19 Mei 2013

PROGRAM HAMIL (Part.3) Terapi Untuk Terratozoospermia; Suntik, Jus Tomat Rebus, Makan Sayur, Pakai Sarung

(Sebelumnya baca juga yang Part.1 ya! klik di sini  dan untuk yang Part.2 ada di sini)

Malam itu juga kami meluncur ke tempat praktek Dr.Ryan, Sp.And. Hanya butuh kurang dari 10 menit dari tempat praktek Dr.Maksum kami sudah sampai dan melihat deretan beberapa orang yang sedang mengantre untuk periksa. Ruang tunggu yang berada diteras rumah saat itu terasa terlalu tamaram karena sinar lampu yang kurang maksimal, deru mobil dan kendaraan bermotor lain juga menambah bising ruang tunggu  tersebut yang memang berada persis di pinggir jalan utama.

Sambil menunggu giliran, aku dan si mas menghabiskan waktu dengan mongobrol ringan, dan tiba-tiba aku teringat bahwa sedang tidak membawa uang lebih malam itu. *wadduuh* padahal seingatku tarif periksa di Androlog itu lumayan besar lho! Kalo di Dr.Maksum sih masih sangat terjangkau, hanya Rp.90.000 sudah termasuk konsultasi, USG, print hasil USG, dan resep obat. Kami langsung memeriksa dompet masing-masing. Di dompetku ada uang 400.000, dan di dompet si mas ada uang 150.000. Ya Allah… semoga cukup.. kan gak lucu kalau kita periksa pertama udah kurang aja uangnya. Mau lari ke ATM juga tanggung, takut nggak keburu apalagi gak bisa memperkirakan butuh waktu berapa lama untuk bolak-balik ke ATM karena memang gak tau pasti di mana ATM terdekat. Aku kembali membongkar tas yang kubawa, siapa tahu ada uang yang nyelip. Hehe… yups! Aku mendadak girang setelah menemukan bahwa dompet yang baru kemarin kupakai belanja kain batik ternyata belum sempat kusimpan dalam lemari. Yes!! insyaAllah selamat. Hehehe… paling tidak ada dana darurat yang bisa digunakan terlebih dahulu jika memang uang 550.000 tadi masih kurang.

Akhirnya, giliran kami pun tiba. Kami berdua masuk ke dalam ruangan periksa yang terbilang sempit itu. Dokter Ryan menyapa kami dengan ramah, “Pasiennya dokter Maksum ya?” kamipun mengiyakan.

Ada apa? Ada apa?

Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerahkan amplop hasil pemeriksaan sprema si mas pada beliau. Sambil membuka amplop, dokter Ryan terus mengajak bicara, beliau sangat hangat dan bersahabat.

Sudah berapa tahun nikahnya?
2 tahun, Dok
Waah.. pasti masnya menganut adat kuno nih, kalo istri belum hamil juga berarti istri yang bermasalah. Iya toh? Trus jadinya masnya gak mau periksa dari dulu deh

Kami mesam-mesem aja mendengarnya, tapi setelah berfikir sejenak, aku jawab saja,

Beberapa kali ganti dokter kandungan, baru kali ini dok disuruh tes sperma. Dokter yang dulu-dulu cuman saya aja yang diperiksa
Oooo” gumamnya sambil membetulkan kacamata sembari membaca hasil lab tadi.

Selang beberapa menit, pak dokter meminggirkan kertas tersebut dari hadapannya dan kemudian mengambil kertas kosong yang lain.

Jadi gini, Pak, Bu, permasalahan yang dialami bapak ini gak terlalu serius kok, insyaAllah 2 sampai 3 kali kontrol sudah selesai
Aamiin…” kami berdua serempak

Dokter Ryan kemudian menjelaskan mengenai apa itu terratozoospermia. Bagaimana gambaran sperma si Mas. Jumlahnya sebenarnya cukup banyak, namun yang aktif hanya 17%, artinya selain yang 17% itu bentuk spermanya tidak bagus sehingga kurang agresif dalam perjalanannya menemukan sel telur, malah sebagian besar dari sperma-sperma itu sudah mati duluan di perjalanan.

