29 Desember 2008

As’aluka al-‘Ishmata ‘ala hadzihi an-Nafs


Kupeluk bibir meja di hadapanku, kepalaku tertunduk dalam, lama, mataku terpejam erat hingga kepalaku merasakan sensasi yang tak biasa, sakit.

Otakku berusaha keras memutar memori selama setahun ini, mengais, menyibak, mengorek, dan ada, semua ada di sana. Namun kepalaku semakin mengerjang hingga kerutan dahi mulai kurasakan menyiksa karena terlalu kuatnya. Ada yang kucari tapi tak dapat dengan jelas kutemukan, aku masih ingin menemukannya, tapi, Ufh…. Aku tak menemukannya.

Love, Let me go ahead without you! B’coz, I’m really realize, actually, everything gonna be better without you.


Tahun 2008 tersisa beberapa hari lagi, ling-lung aku mulai mempertanyakan apakah aku melewatinya dengan sadar ataukah 365 hari itu lewat begitu saja tanpa kuisi dengan apapun dan bahkan kusesali karena terlewat begitu saja?

Di pembuka tahun 2008 lalu aku ingat betul saat aku terkejar deadline untuk menyelesaikan persiapan KKL di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Yups, I did it! Di bulan Januari itu pula aku ketahui bahwa hasil pemerksaan darah di laboratorium menyatakan aku positif typhus. But, I have to against it.

Tepat dihari ulang tahunku, aku berangkat ke lokasi KKL sebab esoknya aku memulai hari pertamaku di RSJI Klender. Benar-benar pengalaman yang luar biasa, tak terlupakan dan tak tergantikan, sebab dari sinilah semua ilmu yang kudapat di bangku kuliah dapat kulihat secara nyata aplikasinya. Hmm… It’s a wonderful experience! Saking bersemangatnya, hari-hari padat bertugas di sana membuatku kembali terbaring tak berdaya. Tepat di minggu kedua, aku ambruk lagi, dan lagi-lagi Typhus. Kali ini adalah yang ketiga dalam tiga bulan terakhir. What??? Tiga kali dalam tiga bulan??? Oh my Lord! Yups, sebab yang pertama terjadi di bulan Desember 2007, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dr.Erwin dan seseorang disana yang saat itu menemaniku. I don’t know what I have to say to you; I miss you!

Bulan berikutnya, sepulang dari Klender, usai menyelesaikan laporan KKL kami, aku terserang homesick, parah. Hiks…hiks… entah sudah berapa lama aku tak pulang dan merasakan pelukan hangat Ibuku. Aku bener-bener ingin pulang…! Oke, setelah laporan KKL dan pengajuan proposal skripsi beres semua, aku pulang.

Bulan-bulan berikutnya, aku hanya berkonsentrasi penuh pada skripsiku. Meski sesekali masih menerima permintaan training dan beberapa selingan kegiatan baru lainnya, seperti menjadi Tim Pemantau Independen Ujian Nasional SMP 2008, menjadi surveyor dari LSI (Lembaga Survey Indonesia), dan tentunya ‘mondok’ di LP Cipinang buat penelitian Skrispsiku yang berjudul “Gambaran Guilt and Anxiety pada Narapidana Pembunuhan”.

Puji Syukur, skripsiku selesai di bulan Agustus, dan akhirnya disidangkan pada tanggal 15 September 2008 yang juga bertepatan dengan tanggal 15 Ramadlan 2008. Ufh… lega rasanya, dengan mengantongi nilai cumlaud, akupun diwisuda. Dan yang lebih membahagiakan lagi, apa yang kuidam-idamkan pun terjadi, aku diwisuda bersama dengan Paman dan Bulekku. Sangat membanggakan tentunya, wisuda bersama keluarga dengan masing-masing gelar S1 (untukku), S2 (untuk Bulek), dan S3 (untuk Paman).

Namun yang tak kalah menyedihkan adalah karena impianku untuk merayakan wisuda bersama seluruh anggota keluarga tak dapat terpenuhi. Iya, aku hanya bisa merayakannya bersama Ibu dan Adikku, sebab Mas Robith harus menemani Mas Afa yang juga diwisuda di hari yang sama, 18 Oktober 2008. What??? Hari yang sama? Yups, sangat-sangat tak terduga. Aku dan kakak keduaku diwisuda pada hari yang sama, dan akhirnya dengan besar hati kakakku merelakan Ibu terbang menemani aku di Jakarta, sementara dia ditemani oleh kakak pertamaku di Surabaya.

