampus yang didominasi oleh mahasiswa/i lulusan SMA (bukan Madrasah Aliyah atau bahkan pesantren, pen.), selain itu bisa dipastikan organisasi ini tampak lebih subur ketika tumbuh di fakultas ilmu umum, bandingkan pertumbuhannya antara di fakultas Sain Teknologi atau Psikologi dengan di fakultas Syariah atau Ushuluddin. Fenomena ini sangat terbaca di lingkungan UIN Jakarta yang semenjak berubah menjadi Universitas tidak lagi menjadi kampusnya anak pesantren, akan tetapi telah berbagi porsi secara seimbang dengan anak-anak lulusan SMA.

Jika melihat nama Universitas yang menaungi berbagai fakultas-fakultas tersebut, seolah membuat orang lain tidak mau tau bagaimana keragaman latar belakang mahasiswa di sana, yang mereka tau bahwa UIN Jakarta adalah Universitas Islam yang tentunya diekspektasikan secara berbeda oleh orang kebanyakan terutama dalam penguatan ajaran Islamnya. Tidak salah memang, di UIN semua fakultas diajarkan Bahasa Arab, Tafsir-Hadits, Akhlak Tasawuf dan lain sebagainya sebagai MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) tapi toh hal itu tidak menjadi jaminan bagi mahasiswa/alumni akan menjadi seorang ahli Tafsir maupun Tasawuf.

Ada fenomena yang cukup menarik, manakala mahasiswa berlatar belakang umum (sekali lagi, bukan agama, pen.) tampak memiliki ketertarikan yang lebih besar terhadap pengkajian agama yang di kampus biasa disajikan dan dikemas dengan cara se-mahasiswa mungkin, artinya dengan cara diskusi, tanya jawab, bedah buku-buku agama kontemporer. Bagi mereka, menemukan hal baru dalam bidang spiritual yang melalui proses yang logis dan aplikatif adalah kebutuhan yang selama ini tak ditemukannya di bangku SMA. Menelisik hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang dipilah menjadi D-need (deficiency need) dan B-need (being need) atau biasa disebut dengan kebutuhan Meta, atau lebih familiar lagi adalah Self-Actualization (Aktualisasi Diri)., maka apa yang dicapai oleh mahasiswa-mahasiswa kelompok ini adalah kebutuhan di atasnya B-Need, dimana tahap aktualisasi diri sendiri bukanlah tahap yang hanya akan dicapai oleh pribadi-pribadi yang secara kasat mata telah mapan lahir dan batin, aktualisasi diri masing-masing orang memiliki kadarnya sendiri-sendiri, sebagaimana kadar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di bawahnya (Physiologic, Safety, Belonging and Love, Self Esteem) yang juga berbeda porsi antara satu orang dengan yang lainnya.

Setelah mencapai tahap aktualisasi diri, ada satu fase lagi di atasnya yakni Transendensi, dalam fase ini sisi spiritual seseorang lah yang membutuhkan pemenuhan, dimana kebutuhannya akan sesuatu ‘hal’ di luar dirinya diharapkan bisa menutupi ‘kehampaan diri’ yang dirasakannya. Pemenuhan kebutuhan ini lebih bersifat sangat pribadi, hanya antara individu dengan ‘dzat’ di luar dirinya, yang mana kesempurnaan dari transendensi ini akan mengantarkan seseorang pada Peak Experience, sebuah pengalaman puncak yang bersifat spiritual yang hanya akan dicapai setelah melalui serangkaian proses yang sangat terjal dan membutuhkan tingkat pengorbanan yang sangat tinggi.

Barangkali inilah kemudian yang disasar oleh oknum-oknum pencuci otak dalam merekrut anggota ‘jihad’ versi mereka, termasuk dalam menyiapkan para suicide bomber, dengan segala nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya yang kesemuanya adalah versi yang mereka buat sendiri sebagai pembenaran atas langkah yang mereka jalani. Menyoal rekrut-merekrut ini sebenarnya bukan hal baru, sebelumnya di tahun 2006/2007 UIN dihebohkan dengan banyaknya mahasiswa yang menjadi korban perekrutan sebuah aliran keagamaan dengan ajaran Islam yang telah mereka modifikasi sesuka hati, dengan penggunaan dalil ayat-ayat Alquran yang asal comot sini comot sana tanpa prosedur yang jelas dengan tujuan sekuat mungkin landasan ajaran yang diberikan dan agar tampak lebih masuk akal dan berdasar (dua hal yang harus dipenuhi ketika berbicara dengan pelajar level mahasiswa). Ketika itu banyak teman kami yang menjadi korbannya, sampai-sampai ada yang telah mengeluarkan uang untuk kelompok tersebut dengan mengatasnamakan loyalitas, meski tak sampai terjadi penculikan seperti yang dialami oleh seorang mahasiswa ITB 2 tahun silam.

Di balik semuanya, hanya mampu berharap kedua teman kami terbukti tidak memiliki keterkaitan yang signifikan dengan kejadian terorisme yang hina itu, dan semoga tak ada lagi terror-teror lain yang menghantui persada tercinta.

Rabbi ij’al haadzaa baladaan aaminan warzuq ahlahu minats tsamaraati man aamana minhum billahi wal yaumil aakhir... (Al-Baqarah: 126)