Setelah menjelaskan panjang lebar dan menjawab semua pertanyaan kami bahkan sampai menggambarkan bentuk-bentuk sperma yang bagus dan yang kurang bagus, kemudian dokter Ryan memeriksa si mas. Hmm… menurut beliau kantung sperma si mas cukup hangat, artinya kurang rileks dan kurang istirahat. Terapi pertama yang dianjurkan oleh dokter Ryan adalaaaahh… sepulang kerja, selama ada di rumah sebaiknya pakai sarung saja, tanpa celana dalam. Whattt?? Aneh banget kan?? Tapi memang kata dokter Ryan harus begitu, agar kantung sperma lebih rileks, tidak panas, dan tidak membunuh sperma di dalamnya. Beliau malah bercanda, “Makanya kyai-kyai itu anaknya banyak, soale kan tiap hari pakai sarung” *dienggg* hahaha….

Kemudian dokter Ryan masuk kedalam ruangan lain, sambil berjalan beliau menyuruh si mas berbaring di atas kasur untuk disuntik. Si mas pun menurut, untungnya si mas gak takut dengan jarum suntik. Hihihi… setelah disuntik kami semua kembali duduk melanjutkan konsultasi dan mendengarkan wejangan dari dokter Ryan.

Dokter Ryan ini orangnya suka sekali mengobrol, akhirnya di sela-sela membicarakan terapi kami, beliau juga sambil bertanya-tanya tentang rumah, pekerjaan, dsb. Di sesi itu, dokter menganjurkan terapi ke-dua yang harus dijlani si mas, yaitu setiap hari minum jus tomat rebus. *waduuhhh* aku langsung berpandang-pandangan dengan si mas, aku tau dia agak gusar, karena dia kurang suka dengan yang namanya tomat. Tapi dokter Ryan menekankan bahwa rasanya akan berbeda kok jika tomatnya direbus terlebih dahulu. “Boleh dicampur dengan gula atau jeruk atau madu, Dok?” si mas menyahut. “Oooo boleh aja, terserah, apa aja boleh, yang penting bisa bikin bapak doyan minumnya”. Oke deh…

Dan terapi berikutnya, harus memperbanyak makan sayur. Yes!! Terapi yang paling aku suka nih, soalnya selama ini aku suka gemes dengan si mas yang malas makan sayur, kalau di rumah aku memasak sayur, misal sop atau sayur bayam, si mas pasti maemnya ambil sayur sedikiiiiiit sekali, dan lebih banyak ambil kuah dan lauknya aja. Hmm…

Mas tampak sangat bersemangat konsultasi dengan Dokter Ryan, karena memang pak dokter yang satu ini sangat supportif sekali, beliau meyakinkan si mas untuk tidak khawatir, insyaAllah bisa cepat teratasi, kasusnya si mas ini tergolong ringan kok, begitu kata beliau. Yang penting harus disiplin saja. Berkali-kali dokter Ryan berkata, “InsyaAllah 2 sampai 3 kali kontrol istrinya sudah hamil, insyaAllah”. Makanya si mas jadi optimis sekali karena dokter Ryan juga terus memberikan motivasi dan membesarkan hati kami. “Pokoknya nanti kalau istrinya hamil saya dikabari lho ya! Biar saya tahu, saya pasti ikut bahagia”. 

Kami berdua pun ikut senang mendengar optimisme dokter Ryan atas kami berdua. Setelah memberikan obat tablet yang harus diminum selama 20 hari, kamipun segera berpamitan dan diminta untuk kembali kontrol begitu obatnya sudah habis. Oke deh pak dokter, makasih….

nb: ohya, untungnya uangnya gak kurang lho… melainkan paaaassss banget, 550 ribu. Hehehe…

17 April 2013

PROGRAM HAMIL (Part.2) Terratozoospermia



Melanjutkan dari cerita sebelumnya ya! Part.1 bisa dibaca di sini!