Kebahagiaan demi kebahagiaan menyertai perjalanan hidupku selama tahun 2008 ini, dan saat ini sembari menunggu pendaftaran perkuliahan Pascasarjana aku mengisinya dengan mulai belajar mengamalkan ilmu dengan bekerja. Semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih berkah dari tahun ini.

اللهم ما عملت فى هذه السنة مما نهيتنى عنه فلم اتب منه ولم ترضه ونسيته ولم تنسه وحلمت علي بعد قدرتك على عقوبتى الى التوبة بعد جراءتى على معصيتك فاءنى استغفرك فاغفرلى بفضلك وما عملت فيها مما ترضاه ووعدتنى عليه الثواب فأ سئلك اللهم يا كريم يا ذا الجلال ولاءكرام ان تتقبله منى ولا تقطع رجائى منك يا كريم

21 Oktober 2008

Salah Untuk Benar ala Trial and Error



Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. Ar-Rum: 7).

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada berbagai macam permasalahan yang datang silih berganti dengan rupa problema yang terus berbeda. Dalam pada itupun manusia terus berupaya menemukan jalan yang tepat untuk meresponnya, bagaimana cara menghadapi, menjawab, dan bahkan menguasainya. Dalam situasi-situasi baru tersebut manusia terus belajar dan berusaha keras menjawabnya dengan respon yang berbeda-beda yang tidak jarang sebagiannya salah tetapi sering pula justru benar dan tepat.

Demikianlah manusia selalu belajar, melalui cara yang oleh psikolog kontemporer disebut dengan Trial and Error, sebagai respon yang dipilih dalam menjawab setiap problema dalam situasi-situasi baru demi menemukan kunci yang pas atas masalah dalam kehidupan praktis.

Allah Swt. dalam banyak Firman-Nya telah menganjurkan kepada manusia untuk berjalan di muka bumi, mengobservasi, dan berfikir atas tanda-tanda kekuasaan Allah yang telah dihamparkan-Nya. Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, dan perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya.” (QS. Al-Ankabut: 20), “Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (QS. Ath-Thariq: 5-7).

Dari sini jelas terpahami bahwa Allah Swt. menganjurkan manusia untuk belajar dan terus belajar dari apa yang ada di sekeliling mereka melalui eksperimen praktis demi menjawab setiap permasalahan yang ada. Di samping itu, belajar menemukan solusi tepat juga dapat dilakukan melalui interaksi manusia dengan alam sekitarnya juga makhluk-makhluk lain yang dapat diambil ibrah atas kebijaksanaannya.

Nabi Muhammad Saw. dalam sabdanya, “Jika hal itu bermanfaat bagi mereka, maka kerjakanlah oleh mereka.”(HR. Muslim) dan dalam sabda yang lain, “Kalian lebih mengetahui dengan perkara-perkara dunia kalian” (HR. Muslim), menunjukkan pentingnya belajar melalui eksperimen praktis dalam hidup, dimana melaui eksperimen itulah manusia menjadi tahu solusi apa yang tepat untuk menjawab satu masalah, juga solusi yang berbeda untuk permasalahan lain yang berbeda pula.

Dalam eksperimen praktis, manusia akan dituntut untuk menentukan jawaban akan sebuah permasalahan yang barangkali baru bagi mereka, dari situlah kemudian manusia akan mengetahui seberapa tepat cara yang dipilihnya, kemudian apabila ternyata solusi yang semula ia anggap tepat ternyata salah maka saat itulah manusia akan mengevaluasi dan untuk kemudian menentukan kembali jalan yang sekiranya lebih tepat dari sebelumnya hingga akhirnya ditemukan solusi yang dianggap paling bisa menjawab.

7 September 2008

Mari Selamatkan Bumi Kita

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(Q.S.Al-Hajj: 46)

Kondisi bumi yang semakin hari semakin tua, belum juga menyadarkan kita bahwa bumi adalah karunia yang juga merupakan tanggung jawab bersama. Seiring dengan semakin rentanya, kerusakan justru harus ditanggungnya, padahal meski usia bumi dapat kita hitung semenjak keberadaannya namun hingga saat ini tak seorang pun dapat memperkirakan hingga kapan bumi mampu bertahan dari sakit kerasnya.