Setelah mendapatkan surat rujukan dari Dr.maksum untuk melakukan tes analisis sperma, kukira ini adalah titik terang yang akan membuka jalanku untuk melakukan ikhtiyar lebih lanjut. Kupikir, setelah mendapat rujukan itu, suami langsung mau cap-cus berangkat ke lab. Eeehh.. tenyata eh ternyata. Big No No..!! Si Mas masih aja mbulet gak mau ke lab, aku dah berusaha mengatur jadwal ‘berhubungan’ sebagaimana aturan yg diberikan dokter sebelum melakukan tes sperma. Eee pas udah diatur-atur gitu, si doi gak juga merespon dan tak kunjung berangkat ke lab.

Hingga akhirnya sebulan telah berlalu, setelah berkali-kali aku mengatur jadwal buat dia ke lab. Tepatnya saat itu adalah pertengahan bulan Syawal, dia setuju untuk berangkat ke lab. Lab pertama yang kami tuju tentu saja di RS.Semen Gresik, alasannya karena kita tahunya Dr.maksum itu dinasnya di situ, selain itu suami sahabatku dulu juga tes analisis sperma di situ.

Berangkat dari rumah menjelang Maghrib, kita sholat maghrib di masjid di pinggir jalan, setelah itu langsung menuju RS.Semen Gresik. Setelah mencari-cari tempat pendaftaran laboratoriumnya, eeee ternyata eh ternyata kata mbak-mbaknya sudah tutup lab-nya, selain itu menurut perhitungan dia ‘puasa berhubungan’ kita masih kurang 1 hari lagi. Nah loh??? Perasaan sudah sesuai dengan instruksi dokter deh. Akhirnya kita melenggang keluar RS tanpa hasil. Namun karena sudah terlanjur jauh-jauh berangkat dari rumah, masa’ iya gak dapet apa-apa. Akhirnya masih di parkiran RS si mas coba-coba cari alamat Lab.Parahita terdekat melalui mbah Google. Setelah ditelpon ternyata masih buka dan masih melayani tes. Tanpa banyak cing-cong kita langsung cap-cus meluncuurrr….

Sampai di TKP, si mas langsung registrasi dan gak lama petugasnya memberikan pengarahan dalam pengambilan sampel. Kurang dari 1 jam kami sudah keluar dari Parahita dan meluncur pulang. Sesampainya di rumah malam sudah cukup larut, dan setelah makan malam aku sudah merebahkan diri di kasur, tampak si mas masih melakukan ini itu di depan TV, waktu aku pamit untuk tidur duluan si mas mempersilahkan. Tapi gak lama dia nyusul ke kamar, saat itu lampu kamar sudah kumatikan meskipun aku belum terlelap, kulirik si mas di sampingku yang rebahan namun matanya masih melek, tampak wajahnya sangat gelisah, aku tidak ingin menerka-nerka, namun tiba-tiba saja si mas membuka pembicaraan, “Halah, ternyata di parahita aja simple, di RS.Semen kok pake ribet gitu”. Aku tidak menanggapi topiknya melainkan justru ‘menembaknya’, “Lho, kok tiba-tiba ngomongin parahita?? Masih kepikiran yang tadi ya??”. Si mas mengangguk pelan, dan akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan serius malam itu hingga hampir pagi.