Betapa tidak, kerusakan akibat gas emisi melanda bumi di hampir seluruh penjurunya, keluhan-keluhan pun sudah sering disampaikan oleh bumi melalui bencana-bencana yang tersebar dimana-mana. Bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa sekecil apapun kerusakan yang kita perbuat hari ini, bisa dipastikan dampak bencana yang akan muncul hanya dalam hitungan hari.

Manusia yang semakin hari semakin pandai, bukannya mereka tidak sadar akan hal ini, berbagai upaya dilakukan untuk berusaha melindungi satu-satunya harta yang akan mereka wariskan kepada anak cucu mereka kelak, bukan hanya itu seruan-seruan untuk ikut berpatisipasi dalam mengantisipasi bencana pun dilancarkan semata-mata demi melindungi tempat berpijak kita ini.

Ada banyak pihak yang prihatin dan dengan besar hati serta antusias menyingsingkan lengan bajunya, bertindak, sekecil apapun untuk bumi yang mereka cintai. Namun usaha orang-orang mulia ini tidak di’amini’ oleh sebagian besar penduduk planet ini, sebab kenyataannya justru mereka yang tidak pedulilah yang lebih besar jumlahnya daripada yang prihatin akan apa yang tengah terjadi.

Belum cukupkah peristiwa nyata berupa bencana melanda berbagai belahan bumi ini untuk menyadarkan manusia dari ketidakpeduliannya? Belum cukupkah opsi yang ditawarkan oleh mereka yang peduli untuk kita pilih sebagai langkah kita berpartisipasi dalam gerakan penyelamatan bumi?. Tidak sulit, sungguh tidaklah sulit, dengan tidak membuang sampah sembarangan, dengan mematikan kran air selagi kita membubuhi sabun saat mencuci piring, dengan mengurangi penggunaan tissue, listrik, serta air yang berlebihan, membiasakan mengurangi penggunaan barang-barang yang sulit didaur ulang, dan masih banyak lagi hal kecil yang sebenarnya bisa dengan mudah kita biasakan sebagai wujud keprihatinan kita atas bumi yang semakin renta.

Tidaklah sepantasnya kita yang telah diberi kemudahan mendapatkan informasi ini serta-merta menutup mata dan telinga apalagi sampai membutakan hati dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Semantara dengan sepenuh kesadaran kita tahu bahwa bumi ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai khalifahnya.

Mari kita mulai dengan menyebut nama Allah, kita mulai bertindak selamatkan bumi, kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan kita mulai saat ini. Bismillahi Ar-rahmaan Ar-rahiim.

12 Agustus 2008

Aku dan DIA

Tanpa lisan meminta pun
Tak jarang Dia memberi apa yang dibutuhkan

Tanpa Lisan berdoa pun
Seringkali Dia penuhi seluruh hajat

Dan tanpa lisan berterima kasih pun
Dia masih tetap memberi

Mestinya,
Karunia setetes air pun sudah cukup tuk sadarkan diri ini

Lalu mengapa,
Tetesan-tetesan yang telah menggenang itu malah menyuburkan kesombongan diri

20 Juni 2008

Do I Still Believe In Miracle?

Kususuri rak demi rak toko buku Gramedia, yang kucari belum juga kudapatkan. Aku terus mencari sembari melirik beberapa buku yang terlihat tak kalah menariknya. Usai menonton Talk Show favoritku “Kick Andy” di Metro TV aku dilanda rasa penasaran yang hebat untuk segera membaca Novel yang based on the true story mengenai perjalanan hidup seorang dengan kelamin ganda itu. Sebab berawal dari talk show itu pula seketika terbersit dan kemudian dengan cepat mengakar sebuah planning besar yang ingin kugarap nanti di my postgraduate university (hmm… boleh dong optimis dan bercita-cita??)