Hal yang tak pernah kusangka sebelumnya bahwa kejadian malam tadi diiringi dengan pergolakan psikologis yang sangat besar dalam diri si mas. Malam itu, ia mencurahkan semuanya, mulai dari kenapa ia dulu sangat malas diajak memulai program hamil, kemudian bagaimana gejolak hatinya ketika harus melangkahkan kaki untuk melakukan tes sperma. Baginya, ia yakin bahkan telah mem-vonis dirinya sendiri bahwa  dirinya-lah yang ‘bermasalah’ sehingga kami tak kunjung diberikan momongan, sebab menurutnya selama ini aku sudah melakukan berbagai upaya baik medis maupun non medis dan hasilnya tetap nihil, begitu juga beberapa kali di USG dokter semua menyatakan aku dalam keadaan baik. Makanya si mas berkesimpulan bahwa dirinya-lah yang bermasalah, karena ia belum pernah diperiksa sama sekali dan belum pernah melakukan terapi medis atau non medis apapun.

Semakin larut, pembicaraan kami semakin emosional, mas mengutarakan kemungkinan-kemingkinan jika ternyata hasil lab menunjukkan ia tidak bisa memiliki anak. Kami menangis berdua, si mas bahkan sampai mengikhlaskan aku untuk memilih melanjutkan pernikahan atau memilih menghentikannya demi memperoleh keturunan. Aku pun histeris, bagaimana mungkin si mas memiliki pemikiran seperti itu, bukannya biasanya yang punya pemikiran seperti itu adalah istri, jika istri yang dinyatakan sulit untuk bisa memiliki keturunan. Kami pun berpelukan dengan erat, janji-janji pun kita perkuat tentang ikatan pernikahan kami, bahwa apapun yang terjadi kita akan terus mengarungi bahtera ini bersama, selamanya.

Seminggu berlalu, saatnya hasil lab bisa diambil. Saat itu kami berangkat dengan penuh kepasrahan, tak ada pembicaraan khusus mengenai hal ini lagi. Sampai Parahita aku turun dari motor dan langsung mengambil hasil labnya dan kemudian meluncur ke tempat praktek Dr.Maksum untuk menyerahkan hasil lab itu. Selama mengantre dokter, tanpa sepengetahuan si mas aku membuka segel amplop hasil lab itu, kulihat kesimpulan pemeriksaan yang tertera di sana, “Terratozoospermia”, alisku berkerut, gak ngerti. Yah sudahlah, karna kucari-cari istilah itu di internet juga tak ada yang membuatku yakin akhirnya aku pun bersabar sampai bertemu dengan Dr.maksum. Di dalam ruangan dokter, kamipun menyerahkan amplop tersebut, dokter membacanya dengan seksama, tak tampak ekspresi yang mencolok dari raut muka dokter maksum, beliau tampak tenang dan santai. Hingga akhirnya beliau membka pembicaraan “Hmm… insyaAllah gak papa, hanya ada sedikit masalah saja, diobati sebentar nanti sehat lagi” Alhamdulillah… kami berdua saling berpandangan dan si mas tersenyum lega.

Dokter menjelaskan bahwa jumlah sperma si mas jumlahnya sudah cukup banyak (tidak kurang), namun yang aktif dan bentuknya bagus hanya 17%, sementara normalnya untuk bisa membuahi adalah 44-50%, ada banyak factor yang menyebabkan kondisi ini, diantaranya kesibukan dan asupan makanan, kterangan selengkapnya nanti bisa ditanyakan pada doter spesialis andrologi. Okelah kalau begitu, kami mengerti. Dan di akhir sesi konsultasi dokter maksum memberikan surat rujukan keepada kami untuk menemui dokter spesialis andrologi untuk mengatasi kondisi yang dialami si mas, yakni Dr.Ryantono, Sp.And.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, si mas sekalian bertanya ke dokter maksum dimana lokasi praktek dokter Ryan dan apakah malam ini masih buka prakteknya karena waktu sudah pukul 8 malam. Setelah diberitahu arah menuju tempat prakteknya dan dipastikan bahwa jam segini masih buka, si mas mengajakku langsung meluncur ke sana menemui sang dokter andrologi malam itu juga.