Ahhaa…!! Middlesex, itu dia yang kucari”, kulihat cover depan dan belakangnya, ada yang menarik, sebuah stiker yang menunjukkan bahwa buku itu merupakan buku yang telah mendapatkan rekomendasi dari Oprah Show (wow… lagi-lagi talk show favoritku), nggak salah kalau aku berkeras untuk memburunya, sebab kalau berharap mendapatkan undian buku yang digelar oleh Kick Andy di setiap episodenya, hmm… susah deh, yang ada malah nggak jadi baca buku dan meraup sebanyak-banyaknya ilmu.

Ditengah-tengah ekspresi kepuasan pada raut mukaku karena telah menemukan buku yang kucari, tiba-tiba mukaku berubah masam begitu melirik harga yang tertera, “Hhh… mahal sekali! Beli nggak ya?”, maka kuputuskan untuk kembali berkeliling rak untuk melihat-lihat buku-buku yang lain, dan tanpa sengaja aku menemukan satu buku yang mengajakku untuk berkerut dahi “apaan tuh maksudnya?

HORELUYA, sebuah novel karya Arswendo Atmowiloto, menarik sekali judulnya, kata yang harusnya “Haleluya”, tapi disitu ditulis dengan “Horeluya”, saking penasarannya apalagi usai membaca synopsis yang tertera di cover belakangnya, aku memutuskan untuk membayar di kasir dan menunda untuk memiliki Middlesex (sabar ya, bulan depan semoga udah bisa kebeli).

Seperti yang sudah menjadi ciri khas karya Arswendo dimana kisah-kisah yang digarapnya hampir selalu bertema realis, ihwal kehidupan “orang-orang kecil” yang berjuang keras menyiasati hidup. Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang sederhana; humor-humor yang miris, serta akhir yang kerap menyentuh. Tokoh-tokoh ceritanya dipungut dari orang-orang biasa dengan persoalan-persoalan yang biasa yang dapat dengan mudah kita jumpai sehari-hari di sekitar kita. Tokoh-tokohnya tak pernah berpretensi sebagai pahlawan tangguh atau manusia sempurna yang tak pernah berbuat salah. Mereka adalah manusia biasa yang sering putus asa dan tak luput dari dosa. Itulah yang membuat karya-karya Arswendo terasa begitu akrab dan membumi.

Demikian pula dengan novel Horeluya ini, sebuah kisah mengharukan mengenai perjuangan seorang anak yang belum genap berusia 5 tahun bernama Lilin dalam menghadapi penyakit langka berupa kelainan darah yang hanya bisa disembuhkan melalui transfusi dari donor dengan golongan darah yang sejenis. Dari hasil tes laboratorium diduga ada kelainan pada sel darah merahnya. Lilin memiliki golongan darah rhesus negative dan tak mampu memproduksi sel-sel darah putih. Gangguan kesehatan yang paling remehpun akan sangat memperburuk kondisi Lilin, sebab ia tak memiliki kekebalan tubuh. Satu-satunya upaya penyembuhan medis adalah dengan cara transfusi dari golongan darah yang sama. Malangnya, jenis darah Lilin tergolong jenis yang langka. Dokter telah memvonis hidup Lilin hanya akan berkisar antara 3 bulan hingga 6 bulan lagi jika tidak segera mendapatkan donor.

Dalam cerita ini tersebut beberapa keajaiban yang terjadi pada diri Lilin dan keluarganya, namun bagiku keajaiban sesungguhnya justru adalah seorang Lilin sendiri, sebab karena Lilin-lah semua mampu bertahan dalam keterpurukan, sebab Lilin-lah Ayahnya tetap mampu tersenyum saat diminta menandatangani surat penguduran diri dari perusahaannya, karena Lilin-lah Ibunya tetap bertahan menjahitkan pakaian Natal untuk Lilin yang bahkan mungkin tidak ernah sempat dikenakan, dan masih banyak lagi.

Bahkan, pamannya (Nayarana) bisa berbuat apapun untuk Lilin, Nayarana yang berperawakan preman dan ditakuti oleh siapa saja menjadi mudah menangis ketika dengan setia menjagai Lilin yang terbaring lemah berbulan-bulan di kamarnya, Nayarana bisa betah tidak menghisap rokok untuk Lilin, Nayarana rela berbuat apapun untuk Lilin bahkan untuk mencukur habis rambutnya yang selama ini menjadi salah satu modal untuk membuat orang lain bertekuk lutut padanya, bahkan karena keinginan Lilin untuk merayakan Natal sebelum waktunya –karena usia Lilin yang diperkitakan tidak sampai bertemu dengan hari Natal—dengan salju dan Bunda Maria serta gua. Nayarana lagi-lagi tidak mau berkata ‘tidak’ untuk keponakan kecilnya bahkan untuk membuat salju buatan di malam Natal.