4 Maret 2013

PROGRAM HAMIL (Part.1) Dari sini cerita PROGRAM HAMIL Bermula


Cerita ini kumulai dari sejak sebelum bulan Ramadhan tahun 2012 lalu. Saat itu, aku yang biasanya melepaskan gundah soal pengen momongan kepada sahabatku Barir (yang juga sedang menantikan hal yang sama), tiba-tiba mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan sahabatku tersebut. Aku sungguh ikut bahagia, mengingat curhatan kita setiap saat, kegalauan saat mendapat pertanyaan-pertanyaan menyudutkan soal momongan dari keluarga dan kerabat terdekat, beban-beban psikologis yang kami rasakan melihat suami yang sudah sangat menginginkan punya anak, hingga tingkat sensitifitas batin yang semakin tinggi seiring sikap-sikap suami yang tampak begitu care dengan keponakan-keponakannya hingga diri sendiri merasa terabaikan dan tidak berdaya.

Ikut bahagia sudah tentu, tapi tak dapat dipungkiri bahwa rasa iri dan cemburu itu dengan halus menelusup dalam hati. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” terlebih dulu diberikan kebahagiaan itu. Iya, aku cemburu karena teman “securhatanku” kuanggap setelah ini akan menjadi tidak se-mengerti dulu dengan keadaan yang masih kualami. Namun aku sangat bersyukur, ia adalah sahabat yang sebenar-benar sahabat. Ia tidak meninggalkanku, justru ia mendorongku untuk tetap bersemangat dan tidak berhenti berusaha.

Awal Ramadhan 2012
Ramadhan tahun ini, aku merasa sangat beruntung karena Allah tidak membiarkan aku melewatkan salah satu episode tausiyah Ustadz Yusuf Mansur. Saat itu, sang ustadz membuka hari pertama bulan Ramadhan dengan menyerukan bahwa bulan ini adalah bulan bonus bagi semua umat Islam, dan secara spesifik beliau menyerukan kepada para jomblowan-jomblowati yang belum juga mendapatkan jodoh, kepada para pasangan yang ingin punya anak, dst. Bahwa bulan ini adalah SAATNYA. Saat dimana kita bersungguh-sungguh berdoa, ber-riyadhoh, bermunajat, meminta dengan segenap kemampuan beribadah agar segera terkabul keinginannya. Fiuuhh…. Seolah mendapat dorongan yang luar biasa, maka saat itu pula kuputuskan aku akan ber-riyadhoh sekuat tenaga untuk meminta kepada-Nya.

Maka mulai hari pertama bulan Ramadhan, aku pending doa-doa dan permintaan yang lain. Hanya doa minta anak, anak, dan anak. Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan di setiap usai sholat sunnat, lagi-lagi minta anak, anak, dan anak. Aku tidak mau menyia-nyiakan bulan besar ini, karena aku yakin, bahwa inilah SAATNYA meneroboskan doaku menuju ‘Arsy yang sedang dibuka selebar-lebarnya bagi seluruh umat islam yang beribadah dan berdoa serta bertaubat.

Pertengahan Ramadhan
Aku lupa dalam rangka apa aku dan suami main ke rumah sahabatku di Gresik, yang jelas saat itu bertepatan dengan hari dimana sahabatku sedang ada jadwal periksa kandungan. Nah, dari sinilah cerita bermula. Usai buka puasa bersama di rumahnya, aku dan sahabatku berbisik-bisik merencanakan sesuatu, dan akhirnya dia sepakat untuk membujuk suamiku untuk ikut serta ke dokter. Awalnya suami nggak mau, alasannya “mau ngapain, bengong nungguin orang periksa”, sahabatku tak habis pikir, ia bilang “ya dari pada diem di rumah, mending ikutan, nanti pas kita periksa, kalian bisa jalan-jalan sambil wisata kuliner, kan di sekitar tempat praktek dokterku banyak makanan enak-enak”. Akhirnya suami setuju. Yes!!