Tekanan yang melanda keluarga Lilin, berdampak sangat luar biasa, masing-masing sering mengalami peristiwa-peristiwa konyol yang sama sekai tidak disadari, sebab tekanan yang terlalu lama dan mendalamnya demi melihat Lilin sembuh dan menunggu adanya kabar pendonor darah Rhesus Negative yang entah kapan datangnya.

Dan dari serentetan keajaiban yang turun bersama dengan Lilin, keajaiban terindah berkenaan dengan kesembuhan Lilin pun datang bersertaan dengan ketulusan Lilin yang dengan suara parau dan ekspresi polosnya berkata “Mauuu” yang kemudian menjadi katalisator keajaiban terindah itu, kalimat itu seketika membuat dunia bergetar hingga akhirnya suara dahsyat bernada ketulusan itu menggerakkan semua pihak untuk membantunya.

Keikhlasan dan ketulusan hati Lilin dengan kalimat “Mauuu”-nya untuk mendonorkan darahnya kepada sang calon pendonor darah yang mendadak membutuhkan darah karena kecelakaan yang menimpanya, membuat semua yang mendengarnya menangis.

Sering manusia memang tidak mengerti rencana Tuhan. "Karena rencana-Nya, bukan rencana kita," aku Kokro (hlm. 97). Tetapi, semestinya apa yang terjadi, seperih apapun dampaknya, menjadi sarana "untuk lebih mendekat pada-Nya. Untuk lebih memahami dan mensyukuri Kasih-Nya." (hlm. 97).) Ketulusan kasih Lilin untuk menyumbangkan darah yang sangat ia perlukan adalah bentuk syukur akan kasih Tuhan.

Tampaklah bahwa cinta dan ketulusan Lilin-lah keajaiban yang sebenarnya. Lilin alias Sekartaji ingin menjadi bidadari kendati dalam hidupnya, bagi keluarganya, ia memang telah memperlihatkan 'keajaiban bidadari'. Tetapi, ketika ia menyebutkan kata "Mauuu", ia lebih jauh memperlihatkan kualitas 'keajaiban bidadari' yang dikenal keluarganya. Ia memperlihatkan kualitas keajaiban bidadari dalam bentuk yang paling tinggi, belas kasih yang menyentuh hati, yang sanggup membaurkan teriakan hore dan haleluya (bahasa Ibrani, berarti Pujilah Tuhan) menjadi HORELUYA.

Dari sini kita dapat belajar, bahwa ketulusan dan keikhlasan dapat menjelma menjadi keajaiban yang tak terbandingkan.

6 Juni 2008

Aku Juga "Sayang Pada-MU"


……

Andaikan dunia mengusirku dari buminya
Tak akan aku merintih ataupun menangis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukan alasan bagiku untuk membalasnya
Asalkan, karena ituTuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendak-Nya menjadi surga bagi cintaku

……

Merinding sekali saat aku pertama kali mendengarnya dibacakan oleh Bapak Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Muhammad Nuh. Puisi yang indah dan sarat makna dan satu lagi yang mungkin menjadi alasan utama mengapa syair itu dapat dengan mudah membuat hati semua yang mendengarkannya luluh lantah. Iya sebab puisi itu ditulis dengan hati, dengan penghayatan tinggi dan oleh orang yang memiliki cinta yang amat tinggi kepada Khaliqnya.

Usai dibacakan oleh Pak Menteri, si penulis syair berceletuk “Baru kali ini saya dengar puisi saya dibaca kayak baca surat keputusan menteri…!!??”, “Ggrrrr…..!!!” seisi auditorium bersorak atas celotehan garing tapi ‘mengena’ itu, dan tanpa jeda waktu yang lama kembali syair itu dilantunkan, namun kali ini berbeda, lebih indah, lebih mempesona, lebih semuanya! Syair itu dilantunkan oleh istri si penulis syair dengan diiringi alunan nada indah yang kental dengan nuansa etnis jawa oleh kawan-kawan dari Kyai Kanjeng. Semua terkesima, Syair itu dibawakannya dengan sepenuh penghayatan, dan semakin menyayat kalbu.