Memasuki tempat praktek dokter Spog, ternyata suasananya tidak begitu ramai, mungkin karena bulan puasa dan baru lepas Maghrib, jadi antreannya belum terlalu panjang. Nah, lagi-lagi sahabatku menawari aku (tapi cuman pura-pura, soalnya emang dah rencana dari awal) dan suami untuk ikut mengantre. Suami pun menolak, atau lebih tepatnya tidak terlalu merespon. Sahabatku kembali membujuk, “Ayolah, iseng-iseng aja periksa, mumpung gak antre”, akupun menimpali “Yuk say! Coba-coba..”. Setelah beberapa saat lamanya, keluarlah kata sakti dari mulut suamiku “yo wes, sembarang” (ya udah, terserah). Yes!! Kalo udah keluar kata ‘terserah’ itu artinya suamiku setuju.

Setelah menunggu, tibalah giliran kami. Kami ditanya sudah berapa lama menikah, sudah pernah ikut program hamil di dokter kandungan sebelumnya atau belum, obat apa saja yang pernah dikonsumsi, bagaimana siklus haid-ku, apakah selalu disertai nyeri haid, dst. Setelah itu aku di-USG. Alhamdulillah menurut pantauan dokter kondisi rahimku sejauh ini baik. Barulah setelah itu dokternya menjelaskan step-step yang harus dilalui. Mulai dari si istri minum vitamin (asam folat), paling tidak selama 3 bulan, kemudian jika belum hamil dilanjutkan minum obat penyubur 3 bulan, dan jika belum hamil juga maka akan dilakukan HSG (USG vagina / USG dalam) yang akan dilihat apakah ada penyumbatan yang mengharuskan dilakukan operasi atau tidak, dan step-step selanjutnya yang akan bisa diusahakan bila belum kunjung hamil juga.

Setelah bicara tentang istri, barulah untuk suami. Menurut pak dokter, kalo untuk suami simple aja, yang pertama harus dilakukan tes analisis sperma. Katanya, dari situ akan dilihat kondisi sperma suami sehat atau tidak, jika kurang sehat maka harus diterapi hingga normal kembali. Sudah!! Yups, memang hanya itu saja stepnya, tidak seperti step-nya istri yang ada banyak. Nah, malam itu juga dokter memberi surat pengantar ke laboratorium untuk melakukan tes analisis sperma, dengan dijelaskan aturan-aturannya sebelum melakukan tes tersebut (yaitu puasa ‘berhubungan’ beberapa hari sebelum tes).

Oke deh pak Dr.Maksum, Sp.Og. makasih….

New Labels, New Story


Tulisan ini kutulis saat kehamilanku memasuki usia hampir 20 minggu. Ada beberapa alasan yang membuat akhirnya aku ingin mendokumentasikan semua proses yang kami jalani beberapa bulan terakhir ini. Diantaranya;
  • Supaya bisa dijadikan kenang-kenangan suatu saat nanti, coz aku percaya bahwa tulisan adalah dokumentasi paling abadi dan mudah dimengerti.
  • Selama menantikan datangnya kehamilan, aku banyak membaca tulisan di blog-blog pribadi wanita-wanita di luar sana, so aku ngerasa terbantu sekali sekaligus termotivasi untuk tidak berhenti berharap dalam penantian menunggu buah hati yang saat itu telah lewat dari 2 tahun dari pernikahan kami. Makanya, aku juga berharap tulisan ini akan menambah masukan, referensi, dan motivasi bagi wanita-wanita  cantik di luar sana yang juga sedang mengalami hal yang serupa
  • Harapannya sih bisa konsisten nulis terus dokumentasinya (alias nggak angot-angotan), sehingga ceritanya bisa runtut dan kelak bisa dibaca oleh si kecil yang tidak lain adalah salah satu tokoh utama dalam tulisan-tulisan ini ke depannya.
  • Semoga juga bisa ketulis terus mulai dari proses program hamilnya sampai kelahiran, hari-hari bersamanya, hingga kelak ia besar. Aamiin…
  • Dst.
Dan akhirnya, dengan ini resmi saya mulai tulisan tentang kami (aku, suami, si dedek kecil), yang tentunya akan muncul label-label baru tentang semua itu. Selamat menikmati!! :)

15 Desember 2011

Princess Sultana; Feminist di Negeri Patriarkis yang Agamis

Di Indonesia para kaum Feminist memperjuangkan emansipasi wanita sudah sangat lama, hasilnya tentu sudah jauh berkembang, meski pada akhirnya tak jarang aspirasi mereka dalam memperjuangkan kesetaraan kaumnya menjadi berbenturan dengan nilai agama.

Siapa sangka, di Arab saudi pun ada kaum serupa dan tentu saja perjuangan Feminist di sana menjadi sangat alot dan terjal, karena mereka berada di negara berhukum Islam dengan budaya yang sangat patriarkis.

Dialah Putri Sultana binti Al Saud, seorang putri dari kerajaan yang memerintah di Arab Saudi. Setelah jatuh bangun merintis pemberontakan terhadap ketertindasan kaum wanita atas dominasi lak-laki dan akhirnya berujung tak manis, ia akhirnya menggunakan buku sebagai medianya. Melalui buku yg di tulis oleh temannya dari Amerika, Jean P. Sasson, sang putri bercerita dan membongkar budaya patriarkis di negaranya yg mengganggunya seumur hidup karena tingginya tembok kerajaan menutup segala akses langkahnya.

Berikut statement terakhir dari sang putri:
"Hingga fakta-fakta yang hina ini diberitahukan kepada publik, tidak akan ada yang menolong; buku ini seperti langkah awal seorang bayi yang tidak akan pernah dapat lari tanpa usaha pertama yang berani untuk berdiri di atas kaki sendiri. Jean, aku dan kamu yang akan mengaduk-aduk abu dan menghidupkan api pertama. Katakan padaku, bagaimana dunia akan datang membantu kita jika ia tidak mendengar teriakan kita? Dalam jiwaku kurasakan; inilah permulaan perubahan untuk kita, perempuan."

PRINCESS
By: Jean P. Sasson

13 November 2011

Tulisanku dalam Buku Antologi Perjalanan Haji dan Umroh "Too Good To Be True"

Dan akhirnya fotocopy KTP beserta segepok uang seribuan itu kuserahkan kepada kakakku, 

Bismillahirrahmanirrahiim….
Ya Allah, tumpukan uang penuh dengan bekas lipatan ini adalah sebuah niat yang kutitipkan kepada-Mu, hanya nol koma sekian persen dari ONH, tapi itu lebih dari 100% dari keteguhan hatiku untuk segera menginjakkan kaki di tanah suci-Mu. Aku rindu Ya Allah, amat sangat rindu untuk segera bersujud dihadapan ka’bah yang berada dititik nol kilometer bumi ini. Aku rindu untuk memanjatkan syair cinta di depan makam kekasih-Mu. Aku rindu, amat sangat merindu mengucakan kalimat Talbiyah yang selama ini terus menguras air mataku.

Labbaik Allahumma Labbaik…
Labbaika Laa syariika laka labbaik…
Innalhamda wan ni’mata laka wal mulk…
Laa syariika laka…

Tulisan di atas adalah sedikit potongan cerita dalam tulisanku yang berjudul "Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH" (full version-nya ada di sini, tapi before editing ya..!!)

Cerita dalam tulisan tersebut memang untuk kebanyakan orang agak lucu, menggelikan, dan konyol. Tapi bagiku, cerita di dalamnya sangat serius, se-serius niatku yang kutumpahkan di dalamnya. Awalnya hanya ingin mendokumentasikan kejadian yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu, kemudian muncul keinginan untuk mempublikasikan dalam blog pribadiku, dan lagi-lagi bukan untuk apa atau apa, hanya ingin semakin memantapkan niat dan agar diamini dan didoakan oleh siapapun yang membacanya dan merestui niat itu.