Iya, Emha Ainun Najib beserta Kyai Kanjeng dan Novia Kolopaking, serta grup band Letto, berkumpul memeriahkan acara di Auditorium Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam acara Kongres BEM PTAI se-Indonesia Raya ini selain menghadirkan para pengisi acara di atas hadir pula Menkominfo RI Bapak Muhammad Nuh, Menpora Bapak Adhyaksa Dault, Rektor UIN Jakarta Prof.Komarudin Hidayat.

Acara yang bertajuk “Merajut Gerakan Mahasiswa Menuju Kemandirian Bangsa” ini sangat menarik animo mahasiswa untuk berpartisipasi bahkan bukan hanya para civitas akademika UIN Jakarta saja yang memenuhi Auditorium Utama UIN Jakarta, sebab acara yang sebelumnya sempat diumumkan keberlangsungannya melalui pengeras suara di Masjid Fathullah ini mengundang masyarakat sekitar untuk ikut memeriahkan acara akbar yang dihadiri utusan BEM Perguruan Tinggi Agama Islam dari seluruh Indonesia.

Acara langsung dipandu oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Najib) dengan nuansa damai, Cak Nun beberapa kali tampak berusaha menentralisir suasana ketika forum tiba-tiba menunjukkan tindakan kurang kooperatif, selain itu kedekatan emosional antara Cak Nun dengan Pak Nuh dan Pak komaruddin membuat suasana diskusi semakin mencair.

Saat giliran berbicara, Pak Nuh dengan terang-terangan tidak ingin langsung mengklarifikasi atas kebijakan pemerintak berkitan dengan dinaikkannya harga BBM yang akhir-akhir ini terus menimbulkan serangan dari mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, beliau justru membuka sesi interaktif seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mempertanyakan segala hal yang ingin mereka pertanyakan termasuk soal BBM.

Dan benarlah, pertanyaan itu pun meluncur. Audience seketika diam, hampir tak terdengar suara apapun yang sebelumnya memenuhi seisi ruangan selain suara Pak Nuh saat memberikan penjelasan. Satu demi satu diterangkan dengan detil, soal APBN, subsidi, harga minyak dunia, dan alasan serta perhitungan dampak yang telah diprediksikan oleh pemerintah akan muncul sebagai buntut dari dinaikkan atau tidak dinaikkannya harga BBM di tahun 2008 ini. Tak ketinggalan program BLT yang ternyata hanya satu part kecil dari usaha pemerintah memberikan kompensasi yang selama ini dituding oleh mahasiswa sebagai langkah pemalasan rakyat, dan lain sebaiknya, saya yakin semua orang yang hadir dan mendengarkan penjelasan Pak Nuh malam itu dapat dipastikan baru ‘terbuka mata’ atas semua kenyataan sebenarnya yang terjadi, dapat dipastikan penjelasan Pak Nuh malam itu telah mematahkan konsep-konsep mereka soal bejatnya pemerintah karena telah menyengsarakan rakyat dengan kenaikan harga BBM.

Malam itu,bukannya kami (mahasiswa) menjadi berhenti untuk membela rakyat, bukan berarti kami (mahasiswa) serta merta membela segala apa yang diputuskan oleh pemerintah, namun bermula dari malam itu setidaknya kami tau bahwa dibalik semua yang terjadi pastilah akan ada penjelasan di baliknya. Sebagaimana cara berpikir yang saya usung dalam tulisan terbaru saya tentang UN yang sedang dalam proses editing di sebuah penerbit untuk segera diterbitkan, dalam buku itu salah satu misi yang saya kemukakan adalah kebiasaan untuk berpikir lebih bijak, sehingga apapun yang kita suarakan nantinya telah berlandaskan atas dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga dalam menyikapi kenaikan harga BBM ini, tentunya kami (mahasiswa) akan terus memperjuangkan nasib rakyat dan tentu saja dengan hujatan atau kritikan yang berdasar dan bertanggung jawab.