Namun, beberapa minggui yang lalu aku justru menemukan jalan bagi tulisan ini. Berawal dari secara tidak sengaja membaca tulisan di FB tentang sayembara menulis pengalaman nyata menganai Haji dan Umroh. Nyata?? iya, memang harus cerita nyata. Pengen banget ikutan, tapi aku?? Aku nggak punya pengalaman nyata tentang itu.

Tiba-tiba aku teringat tulisan yang baru beberapa hari kutulis dan masih kusimpan dalam file laptop. Hmm.. Anyway, coba saja deh! Kalau tidak lolos, at least sudah dibaca oleh panitia seleksi yang artinya ada tambahan orang yang membaca dan semoga saja mengamini doaku yang kutuangkan di dalamnya. Akhirnya, tepat satu hari sebelum daedline pengumpulan naskah, tulisanku tersebut kukirimkan.

Dua minggu berlalu, dan aku tak banyak membuka FB karena pulang ke rumah orang tua selama suami bertugas ke luar kota. Tak taunya, jereng..jreng..jreng..jreng.... barulah kuketahui bahwa tulisanku tersebut lolos seleksi menjadi salah satu tulisan yang dibukukan dalam buku Antologi Perjalanan Haji dan Umroh berjudul "Too Good To Be True"

Dari Event Menulis Pengalaman Berkesan Umroh & Haji
Judul: Too Good To Be True
Penulis : DianNafi dkk
Penerbit: Hasfa Publishing
170 hlm.

Naskah yang masuk di antologi ini :

1. Panggilan Datang Lewat Mimpi – Nenny Makmun
2. Surga Dan Neraka Dunia
3. 30 Tahun Panggilan Tak Terjawab
4. Ketika Panggilan Itu Datang
5. Taman Penuh Bintang
6. Tips Dalam Haji
7. Keajaiban Doa Yang Terkabul
8. Perjalanan Kami Menuju Baitulloh 1430 H
9. Baitullah, Tempat Allah Memperkenalkan Padaku Cara Mencintainya
10. Saat Hatiku Menuju Cahayamu
11. Kasih-Nya Begitu Indah
12. Pendar Di Sepenggal Malam
13. Air Mata Untukmu…Hajar Aswad
14. Napak Tilas Jejak Nabi
15. Janganlah Menunda-Menunda Niatan Suci Kita!
16. Mendulang Berkah Umroh
17. Dalam Pelukan Serindu
18. Oleh-Oleh Dari Tanah Suci
19. Celengan Nol Koma Sekian Persen ONH, by Faiqoh Fauzie
20. Ucapanku, Doaku
21. Hasratku Menggapai Rumahmu
22. Nazar Yang Diijabah – Nenny Makmun
23. Kenangan Indah Di Nabawi
24. SITI HAJAR DAN ANAH
25. Another Journeys
26. Story Mom From Mecca
27. Menjejak Cinta-Mu Di Bumi Para Nabi
28. Hajiku Untuk-Mu Adalah Citaku
29. Jalan Panjang Menuju Baitullah
30. Bismillah, Kupenuhi Panggilan Mu Ya Allah
31. Menuai Hikmah Dari Si Kaki Pincang
32. Tenggelam Di Gurun Teguran Untuk Pencuri Air

Ohya, tulisan ini juga khusus kupersembahkan untuk orang-orang yang terlibat di dalam cerita yang ada di dalamnya;
- Mahmudah alias Mamah dan Manawaroh alias Munay,dua orang teman kost yg juga celengers
- Eiz, saksi mata kehebohan kita bertiga saat celeng-menceleng
- Mas Afa, Kakak sekaligus karyawan Marketing tabungan haji Bank Mega Syari'ah yang menerima uang penuh lipatanku
- Neng Aniq, teman lama yg tak sengaja aku menemukan tulisan tentang sayembara ini di wall FBnya.